Dastan berasal dari negeri petir terlempar ke bumi untuk menyelamatkan diri dari kejaran The Destroyer dan mengumpulkan serpihan kristal petir. Dalam petualangan nya mengumpulkan serpihan kristal petir, dia dipertemukan dengan Ayesha yang akan membantu nya.
Ayesha merupakan keturunan dari Dewi Sekartaji Kediri. Akankah cinta tumbuh di hati mereka setelah melewati petualangan bersama mengumpulkan serpihan petir, bagaimana dengan misi menyelematkan negeri petir dari serangan destroyer.
Bagaimana kisah kelanjutan cinta mereka?Apakah mereka akan bisa bersatu dan menyelamatkan kan negeri petir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 19 Malam Di Museum Airlangga
Malam datang menyelimuti bumi. Langit terlihat gelap pekat dan kilat menyala dari kejauhan. Ayesha tampak gelisah dan melihat ke arah jarum jam yang masih menunjukkan pukul sembilan malam. Ayesha berjalan ke ruang keluarga, semua sudah tidur karena cuaca dingin. Kemudian dia berjalan menuju teras dan duduk bersandar di bawah pohon manggis yang sedang berbuah namun belum matang.
Ayesha memanggil Dastan dengan tidak sabar.
"Dastan, datanglah." kata Ayesha lirih.
Dastan muncul di samping Ayesha dan ikut duduk bersandar pada pohon manggis.
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Ayesha melihat Dastan dalam kondisi tenang.
"Kita akan kembali ke Museum Airlangga sebentar lagi, kau sudah tidak sabar ya?" tanya Dastan sambil melihat Ayesha yang tidak sabar.
"Kita harus menyiapkan plan A dan plan B, agar kita selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi." kata Dastan menenangkan Ayesha.
"Kali ini aku akan bawa kotak musik nya, mungkin akan berguna." kata Ayesha
"Jangan ceroboh lagi, selalu waspada." kata Dastan mengingatkan sambil membelai rambut panjang Ayesha.
"Kapan kita berangkat?" tanya Ayesha mengulangi pertanyaan nya.
"Kau benar-benar tidak sabaran." jawab Dastan
"Baiklah kita berangkat sekarang." kata Dastan menahan kesal.
"Kita berangkat dari kamar saja, aku sekalian ambil kotak musik nya." kata Ayesha berjalan cepat menuju kamarnya.
Dastan mengikuti Ayesha menuju kamar. Ayesha mengambil kotak musik dan memasukkan ke dalam tas selempang berwarna hijau.
"Sudah siap?" tanya Dastan
"Sudah..." jawab Ayesha sambil memegangi tangan Dastan.
Mereka berdua menghilang dan muncul beberapa saat kemudian di halaman museum yang sudah sepi.
Ada pohon beringin besar di depan pintu masuk museum yang kelihatan agak angker di malam hari. Ayesha agak merinding melihat pohon beringin itu dan berjalan mengekor di belakang Dastan.
Di samping kiri kanan pintu masuk Musim Airlangga terdapat arca Dwarapala dan arca singa yang mengapit. Pada malam hari arca itu kelihatan seperti bernyawa.
"Ada apa dengan mu, tidak biasanya berjalan di belakangku." kata Dastan menahan senyum melihat Ayesha takut
"Aku minta maaf karena tidak sabaran, dan sekarang baru melihat pohon beringin saja, aku jadi merinding." kata Ayesha berjalan sambil menarik ujung baju Dastan pada bagian bawah nya
"Kita masuk sekarang." kata Dastan memegang tangan Ayesha kemudian berteleportasi masuk.
"Masih takut ?" tanya Dastan masih menggandeng tangan Ayesha.
Ayesha menjawabnya dengan menggeleng. kemudian Dastan melepaskan tangan Ayesha.
"Kau duluan yang jalan, aku mengikuti mu." pinta Ayesha sambil mendorong Dastan maju.
Dastan berjalan ruangan tempat bebatuan yang mereka lihat di siang hari. Kemudian berjalan memasuki pintu menuju ke ruang belakang. Terdapat altar batu dan banyak arca yang meliputi Arca aArdanareswari, Kemanunggalan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, Arca Durga, Arca Budha dan Arca Dewa Wisnu.
"Seperti nya tidak ada tanda-tanda serpihan kristal petir di sini." kata Dastan melihat ke sekeliling dan menatap perisai petir nya.
"Kita pindah ke bangunan gedung museum lain nya yang terletak di sebelah bangunan ini. Di Sana terdapat prasasti dan etnografi." kata Ayesha memberi saran.
Dastan dan Ayesha pindah ke gedung museum lainnya dengan berteleportasi. Mereka berjalan menyusuri ruangan. Terdapat beberapa prasasti di sana. Tiba-tiba liontin dan perisai petir berkedip hijau terang dan mereka saling berpandangan.
"Coba ambil kotak musiknya." kata Dastan
Ayesha mengambil kotak musik dari dalam tas nya kemudian menarik tuas nya. Kristal petir pada kotak musik menyala hijau terang membentuk sinar berpola bintang di atas Prasasti Bameswara.
Dastan berjalan mendekat ke Prasasti Bameswara. Ada simbol di atas nya, simbol berbentuk tengkorak yang menggigit bulan. Dastan membaca tulisan prasasti yang merupakan huruf paphyrus kuno di negeri nya.
"Pasukan tengkorak disegel di sini. Jika segel terlepas, maka akan bangkit." kata Dastan membaca tulisan nya.
"Lalu di mana kristal petir nya, aku tidak melihat nya." kata Ayesha sambil meraba semua sisi prasasti.
"Mundur lah dulu, aku akan melihatnya." kata Dastan membuka perisai mata nya dan memindai.
"Kristal petir nya ada di bagian dalam Prasasti Bameswara tepat di tengah." Kata Dastan sambil menutup kembali perisai mata nya.
"Kalau memecahkan prasasti nya kita akan dalam masalah besar, karena ini di lindungi pemerintah." kata Ayesha sambil mencari cara lain untuk mengambil nya.
Dastan memikirkan cara untuk mengambil nya tanpa merusak nya.
"Aku coba tarik keluar dulu." kata Dastan sambil meletakkan tangan di atas prasasti kemudian mengalirkan tenaga dalam dan menariknya cepat.
"Kau berhasil mendapatkan nya, Dastan." teriak Ayesha girang.
Dastan membuka telapak tangan nya, kristal petir melayang di udara dan melesat menyatu dengan perisai petir yang ada di lengan Dastan
"Ayo kita pulang sekarang." ajak Ayesha berbalik berjalan menuju pintu keluar sambil memasukkan kotak musik kembali ke dalam tas nya.
Liontin petir kembali berkedip saat mereka melewati prasasti.
"Dastan, ada apa ini liontin ku berkedip lagi?" tanya Ayesha melihat sekitar dan merasa merinding.
"Tunggu di sini, jangan bergerak. Aku akan mengecek ke ruangan di depan." kata Dastan meninggalkan Ayesha sendiri memasuki ruangan di depan nya.
Ayesha menunggu Dastan yang sudah sepuluh menit namun belum kembali juga. Kemudian terdengar suara bergemeretuk seperti suara tulang patah dan suara langkah dari pintu masuk. Ayesha berdiri dan mundur pelan. Sekelompok Pasukan tengkorak dengan lubang mata nya bersinar hijau terang berjalan maju dan menyerang ke arah Ayesha.
Pasukan tengkorak semakin mendekat ke Ayesha. Ayesha melompati beberapa pasukan tengkorak dan berjalan di atas nya. Dia menempelkan tangan nya ke kepala tengkorak dan melepaskan tenaga dalam nya, membuat pasukan tengkorak hancur berkeping-keping.
Pasukan tengkorak lainnya mengejarnya. Ayesha menendang dan melepaskan tenaga dalam, membuat pasukan tengkorak hancur. Ayesha berlari mundur dan mencoba bertelepati dengan Dastan.
"Dastan, kau ada dimana? Lama sekali belum kembali, apa ada masalah?"
"Tunggu aku, sedikit lagi. Aku masih melawan kerumuman pasukan tengkorak. Apa kau aman di sana?" Tanya Dastan sambil mengeluarkan tenaga petir membelah pasukan tengkorak
"Aku aman di sini. Aku juga sedang melawan pasukan tengkorak. Beberapa sudah tumbang." kata Ayesha
Ayesha berhasil menghancurkan semua pasukan tengkorak di hadapan nya. Namun tiba-tiba semua pasukan tengkorak yang sudah hancur kembali menyatu, bangkit dan menyerang nya kembali.
Dari arah pintu masuk, masuk lah sekelompok arca yang hidup, bergerak menuju ke arah Ayesha. Ayesha berlari ke arah arca kemudian memancing emosinya, membuat nya marah dan mengarahkan ke pasukan tengkorak yang menyerang nya. Pasukan tengkorak hancur terkena serangan arca dan Ayesha mengeluarkan tenaga dalam untuk menghancurkan nya.
Pasukan tengkorak yang hancur hidup lagi, bersatu dengan arca menyerang Ayesha.
"Aku akan kehabisan tenaga kalau seperti ini terus. Aku harus menemukan kelemahan nya." kata Ayesha bergumam sambil berpikir kemudian bertelepati lagi dengan Dastan.
"Dastan, semua pasukan tengkorak yang aku hancurkan kembali hidup terus dan bergabung dengan arca menyerang ku. Apa kau tahu kelemahan nya?" tanya Ayesha
"Disini juga seperti itu. Bagaimana jika aku bawa semua pasukan tengkorak ke tempat mu sekarang, kita lawan bersama." Kata Dastan
"Cepatlah kesini, aku tunggu." kata Ayesha
Beberapa menit kemudian Dastan masuk membawa sekelompok pasukan tengkorak.
Ayesha dan Dastan melawan pasukan tengkorak, mereka hancur dan hidup kembali.
"Kalau begini terus kita akan kehabisan tenaga." kata Ayesha sambil terus menyerang dan mulai merasa lelah.
"Kristal petir adalah segelnya, jika kita sudah mengambilnya berarti kita harus mencari segel pengganti untuk menyegelnya kembali." kata Dastan
"Apa kau punya masukan sekarang? Atau kita coba menyatukan kekuatan?" tanya Ayesha
Ayesha mencoba mengunci gerakan pasukan tengkorak dengan membuatnya beku di dalam kristal.
"Arahkan petir mu sekarang." kata Ayesha
Dastan melancarkan serangan petir ke arah pasukan petir, beberapa ada yang hancur namun muncul pasukan baru yang jumlahnya lebih banyak dan membuat mereka semakin terdesak.
"Kau masih ingat lambang yang ada di prasasti, mungkin ada petunjuk nya." kata Ayesha
"Lambang nya tengkorak menggigit bulan. Kau bisa menerjemahkan nya?" tanya Dastan
"Mungkin mereka takut dengan bulan, kita coba saja bawa mereka semua keluar dan posisikan di bawah bulan." kata Ayesha mencoba menafsirkan.
Pasukan tengkorak dan arca semakin mendekat ke arah Dastan dan Ayesha, mereka semakin terdesak.
Mohon maaf lahir dan batin...
Sehat, bahagia dan sukses selalu ya..🥰
Semangat berkarya Kakak ⭐❤️❤️❤️❤️❤️⭐