NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:329.8k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19 - Dua Puluh Lima Miliar

Prof. Hadi Santoso bersedia bertemu Alina lebih dulu.

Bukan Adrian.

Bukan Vania.

Alina.

Kabar itu datang dari Damar pada Selasa pagi, tepat saat Alina sedang menandatangani kontrak sewa apartemennya. Ia membaca pesan itu dua kali, memastikan tidak salah.

Damar:

Prof. Hadi mau mendengar kronologi dari pihakmu. Besok sore di klinik riset Bogor. Dia bilang, "Bawa data, jangan bawa drama."

Alina hampir tertawa.

Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang bisa ia hormati.

Ia membalas:

Saya akan bawa data.

Nadia yang duduk di depannya langsung tertarik. "Prof. Hadi?"

Alina mengangguk.

"Bagus. Sangat bagus. Kalau beliau mau melihat kasus Vania, posisi tawarmu berubah."

"Saya tidak ingin terlihat memakai penyakit orang untuk tawar-menawar."

Nadia menatapnya dengan sabar. "Mbak, pihak sana sudah memakai penyakit Vania untuk merebut waktu suamimu, membingungkan anakmu, menyerang reputasimu, dan menekan perceraian. Memeriksa kebenaran bukan kekejaman."

Alina diam.

Ia tahu Nadia benar.

Tapi bagian dirinya yang masih terlalu terbiasa mengalah tetap berbisik, jangan terlalu keras, nanti orang bilang kamu jahat.

Ia menutup suara itu.

Orang sudah bilang ia jahat.

Tidak ada gunanya tetap terluka demi reputasi yang sudah mereka rusak.

*****

Klinik riset Prof. Hadi berada di pinggir Bogor, jauh dari rumah sakit mewah yang biasa didatangi keluarga Wicaksono. Gedungnya sederhana, dikelilingi pohon besar dan rumah kaca kecil berisi tanaman obat. Tidak ada lobi marmer. Tidak ada resepsionis dengan senyum mahal.

Prof. Hadi sendiri berusia sekitar tujuh puluh, rambut putih, kacamata tebal, dan suara yang terdengar seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar kebohongan pasien kaya.

Ia membaca kronologi Alina tanpa banyak komentar.

Damar duduk di samping, tapi tidak bicara. Nadia ikut melalui panggilan video karena ada sidang lain di Jakarta.

Setelah hampir dua puluh menit, Prof. Hadi meletakkan dokumen.

"Penyakit yang disebut wanita itu bisa serius. Bisa juga dikendalikan. Tidak cukup dengan Story Instagram."

Alina menahan senyum.

"Saya tidak meminta Bapak menyimpulkan tanpa pemeriksaan."

"Bagus. Karena saya tidak suka orang yang minta kesimpulan dulu, data belakangan."

"Jika dia bersedia diperiksa, apakah Bapak bisa menilai?"

"Bisa. Tapi saya butuh rekam medis lengkap. Hasil lab asli, bukan foto buram. Riwayat obat. Dokter sebelumnya. Dan pasien harus datang sendiri."

"Kalau dia menolak?"

Prof. Hadi mengangkat bahu. "Orang sakit biasanya ingin tahu pilihan hidupnya. Orang yang memakai sakit sebagai tameng biasanya takut diperiksa."

Kalimat itu langsung masuk ke kepala Alina seperti paku.

Damar meliriknya.

Prof. Hadi melanjutkan, "Saya tidak mau terlibat perceraian kalian. Saya hanya mau melihat kasus medis. Kalau kasus ini menarik, saya tangani. Kalau tidak, saya usir semua orang."

"Termasuk Adrian Wicaksono?"

"Saya tidak peduli nama belakang orang."

Untuk pertama kalinya hari itu, Alina benar-benar tersenyum.

*****

Berita bahwa Prof. Hadi bersedia melakukan second opinion membuat Adrian datang ke apartemen Alina malam itu.

Kali ini ia tidak naik.

Ia menunggu di kafe lantai dasar setelah mengirim pesan.

Adrian:

Aku di bawah. Kalau kamu bersedia, kita bicara di tempat umum.

Alina membaca pesan itu cukup lama.

Setidaknya ia belajar mengetuk pintu.

Ia turun setelah memberi tahu Nadia lokasi dan menyalakan fitur perekam otomatis.

Adrian duduk di sudut kafe. Tidak ada jas malam itu, hanya kemeja abu-abu. Ia tampak lebih lelah daripada beberapa hari sebelumnya.

Alina duduk di depannya.

"Lima belas menit," katanya.

Adrian mengangguk. "Prof. Hadi bersedia?"

"Bersedia mengevaluasi jika Vania membawa data lengkap."

"Dia takut."

"Takut diperiksa atau takut ketahuan?"

Adrian menatapnya.

"Alina."

"Aku tidak akan berpura-pura lembut untuk membuatmu nyaman."

Ia diam.

Pelayan datang. Adrian memesan kopi hitam. Alina hanya meminta air mineral.

Setelah pelayan pergi, Adrian berkata, "Apa yang kamu mau?"

Alina menatapnya. "Untuk apa?"

"Untuk membantu Vania bertemu Prof. Hadi."

Alina hampir tertawa. "Aku tidak menjual tiket dokter."

"Tapi akses ini datang darimu."

"Akses ini datang dari orang yang menghormatiku cukup untuk mendengar kronologi."

Adrian menerima sindiran itu tanpa membalas.

"Aku ingin menyelesaikan ini," katanya.

"Perceraian?"

"Semuanya."

"Tidak bisa semuanya. Pilih satu."

Adrian menatap gelas kopinya yang belum datang. "Perceraian."

Itu kata yang akhirnya ia ucapkan tanpa menertawakan.

Alina merasakan sesuatu di dadanya bergerak. Bukan harapan. Lebih seperti sisa ikatan lama yang menegang sebelum putus.

"Baik," katanya. "Kalau kamu ingin proses ini tidak berlarut, aku punya syarat."

Adrian mengangkat wajah.

"Pertama, kamu setuju jadwal komunikasi dan kunjungan Arka secara tertulis. Tidak ada Vania dalam waktu kunjunganku."

"Baik."

Alina tidak menyangka ia menjawab secepat itu.

"Kedua, kamu mengembalikan kalung ibuku langsung ke tanganku dalam kondisi utuh."

"Baik."

"Ketiga, kamu berhenti membiarkan keluargamu menghubungiku untuk menekan. Semua lewat pengacara."

"Aku akan bicara dengan Mama."

"Bukan akan. Kamu pastikan."

Adrian menatapnya sebentar. "Baik."

"Keempat, kompensasi harta bersama Rp25 miliar, di luar dana pendidikan Arka dan biaya medisnya. Apartemen ini aku bayar sendiri, jadi tidak perlu kamu jadikan alat kendali."

Adrian diam lebih lama.

Kopi datang. Pelayan meletakkannya di meja, lalu pergi cepat karena suasana terlalu tegang.

"Dua puluh lima miliar," Adrian mengulang.

"Kamu pernah bilang aku tidak bisa hidup tanpa uangmu."

"Aku marah."

"Aku juga. Bedanya, aku tidak mengambil kalung ibumu dan memberikannya pada pria lain."

Adrian memejamkan mata.

Kali ini ia tidak bisa membalas.

Alina melanjutkan, "Angka itu bukan harga luka. Tidak ada uang yang cukup untuk itu. Angka itu hanya membuatku tidak keluar dari lima tahun pernikahan seperti seseorang yang bisa dibuang begitu saja."

"Dan kalau aku setuju?"

"Aku akan membantu mengatur pertemuan Vania dengan Prof. Hadi, menyerahkan semua komunikasi medis pada dokter, dan tidak menghalangi proses pengobatan."

"Kalau ternyata dia benar-benar sakit?"

"Maka dia mendapatkan dokter yang tepat."

"Kalau tidak?"

"Maka kamu akhirnya tahu."

Adrian menatap Alina lama.

Di matanya ada sesuatu yang rumit: marah, lelah, malu, mungkin sedikit takut.

"Kamu berubah menjadi sangat praktis."

"Aku belajar dari orang yang selalu memilih hal paling berguna baginya."

"Aku seburuk itu?"

Pertanyaan itu keluar pelan.

Alina tidak menjawab langsung.

Ia bisa mengatakan ya. Bisa menyusun daftar semua luka. Tapi malam itu ia lelah menjadi arsip berjalan.

"Kamu suami yang buruk untukku," katanya akhirnya. "Itu cukup."

Adrian menunduk.

*****

Vania hampir kehilangan kendali ketika Adrian memberitahunya syarat itu.

"Dua puluh lima miliar?" suaranya meninggi sebelum ia sempat membuatnya lemah. "Adrian, itu tidak masuk akal."

Mereka berada di ruang kerja rumah Wicaksono. Ratna duduk di sofa, Melisa berdiri di dekat pintu, ikut terkejut.

Adrian berkata, "Ini bagian dari negosiasi."

Ratna langsung marah. "Perempuan itu memeras kita!"

"Itu harta bersama," kata Adrian.

Ratna menatap anaknya seperti ia bicara dalam bahasa asing.

Vania menggenggam ujung meja. "Kamu mau memberikan uang sebanyak itu karena dia mengancam tidak membantu pengobatanku?"

"Dia tidak mengancam. Dia memberi syarat untuk menyelesaikan perceraian."

"Kamu membelanya."

"Aku menjelaskan."

"Tidak. Kamu membelanya." Air mata Vania jatuh. "Aku pikir kamu ingin aku sembuh. Tapi sekarang semua tentang Alina. Tentang uangnya. Tentang kalungnya. Tentang sakit hatinya."

Adrian lelah.

Sangat lelah.

"Vania, kalau kamu ingin sembuh, kita temui Prof. Hadi."

"Aku tidak mau dijadikan bahan pembuktian!"

"Kalau kamu sakit, pemeriksaan bukan penghinaan."

Vania terdiam.

Kalimat itu bukan suara Alina.

Itu suara Adrian.

Dan itu yang membuatnya takut.

Ratna menyela, "Adrian, jangan gegabah. Uang sebanyak itu..."

"Akan saya pertimbangkan dengan Hendra."

"Tidak ada yang perlu dipertimbangkan!"

Adrian menatap ibunya. "Ma, selama ini kita menganggap Alina tidak punya kontribusi. Hari ini aku mulai berpikir mungkin kita salah."

Ruangan itu sunyi.

Vania menatap Adrian seperti melihat pria itu menjauh satu langkah.

Satu langkah saja.

Tapi bagi Vania, itu awal dari bencana.

Malam itu, ia mengirim pesan kepada Bimo.

Vania:

Kita harus bicara. Alina tidak boleh menang.

1
Lilik 383
saya suka karakternya mbak Lia
nira ritawatty
Alhamdulillah
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
nira ritawatty
Lho kok tiba tiba hamil?
Thewie
aku baca sampe bab ini jam 01.10 malam Thor. hilang ngantukku
Thewie
terlambat sudah bodoh
Thewie
awalnya si ulat bulu pura2 sakit, tapi akhirnya jadi sakit beneran.. cucoklah itu Thor buat si ulat bulu🤣🤣🤣
Thewie
kotor juga otak kau ya Vanir keparat
Thewie
tahan kan setan
Thewie
nyesek thor
Anonim
AWOKAWOK COVER MUKA KOREA GBLK
Fitrian
namanya raka adiguna🤔
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
sweetpurple
Awalnya bingung dan butuh waktu untuk mencerna cerita, tapi endingnya di luar ekspektasi ..
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🐽🐽🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh teratai putih bysssuuukkkk💦💦💦💦💦💦🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🤮🤮🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam tidak jadi istri dah tapi merupakan ular keket hitam beracun Jahannam judahhh💦💦💦💦💦🔪🔪🖕🖕
ayu cantik
ribet
Fitrian
ni pasti gi golo nya vania jalang beracun cuuuuhhhhhhh💦💦💦💦💦🖕🔪
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh ciiiiiiiiiiihhhhh💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!