Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberuntungan
Mentari dengan berat hati ia melangkahkan kakinya ikut bersama Toni ke kamar Neraka dan di ikuti oleh bodyguard untuk mengawasi Mentari agar tidak kabur. Sampai di kamar Mentari mencoba berpikir keras bagaimana caranya ia tidak tidur bersama Toni.
"Cepat masuk, sayang," ucap Toni dengan suara sensasionalnya.
Mentari ke dalam kamar ia berdiri dekat ranjang tubuhnya menjadi dingin seperti es saat di pegang Toni.
"Aku akan pelan-pelan sayang." Toni mulai membelai rambut Mentari.
Tiba-tiba panggilan Alam pun datang membuat Mentari sedikit lega. Bisa menunda waktu sebentar agar tidak ditiduri Toni.
"Ya Tuhan, ini gimana? gue pengen kabur. Mana semua tertutup. Kalo gue pura-pura pingsan itu ide yang buruk. Bisa-bisa gue langsung dimakan sama itu orang." Mentari bermonolog.
Ternyata Tuhan mendengar doa mentari, ponsel Toni tertinggal di nakas. Mentari mencoba membuka ponselnya ternyata ada password-nya. Mentari menjadi muram kembali rasanya ingin mati saja. Tiba-tiba ponsel menyala di sana tertulis id caller-nya istri tercinta. Tak menunggu lama Mentari langsung mengangkatnya.
Istri Toni📞"Sayang kamu pulang jam berapa?" tanya si empunya.
Mentari 📞"Tante tolong saya," ucap Mentari dibuat-buat dramatis.
Istri Toni📞"Kamu siapa? kenapa bisa memegang ponsel suami saya?" tanyanya lagi.
Mentari 📞"Saya wanita yang akan ditiduri suami Tante, saya di beli 500 juta loh Tan," terang Mentari berpura-pura menangis.
Istri Toni📞"Dimana kalian sekarang," ucapnya dengan emosi tingkat dewa.
Mentari📞"Saya nggak Tante cuma yang aku tau, saya di club malam."
Istri Toni📞"Ulur waktunya 15 menit kemudian, saya pasti datang."
Mentari📞"Terima kasih Tante." telepon telah dimatikan.
Toni keluar dari kamar mandi sudah telanjang dada hanya mengenakan celana pendek. Toni sudah siap menerkam Mentari tiba-tiba...
"Aduh Om, perut ku sakit mau ke toilet dulu. Ini panggilan alam," alibi Mentari lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sudah 15 menit Mentari di dalam kamar mandi, dengan tidak sabar Toni mengetuk kamar mandi.
"Sayang, buruan. Jangan lama-lama!" teriak Toni dari luar kamar mandi.
"Astaga itu orang nggak sabaran banget sih," gerutu Mentari.
"Cepat keluar atau pintu aku dobrak!" teriaknya lagi.
Dengan terpaksa Mentari membuka pintu dengan pelan-pelan. Tapi Toni malah mendorong pintunya dengan sangat keras. Membuat Mentari terjingkat kaget liat tingkah Toni sangat agresif. Lalu Toni menarik tangan Mentari agar cepat keluar dari kamar mandi.
"Sakit Om," cicit Mentari sambil mengusap-usap tangannya.
"Makannya nurut."
Toni memegang bahu Mentari agar ia duduk ditepi ranjang. Mentari duduk di tepi ranjang dengan memejamkan matanya saat Toni akan menciumnya dan tiba-tiba.
Brak...
Pintu kamar terbuka dengan wanita paruh baya masuk ke dalam kamar yaitu istri Toni.
"Papa!" teriak wanita itu.
Toni langsung menoleh kearah sumber suara, padahal kurang 2 cm lagi sampai dibibir Mentari. Toni langsung memundurkan tubuhnya.
"Mama ini salah paham," ucap Toni ketakutan.
"Cih, suami-suami takut istri, gitu berani-beraninya main perempuan," batin Mentari, ingin tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya Toni pergi meninggalkan Mentari di kamarnya, Setelah Toni pergi Mentari tertawa sangat bahagia.
"Ada yang lucu?" tanya Mami Tiara sinis.
"Nggak ada," ketus Mentari tak kalah sengit menatap Mami Tiara.
"Gara-gara kamu, klien kita kabur dan baru Dp 50jt," ucap Mami Tiara dengan menjambak rambut Mentari.
Mentari meringis kesakitan menahan sakit, dengan tidak sengaja air matanya tumpah di pipi.
******
"Bu, gimana kalo kita coba ke cafe tempat kak Mentari kerja. Pasti kita punya jawabannya," ajak Revalina kepada Bu Fatimah.
"Kamu tau tempatnya?" tanyanya.
"Tau Bu, ayo." Revalina menggandeng tangan Bu Fatimah seperti menggandeng ibunya sendiri.
Di dalam perjalanan Revalina penasaran dengan kehidupan Bu Fatimah. Revalina berinisiatif bertanya kepadanya tentang keluarganya.
"Bu, Revalina boleh tanya?"
"Tanya apa nak, ngomong aja jangan sungkan." Bu Fatimah tersenyum.
"Ibu kok sendirian dirumah, memangnya keluarga ibu kemana?" Revalina sangat menunggu jawabannya.
"Suami dan anak ibu sudah tiada Va," ucapnya dengan tersenyum.
"Wah, hal sedih gini masih bisa tersenyum," batin Revalina dengan wajah tercengang.
"Maaf ya Bu, bukan mau buat ibu sedih." Revalina memeluk Bu Fatimah.
"Iya, nggak pa-pa Va. Suami dan anak ibu meninggal karena kecelakaan. Kami bertiga masuk ke dalam jurang. Hanya ibu yang selamat." Ibu Fatimah membalas pelukan Revalina.
15 menit kemudian mereka berdua sampai di depan cafe tempat Mentari bekerja. Di sana ada Alex sedang mencari Nata karena semalam tidak pulang setelah acara pesta selesai.
"Kamu di sini ngapain Va?" tanya Alex.
"Cari Kak Mentari, Kak. Dia dari semalam tidak pulang," terang Revalina.
"Bukan semalam bareng lo Lex?" selidik Niki.
"Iya, tapi bentar. Nggak lama kok." Alex mencoba menjelaskan.
"Aduh kemana ya." Revalina menangis.
"Kamu udah cari dirumah Rio atau Weni?" tanyanya lagi.
"Belum, orang nggak tau rumahnya," jawab Revalina sedikit panik.
"Ya udah yuk, aku bantu cari," ajak Alex.
"Nanti ngerepotin Kak lagi," ucap Revalina canggung.
"Nggak kok."
"Aku ikut," rengek Niki.
Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam mobil Alex menuju ke rumah Rio.
****
"Bos, jangan banyak-banyak minumnya nanti mabuk," titah Bima.
"Berisik kamu," ucap Nata sambil meneguk minumannya.
Bima sang asisten pribadi, sudah binggung mengurusi sang bos. Karena dari semalam banyak minuman beralkohol membuat Bima was-was.
"Ayo bos kita pulang," ajak Bima.
Nata malah merancau memanggil nama Mentari tak henti-hentinya. Membuat Bima binggung harus apa yang ia lakukan. Dengan terpaksa Bima sedikit memaksa Nata pulang dengan merangkulnya karena berjalannya sudah susah. Tiba-tiba Nata sedikit sadar menunjuk seorang wanita di ujung sana sedang di kerumuni pria hidung belang.
"Aku mau wanita itu, bersama ku sekarang untuk menemani ku hari ini," lugas Nata.
Dengan terpaksa Bima melobi wanita tersebut agar mau tidur dengan bosnya.
"Gila 500juta? cuma tidur dengan wanita itu," gumam Bima dengan menggaruk tengkuknya tidak gatal.
Bima berjalan menemui bosnya di dalam kamarnya memberi tahu jika wanita itu sangat mahal jika tidur bersamanya.
"Bos gila, 500 juta!" teriak Bima sedikit syok.
"Masih peraw*n kan?" tanya Nata hanya mengenakan handuk kimono, karena ia selesai mandi.
"Berapa pun aku bayar asalkan wanita itu bersama ku. Ingat cari informasi kenapa dia bisa bekerja di sini," titah Nata.
"Siap bos, laksanakan," pamit Bima.
Beberapa saat wanita tersebut masuk ke dalam kamar Nata dengan membawa nampan berisi wiski.
Prang...
Wanita tersebut syok saat melihat Nata duduk di tepi ranjang menatapnya ingin memangsa. Wiski yang sudah pecah, kacanya berserakan di bawahnya langsung ia ambil satu persatu. Tapi Nata melarangnya malah menyuruhnya berdiri dan memeluknya dari belakang.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤