Pamungkas Bagas Dhefin Adibrata atau yang lebih akrab dipanggil Bagas seorang CEO muda yang tampan.
Bagas memiliki seorang kekasih bernama Latika Fiona Eleanor yang lebih akrab di panggil Tika.
Bagas mengajak Tika menikah, namun di tolak wanita itu karena lebih memilih karirnya. Mereka sepakat mengakhiri hubungan dan Tika meninggalkan Bagas ke luar negeri untuk mengembangkan kariernya.
Suatu hari Bagas bertemu seorang wanita yang mirip Tika. Wanita ini bekerja sebagai CS di sebuah mal.
Latisha Elanora Felicity, atau Tisa di ajak buat bekerja di perusahaan milik Bagas.
Akankah nanti cinta bersemi di antara Tisya dan Bagas?
IG reni_nofita79
FB reni nofita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas. KPSC.
Bagas bergegas masuk ke dalam rumah. Berteriak memanggil nama istrinya itu. Bibi yang mendengar teriakan itu, langsung menghampiri Bagas.
"Kemana Ibu, Bi?" tanya Bagas, setelah melihat ke kamar namun tidak dilihatnya Tisya.
"Ibu pergi, Pak'
"Kemana perginya, Bi?"
"Bibi nggak tau Pak. Tadi ibu menitipkan surat ini buat Bapak."
Bagas menerima surat itu dan membacanya. Pria itu langsung berdiri dan mengambil kunci mobil. Bagas meminta supir menemani dirinya. Suami Tisya itu takut jika dia langsung yang menyetir dalam keadaan kacau ini, takutnya tidak konsentrasi.
"Kamu pergi kemana Tisya? Kenapa kamu memutuskan pergi sebelum aku menjelaskan semuanya."
Bagas meminta supir mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pria itu yakin jika istrinya kembali ke rumah kediaman ibunya.
Sementara itu di salah satu rumah sakit, Tisya terbaring lemah. Tadi saat dia akan naik ke dalam sebuah bus, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tisya akhirnya pingsan. Beruntung ada seorang ibu baik hati, meminta supir menggendong Tisya masuk ke sebuah taksi yang mangkal. Ibu itu lalu mengantarkan Tisya ke rumah sakit.
Dokter jaga masuk dan memeriksa keadaan Tisya. Kondisi wanita itu masih sangat lemas. Ibu yang mengantarkan Tisya telah pergi lagi karena dirinya harus segera pulang ke kampung.
"Dokter, saya sakit apa?" tanya Tisya dengan suara lemah.
"Setelah kami melakukan pemeriksaan, ternyata ibu tidak menderita sakit."
"Kenapa saya bisa pingsan?"
"Itu karena kondisi ibu yang lemah. Itu biasa dialami saat sedang hamil muda."
"Apa, Dok? Saya hamil?"
"Apa ibu belum tahu jika saat ini ibu sedang hamil?"
"Belum, Dok. Apa anak dalam kandungan saya sehat?"
"Bersyukurlah Bu. Semua tidak berpengaruh pada kandungan Ibu. Cuma saya ingatkan, Ibu jangan sampai telat makan lagi."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah Dokter dan perawat meninggalkan Kamarnya, Tisya memegang perutnya."Sayang, maafkan bunda. Bunda tidak tahu jika kamu ada dalam rahim ini Bunda janji akan menjaga kamu."
Tisya teringat Bagas. Apakah Tisya harus mengatakan semuanya. Atau menyembunyikan semua ini. Wanita itu masih bimbang.
Saat Tisya sedang melamun dan berpikir, di televisi sedang menyiarkan berita tentang seorang anak yang menangis karena di ledek dan di bully temannya karena tidak memiliki ayah.
"Apakah aku harus mengatakan semua ini dengan Mas Bagas. Bukankah dia juga berhak tahu tentang keberadaan bayi ini. Anakku juga berhak mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya," gumam Tisya.
"Apakah aku harus kembali. Bukankah aku istri sah-nya Mas Bagas. Seharusnya aku tidak menyerah. Seharusnya aku berjuang untuk memenangkan hati suamiku. Bukannya pergi dan memberikan kesempatan pada wanita lain masuk," ucap Tisya pada diri sendiri.
Tisya bertekad akan kembali setelah kondisinya pulih. Dia tidak akan menyerah demi bayi yang ada dalam kandungannya. Bayi-nya berhak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.
Di kampung halaman Tisya, Bagas yang telah sampai di depan rumah orang tua Tisya mengetuk pintu itu sambil memanggil nama istrinya. Bagas yakin Tisya pasti ke rumah ini. Hari telah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Tisya, Tisya ... buka pintunya. Kamu di dalamkan? Kita harus bicara," teriak Bagas.
Seorang ibu datang menghampiri Bagas, wanita itu bertanya keperluan Bagas.
"Mau bertemu siapa, Mas? Kenapa berteriak?"
"Apa Tisya ada?" tanya Bagas.
"Sejak ibunya telah tiada, Tisya tidak pernah kembali lagi."
"Apa Ibu yakin. Mungkin Tisya ada di dalam. Sore tadi dia berangkat."
"Tentu saja saya yakin. Kunci rumah ini masih ada ditangan saya. Mas ini siapanya Tisya. Kenapa mencarinya?"
"Saya suaminya. Ada sedikit salah paham tadi antara saya dan Tisya. Saya pikir dia pasti ke mari."
"Tidak mungkin. Karena kunci masih berada ditangan saya."
"Begini saja, Bu. Jika Tisya ke mari dan meminta kunci rumah ini, Ibu segera hubungi saya!"
"Baik Pak."
"Ini kartu nama saya." Bagas menyodorkan kartu namanya."Ingat Bu, hubungi saya tanpa Tisya tahu."
"Iya, Mas."
"Ini sedikit buat beli pulsa." Bagas memberikan uang ke tangan ibu itu. Setelah memberikan uang buat ibu itu, Bagas pergi meninggalkan rumah orang tua Tisya.
Bagas menghubungi bawahannya untuk mencari keberadaan Tisya hingga ketemu. Bagas langsung meminta supir kembali ke kota. Bagas yakin Tisya belum pergi jauh.
...****************...
Bersambung
banyak yg ngira tebakannya bener kalo Tika ma Tisya saudara kembar..
ternyata oh ternyata mereka hanya saudara seayah saja..
finally happy ending untuk semuanya, walopun di sini Tika harus berpulang..
tapi sepertinya itu memang yg terbaik untuknya dan jg semuanya..
makasih mama udah bikin cerita sekeren ini..
cuss lanjut cerita berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
semoga sehat terus ya mam..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕