Emillya Vozera seorang gadis bar-bar, cegil, heboh, dan berisik. dia adalah kekasih dari Arshka Ravindra_ pemuda dengan hobi tawuran serta balapan liar. Emillya tau apa saja yang di lakukan oleh pacarnya, tapi dia tak pernah komplain apapun yang dilakukan nya. menurutnya asalkan pria itu bahagia maka tidak apa, meskipun sesekali dia harus marah-marah jika pacarnya itu sudah melewati batas.
sedangkan Arshka, dia hanya bisa tersenyum melihat pacarnya yang cerewet ini berbicara tanpa putus, dia bahagia memiliki gadis ini dalam hidupnya.
namun semuanya berubah sejak Arshka di pindahkan ke desa oleh orang tuanya, bertemu dengan orang baru, dengan kejadian yang tidak terduga.
akankah cinta Arshka dan Emilliya akan berakhir indah, atau justru keduanya mengambil jalan yang berbeda. Dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi.
berlanjut...🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emiliya's jealousy
...🎵Sunday Driver by Soobin TXT ...
...Lagu santai, cill banget. Bagus buat bikin mood naik. ...
Happy reading...
...Kamu lebih dari segalanya yang aku punya. ...
.......
..........
........
.......
Sesuai janjinya sore ini, Arshka membawa anak-anak kota itu ke beberapa tempat. Sebuah bukit kecil yang berada tak jauh dari pemukiman warga, pemandangan dari sana sangat indah. Desa Layaran ini termasuk dataran tinggi jadi pemandangan di bawah sana terlihat indah.
Setelah dari bukit. Arshka membawa mereka semuanya ke warung makan yang Neneknya kelola. "Emi kamu mau makan apa? Biar aku pesenin."
Emiliya duduk lesehan di lantai kayu warung. Kipas angin berputar pelan di atas langit-langit yang sebagian besar berkusen kayu. Dari dalam sebuah pemandangan hamparan sawah langsung memanjakan netra anak kota itu, dengan pagar warung yang hanyalah setengah membuat mereka semakin leluasa melihat pemandangan itu.
"Hmm... Aku pengen nasi goreng, ada nggak di sini?" jawab Emi sambil memainkan ujung blazernya. Dia masih agak canggung di sini. "Ada kok." jawab Arshka.
Netta langsung nyeletuk. "Ar, gue pesenin mie rebus ya! Pake telor 2!"
Bara: "Nasi goreng juga, yang pedes"
Deva: "Es teh manis dingin"
Kaifan: "Mendoan 10, buat cemilan"
Arshka tertawa kecil. "Pesanan banyak amat. Awas kalo sampe gak abis!" Dia langsung jalan ke arah dapur menyampaikan pesannya. "Mbak, mie rebus 2, nasi goreng 3, mendoan 1 porsi, es teh 5 ya. Yang satu teh hangat."
Mbak intan_ salah satu pegawai di warung neneknya mengangguk. "Siap mas. Di tunggu ya."
Setelah selesai Arshka langsung keluar dari dapur namun sebelum benar-benar keluar Arshka melirik sedikit ke arah wastafel. Dimana Senja tengah mencuci piring-piring kotor dengan seragam kerja di warung neneknya. Tak lama ia langsung kembali ke meja teman-teman.
Arshka kembali ke meja lalu duduk di samping Emiliya. Menyodorkan segelas air putih. "Nih, minum dulu. Tadi jalan luamyan jauh kan."
Emillya menerima gelasnya dengan senyum tipis, dia suka dengan perhatian- perhatian kecil Arshka. "Makasih"
lalu pandanganya kembali menatap sawah dari balik pagar warung. Anginnya kencang menerpa wajahnya.
Netta menyenggol lengan Emiliya. "Kayaknya gue nggak nyesel ikut lo kesini. Paru-paru gue dapet makanan sehat."
"Bener, lega banget nafas di sini, polusinya gak separah di kota. " jawab Emiliya tertawa kecil.
"Disini oksigen bersih melimpah ruah. " timpal Bara sembari menatap sekitar.
Tak lama pesanan datang. Nasi goreng, mie rebus, mendoan hangat, es teh dingin. Senja yang bertugas mengantarkan makanan ke meja mereka mulai menaruh satu-satu pesanan. "Silahkan menikmati." katanya lalu kembali ke dapur.
Arshka mengangguk kecil. "Iya, makasih"
Emillya menatap pelayan yang baru mengantarkan makanan ke meja mereka dengan serius. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu. Tapi di mana ya?. "Arsh, kok aku kayak pernah liat dia ya?"
Arahkan hampir tersedak dengan es teh yang sedang dia minum, "Mungkin salah inget."
"Nggak. Nggak, itu bukannya cewek yang kamu rangkul kan kemarin?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Iya, itu Senja. Tapi aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Pure temen oke."
Emiliya diam. Sendok di tangannya berhenti di tengah jalan. Netta, Bara, Kaifan, Deva langsung saling lirik. Mode diem seribu bahasa.
"Oh..." jawab Emiliya pelan. Terus menyuapkan nasi goreng. Kunyah. Telan. Namun tatapan matanya fokus ke piring. Ke meja. Ke mana aja kecuali ke Arshka. Meskipun sudah di jelaskan kemarin tapi tatapan Arshka yang tadi Emilia lihat terlalu... Dalam pada gadis itu.
Arshka yang melihat perubahan mood Emiliya sedikit. Panik. "Emi, kamu masih marah soal yang kemarin."
Emillya manggut-manggut. "Iya aku nggak marah kok. Tapi tadi tataan kamu dalem banget ya" jawabnya datar, sedikit menyindir.
Anjir.
Arshka langsung diam. Menggaruk kepalanya. "Apaan sih dalem-dalem. Orang biasa aja" bantahnya, bingung harus mengatakan apa. Tadi dia melakukanya tanpa sadar.
Emi menyendok kembali nasi goreng di hadapan. Tetap tidak menatap Arshka. "Iya, Biasa aja. tapi kamu langsung lupa aku ada si sini!"
"Emi..."
"Udah makan aja" potong Emiliya cepet.
Suasana meja langsung canggung.
Netta batuk. "Eh itu mendoannya enak banget sumpah"
Bara: "Iya. Pedesnya nampol"
Kaifan: "Deva diem aja dari tadi. Kenapa lu?"
Deva: "Lagi nonton drama. Gratis" ucapannya langsung di sumpal sebiji gorengan oleh Netta. "haha.. diem gak lu, lagi panas ini jir!" bisik Netta pada Deva dengan penuh ancaman.
"Arsh..."
"Hm?"
"Satu bulan kamu di sini gak buat kamu pindah hati kan?" tanyanya tanpa menatap Arshka. Emiliya adalah gadis yang sebenernya takut di tinggalkan, di posesif, dan mungkin terkadang ke posesifa nya membuat Arshka tak nyaman. Tapi Arshka tau, Emiliya hanya takut di tinggalkan.
Tanpa menunggu lama Arshka langsung menarik pelan tangan Emiliya, membawanya meninggalkan meja ke halaman belakang warung. "Ikut aku" bisiknya.
Emillya menurut tanpa perlawanan.
Di belakang warung ini terdapat pohon jambu. Anginnya lebih kenceang dan sejuk. Namun sedikit sepi karena jarang di lewati kecuali oleh para pekerja di warung ini.
Setelah sampai, Arshka melepaskan genggamannya berdiri tegak du hadapan Emiliya, "Tatap aku Emi."
Emi menggeleng. "Nggak mau."
"Emi..."
"Apaan sih. Aku masih marah!"
Arshka tertawa kecil. Lalu dia memegang kedua pipi Emilya memaksanya untuk menatap dirinya. "Liatin aku."
Emillya mengedip-ngedipkan matanya yang sudah sedikit memerah. "Ngapain"
"Aku ulang ya. Satu kali aja" Arshka mengusap jempolnya di pipi Emilya. "Satu bulan aku di sini, yang aku pikirin cuma kamu. Kamu lagi apa? Apa kamu udah makan, udah senyum atau kamu udah nemuin pengganti aku.. aku selalu mikirin kamu terlepas dari semua keegoisan aku malam itu."
Mata Emiliya berkaca-kaca mendengar semua perkataan pemuda di hadapannya. "Arsh.. "
"Dan yang tadi itu aku reflek. Aku cuma ngehargain dia sebagai orang yang jaga Nenek aku,"
Deg.
Emillya langsung memeluk Arshka dengan erat. Tak ada lagi keraguan di hatinya... Ia yakin hati Arshka masih sepenuhnya menjadi miliknya.
"Udah baikan?" tanya Arshka melepaskan pelukannya menatap Emiliya.
Emillya manyunkan bibirnya. "Belum. 100%... 99% aja"
"Kurang 1% nya apa?"
"Cium" jawab Emi cepet. Terus langsung nutup mulut. "Eh maksudnya..."
Arshka tidak mendengarnya dengan jelas. "Hah?"
"Enggak jadi!" pipi Emillya merona dengan mulutnya yang asbun, ingin berlari namun ditahan oleh Arshka. Dipeluk dari belakang.
"99% cukup. 1% nya kapan-kapan." bisik Arshka di telinga Emiliya. Membuat gadis itu membeku di tempat.
Suaranya dering telepon menganggu moments romantis ini. Tertera nama 'Netta" di layar ponsel Emiliya. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut. "WOII UDAH JANGAN LAMA-LAMA! MIE GUE UDAH DINGIN!" Kaifan ikut menimpali. "SAMA, GORENG GUE JUGA!"
"Iya bentar lagi gue kesana.* balasnya lalu mematikan panggilan sepihak.
Arshka dan Emiliya melepas pelukannya. Tertawa bersama. "Udah yuk balik" kata Arshka sambil mengulurkan tangan.
Emillya menerima dengan senang hati. "Iya. Maaf ya tadi ngambek"
"Udah. Nggak papa, aku juga salah."
Dari balik tembak kayu seorang gadis tanpa sengaja mendengar semua percakapan mereka. Senja menatap kosong ke tanah sebelum pergi setelah meletakan kantong sampah di sana.
...~To be continued ~...
...Mungkin ada yang bosen sama cerita ini, tapi aku harap kalian suka si. Nanti kedepannya mungkin bakal lebih seru😔...