"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. chapter sembilan belas
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
Kantin...
Elang terus-menerus diganggu oleh Zee. Apalagi Zee selalu menanyakan Alifa padanya. Membuat elang pusing sendiri menghadapi Zee.
"Elang, kapan nih Bebeb Alifa kesini?" Tanya Zee penuh harapan.
Elang menepuk jidatnya sendiri.
'nih, bocah... Gue pengen jitak palanya sangking ngreget nya gue.' batin elang.
"Bodo amat gue ngak peduli! Bye, jangan nganggu gue lagi!" Ketus elang beranjak pergi meninggalkan Zee seorang diri.
"Yah, nih anak main cabut saja." Cibir Zee.
***
"Mbak Maya, tolong lepasin mbak... Sakit..." Rintih kesakitan zhara memegangi kerudungnya yang ditarik oleh Maya.
"Heh, makanya jadi orang jangan sok pahlawan." Ketus Maya.
"Mbak, tolong lepasin kami... ikhik..." Ujar diva ketakutan. Air matanya tak henti-hentinya membasahi pipinya.
"Enak saja Lo. Lo udah berani yah melawan kita. Lo apa ngak tahu siapa kita, ha!" Abel menambak cengkraman kuat di kerah leher diva.
"Hahahaha... Dasar payah." Cibir Siska.
Diva dan zhara sama-sama tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriak pun mereka akan tambah kena bully oleh Maya dkk.
Jika mereka membantah permintaan Maya dkk, maka mereka siap-siap harus kena hukuman oleh mereka. Ingin sekali mereka mengadu, namun Maya dkk mengancam akan membalas perbuatan mereka dengan lebih kejam.
"Sakit.. mbak.." desah kesakitan zhara yang tak berhenti nya meronta-ronta minta di lepaskan.
Siska hendak ingin menampar zhara, namun tangannya dicengkeram oleh sosok yang ada dibelakang nya. Diva tersenyum senang melihat Alifa ada dihadapannya.
Alifa tersenyum sinis. Alifa memutar pergelangan tangan Siska sampai membuat Siska merintih kesakitan.
Krak...
Diva, zhara, Maya dan Abel merasa ngilu sendiri melihat Alifa dengan mudah memutar pergelangan tangan Siska.
'gila!!!' batin Maya memegang pergelangan tangannya sendiri.
"Le---lepaskan... Ikhik..."
Alifa melepaskan cengkraman nya. Siska memegang pergelangan tangannya. Air matanya terus mengalir membasahi pipi Siska.
Alifa menghampiri zhara dan diva. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu zhara dan diva berdiri. Zhara dan diva menerima uluran tangan Alifa.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Alifa.
"Makasih mbak Alifa... Ikhik..." Ujar diva khas suara nangis.
"Heh, siapa Lo berani-beraninya melepaskan mangka kami!" Ketus Abel.
"Lo harus bertanggung jawab dengan keadaan Siska!"sambung Maya.
Alifa tersenyum sangat sinis. Ia melepaskan kaca mata hitam nya.
"Tangung jawab???" Cibir Alifa santay.
"Ya lah. Lo harus tanggung jawab!" Ketus Maya.
"Kalo gue ngak mau?"
"Sombong sekali Lo. Emangnya Lo siapa?" Ketus Abel dengan nada tinggi.
Diva hendak menjawab pertanyaan Abel, namun Alifa memberi peringatan untuk tidak memberitahu identitas nya terlebih dahulu. Diva mengangguk dengan permintaan Alifa.
"Kenapa diem? Sok pemberani! Kalo berani sini lawan kami!" Tantang Abel percaya diri.
'menarik.' batin Alifa.
"Maju!" Ujar Alifa santay.
"Mbak, jangan mbak. Udah biarkan mereka." Saran zhara takut akan terjadi pertengkaran hebat.
"Lo tenang saja. Diva menghindar lah dari sini. Lo juga sama." Ujar Alifa.
Diva menganggukkan kepalanya. Diva dan zhara sama-sama menjauh dari tempat itu.
Abel dan Maya mulai menyerang Alifa secara membabi buta. Namun, serangan mereka sama sekali tidak mengenai tubuh Alifa. Alifa dengan mudah menghindari serangan Abel dan Maya.
"Giliran gue." Seringai dari Alifa.
Alifa memukul wajah Maya. Lalu Alifa memutar tangan Abel hingga terdengar suara tulang patah. Tak sampai disitu saja Alifa juga memberikan ukiran namanya di pergelangan tangan Abel dan Maya.
Siapapun yang melihat itu pasti akan ingin muntah. Abel dan Maya sudah babak belur dalam sekejap. Saat Alifa ingin melangkah maju ada sebuah tangan kekar memegang pergelangan tangannya.
"Hentikan Manda." Ujar Gus Rizal sosok yang memegangi tangan Alifa.
Alifa membalikkan badannya. "Lepasin!" Alifa memberontak meminta dilepaskan.
"Jangan lakukan itu pada mereka. Apa kamu tidak merasa kasihan sama mereka?" Tanya Gus Rizal mencoba memadamkan amarah Alifa.
"Untuk orang kotor seperti mereka? Cih, menjijikkan." Ketus Alifa.
Zee datang langsung memeluk Alifa. Namun, Alifa membanting tubuh Zee sampai Zee terbanting diatas tanah.
"Jangan pernah peluk gue!" Ujar nada tinggi Alifa. Karena, dirinya sangat tidak suka dipeluk-peluk orang.
Elang dan Gilang bergidik ngeri dengan mudah Alifa membanting tubuh Zee.
"Gilang dan elang tolong kalian bawa mereka bertiga kerumah sakit." Ujar Gus Rizal.
Gilang dan elang mengangguk kepalanya. Mereka sama-sama membantu Maya, Abel dan Siska pergi kerumah sakit. Tinggallah sebuah kerumunan mengelilingi Alifa.
"Gue bilang lepasin tangan gue!" Alifa menghembuskan tangan Gus Rizal dengan kasar.
"Nak Alifa, apa kamu yang melakukan itu semua?" Tanya umi masih tak menyangka dan sangat syok.
"Iya." Jawab singkat Alifa.
"Umi, niat mbak Alifa itu baik. Mbak Alifa tadi membantu kami dari bullyan Maya dkk." Ujar diva.
Umi sangat terkejut. "Apa itu benar Alifa?" Tanya umi untuk memastikan.
"Percuma saja. Saya bicara kalian pasti tidak akan mempercayai nya. Orang jahat seperti mereka pantas untuk mati!" Ketus Alifa.
"Kenapa kamu mengatakan itu nak?" Ujar umi syok dengan perubahan pada diri Alifa.
'apa yang membuat dirimu tambah dingin manda.' batin Gus Rizal iba.
Alifa tersenyum pahit mendengar isi hati Rizal.
"Alifa... Maafkan Abah. Tapi, kalian bertiga harus mempersiapkan diri untuk sidang." Ujar Abah.
"Sidang??? Heh, jika itu yang kalian mau, dengan senang hati saya akan menerimanya." Ujar Alifa berlalu pergi.
Umi, Abah, Gus Rizal, zhara dan diva menatap kepergian Alifa.
"Umi, apa yang terjadi pada Manda?" Tanya Gus Rizal.
"Umi juga tidak tahu nak. Diva dan zhara tolong umi untuk yah untuk menjaga Alifa." Ujar umi
"Baik umi." Ujar diva.
"Kami pasti akan menjaga Alifa." Ujar zhara.
***
Sungai
Alifa menghirup udara segar disekitar sungai. Suasana di sungai sangat cocok untuk Alifa menenangkan diri.
Alifa duduk diatas tanah hijau. namun, tiba-tiba elang, Gilang, dan Gus Rizal ikut duduk bersama Alifa.
Diva dan zhara juga ikut menemani Alifa.
"Apa yang membuat Lo berubah, Al?" Tanya elang.
"Gue berubah???"
"Iya. Lo berubah. Lo ngak seperti Alifa yang gue kenal." Ujar elang.
"Katakan pada kami mbak... Siapa tahu kami bisa dibantu mbak." Sambung diva.
Alifa diam saja.
"Biarkan gue sendiri!"
"Tapi, mbak..." Ujar diva terpotong mendapatkan tatapan tajam dari Alifa.
"Huh, baiklah. Jika itu mau Lo." Ujar elang.
"Ayo kita pergi!" Ajak elang.
"Elang, bisakah kita bicara berdua saja?" Tanya Alifa.
Elang mengangguk kepalanya. "Baiklah Alifa."
"Kami akan menunggu mbak didalam kamar."