[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [19]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Perjalanan panjang ini bukan semata-mata hanya tentang perjalanan saja....
...-Celine Celina-...
Saat ini Zhein sedang menunggu Iris yang masih belum membuka matanya sejak pagi tadi. Zhein juga sudah menghubungi kedua orang tua Iris tentang kondisinya saat ini.
Ris, sampai kapan mata lo mau ke tutup kayak gini? tanya Zhein dalam hati sambil menyisir rambut Iris dengan tangannya.
Kenapa lo juga harus halangin gue buat kasih pelajaran sama Lizora? Kenapa lo gak bales semuanya pas gue datang? tanya Zhein dalam hati.
"Ris." panggil Zhein yang sedang menggenggam tangan Iris.
"Lo mau bangun kapan?" tanya Zhein.
CKLEK
Saat pintu ruangan itu terbuka Zhein langsung melepaskan genggamannya pada tangan Iris.
"Zhein, Iris gak apa-apa kan?" tanya Sherin khawatir.
"Gak apa-apa, cuman butuh istirahat." jawab Zhein yang langsung pindah ke sofa.
"Siapa yang udah buat Iris sampai kayak gini?" tanya Sherin.
"Lizora." jawab Zhein.
"Lizora? cewek yang ngaku-ngaku ke semua murid kalau lo pacarnya?" tanya Sherin.
"Iya." jawab Zhein yang sedang memejamkan matanya.
"Gue gak habis pikir deh ada ya cewek kayak gitu ngaku-ngaku pacaran sama orang yang bahkan nolak dirinya mentah-mentah." ucap Sherin.
Ampir mirip kayak lo. ucap Zhein dalam hati.
"Awas aja ya nanti kalau gue ketemu sama tu cewek, abis lo di tangan gue." ujar Shiren dengan nada kesalnya.
"Zhein, lo kenapa sih gak hajar aja tu cewek udah 2 kali celakain Iris, untung aja Iris gak sampai amnesia atau patah tulang." sambung Sherin yang menatap wajah tenang milik Zhein.
"Iris yang nyuruh gue buat gak lakuin itu." ucap Zhein.
"Iris emang terlalu baik, sampai-sampai cewek kayak gitu aja dia maafin, padahal Lizora udah buat kesalahan yang besar dan bisa juga Iris nuntut Lizora itu." cerocos Sherin.
Iya, sampai dia juga ngorbanin perasaannya karena terlalu baik. ucap Zhein dalam hati.
"Gue pengen liat deh muka nya secantik apa sampai berani-beraninya buat Iris kayak gini." ucap Sherin.
"Iris bisa aja nuntut Lizora tapi Iris gak bakalan lakuin hal kayak gitu. Dia orang yang gak mau memperpanjang masalah." ujar Zhein.
"Kesel gue punya sahabat yang baik banget. Apa-apa selalu di bawa senyum, padahal kan Iris bisa marah atau apa gitu." ucap Sherin.
Itu yang lo gak pahami dari senyuman Iris, bibirnya senyum tapi hatinya mengatakan hal yang berbeda dengan senyumannya. ucap Zhein dalam hati.
Ditengah-tengah percakapan antara Sherin dan Zhein, tangan dan mata Iris bergerak perlahan.
"Zhein, Iris bangun." ucap. Sherin yang melihat pergerakan dari Iris.
Zhein yang sedang memejamkan matanya itu langsung terbangun dan memencet tombol untuk memanggil perawat.
Tak lama kemudian satu orang perawat datang ke ruangan Iris.
"Pasiennya udah ada pergerakan?" tanya perawat itu.
"Udah sus." jawab Sherin.
Perawat tersebut memeriksa keadaan Iris yang secara perlahan sudah mulai membuka matanya.
"Ada yang sakit Kak?" tanya perawat tersebut kepada Iris, sedangkan Iris menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa tidak ada sakit.
"Baik jika tidak ada keluhan saya pergi dulu. Permisi Kak." ucap Perawat itu sambil berlalu pergi keluar dari ruangan.
"Ris, lo gak apa-apa kan? Lo gak sakit?" tanya Sherin.
"Jangan dulu di tanya, biarin Iris istirahat sebentar." ucap Zhein yang melihat Iris masih belum pulih.
"Keadaan Haiden gimana?" tanya Zhein.
"Dia belum boleh pulang sama dokter, cederanya belum pulih." jawab Sherin.
"Berapa lama lagi?" tanya Zhein.
"Sekitar 3 hari lagi." jawab Sherin.
"Ris, lo jaga diri baik-baik ya, gue mau pergi ke ruangan Haiden dulu." pamit Shiren sambil berlalu pergi keluar dari ruangan.
Kenapa gak dari tadi aja pergi. Pusing kepala gue denger dia ngomong panjang lebar. ucap Zhein dalam hati.
"Zhein." panggil Iris dengan suara lemah.
"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Zhein. Iris menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Terus?" tanya Zhein bingung.
"Makasih." jawab Iris sambil tersenyum manis ke arah Zhein.
Waktu seolah berhenti saat itu juga, senyuman manis milik Iris mampu membuat jantung Zhein berdetak kencang bahkan senyuman Iris itu seolah sudah menjadi candu baginya.
"Zhein." panggil Iris yang melihat Zhein terus menatapnya.
"Eh, iya sama-sama." ucap Zhein gugup. Sedangkan Iris hanya terkekeh geli saat melihat Zhein yang gugup seperti itu.
"Kenapa lo?" tanya Zhein.
"Lo lucu juga ya." jawab Iris.
"Buat gue gak ada yang lebih lucu dari senyuman lo, jangan pernah senyum kayak gini ke orang lain kecuali gue." ucap Zhein yang masih menatap senyuman Iris. Iris yang mendengar perkataan Zhein itu langsung berhenti tersenyum, kini wajahnya sudah memerah padam mendengar penuturan Zhein.
"Kenapa berhenti?" tanya Zhein. Iris langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah, jika terus menatap Zhein yang menatap dirinya, bisa-bisa Iris mati mendadak karena jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Iris!!" teriak seseorang yang menerobos masuk kedalam ruangan Iris tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Berisik." ucap Iris sambil melihat ke arah orang tersebut.
"Maaf, gue kan cuman mau jenguk lo aja." ujar orang tersebut.
"Celin, jenguk nya gak sampai harus teriak juga." ucap Iris.
Seseorang yang berani berteriak di hadapan ketua xlovenos itu adalah Celine.
"Ris, lo kenapa bisa sampai kayak gini sih?" tanya Celine.
"Nanti gue ceritain, sekarang gue mau tidur dulu." jawab Iris yang kini sudah memejamkan matanya.
"Bener-bener ya punya temen." ujar Celine yang terlihat kesal.
"Zhein, pasti Iris udah cerita sama lo kan?" tanya Celine.
"Belum." jawab Zhein.
"Tau ah pusing gue mikirin nya, punya dua temen yang gak bener semua." ucap Celine.
"Gue gak nyuruh lo buat mikirin gue Lin." ujar Iris yang memejamkan matanya.
"Iya emang lo gak nyuruh gue buat mikirin hidup lo tapi jiwa kepo gue selalu meronta-ronta buat tau semuanya, apa daya gue coba?" tanya Celine dengan wajah kesal nya.
"Simpen aja dulu jiwa kepo lo sampai mulut gue mau ngomong semuanya." jawab Iris.
"Sampai kapan?" tanya Celine.
"Sampai Haiden nembak lo?" tanya Celine yang mampu membuat mata Iris terbuka dan menatap ke arahnya.
Celine yang tesadar dengan tatapan Iris itu langsung menatap ke arah Zhein dengan cengengesan.
"Canda nembak." ucap Celine sambil menatap kearah Zhein yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Gue tunggu aja sampai mulut gue mau di ajak kompromi ya Ris, gue pergi dulu, lo baik-baik ya disini, gue kayaknya gak sanggup deh nunggu lo disini." sambung Celine yang melangkahkan kakinya keluar ruangan, menyisakan Zhein yang menatap mata Iris.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗