"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Rasa yang Menjadi Abu
Bau obat-obatan yang menyengat di lorong rumah sakit tidak mampu mengusir rasa bersalah yang terus menggerogoti dada Setya. Ia melewatkan sisa malam dengan tidur meringkuk di kursi panjang selasar, beralaskan udara dingin yang menusuk tulang dan berbantalkan lengan bajunya yang kusam. Setiap kali pintu ICU terbuka, Setya akan tersentak bangun dengan secercah harapan. Namun, setiap kali itu pula, suster atau dokter yang keluar hanya akan melintasinya seolah ia adalah seonggok sampah yang tidak kasat mata.
Pagi harinya, lampu indikator merah di atas pintu ICU akhirnya berubah menjadi hijau. Dokter spesialis jantung keluar dengan wajah yang tampak lebih rileks, melepas maskernya perlahan.
"Keluarga Ibu Aminah?" panggil dokter itu.
Setya langsung melompat berdiri, mengabaikan sekujur badannya yang pegal dan kaku. "Saya, Dok! Saya anak kandungnya! Bagaimana kondisi Ibu saya?"
Sebelum dokter sempat merespons, Arumi dan Kak Nia yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk membeli kopi segera bergegas menghampiri. Kak Nia dengan sigap langsung menggeser tubuh Setya ke samping dengan lengannya, mengambil alih posisi tepat di depan dokter.
"Bagaimana Ibu saya, Dok? Sudah sadar?" tanya Kak Nia, suaranya bergetar menahan cemas.
"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah lewat," dokter itu tersenyum menenangkan.
"Pasien sudah sadar penuh dan kondisinya mulai stabil. Tensi dan ritme jantungnya sudah merespons obat dengan sangat baik. Hari ini sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap biasa untuk pemulihan."
"Alhamdulillah ya Allah..." Kak Nia menangis haru, spontan memeluk Arumi yang berada di sampingnya.
Arumi mengusap punggung Kak Nia dengan lembut untuk menenangkannya. Tapi, sepasang mata indahnya melirik ke arah Setya yang berdiri mematung di sudut. Tatapan Arumi begitu datar, seolah sedang menegaskan sebaris kalimat tanpa suara: Ibu selamat, tapi itu bukan karena kamu.
"Dok, apa saya sudah boleh masuk menjenguk?" tanya Setya menyela, mencoba menembus barisan pertahanan kakak dan mantan istrinya.
Dokter menatap seragam kebersihan kusam yang dipakai Setya dengan dahi berkerut, kemudian menoleh pada Arumi yang memegang kendali penuh atas berkas administrasi dan pembayaran rumah sakit sejak awal. Arumi memberikan kode gelengan kepala yang sangat tipis, hampir tak terlihat.
"Maaf, Pak," ujar dokter itu berbalik menatap Setya dengan tegas. "Pasien sudah berpesan secara lisan saat baru sadar tadi. Beliau hanya ingin ditemani oleh putri dan mantan menantunya, Ibu Arumi. Beliau menegaskan tidak ingin menemui anak laki-lakinya dulu karena ingin menjaga ketenangan pikirannya. Mohon dimengerti, jantung pasien belum stabil total."
Hantaman itu begitu keras hingga Setya merasa persendian lututnya meloloskan diri. Dicampakkan oleh mantan istri adalah satu hal, tapi ditolak oleh ibu kandung yang telah melahirkannya adalah puncak dari segala jenis kutukan di dunia. Ibu Aminah, wanita yang dulu selalu mengalah dan membela Setya, kini menutup pintu rapat-rapat untuk anak laki-lakinya sendiri.
"Ibu... Ibu benar-benar membenciku?" gumam Setya lirih, punggungnya merosot bersandar pada dinding lorong yang dingin.
Proses pemindahan Ibu Aminah ke kamar rawat inap kelas VIP berjalan dengan lancar. Setya hanya bisa mengintip dari balik celah pintu kamar yang terbuka sedikit saat suster mendorong ranjang ibunya masuk. Di dalam kamar mewah yang ber-AC itu, sudah berjejer buket bunga segar dan buah-buahan mahal yang dipesan khusus oleh Dhanu melalui sekretarisnya.
Tak lama kemudian, Dhanu kembali datang ke rumah sakit. Kali ini ia tidak sendiri; ia membawa Liam, Sekar, dan Arjuna yang baru saja dijemputnya langsung dari gerbang sekolah. Ketiga anak itu masih memakai seragam rapi. Begitu pintu kamar dibuka, mereka langsung berlari pelan memasuki ruangan dan memeluk nenek mereka dengan sangat hati-hati.
"Nenek! Jangan sakit lagi ya... Liam takut banget kemarin," terdengar suara Liam, si sulung, memecah keheningan kamar.
"Nenek sudah tidak apa-apa, Sayang. Kan ada Bunda, Tante Nia, dan Om Dhanu yang jaga Nenek semalaman," suara Ibu Aminah terdengar lemah dari atas ranjang, nadanya dipenuhi kasih sayang yang tulus saat mengusap rambut cucu-cucunya.
Setya yang menyaksikan adegan itu dari balik celah pintu merasa air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu. Di dalam sana, mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Ada Ibu, ada anak-anak, ada Arumi, dan ada Dhanu sebagai sosok pelindung yang baru. Sementara dia, sang ayah biologis dan anak kandung, berdiri di luar pintu seperti pengemis yang mengharapkan remah-remah perhatian.
Pintu kamar mendadak terbuka. Arumi keluar dengan membawa beberapa tisu kotor untuk dibuang ke tempat sampah koridor. Saat melihat Setya masih berdiri mematung di sana dengan mata merah dan seragam birunya, Arumi menghentikan langkahnya.
"Setya, kenapa kamu masih di sini?" tanya Arumi. Suaranya sangat rendah, menjaga agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar rawat.
"Bukannya aku sudah bilang, jam istirahat yang kuberikan sudah habis sejak satu jam yang lalu?"
"Rum... Ibu tidak mau melihatku. Anak-anak bahkan tidak melirikku saat berjalan lewat tadi," Setya menatap Arumi dengan pandangan memelas, mencoba mengais sisa rasa kasihan. "Kenapa kamu tega sekali menghapus aku dari keluarga ini, Rum?"
Arumi menatap Setya dengan pandangan yang luar biasa dingin. Sebuah seringai tipis yang sarat akan penghinaan muncul di sudut bibirnya yang berlipstik rapi.
"Aku yang menghapus mu?" Arumi bersedekap, menatap Setya tanpa kedipan.
"Setya, jangan memutarbalikkan logika hanya untuk menghibur hatimu yang malang itu. Bukan aku yang menghapusmu dari keluarga ini. Kamu sendiri yang menulis surat pengunduran dirimu sebagai anak dan sebagai ayah, tepat saat kamu lebih memilih pelakor itu daripada aku dan anak-anakmu."
Arumi melangkah satu langkah lebih dekat. Langkahnya yang anggun justru terasa mengintimidasi, membuat wangi parfum mahalnya seketika menenggelamkan bau karbol yang samar-samar masih melekat di tubuh kusam Setya.
"Ibu terkena serangan jantung karena kamu merongrongnya demi perempuan yang bahkan tidak sudi Ibu anggap sebagai manusia, apalagi menantu. Kamu menukar taruhan nyawa ibu kandungmu sendiri dengan keselamatan seorang penjahat di penjara. Jadi, jangan pernah berlagak menjadi korban di sini," bisik Arumi, setiap katanya tajam seperti silet. "Kamu yang menanam duri ini, Setya. Jadi, nikmati saja setiap kali kakimu berdarah karena menginjaknya."
Setya terengah-engah, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Lalu aku harus bagaimana, Rum? Aku harus bagaimana agar Ibu memaafkan ku?"
"Bekerjalah," jawab Arumi singkat, padat, dan kejam.
"Kembali ke gudang sekarang. Sikat toilet itu sampai mengkilap. Bersihkan setiap ceceran lumpur yang ditinggalkan oleh truk-truk distributor milikku. Karena hanya dengan cara itu kamu bisa membayar setengah biaya ICU ibumu yang sudah aku talangi. Jika kamu malas-malasan dan bolos kerja, aku tidak akan segan-segan menghentikan pembiayaan rumah sakit ini dan membiarkan ibumu dipindahkan ke bangsal umum yang bising. Paham?"
Setya mengepalkan tangannya, bibirnya bergetar. "Kamu... kamu mengancamku pakai keselamatan Ibuku sendiri?!"
"Ini bukan ancaman, Setya. Ini adalah transaksi bisnis yang logis," balas Arumi tanpa berkedip sedikit pun.
"Dulu kamu menganggap pernikahan kita adalah beban finansial yang merugikanmu, kan? Sekarang, aku memperlakukanmu murni sebagai instrumen bisnis. Kamu bekerja sebagai staf kebersihan, aku bayar, dan gajimu dipotong untuk menebus kesalahanmu pada keluargaku. Adil, bukan?"
Arumi membalikkan badannya, bersiap untuk kembali masuk ke dalam kamar rawat. Namun sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, ia menoleh sedikit ke belakang.
"Oh, satu lagi. Pak Dhanu sore ini akan membawa anak-anak dan Kak Nia untuk makan malam merayakan kesembuhan Ibu di restoran hotel berbintang. Pastikan seluruh halaman parkir gudang sudah bersih sebelum kami kembali besok pagi. Aku tidak mau ban mobil mewah Dhanu kotor karena kelalaian staf kebersihanku."
Klik. Pintu kamar VIP itu tertutup rapat dengan bunyi yang halus, tapi terasa seperti dentuman meriam yang menghancurkan sisa-sisa harga diri Setya hingga menjadi abu.
Setya berdiri sendirian di lorong rumah sakit yang sepi. Uang sepuluh ribu rupiah pemberian Arumi kemarin sudah habis tidak bersisa. Ia tidak punya pilihan lain selain berjalan kaki sejauh tiga kilometer kembali menuju gudang di bawah terik matahari siang yang membakar kulitnya yang kini makin legam.
Di sepanjang jalan, delusi dan kenyataan bertarung hebat di kepalanya. Ia membayangkan betapa bahagianya jika ia dulu tidak pernah melirik Raya. Ia membayangkan dirinya yang duduk di kursi kepala meja di restoran hotel berbintang bersama Arumi dan anak-anak. Tapi, kenyataan berupa kerikil tajam jalanan yang menembus sol sepatu bot karetnya yang tipis langsung menyentakkannya kembali ke bumi.
Setya sampai di gudang dengan napas tersengal-sengal dan baju seragam yang basah kuyup oleh keringat. Ia mengambil sapu lidinya, menatap ruko berlantai dua milik Arumi yang kini menjadi simbol kekuasaan mantan istrinya. Dengan tangan yang mulai gemetar karena kelaparan, ia mulai menyapu halaman parkir, mempersiapkan tempat bagi mobil Dhanu yang akan datang membawa kebahagiaan yang pernah ia sia-siakan.
Hukum tabur tuai terus berjalan tanpa interupsi, menguliti ego Setya helai demi helai, menyisakan seorang pria pengkhianat yang kini harus menjadi babu di atas tanah kejayaan mantan istrinya sendiri.