Novel ini menceritakan tentang sepasang insan Tuhan yang dipertemukan sejak kecil. Dia adalah Ivanna dan Max. Namun, Max harus pergis dengan suatu alasan. Ivanna tak mendapatkan kabar dari Max selama puluhan tahun, membuatnya menjadi lupa akan sosok teman masa kecilnya.
Mereka akhirnya dipertemukan kembali setelah puluhan tahun berlalu.
"Gue benci sama lo, Max!" - Ivanna Arabelle.
"Aku bisa jelasin semuanya, Van." - Maximillian Fransisco.
Akankah perasaan Ivanna masih sama kepada Max?
Dan apakah Max selama ini memiliki rasa sayang kepada Ivanna?
Yuk mulai baca kisah mereka.
Diusahakan akan up setiap hari. Stay ya!
Thank You semua....
Happy reading ^^.......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gabrielle Apil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP 19 - Drunk
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
"Apa kamu sudah punya gambaran tentang ini?" tanya Ben.
"Sudah, tuan." jawab Ivanna.
"Yaaa, panggil saja aku kakak. Usiaku sama seperti Max." ucap Ben.
"Baik kak."
"Tidak perlu terlalu formal denganku, Vanna. Nanti malah canggung."
"Okei okei, kak Ben."
"Kita belum perkenalan sebagai teman, Van. Namaku Benedictus, kamu bisa panggil aku Ben or Bened, whatever you want." ujar Ben.
"I'm Ivanna Arabelle." ucap Ivanna.
"I know that, girl!"
"Kamu print, gambaran kamu seperti apa, nanti bila ada yang kurang akan aku tambahi dibagian bagian tertentu, ya?"
"Terimakasih kak Ben."
############################
Saat malam, Ivanna melihat bahwa Maul, Diky, dan karyawan buruh tani lainnya pergi bersama sama.
"Len, ada apa para pekerja berkumpul?" tanya Ivanna.
"Mereka mau ke kebun anggur nona." jawab Helen.
"Haruskah untuk memanen buah malam malam seperti ini?"
"Mereka bukan mau memanen buah, nona. Mereka semua terbiasa untuk pergi melihat bulan dan langit ketika dipertengahan tanggal."
"Aku mau ke sana, Helen."
"Biarkan saya ikut nona. Hari sudah malam."
"Aku sendiri saja, Helen."
"Saya juga mau melihat langit malam, nona."
"Ah baiklah, aku kira kamu mengkhawatirkan aku."
"Nona PD sekali." ucap Helen bercanda.
Disana, Ivanna melihat sangat banyak pekerja kebun yang datang. Bahkan mereka juga melakukan barbeque disana. Dengan tiba tiba, Ivanna melihat kedatangan dari sesosok pria yang sangat dibencinya.
"Semuanya, saya membawa satu karung jagung dan juga satu dus beer. Kalian boleh mengambilnya." ucap Max.
"Terimakasih, Tuan Muda."
Begitu Ivanna ingin berbalik badan untuk berjalan kembali, ia ditahan oleh Max.
"Apa?" tanya Ivanna dengan matanya melotot kepada Max.
"Indah." satu kata yang lolos dari mulut Max.
"Yaaa! Gue Ivanna, bukan Indah!" bentak Ivanna.
"Ah sorry sorry, aku jadi salfok."
"Bodo amat! Ga peduli gue!" jawab Ivanna.
"Aku mau kamu stay disini. Lihat langit malam yang indah di perkebunan ini adalah moment yang jarang. Bisakah aku meminta kamu untuk disini bersamaku?" tanya Max.
"Okei, fine. Gue akan disini. Tapi untuk melihat langit malam! Bukan karna lo yang minta." jawab Ivanna dengan sinis.
Permintaannya di setujui oleh Ivanna saja, ia sudah sangat bahagia. Mengejar Ivanna kembali, seperti memanjat gunung es yang butuh banyak perjuangan untuk sampai ke puncaknya. Max mengambil satu kaleng beer yang dibelinya itu dan segera meneguknya.
Hari semakin malam dan angin malam semakin terasa. Max melepaskan jaketnya untuk menaruhnya dipunggung Ivanna.
"Aku tak perlu ini." ucap Ivanna setengah sadar.
"Oh Tuhan, kamu mabuk, Van?" tanya Max.
"Tidak!" jawab Ivanna dengan penekanan.
"Bocah ini, minum banyak banget."
"What? Bocah?" pekik Ivanna yang terdengar oleh beberapa pekerja.
"Jangan berteriak."
Ivanna bersikap tenang pada Max.
"Ivanna, kenapa kamu sangat membenciku?" tanya Max.
"Hm?" jawab Ivanna dengan gaya khas orang mabuk.
"Kenapa kamu sangat membenciku?" tanya Max lagi.
"Aku tidak benci. Mana mungkin aku membenci sementara aku sangat mencintainya?" jawab Ivanna yang kemudian akhirnya tertidur.
"Hey, Vanna!" panggil Max.
Berkali kali Max membangunkan Ivanna, tapi sang putri yang tertidur pun tidak bangun atau menunjukkan tanda tanda akan bangun. Dengan senang hati, Max menggendong Ivanna dan membawanya ke pondok dengan bantuan Helen.
"Maaf nonaku, sudah merepotkan Tuan Muda." ucap Helen.
"Itu sudab tugasku, Helen." jawab Max.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰