NovelToon NovelToon
Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:525.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Puput

Anda memasuki kawasan bucin, baper 🤧

***
"Will you marry me?"
Sebuah pertanyaan yang harusnya disambut dengan bahagia oleh pasangan yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan. Tapi tidak dengan Rili. Dia justru sangsi harus segera menerima lamaran itu atau tidak. Bukan dia tidak cinta atau tidak ingin menikah dengan Alvin tapi dia memikirkan perasaan Kakaknya, Rasya.

Masa lalu Rasya yang pernah kehilangan seseorang dalam hidupnya, membuatnya enggan membuka hati untuk yang lainnya. Sikapnya terhadap wanita semakin dingin bagai es kutub. Akankah ada seseorang yang mampu mencairkannya?

Lalu bagaimana kisah Alvin dan Rili. Karena penolakan Rili, orang tua Alvin ingin menjodohkannya dengan wanita lain. Dijodohkan? Tidak rela kan, hubungan yang terjalin dari nol sampai Alvin sukses itu kandas di tengah jalan.

Bagaimana perjuangan Alvin selanjutnya untuk tetap mempertahankan Rili?

Baca yuk!! Siapkan tisu untuk menghapus sesuatu yang basah. Air mata misal.. 🤭🤧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated

Jujur saja Alvin sengaja mengajak bicara Rasya yang sedang melamun sambil menatap seseorang.

"Bang Sya??"

Mendapat senggolan dari Nana seketika Rasya menyahuti omongan Alvin. "Iya, ada apa?"

"Ngelamunin apa sih? Pacar kan ada di samping." Perkataan Alvin yang sengaja menyindir semakin memperkeruh hati Rasya.

"Sorry, aku mau ke toilet dulu." Rasya berdiri dan berjalan menuju toilet. Sebenarnya ini hanyalah cara untuk menghindar dari situasi yang kurang kondusif. Sedari tadi, sebenarnya dia sudah berusaha untuk berdamai dengan keadaan tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menghindari ini semua.

Tepat saat berada di depan toilet, Adit menghadang langkah Rasya. "Sya, gue tanya sekali lagi. Lo beneran pacaran sama Nana?"

"Nggak. Gue cuma pura-pura." Rasya akan masuk ke dalam toilet tapi lagi-lagi Adit menghalanginya.

"Oo, jadi lo cuma mau manfaatin Nana. Sya, lo pikir dong, dia itu suka sama lo dari dulu tapi kenapa lo malah PHP dia kayak gini."

"Dit, gue tahu lo suka sama dia. Kalau lo suka ya perjuangin! Gue udah anggap Nana kayak adik gue sendiri. Gue barusan bilang ke Fandi kalau Nana pacar gue agar gue bisa mengalihkan pikiran gue dari Dira."

"Hei, bukannya lo dulu sukanya sama Dara. Jangan bilang karena mereka kembar jadi lo gagal move on."

"Ada satu hal yang lo gak bakal ngerti." Rasya kini melewati Adit dan masuk ke dalam toilet.

"Kenapa masalah complicated gini sih?" Adit menghela napas panjang lalu dia masuk ke dalam ruang karyawan dimana ada Aksa di dalam sana. "Lo ngapain di sini?"

"Sembunyi dari tante girang."

Adit tertawa sesaat lalu dia duduk di dekat Aksa.

"Gak gabung sama mereka lagi?"

"Malas gue." Adit justru menopang kepalanya. Dia membayangkan awal dia jatuh cinta dengan Nana.

"Mau makan bakso? Gue yang bayarin deh!" Karena membelikan bakso berujung jatuh cinta kala itu saat masih memakai seragam putih abu-abu. Tapi dia tidak ada keberanian mengungkapkannya dan di saat ada keberanian Nana justru menganggapnya bercanda karena sikap Adit yang selalu tidak jelas dan terkesan menyebalkan.

"Sa, menurut lo, gue ini udah bisa bersikap dewasa belum sih?"

Aksa menatap Adit karena tiba-tiba dirinya menjadi curahan hati seorang Adit. "Dewasa dari segi apa dulu nih?"

"Dari sikap Aksa, bukan dari film dewasa." Adit menjitak sesaat kepala Aksa.

"Iya, sikap dalam mengatasi apa? Mas Adit udah terlihat dewasa pada saat bekerja tapi kalau kumpul sama kita-kita sih emang agak kurang waras kalau ngobrol."

Adit melebarkan matanya pada Aksa. "Halah, lo juga sama kalau bercanda juga kurang waras."

"Iya, tapi kita harus bisa bedain antara Mas Adit bicara dengan teman atau dengan cewek, terutama cewek yang Mas Adit sukai. Soalnya banyak cewek yang gak terlalu suka dengan tingkah cowok yang terkesan absurd. Bercanda atau ngegombal boleh, tapi yang langsung ngena di hati."

Adit menghela napas panjang. "Iya sih, gue emang belum bisa buat nyaman cewek." Adit kembali melamun. Pikirannya menerawang jauh hingga mampu menembus langit-langit kafe.

...***...

"Mas, aku udah tahu sekarang siapa yang saling mencintai," bisik Rili di dekat telinga Alvin.

Alvin tersenyum lalu menatap gadisnya yang sedari tadi memang sedikit dia acuhkan karena mengobrol dengan Fandi. "Kamu sekarang bisa membaca isi hati seseorang ya?" bisik Alvin lalu dia menggenggam tangan Rili.

"Ehem, kapan nih kalian menikah?" Tanya Fandi yang melihat kemesraan Alvin dan Rili.

"Tiga minggu lagi. Kalian datang ya. Kalian sendiri katanya mau tunangan?"

"Iya, sekitar sebulan lagi."

Rasya yang saat itu baru saja kembali dari toilet, wajahnya semakin keruh.

"Kalau kalian, kapan hubungan kalian naik ke jenjang selanjutnya?" tanya Fandi pada Nana dan Rasya.

"Hmm, masih belum tahu. Ya udah, aku mau pulang dulu ya, soalnya kita mau mampir ke suatu tempat dulu sebentar."

Rasya mengambil ponselnya. "Rili, kamu pulang sama Alvin kan?"

"Iya kak, beres."

Rasya berdiri sambil menarik tangan Nana. "Fan, Ra, aku duluan " Mereka berdua segera keluar dari kafe Alvin.

"Ra, kita pulang juga yuk?"

"Iya, Kak."

Fandi dan Dira ikut beranjak dari tempat duduknya.

"Kita duluan ya."

"Iya." Setelah mereka berdua pergi, Alvin mendekatkan kursinya pada Rili. Kebetulan kafe juga sudah mulai sepi karena sebentar lagi akan tutup.

"Lihat deh Mas. Kak Rasya sama Dira itu sama-sama ada rasa."

"Hmm, tapi kan Dira baru ketemu sama Rasya."

"Kok aku punya firasat ya, yang ketemu sama Kak Rasya waktu kecil itu Dira, soalnya kan Dara itu justru mantannya Mas Alvin, yang sampai akhir hidupnya masih gagal move on."

Alvin mengatupkan jari telunjuknya di bibir Rili. "Sssttt, jangan bilang begitu. Aku jadi merasa berdosa."

Rili tersenyum lalu meraih tangan Alvin. "Tapi iya kan Mas. Dan satu hal lagi, waktu itu Dara sama sekali gak kenal Kak Rasya. Gak mungkin hanya rentan lima tahun Dara bisa melupakan Kak Rasya. Sedangkan sama Mas Alvin ingat."

"Iya sih masuk akal."

"Kapan-kapan aku akan coba bertanya sama Dira."

"Tapi kan Dira udah punya calon tunangan."

"Masih calon, Mas."

Alvin kini merengkuh tubuh Rili. "Ke kantor aku yuk?"

Rili memutar bola matanya. Dia sudah sangat mengerti dengan ajakan Alvin. "Tahan dulu, nanti aja habis nikah."

Satu cubitan mendarat di pipi Rili. "Ih, gemesin. Awas ya nanti."

"Apa?"

Alvin membisikkan sesuatu yang langsung mendapat cubitan keras di pinggangnya.

"Aw, sakit sayang."

"Makanya jangan omes dulu."

...***...

Nana yang duduk di sebelah Rasya hanya terdiam sambil melirik pria dingin di sampingnya berulang kali.

"Sorry soal tadi..." Akhirnya Rasya membuka suaranya.

"Iya, gak papa. Aku ngerti kalau Kak Rasya cuma pura-pura." Meskipun hati Nana sakit, tapi dia memang tipe kebal menghadapi sikap Rasya. Lain halnya jika Rasya tidak bahagia dengannya, lalu dia bisa apa?

Mereka terdiam beberapa saat, sambil fokus menatap jalanan yang diterangi lampu malam.

"Kak Rasya sebenarnya mau hidup yang kayak gimana sih? Ayo dong yang tegas, jangan selalu saja terbawa perasaan. Seseorang itu bisa bahagia dengan cara berjuang. Apalagi Kak Rasya itu laki-laki. Aku memang mencintai Kak Rasya, tapi aku sadar diri kok. Aku bisa melihat Kak Rasya bahagia dengan pilihan Kak Rasya." Rupanya Nana sudah berada di titik akhir kesabarannya. "Kalau Kak Rasya mau merebut Dira, ya udah lakuin!!"

Mendengar ucapan Nana seketika Rasya menghentikan mobilnya secara mendadak.

"Aku gak ada pikiran kayak gitu, Na."

"Gak ada pikiran tapi dalam hati mendamba. Ya, memang wajah Dira sama dengan Dara itu kan sebabnya Kak Rasya masih gak bisa move on."

"Bukan karena itu. Udahlah kamu gak usah bahas perasaan aku sama Dira."

"Oke, kalau Kak Rasya memang nantinya bersatu sama Dira. Fix, aku akan berhenti ngejar Kak Rasya." Nana membuka pintu mobil Rasya lalu keluar dari mobilnya.

"Na, masuk. Aku harus antar kamu sampai rumah." Rasya keluar dan menyusul langkah Nana.

"Gak perlu! Lagian rumah aku udah dekat."

Rasya mencekal tangan Nana. "Udah dekat apa? Masih jauh. Aku gak mau kamu kenapa-napa."

Nana menghentikan langkahnya.

"Na, aku minta maaf. Sejujurnya, kamu tidak perlu terus bertahan dengan aku tanpa kepastian. Ada seseorang yang jauh lebih mencintai kamu." Rasya merangkum kedua pipi Nana. Gadis yang berada di hadapannya memang cantik tak jauh beda dengan Rili. Tapi kebersamaannya dengan Nana hanya sebatas sayang antara kakak dan adik.

"Siapa? Mas Adit? Dia cuma main-main. Dia cuma bisanya ganggu hidup aku."

Rasya menghela napas panjang. Kisah cinta ini benar-benar terasa rumit seperti tanpa ujung.

"Kak, kita lanjutkan pacaran pura-pura kita kalau memang Kak Rasya nantinya memilih yang lain, baru ada satu alasan untuk aku berhenti berharap."

Konyol! Iya, ada seseorang yang rela patah hati demi Rasya. "Aku gak mau hanya jadiin kamu pelarian."

"Kita coba jalani. Tapi kalau memang Kak Rasya mau jadi pebinor sekarang juga, ya aku berhenti sampai di sini."

Angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka tak menyurutkan tatapan mata dari Nana. Dia menunggu keputusan dari seseorang yang berhati sedingin es. Walau itu hanya sebuah harapan semu.

1
Ryani
Rili aneh🤣 moga ajah d tinggal nikah🤭
Siti patma
sedih harus bepisah dengan kisah alvin rili dkk sukses terus ya thor
Author Halu: Ada kisah anaknya. Airin. 🤭
total 1 replies
Siti patma
novelmu ceritanya bagus kok semangat thor
Siti patma
aneh kok suami ikut istri biasanya kan istri ikut kerumah suami di novel lain
Siti patma
pria di novel banyak yg berhati baik tdk dengan duni nyata dikit
Siti patma
akhirnya ketemu jodohnya tak sia2 menunggu
Siti patma
fandi yang berjiwa besar semoga dapat jodoh yang baik juga
Siti patma
alvin memang terbaik
sinta febrianti
enak yah punya kaka kya rasya coba aja aku punya kaka kya rasya seneng bngt kli yah akur n di manja kya gtu. sedangkan aku punya kaka cwok tpi udah punya istri skrg istrinya ngelarang buat kakaku akur sma adik2ny bhkan lebaran aja gak pernah ngumpul lgi skrng smenjak punya istri. datang kerumahnya aja gak bleh sma istrinya. adek2ny di larang injak2 kaki kerumah kakaku sndri. bahkan sma mertuanya(ibunya kakaku) aja berani bngt smpe nge dorong mertuanya bhkan brang2 mertuanya sndri di miliki sma dia.
Ninoi: Tenang aja kak Sinta. klo kakak ipar kamu gak cepet sadar, inshaf dan minta maaf pd bumernya (ibunya kakak) jg klrg mu.. Smg aha gak terlambat. Kak Sinta dan klrg cukup doa, ikhlas, jalani aja bagian kehidupanmu, maafkan, jng dendam apa lg mendoakan dng meminta keburukan, maka biarkan TUHAN dengan waktuNYA ambil bagiannya kelak entah dng kesempatan bertoubat, karma atw azab. 🙏
total 1 replies
Indah Alifah
seru dari awal sempat halu andaikan ini cuma prank eh ternyata beneran makasih Thor g bikin galau
Siti Khalimah
heheheeeee
Azizah az
pernah diposisi Nana, nyeseknya 🤧🤧
Azizah az
Nana mending menjauh ajah lh nyesek loh
Azizah az
udh sampai sini kk
Al Fatih
cerita yang bagus,, no pelakor,, para suami yg so sweet banget....,, makasih Kaka utk karyanya yg menghibur.....
Author Halu: sama2 kak..
total 1 replies
Al Fatih
ealah d prank tho Ki 🤣
Al Fatih
menguras esmosis jiwa
Al Fatih
rili sudah memberi kesan ga bagus sama camer
Al Fatih
awalnya aq mau baca kisah anakx Airin,, katanya ad kisah orang tuanya Alvin rili....,, akhirnya k sini dulu deh....
lanjuuuuut
Al Fatih: rili sudah ketemu,, tp alvian pas remaja judulnya ap ya kaka
total 4 replies
Zuni Zun
ayla jadi ponakan ngeselin deh ntar kayanya, kya bapaknya,tpi banyak yg sayang sama dia..hhhahhhaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!