"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Nana dan Fio tengah berjalan-jalan di koridor sekolah, lagi-lagi mereka bertemu dengan Fahrul, tapi kali ini, Pria tersebut ditemani oleh Kyla yang begitu menempel dengannya.
"Fahrul sayang, nanti malam main yuk," ajak Kyla dan Fahrul mengangguk.
Hal yang tidak terduga terjadi di depan mata mereka, yang dimana Fahrul mengecup bibir Kyla.
"Kok gue jijik yah?" tanya Nana dan Fio mengangguk.
"Eh, itu Fahrul kena pelet yah? Bisa-bisanya nyosor bibir Kyla gitu aja," tanya balik Fio.
"Kena pelet setan kentut palingan," jawab Nana.
"Ngaco kalau ngomong," balas Fio.
Kemudian mereka melanjutkan jalan yang sempat tertunda tadi. Lain halnya dengan Fahrul yang menggeram kesal, mengapa Fio tidak cemburu? Ataupun mencegahnya agar mencium Kyla.
"Ck," Fahrul berdecak sebal kemudian meninggalkan Kyla begitu saja.
"Fahrul, tungguin!" panggil Kyla manja yang membuat siswa lain muak melihatnya.
Di tempat lain, Fallen dan Dertox kembali aktifitas mereka masing-masing, yang di mana Dertox terus mengawasi Fio dan Nana, sedangkan Fallen berada di kampus.
"Akhir-akhir ini, Gino gak gabung yah bro, lo tau ke mana tuh Anak?" tanya Rejav, teman Fallen.
Fallen hanya mengedikkan bahunya pura-pura tidak tahu, lagipula Ia tidak ingin membahas Pria sialan itu yang membuat hatinya memanas kala mengingat kejadian tersebut.
"Eh, lo marah bro? Kok tangan lo ngepal gitu?" tanya Rejav.
"Hm, rasanya gue pengen ngebunuh orang," jawab Fallen dingin kemudian meninggalkan Rejav.
Rejav mendengar perkataan Fallen barusan bergidik ngeri, mengapa kembalinya Pria itu sifatnya masih sama? Bahkan lebih dingin lagi, apa ini efek tidak adanya Gino? Rejav mengedikkan bahunya pula kemudian menyusul Fallen.
"Argh!" teriak Rene.
Lagi-lagi gagal, orang suruhan yang ia kerahkan dengan mudahnya dilenyapkan oleh Fallen begitu saja, Rene penasaran, siapa anak buah Fallen? Mengapa sehebat itu? Bahkan dua puluh orang suruhannya tidak ada apa-apanya. Lama-lama ia akan bangkrut kalau begini.
"Uang dan uang! Segalanya harus dengan uang, dan semuanya sia-sia, mereka tidak becus sama sekali, apa Aku harus bekerja sama dengan Mafia? Jika Aku mengandalkan adik bodoh itu, sama saja tidak ada gunanya," ucap Rene.
"Memang tidak ada gunanya."
Rene terkejut, suara itu, adalah suara Fallen, bagaimana ia bisa tahu markasnya di kampus ini? Hanya dia dan Gino yang tahu tempat ini.
"Mengapa Kau-"
"Kau terlalu meremehkanku, Rene. Kau tidak tahu jika Aku punya banyak jaringan, tadi Aku mendengar bahwa Kau menyebut seorang Mafia?" tanya Fallen.
Rene menjadi diam, dia menunggu apa yang dikatakan Fallen selanjutnya, "Akan kubuka identitasku yang sebenarnya, Aku adalah seorang Mafia. Mantan pemimpin lima negara penduduk Mafia terbesar di dunia," ucap Fallen.
Rene kembali terkejut, dari perkataan Fallen ia tidak berbohong, tapi ia harus meyakinkan hatinya bahwa itu hanyalah gertakan.
"Dasar pembohong! Omong kosong apa yang Kau lontarkan hah? Yang menduduki jabatan tersebut adalah Gino, bukan Kau!" tolak Rene.
Fallen tertawa keras, "Hahaha, berhenti menyebut nama Pria penghianat itu, memang dia yang menduduki jabatan itu, tapi itu semua karena diriku, Aku yang memercayakannya, tapi apa? Dengan mudahnya dia melanggar perjanjiannya, dan Aku sangat bersyukur kedok kalian sudah terbongkar, dan kali ini, Aku tidak akan melepaskan-mu, dan semua rencana-mu akan Aku bongkar dihadapan Adik-mu, Fahrul," ucap Fallen dengan seringaiannya.
Kini Rene kalang kabut, keringat dingin memenuhi pelipisnya, ia bingung harus berbuat apa, bunuh diri? Tidak, itu adalah tindakan yang konyol.
Detik kemudian, satu yang terlintas dipikiran Rene, Bunuh Fallen, apapun yang terjadi, dibunuh atau membunuh.
"Tentu saja Aku akan membunuh-mu Pria sialan! Hahaha," teriak Rene diiringin dengan tawanya.
Dor!
Peluru menembus kepala Rene setelah wanita berteriak, "Cih, jangan harap Kau bisa membunuhku, sama saja menyerahkan dirimu kepada yang kuasa," ucap Fallen kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Sore hari, berita akan terbunuhnya Rene sudah menyebar luas, buktinya Fio dan Nana berteriak histeris, "Astaga, benarkah itu? Aku tidak menyangka jika Kak Rene sudah meninggal, apalagi dengan cara yang mengenaskan," ucap Fio.
Fallen memicingkan matanya menatap Istri yang tengah iba kepada Rene, "Sudahlah jangan memikirkan wanita jalang itu, lebih baik mengkhawatirkanku honey," ucap Fallen kemudian menghirup wangi Fio.
"Dasar pe-cemburuan," ucap Fio.
"Duh, romantis mulu kerjaannya, kapan sih gue dikasih ponakan?" tanya Nana dan Fio menatapnya tajam.
"Astaga, Nana. Kok mancing singa mesum sih?" kesal Fio.
Fallen tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya, "Apa Kau tidak kasihan melihat sahabatmu yang merengek meminta ponakan? Ayolah sayang," ajak Fallen.
"Itu mau-mu Fallen, Aku belum siap, kan Aku mau kuliah dulu," balas Fio.
"Gak usah kuliah, jadi Ibu dari Anak-Anakku saja," balas Fallen.
"Heh, jadi IRT tuh gak boleh sembarangan Fallen, Aku juga harus pintar, biar bisa didik Anak-anak Kamu di rumah selain gurunya di sekolah," balas Fio lagi.
Fallen hanya mengangguk kemudian mengecup pipi Fio dengan lembut, "Aku mencintaimu," ucap Fallen dan Fio membalasnya, "Aku juga."
"Jomblo mah bisa apa?! Huarghh!"
~~
Terimakasih, beri like dan komentar kalian.
kalau pribadi yimak .membawa like