gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20
Nafisa langsung ke rumah sakit setelah pulang dari kampus. Nafisa melakukan pendaftar. Setelah cek tensi dan timbang berat badan perawat meminta Nafisa untuk menunggu dokter di ruang tunggu. Setelah namanya di panggil Nafisa masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
“Selamat siang,” sapa dokter sepesialis kandungan yang sepertinya masih berusia sekitar 35 tahun tersebut. Dokter itu tampak sedikit bingung harus memanggil Nafisa, saat dilihatnya pasien tersebut masih sangat muda.
“Siang dok.” ucap Nafisa.
“Apa keluhannya Nafisa?” Tanya dokter tersebut. Dokter yang tampak sangat ganteng dan bersih. Ia melihat kertas yang ada di mejanya yang berisi data pasien.
“Pusing juga mual dok. Kalau saya muntah gak mau berhenti sampai satu jam lebih dan keluar darah.” ucap nya me
“Sudah ada minum obat menghilang mual dan penghilang pusing?” tanya dokter tersebut.
“Belum dok.” jawab Nafisa.
“Suaminya mana?” Tanya dokter tersebut.
“Lagi kerja dok.” jawabnya sambil tersenyum.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Dokter tersebut bernama Dokter Aska Samudera. “Ayo baring.” Ucapnya.
Nafisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Seorang perawat mengangkat baju Nafisa dan menurunkan cela yang di pakainya ke bawah dan perawat tersebut mulai meneteskan gel bening ke perut Nafisa. Dokter mulai mengerakkan alat USG nya di atas perut yang masih rata tersebut.
“Nafisa, lihat ya. Masih berbentuk gumpalan karena usia kandungan baru 6 minggu.” ucapnya.
Nafisa menganggukkan kepalanya. Ia begitu sangat senang saat melihat janin yang ada di dalam perutnya.
Setelah dokter tersebut memeriksa kondisi janin. Perawat mengelap cairan gel di perut Nafisa dengan mengunakan tisu dan menaikan celana serta menurunkan baju yang tadi dinaikkannya.
“Nafisa, coba di buka mulutnya.” ucap dokter tersebut.
Nafisa membuka mulutnya. Dokter tersebut mensenter mulut Nafisa mengunakan senter medis. Dokter tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memeriksa detak jantung dan melihat di bawah mata gadis tersebut. “Nafisa duduk dulu.” ucapnya
Nafisa kemudian duduk dan berjalan ke meja dokter tersebut. Ia duduk di depan dokter tersebut.
“Nafisa, sayang sekali suami kamu gak ikut.” ucap Dokter Aska
“Ia gak apa dok. Langsung ke saya saja dok.” ucap Nafisa.
“Begini Nafisa. Berat badan kamu, di bawah normal untuk wanita hamil. Berat badan kamu hanya 38 kg. Sebelum hamil, berat kamu berapa?” tanya dokter tersebut.
“45 dok.” Jawab Nafisa.
“Sudah sangat turun sekali. Padahal usia kandungan kamu baru 6 minggu. Kamu sudah termasuk hamil kurang gizi. Tensi darah kamu sangat rendah 80/90. Mual yang kamu alami itu masuk kedalam kategori berat. Di mana kamu muntah dalam durasi waktu yang lama. Membuat seluruh isi perut keluar termasuk air yang di minum. Di saat tidak ada lagi yang bisa di keluarkan rasa mual tidak berhenti, membuat tenggorokan terluka. Sehingga muntah yang keluar darah, itu efek luka di tenggorokan yang sudah semakin parah. Apa bila tidak di obati dengan cepat, bisa mengakibatkan infeksi pada tenggorokan," Jelas dokter tersebut. Kondisi tubuh kamu sangat lemah. Kesibukan kamu apa saja?” ucap dokter tersebut.
“Siang saya kuliah, malam saya kerja dok.” Jawab Nafisa.
“Ingin rasanya dokter tersebut bertanya kepada Nafisa, kamu punya suami. Tapi kenapa kamu harus kuliah dan bekerja di malam hari. Di mana tanggung jawab suami kamu? Sehingga membuat kondisi istrinya sangat memprihatinkan," Namun hal tersebut tidak di lakukan dokter Aska. Kamu sangat kurang istirahat, wanita hamil di haruskan istirahat lebih banyak agar janin bisa terjadi pembentukan secara sempurna. Kondisi kamu sangat parah dan lemah dan sepertinya kamu harus memilih kerja atau kuliah.” ucapnya memberikan saran.
“Baik dok.” jawab Nafisa.
“Kamu harus rawat inap” ucap dokter Aska.
Mendengar kata rawat inap Nafisa merasa sangat lemas. Bagaimana bila ia di opname, gaji sebulan kerja habis untuk membayar uang rumah sakit dan mungkin juga tidak cukup.
“Dokter, apa saya bisa rawat jalan? Saya kuat kok dokter.” ucapnya menolak.
“Maaf Nafisa, kamu diharuskan untuk di rawat demi anak kamu.” Akhirnya Nafisa menganggukkan kepala dan dia akan mencari pinjaman di tempat kerja apa bila uangnya kurang.
“Ruangan yang tersedia apa aja dok?” Tanya Nafisa.
“Kelas 3. Isi 5 pasien. Kelas 2 isi 3 orang. Kelas 1, satu orang. Dan kelas vip 1 orang fasilitas lengkap termasuk fasilitas lengkap.”
“Saya ambil kelas 3 dok.” Jawab Nafisa.
“Baiklah tunggu sebentar.” ucap dokter tersebut.
Seorang perawat datang dengan membawa kursi roda dan meminta Nafisa duduk di atas kursi roda tersebut. Nafisa sampai ke dalam ruangan inapnya yang tampak ramai. Seluruh kasur penuh. Di tambah dengan keluarga pasien yang tidak sedikit.
Perawat membantu Nafisa untuk naik ke atas tempat tidur dan menutup kain pembatasan dan kemudian menganti baju tersebut dengan paju pasien yang berbentuk kimono yang di ikat bagian pinggang dan panjang selutut.
Perawat memasang infus di tangan Nafisa. Memasukkan obat lewat infus yang katanya tidak sakit karena tidak di suntik langsung. Namun saat obat itu di suntikan lewat infus, Nafisa merasakan bahwa tangannya langsung kebas. Setelah memasukkan obat dari selang infus perawat tersebut pergi meninggalkan tempat tidur Nafisa.
Seorang petugas rumah sakit datang membawa bubur, air putih di dalam gelas serta buah. Petugas tersebut meletakkan bubur tersebut di atas nankas di samping tempat tidur Nafisa. Nafisa memandang mangkok yang berisi bubur berwarna putih tersebut yang terpisah dengan sayur bening dan lauk. Ia sangat lapar. Namun ia tidak bisa menyendok sendiri karena tanganya yang di infus dan sekarang tangannya sangat kebas dan terasa pedih saat antibiotik di suntikkan di tangan.
Kamar tersebut ramai dengan keluarga pasien. Hanya Nafisa yang sendiri tanpa ada yang menemaninya.
“Baru masuk ya nak.” Seorang ibu paruh baya menegurnya.
“Ia buk.” Jawab Nafisa.
“Kamu lagi hamil?” Tanya wanita tersebut.
“Ia buk,” jawab Nafisa.
“Udah berapa bulan?” tanyanya.
“6 minggu,” jawab Nafisa.
“Kamu sendiri?” ucap wanita tersebut.
“Ia buk. Suami saya sedang di luar kota.” jawabnya.
“Orang tua kamu?” Tanya wanita itu lagi.
“Sudah tidak ada buk.” ucapnya.
“Mertua?” Tanya perempuan tersebut penuh rasa heran.
“Mertua saya sudah sangat tua. Jadi gak memungkinkan untuk saya bawa ke sini.” Ucapnya.
“Kasihan sekali kamu. Wajah kamu sampai pucat begitu. Kamu lapar? Ibuk akan menyuapin kamu makan.”
“Gak usah buk.”
“Udah gak apa.” Kata perempuan tersebut.
Wanita paruh baya tersebut mengambil piring yang berisi bubur tersebut. Ia mulai menyuapi Nafisa. Rasanya air matanya ingin menetes. Ia menahan sekuat mungkin agar tidak menetes. Disaat ini masih ada orang yang perduli dengan dirinya.
“Siapa yang sakit buk?” Tanya Nafisa.
“Menantu ibuk. Baru siap cesar. Ini minantu ibuk.” ucapnya sambil melihat tempat tidur yang ada seorang wanita yang masih berbaring.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. terimakasih atas dukungannya.
😊😊🙏🙏