Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patung Naga Es yang menangis
Arcangella memperhatikan dengan detail setiap sudut istana utama yang belum pernah ia datangi dengan antusias. Saat ini, dirinya tengah berjalan di lorong menuju museum Reis, dengan dipandu oleh Cescilla yang berjalan beberapa langkah di depannya.
Cescilla sedikit melirik ke belakang dimana terdapat Arcangella yang sibuk mengagumi istana utama. 'Cih, memang ya, jika seseorang besar di kawasan rendahan akan menjadi jati diri orang itu. Arcangella, aku akan berbaik hati membantumu untuk segera menyadari posisimu, Reis yang dibuang.'
"Kita sudah sampai di ruang koleksi pribadi milik yang mulia kaisar dan permaisuri Reis."
Cescilla berhenti di depan pintu besar bewarna putih gadis dengan corak bunga mawar yang timbul. Terdapat dua ksatria berzirah emas, bertandakan kaisar sendiri yang memberi pengawalan untuk ruangan tersebut.
Dengan bangga, Cescilla menyodorkan plakat tanda ijin memasuki ruang koleksi pribadi yang hanya segelintir orang yang mempunyainya, kepada dua penjaga museum. Setelahnya, pintu ruang koleksi bergeser sendiri terbuka kala memindai plakat tanda mendapatkan ijin masuk dari sang pemiliknya.
Cescilla tersenyum puas, ia melirik ke belakangnya kecil. terlihat Arcangella yang fokus mengagumi apa yang berada di balik pintu besar di depan mereka. Bukan memandang iri dirinya yang memiliki ijin khusus keluarga kekaisaran.
Meski geram, Cescilla mengehela napas pelan dan berusaha menenangkan dirinya. 'Ini baru permulaan, Arcangella. Setelahnya, akan kupastikan kau menangis.'
Arcangella yang memang tidak mengerti apa tujuan Baressa di depannya ini. Hanya berjalan mengikuti Cescilla masuk ke ruang koleksi, melewati dua ksatria penjaga yang sontak membungkuk saat dirinya lewat.
Putri kecil itu hanya merasa dirinya tidak perlu dekat karena kakak ketiganya, Atala, yang memintanya, juga instingnya yang merasakan hawa tidak enak.
Tetapi ia tidak akan langsung menjauh begitu saja jika mereka tidak langsung berbuat jahat padanya secara nyata, begitu pikir Arcangella.
Dua gadis itu berhenti di depan sebuah lukisan besar, lautan biru yang indah tergores rapih di atas kanvas. Arcangella menatap takjub keindahan yang dinamakan 'laut' di depannya, meski hanya sebuah lukisan, tapi ini lebih terasa nyata dibandingkan gambar samar pada buku cerita bekas yang ada di pantinya.
"Woah ... cantik sekali," gumam Arcangella tanpa sadar saat melihat lukisan di depannya.
"Ini merupakan gambar yang dilukis kaisar sendiri saat beliau tengah berada di wilayah kekuasan Sorov," kata Cescilla sedikit menjelaskan pengetahuannya yang unggul. Ia berbalik menatap Arcangella yang berada di sampingnya.
"Yang mulia kaisar sangat dekat dengan permaisuri Sorov, mereka dulu adalah sahabat dekat. Permaisuri Sorov menyukai anak yang pintar, dulu saat kunjungan 2 tahun lalu, aku yang mewakili Reis dalam pertemuan anak perempuan bangsawan kekaisaran, dan permaisuri Sorov menyukaiku."
Kalimat yang terlontar dari mulut Cescilla yang berada di sebelahnya, membuat Arcangella berhenti memandangi keindahan lukisan di depannya. 'Sahabat ayah menyukai anak yang pintar ya. Tapi aku ... '
Raut wajah Arcangella yang tadinya berbinar takjub memandangi seisi ruang koleksi, kini berubah sendu.
Melihat hal itu, senyum kemenangan perlahan terukir di wajah Cescilla. "Ayo kita lanjutkan, aku masih tahu banyak tentang ruang koleksi pribadi kaisar dan permaisuri ini. Aku akan berbaik hati memberitahumu, karena kita berteman bukan?" ucap Cescilla menyeringai.
Baressa kecil itu kembali memandu jalan diikuti Arcangella yang berjalan pelan di belakangnya.
Tak lama, mereka kembali berhenti dan kini apa yang berada di depannya kembali membuat Arcangella menatap takjub tak berkedip. Sebuah patung naga yang berukuran seperti orang dewasa tampak agung dan menawan. Dan yang lebih membuatnya indah adalah patung tersebut terbuat dari es!
Entah kenapa, Arcangella merasakan aura dominasi yang sangat kuat yang terpancar dari patung naga di depannya. Ia mengernyit kecil, 'kenapa mata naga itu mengeluarkan air? Apakah es nya meleleh?'
"Dan ini adalah mahakarya dari Ophelia yang agung. Kaisar kekaisaran Ophelia merupakan sahabat karib kaisar Reis. Dulu mereka bersama dengan permaisuri Sorov melakukan perjalanan hidup dan mati untuk mencapai tingkat Archmage seperti saat ini. Dan aku juga tahu ... "
Hening. Keadaan di sekitar Arcangella seolah membisu, bahkan ocehan Cescilla kini samar di telinganya. Matanya hanya fokus melihat kesedihan yang dipancarkan oleh patung naga es di depannya saat ini.
'Naga itu menangis, melihatku? Kenapa?' Jemari Arcangella perlahan terangkat pelan, dirinya berniat untuk mengusap air mata dari sang naga es, sampai teguran dari Cescilla menyadarkan dirinya, Arcangella kembali menarik tangannya dan mengurungkan niatnya untuk menyentuh patung naga itu.
Cescilla mendengus, dirinya merasa semakin kesal kala mengetahui bahwa ucapannya untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dan mengetahui segala hal tentang istana dibanding putri yang baru kembali, malah diabaikan begitu saja.
Sebuah ide untuk memberi balasan atas sikap sombong Arcangella padanya muncul di kepala Cescilla.
"Aku akan menunjukkan sesuatu yang disukai oleh permaisuri."
'Sesuatu yang disuka ibu?!' Mata Arcangella kembali berbinar. Gadis kecil itu menatap Cescilla dan lantas mengangguk.
Cescilla Baressa tersenyum kecil. "Tuan Putri bisa berjalan lebih dulu, kali ini aku akan mengarahkan dari belakang agar Anda dapat lebih leluasa ... " Cescilla menyodorkan tangannya membiarkan Arcangella berjalan di depan. "Silahkan."
Arcangella yang bersemangat melihat barang yang disukai sang ibu, tanpa menaruh kewaspadaan mengikuti instruksi Cescilla untuk berjalan lebih dulu.
Mereka berdua kembali menelusuri ruang koleksi.
Pandangan Cescilla melirik ke suatu benda yang tak jauh dari mereka. Seringaian kecil kembali muncul di wajahnya saat niat jahat menguasai pikirannya.
Cescilla berjalan lebih dekat dengan Arcangella yang berada di depannya. Ia mengangkat tangannya dan mendorong Arcangella ke depan dengan keras.
BRAAK!
PRAANGG-!
Arcangella tersungkur membentur sebuah vas porselen putih polos dengan corak matahari yang dipeluk mawar, keduanya jatuh menghantam lantai dengan cukup keras.
Suara pecahan dari vas itu menggelegar ke seluruh ruang koleksi yang kosong dan mengambil atensi ksatria penjaga yang berada di depan.
Cescilla menutup mulutnya, berakting seolah kaget dengan apa yang dilakukan Arcangella. "Ya ampun Tuan Putri! Anda tidak seharusnya berlarian dan bermain di ruang koleksi, sekarang lihat akhirnya Anda memecahkan vas porselen yang diberikan yang mulia kaisar kepada permaisuri."
Arcangella menatap terkejut bercampur panik ke arah pecahan vas yang berserakan di sekitarnya. Rasa perih dari goresan pecahan vas di dua telapak tangannya dikalahkan akan rasa bersalah atas apa yang tidak ia perbuat.
"Ti-tidak, A-aku ti-tidak melakukannya."
Cescilla menahan tawanya menatap sikap Arcangella yang malang. Ia tetap berakting kala dua ksatria penjaga sudah dengan cepat menghampiri mereka.
"Ada apa ini?!" tanya salah satu ksatria dengan tegas.
"Tuan Ksatria, aku yakin tuan putri belum terbiasa berada di istana. Sehingga beliau masih bermain di ruang koleksi dan menganggapnya sebagai panti tempat ia besar dulu. Tolong jangan menghukum tuan putri Arcangella," serunya dengan sedikit isak memohon kepada dua ksatria berbadan besar yang terlihat sudah marah melihat kekacauan di ruang koleksi kesayangan sang kaisar dan permaisuri.
"A-aku, ti-tidak sengaja, maaf ... "
Air mata Arcangella mengalir tanpa terisak, dirinya membayangkan raut wajah sedih sang ibu saat tahu bahwa vas kesayangannya pemberian dari ayahnya kini telah hancur berkeping akibat dirinya.
Dua ksatria itu mendadak kaku kala melihat siapa pelaku yang memecahkan vas. Tuan putri kecil yang teramat disayang keluarga kekaisaran!
Bagaimana mereka akan menegurnya? Namun ruangan ini juga sudah lebih dulu ada dibanding sang putri. Hal itulah yang membuat dua ksatria penjaga belum mengeluarkan suara dan tindakan.
Cescilla yang berakting membela Arcangella agar tidak mendapat hukuman, kembali memanaskan situasi saat tidak mendapatkan respon dari dua ksatria itu. "Tuan putri masih tidak tahu aturan, maka dari itu beliau masih bermain di ru-
"Beraninya kalian membuat adikku terluka dan menangis."
Suara datar dari pangeran kedua kekaisaran yang dihindari oleh semua orang, memotong ucapan palsu Cescilla. Baressa kecil dan dua ksatria itu merasakan tubuh mereka tidak dapat digerakkan.