NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Eksekusi Kehancuran & Hobi yang Hidup Kembali

​Mansion megah keluarga David kembali diselimuti keheningan setelah kepulangan mereka dari desa. Namun, pagi ini ada yang berbeda dari diri Mireya. Ia tidak ingin membiarkan dirinya berlarut-larut tenggelam dalam lubang hitam kesedihan. Nasihat Nenek tentang kemandirian dan keikhlasan terus menggema di kepalanya. Nenek pasti akan sedih jika melihatnya menjadi mayat hidup yang tak berdaya.

​Di ruang tengah, Mireya menghampiri Bi Ani yang sedang merapikan vas bunga. Wajah gadis itu masih pucat, namun tatapan matanya jauh lebih hidup dari kemarin.

​"Bi Ani," panggil Mireya dengan suara lembut.

​Bi Ani menoleh, lalu tersenyum hangat melihat nyonya mudanya sudah mau keluar kamar. "Iya, Nyonya Muda? Ada yang bisa saya bantu? Nyonya mau dibuatkan teh hangat atau camilan?"

​Mireya menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. "Tidak, Bi. Aku mau minta ditemani. Bisa kita pergi keluar sebentar? Aku ingin ke toko perlengkapan seni dan kerajinan."

​"Pergi keluar, Nyonya?" Bi Ani tampak sedikit terkejut namun matanya berbinar senang. "Tentu saja bisa! Tapi... apakah Tuan Besar sudah mengizinkan?"

​"Aku akan bicara dengannya sekarang," jawab Mireya tegas.

​Tepat saat itu, Calix melangkah turun dari tangga melingkar. Langkah kakinya yang tegap terhenti saat melihat Mireya sudah rapi dengan pakaian kasual yang sopan. Calix menatap wajah istrinya, mencari sisa-sisa kehancuran semalam, namun yang ia temukan adalah ketenangan yang kokoh.

​"Kamu mau ke mana?" tanya Calix, suaranya baritonnya memecah keheningan ruangan.

​Mireya menoleh, menatap lurus ke dalam netra elang Calix. "Aku mau pergi berbelanja perlengkapan melukis dan alat sulam bersama Bi Ani. Melukis adalah hobiku sejak dulu, dan aku ingin belajar menyulam seperti almarhumah Nenek. Aku tidak mau menghabiskan waktuku di rumah ini hanya dengan melamun."

​Calix terdiam sejenak, ada rasa lega yang amat sangat merayap di dadanya melihat Mireya mulai bangkit, meskipun egonya menolak untuk menunjukkannya. "Supir pribadiku akan mengawal kalian. Pakai kartu debit yang ada di kamarmu, beli apa pun yang kamu butuhkan tanpa batas."

​"Terima kasih. Aku hanya membeli alat lukis, bukan membeli isi tokonya," sahut Mireya datar, lalu menoleh pada Bi Ani. "Ayo, Bi."

​Calix menatap punggung Mireya yang berjalan menjauh bersama Bi Ani. Setelah pintu utama tertutup, ekspresi wajah Calix langsung berubah menjadi sedingin es. Ia berjalan menuju ruang kerja pribadinya di lantai satu, di mana Doni dan seorang pria paruh baya berkacamata sudah menunggunya.

​Pria berkacamata itu adalah Dokter Januar, kepala tim medis baru yang sengaja Calix sewa khusus untuk memantau kesehatan rahim dan fisik Mireya secara intensif, menggantikan posisi Dokter Sidiq yang masa tugasnya di rumah sakit Aiden telah selesai.

​"Selamat pagi, Tuan David," sapa Dokter Januar sambil membungkuk hormat.

​"Duduklah, Dokter Januar," perintah Calix dingin sembari menduduki kursi kebesarannya. "Bagaimana laporan pemeriksaan awal dari rekam medis Mireya yang dikirim rumah sakit?"

​Dokter Januar membenarkan letak kacamata digitalnya. "Secara umum, rahim Nyonya Muda Mireya dalam kondisi yang sangat subur dan sehat untuk mengandung. Namun, ada catatan penting dari draf semalam. Kondisi psikologis dan kelelahan fisik akibat stres emosional yang tinggi bisa menghambat proses penanaman benih. Saya menyarankan terapi vitamin dosis tinggi dan lingkungan yang tenang tanpa tekanan selama satu bulan ke depan."

​Calix mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja marmer. "Lakukan apa pun yang terbaik. Pastikan nutrisinya terpenuhi. Mulai hari ini, Anda bertanggung jawab penuh atas setiap butir obat yang masuk ke tubuhnya."

​"Baik, Tuan Besar. Saya akan menyusun jadwal pemeriksaan mingguan mulai besok pagi," jawab Dokter Januar dengan takzim.

​"Doni, biarkan Dokter Januar bersiap di laboratorium lantai atas," titah Calix. Setelah Dokter Januar keluar dari ruangan, Calix beralih menatap asisten pribadinya dengan sorot mata membunuh. "Sekarang, berikan laporanmu tentang Ardan Pradipta."

​Doni maju satu langkah, membuka sebuah draf dokumen tebal di hadapan Calix. "Sesuai perintah Anda semalam, Tuan. Rencana eksekusi kehancuran Sanjaya Group dan sub-kontrak Pradipta Group sudah dimulai. Kami telah menarik kembali seluruh saham David Group sebesar empat puluh persen dari perusahaan Ardan pagi ini."

​"Bagaimana reaksi tikus tua itu?" tanya Calix dengan senyum sinis yang mengerikan.

​"Ardan Pradipta saat ini sedang panik luar biasa, Tuan," jawab Doni, menahan senyum puasnya. "Dia mencoba menghubungi kantor Anda sebanyak tiga puluh kali dalam dua jam terakhir. Beberapa investor lain yang mendengar David Group menarik saham juga mulai ikut menarik modal mereka. Pradipta Group diprediksi akan dinyatakan bangkrut total dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan karena gagal bayar utang vendor."

​Calix bersandar pada kursi kerjanya, menatap keluar jendela besar yang menampilkan taman mansion. "Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya merangkak di tanah. Pria yang tega menjual darah dagingnya sendiri demi uang tidak layak mendapatkan belas kasihan. Hancurkan seluruh aset pribadinya, sita rumah mewahnya di kota, jangan sisakan sepeser pun."

​"Lalu bagaimana dengan Nyonya Fiona?" tanya Doni lagi.

​"Wanita tidak berhati itu juga harus menerima bagiannya. Blokir semua kartu kredit atas nama Pradipta Group yang dia gunakan untuk berfoya-foya," geram Calix, mengingat kembali pesan kejam Fiona di ponsel Mireya semalam. "Aku ingin melihat apakah dia masih bisa meminta sepuluh miliar lagi setelah menjadi gelandangan."

​Sementara itu, di sebuah pusat perbelanjaan seni di sudut kota, suasana hati Mireya terasa jauh lebih tenang. Ia sedang memilih beberapa palet warna, kuas, dan kanvas berukuran besar bersama Bi Ani.

​"Nyonya Muda terampil sekali memilih warna," puji Bi Ani tulus saat melihat Mireya dengan cekatan memilah benang-benang sulam berwarna pastel.

​Mireya tersenyum lembut, membelai benang katun di tangannya. "Dulu Nenek selalu menyulam di selasar rumah sambil menungguku pulang sekolah, Bi. Sulaman Nenek sangat rapi, motif bunga melatinya selalu tampak hidup. Aku ingin mencoba membuat satu, agar setiap kali melihat sulaman itu, aku merasa Nenek selalu ada di dekatku."

​"Nenek Anda pasti sangat bangga melihat Nyonya sekuat ini," ucap Bi Ani dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena haru.

​"Aku harus kuat, Bi. Hidup dalam penindasan orang-orang kaya seperti keluarga David tidak boleh membuatku terlihat lemah," bisik Mireya dengan nada tegas yang teredam di sela rak benang. "Aku tahu posisiku. Aku hanya dibeli untuk sebuah keturunan. Tapi mereka tidak akan pernah bisa membeli jiwaku."

​Setelah menyelesaikan pembayaran, Mireya dan Bi Ani kembali ke mansion dengan beberapa kantong besar perlengkapan seni. Begitu melangkah masuk ke dalam lobi, Mireya dikejutkan oleh suara teriakan histeris dari arah ruang tamu utama.

​"Calix! Kumohon jangan lakukan ini! Kamu menantuku, bagaimana bisa kamu menghancurkan perusahaan papanya Mireya?!"

​Suara melengking itu milik Fiona. Wanita paruh baya itu tampak kacau dengan rambut yang sedikit berantakan, menangis tersedu-sedu di depan Calix yang berdiri tegak memandanginya dengan tatapan dingin tanpa riak. Di samping Fiona, Ardan Pradipta duduk bersimpuh di lantai marmer, memegang sepatu pantofel Calix dengan wajah memelas yang teramat menjijikkan.

​Mireya menghentikan langkahnya di dekat pilar, mendekap erat kantong alat lukisnya. Skenario kehancuran yang Calix janjikan di dalam mobil semalam ternyata berjalan jauh lebih cepat dari yang ia duga.

1
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Ariska Kamisa: terimakasih jejak nya kak
total 1 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
mireya udah dititik pasrah terserah pasti .. sumpah nyesek sih
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!