"Kami hanyalah orang-orang yang berada di luar pikiran manusia. Karena kami tidaklah nyata. Kami hanyalah lambang dari jiwa yang menuntut kedamaian."
Seorang teroris tak terkalahkan di Korea mendadak melakukan boom bunuh diri tanpa sebab setelah menghancurkan sebuah perusahan dan meninggalkan banyak pertanyaan besar. Teroris yang dikenal dengan nama Jii Joon tersebut dinyatakan tewas dalam insiden tersebut dengan bukti-bukti nyata.
Namun bagi sebagian orang yang memahami kecerdasan Jii Joon memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka yakin bahwa teroris tersebut masih hidup dengan kondisi baik dan mungkin sedang menyusun rencana untuk serangan yang lebih kuat.
Tujuan untuk mengungkap rahasia dan misteri yang terus menjadi pertanyaan besar di balik tindakan dan identitas sang teroris pun mulai dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leorein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Dua Orang
Detektif Han melihatnya sendiri dengan dua matanya. Bahkan banyak yang melihat bahwa peluru yang dia lepas benar-benar mengenai orang tersebut.
Tetapi, dia sendiri meragukan hal itu. Benarkah dia telah berhasil meninggalkan jejak di tubuh ******* berbakat itu?
"Aku tidak tahu apa yang ingin kau ketahui sebenarnya Shin An. Sebenarnya mendengarmu bertanya seperti itu, aku bisa pastikan sebelum kau masuk ke dalam tim ini kau telah memiliki daya tarik yang tinggi terhadap penjahat ini dan tentu saja kau meragukan kematiannya juga ingin memastikan orang itu hidup atau benar-benar telah mati," kata Detektif Han.
"Sayang sekali Shin An, kasus Ji Joon sudah ditutup. Apa yang membuatmu sangat tertarik dengan orang itu? Karena dia mungkin memiliki kecerdasan melebihi dirimu? Atau kau punya daya tarik tersendiri terhadap dia seperti yang kupunya?" Detektif Han bersandar dan membenarkan posisi duduknya.
Detektif Han mengingat bagaimana aura mata Jii Joon yang dia lihat di hari kematian Jii Joon di laut waktu itu.
Mata yang sama sekali tidak memperlihatkan keinginan untuk mati dan menyerah begitu saja. Tetapi mata yang begitu yakin dan percaya diri.
"Matanya, aku mengingat mata orang itu dengan jelas sampai hari ini bagaimana mata itu melihat. Cukup pertemuan pertama itu, aku tidak perlu bukti untuk mengatakan bahwa dia adalah psikopat gila yang telah membunuh ribuan nyawa dan tidak akan pernah ada rasa menyesal dalam dirinya. Mata itu sudah mengatakan siapa dia sebenarnya," ungkap Detektif Han dengan memandang lurus ke depan memperhatikan mobil di depannya.
Detektif Han kembali bicara. Shin An diam mendengarkan semua perkataan Detektif Han tentang orang tersebut tanpa berani memotong kalimat Detektif Han.
"Mesin pembunuh. Tidak ada kata kalah baginya. Selama aku hidup aku tidak takut dengan apapun. Tapi itu berbeda saat mata kami bertemu. Rasa ngeri menguasaiku. Aku tiba-tiba sangat takut. Aku melihat dia berbeda level yang sangat tinggi denganku. Seharusnya aku tidak takut hanya karena itu, tapi entah kenapa aku begitu takut saat itu. Seolah dia bukan manusia biasa. Itu lucu bukan?" Detektif Han berusaha tertawa mengigat moment di laut tersebut sementara Shin An hanya menjadi pendengar yang serius.
"Aku menarik pelatuk pistolku hanya karena perintah dari naluri bertahan diriku. Dia tidak memberikan perlawanan apapun. Tapi itu tetap membuatku sangat takut. Hanya naluri bertahan hidup yang membuatku meluncurkan tembakan. Naluri bertahan hidup apanya? Dia bahkan tidak memberikan perlawanan. Dia seperti moster yang cukup dengan tersenyum sombong bisa membunuh siapa saja yang dia kehendaki," tutur Detektif Han mengingat kembali kondisi terburuk dirinya sepanjang hidupnya dan bagaimana dia bertarung dengan rasa takutnya sendiri ketika itu.
Detektif Han merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang takut pada hari itu. Terlebih lagi sekarang mereka berurusan dengan bom-bom yang menjadi warisan Jii Joon yang entah di sembunyikan di mana.
Tetapi Shin An mengerti perasaan itu. Dia juga merasakan perasaan seperti itu ketika setiap kali bertemu mata dengan Harry. Terasa seperti dikelilingi oleh ratusan ekor Harimau kelaparan yang siap menerkam dirinya yang tanpa senjata. Ini memang konyol, tapi orang itu memang bukan manusia normal pada umumnya.
Hanya naluri bertahan hidup yang melawan sedangkan keberanian telah hilang entah kemana.
Kedua orang yang duduk di mobil ini sama-sama sangat membenci saat diri mereka di posisi seperti itu, mereka sangat marah jauh di dalam hati mereka, mereka sangat marah dan bertekat untuk membas dengan menangkap penjahat itu, karena keduanya memiliki keyakinan yang sama, musuh mereka masih hidup.
Shin An membelokkan mobil ke kanan di tiga persimpangan. Detektif Han memasang alat komunikasi di kuping kirinya. Alat ini menghubungkan mereka dengan markas yang akan memberitahu meraka detailnya dan memberi informasi apapun yang berguna.
Shin An juga memasang alat yang sama. Detektif Han tidak mengira kalau Shin An terlihat lebih terbiasa dari yang dia duga.
Dia pikir Shin An mungkin akan tampak gugup di hari pertama dan tugas pertamanya di di sini. Tetapi pemuda yang pernah tinggal di Amerika tersebut tampak begitu santai.
"Kau menjadi polisi di Amerika?" tanya Detektif Han yang sudah tahu tentang hal itu.
Shin An melihat sebentar kepada Detektif Han di tengah kesibukannya. "Iya. Aku menjadi polisi sementara," jawab Shin An memberitahu.
"Itu sangat bagus. Dari kualitas kulihat kau sangat menjamin. Berapa banyak penjahat di sana yang kau tangkap?" Tanya Detektif Han lagi sekedar mengisi kesunyian mereka yang akan sangat mengganggu.
"Aku hanya berurusan dengan satu orang gila. Aku bukan polisi resmi. Aku menjadi polisi Amerika hanya karena alasan tertentu. Aku hanya berurusan dengan Harry," jawab Shin An.
Detektif Han terdiam dengan tak percaya terhadap apa yang dikatakan oleh Shin An. Lalu dia sadar tak ada gunanya juga bagi Shin An untuk berbohong akan hal itu. Jadi dia mempercayai apa yang dikatakan oleh Shin An.
"Hanya Harry!? Harry yang tewas dengan bom bunuh diri. Kau pasti membuatnya sangat terpojok sampai dia mengambil tindakan itu. Aku jadi penasaran kenapa orang-orang gila seperti mereka suka sekali meledakkan diri mereka?" Gumam Detektif Han.
Shin An mengerti kenapa Detektif Han berpikir mereka di Amerika berhasil memojokkan seorang Harry. Detektif Han tidak melihat langsung bagaimana peristiwa waktu itu terjadi. Bagaimana semua itu terjadi begitu cepat tanpa ada yang menyadarinya.
Mereka pikir mereka akan berburu sampai lelah hari itu. Tetapi hal itu tak terjadi. Penjahat yang mereka buru untuk waktu yang lama menunjukkan diri hanya untuk salam perpisahan.
Itu benar-benar menyisakan perasaan aneh tanpa batas di dalam pikiran mereka. Mereka tak tahu apakah mereka menang atau kalah. Mereka tak tahu apakah semua ini telah selesai atau belum.
Bukannya merasakan kemenangan. Mereka semua justru merasa telah dikalahkan secara menyeluruh oleh satu orang yang mereka anggap mati saat itu.
Shin An kemudian mengatakan kebenaran tentang fakta bahwa mereka gagal melawan Harry dari awal hingga akhir. Shin An kemudian menceritakan bagaimana otak luar biasa seorang Harry bekerja.
Otak itu seolah berkata dia melebihi otak-otak orang jenius seperti William James Sidiq, Leonardo da Vinci, Kim Ung-Yong dan orang jenius lainnya. IQ Shin An yang 195 saja tidak bisa membaca dengan tepat jalan pikiran Harry.
Shin An mengakhiri ceritanya dimana dia memutuskan berhenti menjadi polisi Amerika ketika dia mendapat tawaran menjadi polisi resmi di tanah itu.
Pria di sebelah Shin An tercengang mendengar cerita Shin An tentang Harry. Orang itu jelas luar biasa, sama hebatnya dengan Ji Joon. Selain itu Detektif Han sangat tidak menyangka bahwa Shin An sangat melebihi perkiraan yang dia bayangkan sejauh ini.