Ini squel dari novel : only you, my possessive husband dan the dark side of love. Anak anak mereka.
Hidup Adelion Zildzyan Febriano, dan kembarannya Anindhita cheisya Febriano berubah drastis ketika mengenal sosok Alula Carletta. Gadis cantik dengan segudang misteri.
Pertemuannya yang tidak sengaja dengan Alula membuat Adelion jatuh cinta. Namun, justru menyeret saudara kembar itu dalam kubangan teka-teki yang amat rumit dan membawa keluarga mereka dalam bahaya.
Siapakah Alula?
Mampukah Delion dan Dhita menyatukan kepingan puzzle itu, dan mengungkap jati diri Alula?
Ikuti kisahnya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
In danger
Dewa meringis kesakitan sambil bersandar di dinding, dia menghembuskan nafasnya perlahan dengan sesekali terbatuk-batuk. Pukulan para pecundang itu benar benar membuat organ organ dalamnya berantakan. Bahkan rahangnya terasa keram juga giginya yang berasa mau copot.
Dewa melirik ke lantai, percikan darahnya hasil keroyokan tadi juga masih berceceran di mana mana, begitu kental dan cukup banyak. Rasanya Dewa pengen ngaca sebentar aja, pengin liat separah apa mukanya sampe darahnya sebanyak itu. Tapi sayang gak bisa.
Untungnya hape Dewa masih aman di kantong celana, gak jadi korban pengroyokan juga. Dewa pun meraih benda canggih itu dari sakunya, berniat mau ngaca. Tapi sebelum Dewa ngaca lewat layar hape, dia nelpon Adelion dulu buat nolongin dirinya. Dewa bener bener gak bisa jalan sendiri buat keluar dari toilet. Kebetulan juga gak ada orang yang masuk buat di mintain pertolongan, jadilah Dewa menderita sendirian di toilet.
Tutt, tutt...tutt
Lima detik kemudian, panggilan tersambung.
"Oiii, kenapa?" Seseorang di sebrang sana bertanya.
"Uhukk, uhukk" Dewa batuk. "Lion, tolongin gua." Suara Dewa lirih, sambil nahan sakit.
"Lo kenapa?"
Dewa menghirup napas dalam, menahan batuk. "Gu-gua di ke-keroyok..."
"Lo dimana? Gua kesana sekarang!" Orang di sebrang sana menyela ucapan Dewa karena saking paniknya.
"To-toilet."
Tuuuuutttt. Adelion memutus panggilan lebih dulu.
Dewa menyandarkan kepalanya sambil menutup mata, nungguin Adelion datang. Saking senengnya bakal di tolongin, dia sampe lupa gak jadi ngaca.
Tidak lama berselang, pintu di dobrak dari luar dengan sangat kencang.
Brak!!
"Dewa!!" Panggil Adelion dan Anindita bersamaan. Dua saudara kembar itu masuk ke dalam toilet sambil berlari kecil.
Dewa nyengir, terus batuk.
"Ya ampun Dewa" Anindita berteriak histeris kala melihat Dewa yang babak belur, kaya maling di gebukin.
Anindita langsung jongkok depan di Dewa ngikutin abangnya. Berbeda dengan Anindita yang sedih, muka Adelion dominan marah.
"Siapa yang lakuin ini ke Lo?" Nada suara Adelion berat, nahan emosi.
"A-anak Cobra." Tutur Dewa.
"Bngsad!!" Adelion mukul tembok di samping kepala Dewa, bikin Dewa kaget.
"Anak Cobra siapa?" Tanya Anindita bingung, dia gak tau apa apa.
"Mereka anak geng motor, mereka juga yang mukulin Abang waktu itu." Tutur Adelion menjelaskan.
Anindita menoleh ke arah Dewa, dan cowo itu pun mengangguk. Membenarkan ucapan Adelion.
"Kita lapor polisi aja. Biar mereka di penjara." Usul Anindita. "Nanti di bantu om Doni sama ayah buat nyari bukti."
Adelion menggeleng, dia gak mau ngelibatin ayahnya. Yang ada tuh anak anak Cobra di habisin sama ayahnya di ruang bawah tanah. Adelion tau betul gimana watak ayahnya, dan juga Daddy Raka. Jimmy yang bercerita padanya, bagaimana dulu dua manusia itu tidak memberi ampun pada musuh.
"Kenapa? Kalian mau bales dendam dengan cara ngeroyok mereka lagi?"
Adelion dan Dewa sama sama tidak menjawab, mereka berdua gak mau Anindita tau. Bisa bisa nanti di laporin ke ayahnya.
Anindita menghembuskan napas pelan seraya duduk di samping Dewa.
"gini ya, kalo kalian bales dendam dengan cara ngeroyok mereka lagi, itu gak akan selesai. Pasti mereka akan bales kalian lagi. Dan begitu seterusnya." Tutur Anindita, karena yang dia tau, bales dendam itu gak ada ujungnya.
Dewa dan Adelion saling pandang, saling bertanya lewat tatapan mata. Sebelum Anindita berargumen lagi, Adelion pun mengalihkan pembicaraan.
"Udah, yang penting sekarang kita bawa Dewa ke rumah sakit dulu." Adelion langsung membantu Dewa berdiri, menaruh tangan Dewa di bahunya. Anindita juga membantu memapah di sisi satunya.
Baru jalan sampe pintu, security dan beberapa orang lain dateng. Dan langsung memberondong pertanyaan. Tapi Adelion main nyelonong aja sambil merebut hape orang yang berniat merekamnya.
"Norak! Lo rekam aja diri blo sendiri!"
Adelion melanjutkan langkahnya setelah melempar hape. Gak kenceng sih, tapi cukup bikin benda itu retak dan mati total.
***
Arka dan anak Cobra yang lain tertawa puas sambil nyamperin Reyga yang katanya udah ada di kafe sama Alula. Mereka udah gak sabar mau cerita sama Reyga soal insiden tadi.
Ibarat kata, pucuk di cinta target pun tiba. Gak usah di cari sampe ke markasnya, anak monyet nyamperin sendiri.
Emang lagi apes aja itu anak. Kasian.
Begitu Arka mau belok masuk ke kafe, matanya ngeliat orang yang abis dia gebukin tadi. Bukan sosok Dewa, yang bikin Arka kaget. Tapi, Adelion. Musuh yang sebenarnya mereka cari.
"Sstt, anak monyet bawa temen." Arka berucap memberitahu teman yang lain.
"Mana?" Sergah si Jamet.
"Noh" tunjuk Arka ke arah lift, dimana tiga manusia sedang berdiri di depan sana.
"Bentar! Itu cowo yang kemaren mukulin si Reyga kan? Bngsat!!!" Jamet dan yang lainnya mau maju, tapi di tahan sama Arka.
"Santai men, Lo gak liat ini rame? Mau viral Lo di medsos?" Arka menyeletuk.
"Gblok!!." Teman yang di belakang Jamet menoyor kepalanya.
"Lo jangan bikin malu anak Cobra ***, kalo kalah yang malu bukan lu, tapi kita."
Mereka belom tau kalo rivalnya anak konglomerat yang punya bodyguard banyak.
"Bacot Lo kalo ngomong! Gini gini gua jebolan sabuk item Taekwondo." Jamet membela diri.
"Iya in aja, biar cepet kelar" ledek teman yang lain sambil tertawa.
"Rese lu pada" Jamet ngambek, mukanya di tekuk.
"Ssttt udah udah... Lo liat tuh cewe cakep yang sama anak monyet" Arka menunjuk ke arah Anindita.
"Itu ceweknya si biang monyet atau cowo yang abis kita gebukin tadi?"
Mereka langsung fokuskan pandangan ke arah Anindita semua, melihat gerak gerik cewe itu yang ternyata lagi debat sama Adelion.
"Lo semua lagi pada ngapain di depan pintu?" Reyga berbicara pelan penuh nada sambil tangannya menepuk bahu Arka.
Arka nengok, yang lain juga ikutan nengok. "Lo liat deh Ano, cewe yang lagi berdiri depan lift." Kata Arka.
"Mana?" Reyga melihat ke arah yang Arka maksud.
Tapi sayang. Anindita, Adelion dan Dewa udah keburu masuk ke dalam lift.
"Yahhh, udah masuk." Seru mereka rame rame.
"Cewe siapa sih? Cakep banget emang? sampe segitunya di liatin." Heran Reyga.
"Bukan cakep doang men, dia itu kayaknya cewenya si biang monyet." Tutur si Jamet.
Wait? Jangan bilang cewe yang mereka maksud itu si Ani!
"Gimana kalo kita kerjain cewenya aja? Biar mampus tuh orang." Usul salah satu cowo dari anak Cobra.
"Enggak enggak, gua gak setuju!" Tolak Reyga spontan dengan nada tinggi, bikin yang lain kaget plus heran.
"Santai aja kali men, gua kan cuma becanda." Cowo yang memberi usul tadi menyenggol bahu Reyga sambil maksain ketawa. Dia takut Reyga marah.
"Tapi usul dia boleh juga sih, tuh cowo kan juga pernah gangguin cewe Lo." Timpal Arka, menyetujui usulan temannya.
"Kan, gua sama Arka satu pemikiran." Cowo tadi bersuara lagi, merasa ada yang membela dirinya.
"Pokoknya gua enggak setuju!" Reyga berucap tegas, dengan wajah serius. Kemudian berbalik badan meninggalkan Arka dan yang lainnya.
"Woilahhh, gitu aja ngambek" Arka berseru sembari mengejar langkah lebar Reyga memasuki kafe.
"Sensi banget si Ano, kayak cewe lagi dapet aja."
"Huum, tumben dia gak kayak biasanya."
"Apa dia punya rencana lain?"
"Gak tau juga, susah di tebak dia mah."
Mereka bergosip sembari berjalan menyusuli Arka dan Reyga.
***
Sore itu, di kantor utama perusahaan Febriano.
Karyawan nampak hilir mudik sibuk dengan tugasnya masing masing. Ada yang bersiap-siap pulang, ada juga yang pusing karena harus lembur. Office girl, dan office boy juga ikutan sibuk bersih bersih, sama nganterin makanan dan minuman pesanan.
Sementara di ruangan Raka, nampak tenang dan sunyi. Sepertinya meeting siang tadi bikin Davina kecapean terus tidur. Lain dengan Raka yang masih berkutat dengan laptop di depannya, setelah tadi menandatangani beberapa berkas. Dan memeriksa laporan perusahaan.
Padahal dia juga capek, pengen ikutan bobo di samping Davina sambil meluk wanita seksi itu. Tapi apa boleh buat, pekerjaan menunggunya.
Tidak lama berselang, pintu ruangannya di ketuk dari luar oleh seseorang.
"Masuk" titah Raka, dia menghentikan aktivitasnya dan duduk bersandar di sandaran kursi menunggu orang itu masuk.
Pria yang tadi mengetuk pintu itu pun masuk ke dalam, yang tak lain ialah Jimmy. Yang tadi siang mergokin Raka sama Davina mesra mesraan. Jimmy berdiri di depan meja Raka dengan raut takut.
"Duduk" titah Raka, dia yang memang sengaja ngundang Jimmy lagi. Karena belum tuntas soal pertanyaan tentang Bagaskara.
Jimmy pun duduk di kursi berhadapan dengan Raka.
"Ceritain apa yang Lo tau soal Bagaskara." Pinta Raka.
Jimmy berdehem sebentar, kemudian mulai menceritakan apa yang dia lihat olehnya tempo hari.
Waktu itu Jimmy tidak sengaja datang ke daerah perkampungan, dimana tempat Bagaskara bertransaksi. Saat itu dirinya sedang membantu seorang ibu tua mengantarkan pulang ke rumahnya, yang kebetulan berada di daerah sana.
Dia melihat Bagaskara di sebuah gedung serba putih sedang berbicara dengan orang orang asing. Dan tidak lama tiga gadis keluar dari gedung tersebut dengan memakai pakaian minim dan tudung kepala.
Lalu setelah orang orang asing itu pergi, datang lagi mobil mewah dengan sepasang suami istri yang turun dari benda itu. Penampilannya sangat elegan, terlihat kaya.
Mereka berdua masuk ke dalam gedung itu dengan raut bahagia, bahkan si wanita sampe mengusap pipinya seperti terharu.
Raka mengangguk anggukan kepala dalam diam, menyimak cerita Jimmy. Dan dia semakin penasaran dengan pria bernama Bagaskara itu.
"Mulai besok Lo selidiki tempat itu, gua penasaran sama bisnis gelap Bagaskara."
"Baik bos." Jimmy menganggukkan kepala, kemudian bangkit dari kursi dan ijin pamit keluar.
Setelah kepergian Jimmy, Raka melirik ke arah ruangan dimana Davina tidur. Ternyata wanita cantik itu sudah bangun, dan berdiri di ambang pintu dengan senyum manis yang cukup menggoda bagi Raka.
"Ronde kedua di mulai, sebelum pulang ke rumah."
🍁🍁🍁
Ati ati encok bang, inget umur 😌 tar Oby pangglin kang urut.
Kata orang, makin tua cowo makin do**n. Karena Oby belom tua, jadi gak tau 😂😂
Like, komen share ya 🤩
Dewa
Adelion
Anindita
takut rindu🤭🤣🤣🤣
jan kelamaan bang oby iklannya