Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 19
BUMMM!
Lu Yunyao menghentakkan kakinya ke lantai. Energi qi hitam meledak dari tubuhnya, menghancurkan ubin marmer di sekitarnya hingga berkeping-keping. Mata-mata yang berlutut di depannya terlempar beberapa meter akibat hempasan energi tersebut, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Siapa?! SIAPA YANG BERANI MEMUSNAHKAN KELUARGA LIU?!" tumpah kemarahan Lu Yunyao. Matanya memerah sempurna, dipenuhi urat-urat darah yang menonjol.
Bagi orang luar, Keluarga Liu mungkin hanyalah keluarga sekunder yang tunduk pada Sekte Lembah Sunyi. Namun bagi Lu Yunyao, Keluarga Liu memiliki fungsi yang jauh lebih vital dan tak ternilai harganya.
Liu Yuanling adalah seorang wanita yang lahir dengan Tukang Harmoni Selaras, sebuah wadah kultivasi tingkat surga yang sangat amat langka! Lu Yunyao telah merencanakan selama lima tahun terakhir untuk menjadikan gadis itu sebagai wadah kultivasinya. Dengan menyerap energi murni dari gadis tersebut pada hari ulang tahunnya yang ke-18 bulan depan, Lu Yunyao dipastikan akan mampu menembus satu hingga dua tingkat besar dan menjadi tokoh terkuat di generasi muda seluruh benua!
Dan kini... wadah kultivasi impiannya itu telah hancur! Rencananya bertahun-tahun sirna dalam semalam!
"Wadah kultivasiku... Kesempatanku untuk menembus tingkat besae... Hancur!" raung Lu Yunyao gila-gilaan. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan, meneteskan darah segar. "Keparat! Siapa pun yang melakukan ini, aku akan menguliti tubuhnya hidup-hidup! Aku akan mencabut jiwanya dan membakarnya di Api Iblis selama seribu tahun!"
Ketua Lembah Satu, seorang pria tua berambut putih dengan tatapan tajam bak elang, akhirnya angkat bicara. Suaranya dingin dan menusuk tulang. "Gadis itu... apakah dia juga tewas dalam pembantaian itu?"
Mata-mata yang tergeletak di lantai berusaha duduk kembali dengan payah, mengusap darah di dagunya. "L-Laporan yang kami dapatkan... tidak ada mayat yang utuh di lokasi kejadian, Ketua Lembah Satu. Seluruh kediaman telah berubah menjadi lautan api racun. Namun, melihat dahsyatnya kehancuran di sana, mustahil ada anggota Keluarga Liu yang berhasil selamat."
"Lautan api racun?" Ketua Utama, Mo Wuji, menyipitkan matanya. Aura kepemimpinan yang amat menekan terpancar dari tubuhnya. "Teknik racun tingkat tinggi... Apakah ini perbuatan dari Sekte Racun Surgawi? Atau mungkin Sekte Awan Putih yang berani mencampuri urusan wilayah kita?"
"Tidak mungkin Sekte Awan Putih!" sahut Ketua Lembah Tiga dengan suara nyaring bagai gemuruh petir. Tangannya yang kekar menghantam pegangan kursinya hingga hancur berkeping-keping. "Bocah-bocah penakut dari Sekte Awan tidak akan menggunakan cara sekejam dan sebersih ini! Memusnahkan seluruh keluarga dalam semalam tanpa meninggalkan jejak atau petunjuk jelas... Ini adalah tindakan dari seorang ahli tingkat atas yang bergerak secara independen, atau organisasi pembunuh bayaran rahasia!"
Sesepuh Luar Sekte yang memegang tongkat tengkorak terkekeh dingin, suara tawaannya mirip seperti gesekan kayu kering yang sangat menyakitkan telinga. "Hehehe... Siapa pun pelakunya, mereka telah menginjak-injak harga diri Sekte Lembah Sunyi kita! Keluarga Liu berada di bawah perlindungan sekte kita. Jika berita bahwa Keluarga Liu dimusnahkan tanpa kita bisa membalasnya tersebar ke dunia luar, di mana kita akan menaruh wajah kita?!"
"Sesepuh benar!" seru Lu Yunyao dengan gigi tergetar oleh dendam. Ia berbalik, berlutut di hadapan Ketua Utama Mo Wuji. "Ayah! Izinkan aku memimpin Pasukan Bayangan Malam! Aku sendiri yang akan menyelidiki hal ini! Aku akan menyisir setiap jengkal tanah di sekitar kediaman Keluarga Liu! Siapa pun yang terlihat mencurigakan, siapa pun yang berhubungan dengan kejadian malam itu... aku akan membantai mereka beserta tujuh keturunan mereka!"
Mo Wuji menatap putranya dengan pandangan dalam. Ia tahu betul betapa besarnya kerugian yang dialami putranya akibat hilangnya Wadah Kultivasitersebut. Kerugian Lu Yunyao adalah kerugian besar bagi masa depan Sekte Lembah Sunyi.
"Dendam ini harus dibayar dengan lautan darah," ucap Mo Wuji dingin. Suaranya bergema di seluruh aula, memicu aura kegelapan yang membuat seluruh lampu minyak di aula bergoyang hebat. "Namun kita tidak boleh gegabah. Pelaku yang mampu memusnahkan Keluarga Liu dalam semalam bukanlah lawan yang sembarangan. Mereka pasti memiliki kekuatan yang tidak berada di bawah ranah Tetua Sekte."
Mo Wuji bangkit dari duduknya. Jubah hitamnya berkibar megah. "Ketua Lembah Satu! Ketua Lembah Tiga!"
"Hadir, Ketua Utama!" sahut kedua ketua lembah itu serempak seraya bangkit dan memberi hormat.
"Kalian berdua, dampingi Putra Suci! Bawa seratus Prajurit Bayangan Malam! Periksa setiap sudut kota, setiap sekte kecil, dan setiap kediaman kultivator mandiri di radius seribu mil dari kediaman Keluarga Liu! Cari tahu siapa saja yang melintas di area tersebut pada malam kejadian!" perintah Mo Wuji tegas. "Temukan setiap petunjuk, betapa pun kecilnya! Jika ada sekte atau keluarga lain yang mencoba menghalangi penyelidikan kalian... RATAKAN MEREKA DENGAN TANAH!"
"Menerima perintah!" seru Ketua Lembah Satu dan Tiga dengan penuh semangat membunuh.
Lu Yunyao bangkit berdiri, matanya menyala-nyala oleh api kebencian yang makin membara. "Siapa pun kau... yang telah mencuri wadah kultivasiku dan menghancurkan rencanaku... tunggulah. Aku akan menemukanmu, dan saat hari itu tiba, kau akan memohon agar maut mencabut nyawamu lebih cepat!"
Kembali ke tempat yang damai dan terisolasi dari dunia luar, Sekte Lembah Sunyi tidak akan pernah menduga bahwa salah satu saksi kunci, satu-satunya orang yang berhasil selamat dari pembantaian berdarah malam itu, justru sedang berbaring lelah di atas ranjang kayu di tempat tinggal Tianchen.
Di dalam dapur Balai Leluhur, aroma herbal yang sangat pekat dan menusuk hidung memenuhi udara. Sebuah kuali perunggu besar sedang berada di atas tungku api. Di dalamnya, air obat berwarna hijau pekat bercampur kehitaman tampak mendidih, meletup-letup secara teratur.
Yuanling berdiri di samping tungku, memegang sebuah kipas bambu kecil. Dengan sangat hati-hati, ia menjaga kestabilan api di bawah kuali, memastikan apinya tetap berada pada tingkatan sedang, tidak boleh terlalu kencang, tidak boleh terlalu redup, persis seperti instruksi Tianchen.
Di sampingnya, Su Ziyan sedang berjongkok dengan wajah ditekuk. Tangannya sibuk meniup kayu bakar sambil sesekali mengutuki bau obat yang menurutnya sangat aneh.
"Bau obat ini benar-benar buruk!" gerutu Ziyan sambil menutupi hidungnya dengan lengan baju. "Ibu Guru, apakah obat ini benar-benar bisa menyembuhkan orang sekarat itu? Jangan-jangan setelah meminum obat berbau aneh ini, dia malah makin cepat mati!"
Yuanling tersenyum halus, menghentikan gerakan kipasnya sejenak untuk menatap Ziyan. "Ziyan, jangan berkata begitu. Suami... maksudku, Guru Besar sangat paham tentang pengobatan. Jika Guru mengatakan bahan-bahan ini bisa menetralkan racun dan memulihkan jalurnya, maka itu pasti benar."
Ziyan mengedipkan matanya, lalu tersenyum jahil saat menyadari sesuatu. "Ciee... Ibu Guru sekarang lancar sekali menyebut Guru dengan sebutan 'Suami'! Wajahmu bahkan mendadak merah lagi!"
Pipi Yuanling seketika merona merah kembali. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah kuali rebusan obat, berpura-pura sibuk mengipas. "Ziyan! Jangan menggoda orang tua! Fokus saja menjaga api kayu bakarmu itu!"
"Hehehe! Aku tidak menggoda, aku cuma mengatakan kenyataan!" tawa Ziyan pecah. Senang rasanya melihat Yuanling yang biasanya sangat sopan dan kaku kini terlihat begitu manusiawi dan mudah tersipu malu.
Namun, keceriaan itu tidak berlangsung lama. Pintu dapur tiba-tiba terbuka, dan Tianchen melangkah masuk. Kehadiran sang guru seketika membuat Ziyan mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan kembali berpura-pura sibuk meniup kayu bakar dengan wajah polos yang dibuat-buat.
Tianchen melirik Ziyan sekilas, tahu betul kelakuan murid pertamanya itu, namun ia memilih untuk tidak memikirkannya. Pandangannya beralih ke kuali obat.
"Bagaimana timbangannya, Yuanling?" tanya Tianchen.
"Sudah direbus selama satu jam empat puluh lima menit, Suami," jawab Yuanling sigap, kini panggilannya terasa jauh lebih natural meskipun masih ada sedikit nada malu. "Warna airnya sudah berubah menjadi hijau kehitaman murni, dan aroma pahit Akar Naga sudah menyatu sempurna dengan Bunga Hati."
Tianchen mengangguk puas. "Bagus. Lima belas menit lagi, matikan apinya. Saring ampasnya, lalu bawa mangkuk obatnya ke kamar pengobatan."
"Baik, Suami."
Tianchen kemudian menatap Ziyan. "Ziyan, ikut aku ke depan."
Ziyan terlonjak. "Eeh? Mau apa lagi, Guru? Aku kan sedang bertugas menjaga api!"
"Waktumu menjaga api sudah selesai," kata Tianchen datar. "Bawa pedang besimu. Kau harus mengulangi gerakan Inti Pedang Ketiga sebanyak seratus kali sebelum matahari terbenam. Jika ada satu gerakan saja yang alur energinya melenceng, kau harus menambah lima puluh kali lagi."
"SERATUS KALI?!" teriak Ziyan histeris. Wajahnya langsung pucat pasi. "Tapi Guru! Lenganku masih terasa pegal akibat tebasan tadi!"
"Seratus lima puluh kali," koreksi Tianchen tanpa ampun. "Setiap kali kau memprotes, jumlahnya akan bertambah lima puluh."
Ziyan cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanda menyerah. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia melompat bangkit, memungut pedangnya, dan berlari keluar menuju halaman latihan dengan langkah gontai penuh penderitaan.
Tianchen menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah muridnya itu, namun ada sedikit rasa bangga di dalam hatinya. Ziyan mungkin ceroboh dan kekanak-kanakan, tetapi bakat alami dan potensi yang dimilikinya sangat amat luar biasa jika diasah dengan benar.
Setelah memastikan Ziyan mulai mengayunkan pedangnya di halaman, Tianchen kembali ke kamar pengobatan.
Ia berdiri di samping ranjang pemuda pelayan dari Keluarga Liu tersebut. Kondisi pemuda itu masih sangat mengkhawatirkan. Tanpa bantuan obat peningkat vitalitas dan pembersih racun yang sedang disiapkan Yuanling, dipastikan jalan darah pemuda ini akan hancur total dalam hitungan jam.
Tianchen mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya tepat di atas dada pemuda itu. Seberkas cahaya putih keemasan yang sangat lembut keluar dari telapak tangan Tianchen, masuk meresap ke dalam kulit dan organ dalam si pemuda.
Ini adalah teknik penguncian jiwa. Tianchen secara paksa mengunci sisa-sisa vitalitas pemuda tersebut agar tidak terus menguap keluar.
Saat energi emas itu masuk, pemuda terluka itu tiba-tiba merintih pelan. Matanya yang terpejam berkedut hebat. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergerak-gerak, mencoba membocorkan kata-kata yang tersangkut di tenggorokannya.
"N-Nona Muda... lari..." bisik pemuda itu sangat serak, suara rintihannya sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Sekte... Lembah Sunyi... Iblis... Nona Muda..."
bisa jadi dia cuma manfaatin doang
Selamat Yuanling! kamu ga jadi mati