NovelToon NovelToon
Higanbana

Higanbana

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Contest / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:160.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pipit Otosaka

SEASON 6!

*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^

SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.

Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?

Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================

GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action

COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!

JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)

[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]

IG: @pipit_otosaka8

Terima kasih telah mampir ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19– Hutan

Sebelum keluar dari pedesaan, mereka harus melewati satu kuil dan di belakang kuil itu terdapat beberapa anak tangga untuk menuruni bukit. Kan pedesaan Mizuki berada di dataran tinggi.

Saat di tempat itu, Rei jadi teringat dengan pembicaraan tadi malam tentang mayat dan bunga merah itu. Jadi sebelum pergi ke hutannya, ia ingin Mizuki mengantarnya sampai ke tempat yang sering ditemukan mayat tersebut.

"Eh? Apa yang ingin kau periksa di tempat itu? Kan sekarang mayat-mayat mereka telah diangkut dan dimakamkan." Jawab Mizuki.

"Jika tidak ada mayat, mungkin aku bisa memeriksa bunga merah itu."

"Maksudmu bunga Higanbana? Tapi bunga itu tidak akan tumbuh pada musim ini." Balas Mizuki.

Mendengarnya, Nashira langsung mengetik ponselnya untuk mencari sebuah web tentang bunga tersebut. Sejujurnya ia tidak tahu apa itu Higanbana. Makanya ia langsung saja mencari infonya di internet.

"Ooh ..." Tak lama Nashira menemukan apa yang ia cari. "Higanbana itu seperti ini. Lumayan cantik juga, tapi ternyata bunga ini adalah lambang kematian yang dipercaya masyarakat Jepang. Kadang mereka suka meletakkan bunga ini di dekat mendiang seseorang dan kuburan orang yang telah meninggal. Beberapa juga, bunga ini ada yang tumbuh di tanah kuburan. Ah, ternyata benar kata Mizuki."

"Ooh! Ini yang ada di dorama!" Adel mengintip ponsel Nashira dan langsung berseru. Kemudian Akihiro ikut menimpali. "Di anime juga banyak ditayangkan bunga seperti itu."

"Ya ... bunga ini tumbuh saat awal musim gugur. Sedangkan sekarang kan awal musim panas. Tidak mungkin bunga itu bisa tumbuh." Jelas Nashira. Lalu ia membuka map lewat ponselnya lagi dan menyalakan arah jalannya.

"Ya kan? Musim panas ini jarang turun hujan. Bunga itu lebih suka suhu yang dingin dan kalau sering hujan di sini, mereka juga bisa tumbuh. Intinya bunga itu memerlukan banyak air untuk tetap hidup. Jika tidak mereka akan mati layu." Terang Mizuki. Lalu ia berbalik badan dan kembali melangkah menuruni tangga batu. Semuanya pun kembali berjalan dan mengikuti Mizuki dan Nashira.

Sementara itu, Rei di belakang masih berhenti. Ia hanya berjalan pelan tapi otaknya masih memikirkan tentang bunga tersebut. "Ternyata bunga itu hanya tumbuh di musim tertentu. Tapi yang aku dengar dari penjelasan Natsuki kemarin, orang yang meninggal di dekat sungai itu, tanah di sekelilingnya ditumbuhi oleh beberapa bunga merah tersebut. Apa bunga itu bisa tumbuh karena mayat manusia? Itu tidak masuk akal.

"Lalu apa yang menyebabkan bunga itu bisa tumbuh di dekat mayat manusia? Kalau aku pergi sekarang ke sungai itu, bunga tersebut pasti sudah mati karena mayatnya tidak ada di sana lagi.

"Eh tapi ... bunga itu selalu membutuhkan banyak air untuk tetap bertahan hidup. Orang yang mati secara misterius itu selalu ditemukan di dekat sungai. Sungai itu banyak airnya. Mungkin saja bunga itu selalu tumbuh di dekat perairan.

"Hah, mungkin saja begitu. Bunga itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan kematian orang-orang di desa ini. Pasti karena hal lain. Tapi apa itu? Ciri-ciri kematiannya tidak wajar. Apa aku harus menunggu seseorang meninggal lagi dan ikut untuk mengecek lebih detail mayatnya?"

"Kak Rei ayo! Jangan diam saja!" Brian teriak dari bawah tangga. Rei menggeleng pelan dan berhenti memikirkan itu semua untuk sementara waktu. Setelah itu ia pun kembali berjalan menuruni tangga untuk mengejar yang lainnya.

Namun baru saja menuruni dua anak tangga, Rei kembali berhenti dan langsung menoleh ke belakang. Ia merasakan ada seseorang di belakangnya yang mengawasinya sedari tadi. Tapi tidak ada siapapun di belakangnya selain kuil berwarna merah.

"Tempat ini benar-benar aneh."

...****************...

Saat sampai di pertigaan dekat hamparan sawah yang luas, jalan ke kiri adalah jalan masuk ke hutan tujuan mereka. Menurut peta di ponselnya Nashira, ternyata jaraknya hanya kurang dari beberapa meter lagi untuk sampai ke danau itu. Tapi ada satu hambatan lagi.

"Em, ano ... aku tidak yakin kalau ponselku akan tetap aktif jika masuk ke dalam hutan itu." Ujar Nashira. Lalu kembarannya melanjutkan. "Maksudnya soal sinyal. Tidak ada sinyal, tidak bisa internetan. Tidak bisa pula liat petanya lagi."

"Heh ... kayaknya aku bisa menunjukkan jalannya sekarang."

Semuanya terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Natsuki mendadak muncul di belakang mereka entah sejak kapan. Kewaspadaan Rei pun mereda. Ia menganggap kalau seseorang yang mengawasinya dari tadi adalah Natsuki yang berusaha ikut dan mengejar kelompoknya sambil makan sepotong semangka.

"Oniichan jangan ngegetin, dong!!" bentak Mizuki kesal.

"Ahaha ... gomen, gomen." Natsuki menggaruk kepala, lalu menghabiskan semangkanya dan membuangnya ke sembarang tempat. "Aku hanya mengawasi kalian dari belakang takut ada apa-apa. Lagipula jalan-jalan ke hutan tanpa tahu arah bisa bahaya, loh."

"Oh, ya kan Bang Natsu sudah tahu jalan di hutan itu karena kau pernah masuk ke sana,

kan?" tanya Akihiro. Tapi ia tetap sibuk mengunyah keripik kentangnya.

"Ah, iya. Sebenarnya apa yang Oniichan lakukan di sana?" tanya Mizuki.

"Oh, aku hanya ... pergi memancing di sungai dalam hutan itu."

"Loh? Bukannya di hutan itu hanya ada danau luas, ya?" tanya Nashira. Ia mengecek ponselnya lagi untuk memeriksa.

Natsuki tersentak. Ia menepuk kepalanya sendiri lalu tertawa kecil. "Ah, iya itu. Maksudku memancing di danau."

Yuni terus menatap Natsuki. Tak lama ia sedikit menyipitkan mata, lalu bertanya, "Apa di danau itu ada ikannya?"

"Oh iya. Soal ikannya. Oniichan perasaan gak pernah bawa pulang ikan kalau habis keluyuran." Mizuki menimpali. Ia juga baru sadar kalau kakaknya biasanya tidak suka memancing. Kenapa sekarang mendadak ia jadi suka memancing?

"Ooh kan aku ke hutan itu bersama teman-temanku. Kami memancing, lalu membakar ikan di depan danau juga." Jawab Natsuki. "Jika kalian mau, nanti saat sampai di sana ayo kita memancing juga dan makan-makan di sana!"

"Wah! Makannya di atas daun pisang kayak sedang padangan di pinggir sawah. Ibuku suka seperti itu setelah beliau memanen padinya." Ujar Rashino dengan senangnya. "Itu seru, tau!"

"Apalagi kalau pemandangan danaunya yang indah!" Adel melompat-lompat kecil karena kegirangan. Ia juga menggoyangkan tubuh Yuni yang sedang fokus ke Natsuki sedari tadi untuk mengajaknya bercanda.

"Ayolah! Sebaiknya jangan buang-buang waktu di sini. Semakin siang semakin panas nanti. Kan gak enak hawanya." Ia kembali berjalan dan berhenti di samping Mizuki lalu mengajak adiknya. Mereka semua yang tidak tahu apa-apa pun hanya bisa mengikuti Mizuki dan Natsuki dari belakang.

...****************...

Sampai akhirnya, mereka tiba di tempat tujuan. Seperti yang Nashira duga dari awal, kalau ponselnya tidak akan berguna di dalam hutan yang penuh dengan pepohonan. Bahkan semakin ke dalam, seluruh langit telah tertutupi oleh dedaunan pohon yang besar-besar.

Natsuki yang memimpin di depan akan mencoba untuk mencari jalan. Ia sebenarnya sedikit lupa arah jalannya karena sudah lama juga tidak masuk ke hutannya. Maka dari itu, setiap beberapa langkah, Rei mengikatkan pita merah pada satu pohon dan pohon lain agar mereka tidak tersesat. Dennis juga akan ikut membantu.

Setelah mengikatkan pita itu pada satu pohon, Rei jadi teringat dengan masa saat tour dulu. Saat Dennis hilang di hutan, Rei dan yang lainnya bersama-sama mencari Dennis dan memasang pita tersebut sebagai tanda kalau jalan itu telah dilewatinya. Yang membuatnya teringat dengan masa lalu adalah warna pitanya yang sama. Yaitu merah.

"Di sini sudah dipasang." Rei berbalik badan, lalu melirik ke Dennis. Ternyata lelaki itu juga sudah melakukan tugasnya. Setelah keduanya selesai, Natsuki kembali mengingat jalannya.

Saat beberapa meter maju ke depan, mereka menemukan tiga jalan berbeda yang di mana jalan tersebut telah disingkirkan dari dedaunan yang gugur. Mereka merasa sepertinya ada yang tinggal di hutan itu untuk membersihkan jalan.

Natsuki mengangguk untuk mengiyakan. Ternyata di hutan itu memang ada orang yang tinggal untuk menjaga keasrian hutan tersebut. Disingkirkannya daun-daun yang mati hanya untuk memberikan jalan bagi para turis yang ingin pergi ke danau tersebut.

"Pastinya salah satu jalan untuk sampai ke danau itu ada satu." Ujar Rei. Tak lama memperhatikan, ia pun melirik ke Natsuki dan bertanya, "Apa kau tau jalannya? Lalu kira-kira kalau jalan yang lainnya bakal menuju ke mana, ya?"

"Setahu aku ada beberapa petani yang melewati salah satu jalan ini untuk sampai ke sawah dan perkebunannya. Tapi intinya, hanya ada satu jalan menuju ke danau itu." Jelas Natsuki.

"Bagaimana kalau kita berpencar saja?" saran Rashino. "Bentuk beberapa kelompok dan masing-masing kelompok itu melewati satu jalan ini."

"Tapi kalau salah satunya menemukan danau itu, bagaimana cara kita memberitahu yang lain?" tanya Nashira. "Kan kita tidak bisa berkomunikasi lewat ponsel. Tidak ada sinyal. Kalau teriak-teriak malah berisik kek orang gila."

"Oh! Aku tau!" Adel langsung merogoh tas bawaannya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Akihiro terkejut. "Kita pakai ini saja sebagai tanda."

"I–itukan ... itu kembang api punyaku. Kenapa bisa ada di kamu, Adel?" tanya Akihiro.

"Aku menemukannya dari lemari kamar seseorang. Ah gak tau deh."

"Itu kan aku simpan buat malam tahun baru nanti." Keluh Akihiro. Tapi ia sedikit tenang karena untungnya Adel tidak membawa semua kembang api yang ia miliki. Hanya 4 buah saja.

"Dengan kembang api itu, bisa dijadikan tanda?" tanya Brian dingin.

"Ooh. Ini kembang api yang meledak di langit, kan? Bisa saja dijadikan tanda." Dennis mengambil satu kembang api itu dari Adel, lalu memperagakan sesuatu. "Tandanya adalah, kalau ada kelompok yang menemukan danaunya, segera pasang kembang api ini, lalu luncurkan di atas. Pasti kelompok yang lain akan mendengar suara ledakannya dan arah datangnya. Dengan begitu, kelompok lain langsung kembali ke tempat ini dan masuk ke jalan yang benar tempat danau itu berada."

"Bisa aja, sih. Tapi kalau kembang apinya mengenai daun bagaimana? Kan dari sini aja langitnya ketutupan daun semua." Tanya Akihiro.

Mendengar perkataannya membuat Mizuki sedikit kesal. Dengan kepalan tangannya, ia menekan-nekan kepala Akihiro sambil menjawab, "Kan kalau di depan danau, mana ada pohon-pohon yang besar begini sih, Akihiro. Tempat di sana juga luas. Pastinya langitnya bakal kelihatan, aaaah!"

"Hehe ... iya juga, ya?"

"Tapi kalau masih di dalam hutan ini, langitnya tidak terlihat. Maka kembang apinya yang meledak di langit juga tidak terlihat. Bagaimana kita bisa mengetahui asal dari kembang api itu?" tanya Rashino.

"Kita hanya harus mendengarkan saja. Kembang api ini tidak mungkin hanya meledak sekali. Tapi sebanyak lima sampai sepuluh kali sepertinya." Jawab Cahya dan mulai menjelaskan. "Di sini kan ada tiga jalan. Kalau yang kelompok tengah menemukan danaunya, dan melepaskan kembang api itu, maka kelompok jalan kiri mendengar suara kembang api dari arah kanan, berarti si kelompok tengah menemukan danau. Begitu sebaliknya. Intinya dengarkan arah asal suara itu. Ingat-ingat juga kalian jalan untuk kembali ke sini."

"Nah iya seperti itulah." Dennis mengangguk. Lalu ia menarik tangan Cahya dan Brian. Lalu Brian menarik tangan Rei untuk ikut dengannya. Itulah satu kelompoknya. Mereka memutuskan untuk masuk ke jalan tengah.

Adel memberikan satu kembang api untuk Natsuki dan satu lagi pada Akihiro. Setelah menerima kembang api itu, Natsuki menarik tangan Mizuki agar bisa ikut dengannya. Tapi Akihiro juga ingin dengan Mizuki.

"Dian, aku akan melindungi adik-adikku di jalan yang kiri." Ujar Natsuki dingin. Ia ingin mengajak Mizuki, Sachiko, Yuka, Adel dan Yuni untuk ikut dengannya. Lalu sisahnya, Natsuki meminta Akihiro untuk memimpin mereka.

Jadi sekarang kelompok Akihiro adalah dirinya sendiri, si kembar dan Zainal. Tapi merasa kelompok Natsuki paling banyak, jadi Akihiro menarik Yuni untuk ikut dengannya. "Biar seimbang, ya?"

"Eeeeh? Kok Yuni di sana?" tanya Adel.

"Udah lah. Pisah beberapa menit doang, kok!" jawab Akihiro.

Sementara itu kelompok Dennis yang hanya empat orang, hanya bisa menyimak kedua kelompok itu yang maunya banyak-banyak orang. Tanpa mempedulikannya, Rei mengajak semuanya untuk menelusuri jalan tengah tersebut.

Sebelum pergi, Dennis berpesan, "Kalian semua, jangan lupa kalau menemukan danau, berikan tandanya, ya?"

"Oke!"

*

*

*

To be continued–

1
Apriyan_Claymore280401
Cahya sama natsuki malah sibuk sendiri, padahal keadaan nya sedang tegang malah adu bacot🤣🤣🤣
Apriyan_Claymore280401
Dian masih sempet sempetnya melawak,sok buat rencana tau nya peta yang di bawanya aja salah.bikin ngakak🤣🤣🤣
dunia cerita
yaampun Dennis anak mu itu ingin ku bejek bejek rasanya
Mpit
Luar biasa
Karci Deka
ya bagus
Anak Emak
udah update nih
Dark Black
novel baru bulan januari tanggal berapa thor?
Mpit: 15 Januari
total 1 replies
Rosi
novel nya ada di apk apa kak author, penasaran mo baca yang collab antara Dennis dan Derrel soalnya karakter favorku
Mpit: tetep di sini,, ga pindah ke mana",, cuma nanti January mulai liris
total 1 replies
Rita Rahimah Bintang
novel si anonim ap judul ny. biar baca
Mpit: cek aja ke profilnya yang [ Anonim ]
total 1 replies
Aulia Lia
novel baru yeey(≡^∇^≡)
Alinnn
cakep cakep banget yak😌
Hyuka
terus chara berambut putih siapa? rada lupa
Mpit: ooh Alex itu,, ga masuk dia :v
total 3 replies
Hyuka
Dennisnya kagak reinkarnasi
Hyuka: :| Si Alam
total 2 replies
.SAID.
End juga akhirnya, gak yangka kak dennis bakalan pergi 😭😭😭.

di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
bian: Tetap mengharapkan denis ber rengkarnasi dari awal😭😭
total 2 replies
nata
Uda end?
Mpit: iya...
total 1 replies
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛
anak kls 5 SD pacaran 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛: dasar bocil 😭🤣
total 2 replies
Mr.XXX
Update lagi thor penaran selanjutnya.Tetap semagat ya bikin karya karyanya!
Mr.XXX: iya sama sama thor
total 2 replies
Lely
wah like pertama ternyata😁
Mpit: nice ~
total 1 replies
.SAID.
Bawang bertaburan, auah 😭😭😭. akhirnya tamat juga novel, saya harap cerita selanjutnya Brian jadi tokoh utamanya .


Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭


Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭


biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭
Angel Poerba
sedih😭😭😭Dennis udh pergi untuk selamanya
Angel Poerba: masih lanjut kk ?
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!