"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 19
Enam bulan sudah Mila merantau ke kota orang. Suka dukanya dilaluinya tanpa orang tuanya dan keluarga terdekat. Rasa rindu kepada orang terkasih begitu besar tetapi apalah daya orang tua yang seharusnya dapat menguatkan dan menenangkan dirinya menganggapnya seperti anak durhaka.
Mila tak pernah berkomunikasi lagi dengan kedua orang tuanya dan kedua saudara kandungnya sejak perceraiannya, ia sengaja menutup rapat biar sama-sama introspeksi diri.
Dua hari lagi perayaan hari besar, para perantau telah berbondong-bondong balik ke kampung halaman untuk melepaskan rindu kepada orang terkasih. Sementara Mila memilih tak pulang karena ia sudah tak diharapkan lagi.
"Mila, apa kamu tidak pulang ke kotamu?" tanya Hasbi ketika perjalanan menuju kos-kosan setelah selesai melaksanakan salat tarawih di masjid.
"Sepertinya enggak, Mas. Tahun depan aja, aku pulang. Orang tuaku udah tau dan memakluminya, kok!" jawab Mila berbohong.
"Apa kamu kesulitan biaya?" tanya Hasbi. Ia siap menanggung ongkos bus.
"Eh, enggak juga, Mas. Aku belum genap setahun di sini. Lagian baru tahun ini aku enggak ketemu mereka," jawab Mila yang sebenarnya sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Kamu ini aneh, ya. Enggak jumpa mereka, tapi bisa sesantai ini!" Hasbi geleng-geleng kepala, biasanya orang-orang yang memiliki kedekatan dengan keluarganya ingin cepat-cepat pulang dan bertemu.
"Aku malas kalau ditanya tentang jodoh," Mila lagi-lagi berdusta.
Hasbi tertawa rendah mendengarnya.
"Mulut saudara-saudara orang tuaku pedas semua. Pertanyaan setiap tahun selalu itu-itu aja. Ibarat kata pernikahan adalah perlombaan dan kehormatan keluarga!" kata Mila menjelaskan.
"Apa mereka enggak punya kerjaan sampai harus mengurusi kehidupan orang lain?" Hasbi geleng-geleng kepala lagi mendengar cerita Mila mengenai saudaranya.
"Entahlah, aku juga tak tau," Mila tersenyum.
"Kalau kamu memang berubah pikiran dan mau pulang bareng, aku bisa menunggu dua hari lagi. Rencananya besok aku sudah berangkat," kata Hasbi mengajak.
"Enggak usah tunggu. Mas Hasbi pulang aja, kalau aku memang mau pas hari raya aku bisa pulang!" ucap Mila biar Hasbi tak menunggunya lagian dia juga tetap tidak mau balik ke kotanya, sebelum orang tuanya yang menginginkannya.
"Baiklah, kalau kamu memang pulang. Beritahu aku, biar aku datang menemui orang tuamu!"
"Loh, buat apa?" Mila mengernyitkan keningnya.
"Cuma silaturahmi aja. Memangnya aku enggak boleh bertamu ke rumahmu?"
Mila menyengir dan berkata, "Boleh, kok!"
***
Hari raya pun tiba, Hasbi sudah berangkat ke kampung halamannya. Dari 10 kamar yang ada di kos-kosan cuma 3 kamar penghuninya memilih tak pulang termasuk Mila.
Masjid telah ramai dipenuhi jamaah untuk melaksanakan salat, meskipun Mila sedih tak dapat berkumpul dengan keluarganya tetapi ia bersyukur memiliki para tetangga yang baik. Belum salat saja, semangkok ketupat sayur sudah diterima dan dimakannya.
Selesai salat, Mila bersalam-salaman dengan para jamaah lainnya. Mila juga sempat berjabat tangan dan saling berpelukan dengan neneknya dan ibunya Aldo.
Ketika diluar masjid, Nenek Sulastri mengajak Mila ke rumah untuk sekedar mencicipi makanan khas hari raya.
"Insya Allah, kapan-kapan aku akan berkunjung, Nek!" kata Mila yang tak dapat berjanji.
"Aldo, minta nomor telepon dia!" Nek Sulastri menunjuk ke arah Mila dengan matanya melirik cucunya.
"Buat apa, Nek?" tanya Aldo bingung.
"Minta aja, siapa tau kita perlu," jawab Nek Sulastri.
"Baiklah!" Aldo lalu meminta nomornya Mila.
"Nanti kamu jemput dia, bawa ke rumah!" titah Nek Sulastri kepada cucunya.
"Nek, biar aku aja sendiri yang ke rumah!" Mila menolak dijemput.
"Kelamaan, biarkan Aldo yang jemput!" Nek Sulastri tak suka penolakan.
Aldo kemudian berbicara kepada Mila, "Nanti saya akan kabari. Mbak Mila enggak kemana-mana, 'kan?"
"Enggak, sih!" Mila tersenyum kaku.
"Ya sudah, kalau begitu kami duluan, Mbak!" pamit Aldo lalu menuntun neneknya.
Mila kembali ke kos-kosannya, terasa sepi sebab sebagian penghuni pulang kampung. Mila masuk ke kamarnya, cuma dirinya yang tak memiliki tamu. Penghuni kamar lainnya yang tak memilih pulang kampung tetap kedatangan keluarga dan sanak saudara yang berkunjung.
Sedangkan dirinya sama sekali tak ada yang menemani. Indah pastinya pulang ke kampung orang tuanya. Wina dan Ratih tentunya menghabiskan waktu berkunjung ke rumah orang tua dan mertua serta sanak saudaranya. Pak Bagas dan keluarganya memilih pulang kampung ke rumah mertuanya.
Ditengah kebosanannya di kamar, pesan singkat berurutan masuk ke ponsel yang baru saja diaktifkannya. Paling banyak dari Hasbi, ada sekitar 10 pesan yang dikirimkan pria itu, bahkan ada 5 panggilan tak terjawab darinya. Sementara Alan, cuma 2 pesan singkat saja. Selebihnya dari Indah, Della, Wina, Ratih dan mantan adik ipar. Mila lalu mengisi kekosongannya dengan membalas satu persatu pesan dari mereka.
Saat lagi membalas pesan, ponsel yang digenggamnya berdering. Panggilan dari nomor tak memiliki nama. Mila lalu menjawabnya, "Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, Mbak Mila. Ini Aldo. Lima belas menit lagi saya datang menjemput. Mbak Mila siap-siap, ya!"
"Oh, ya, Mas Aldo. Saya akan siap-siap!" Mila yang mulai panik.
Panggilan dari Aldo berakhir setelah mengucapkan salam.
"Duuh...malas banget harus ke rumahnya. Gak ada teman lagi, bisa mati kutu aku di sana!" gumamnya. Mila menggaruk-garuk kepalanya mencari ide obrolan biar nanti tak kaku.
Tepat setelah 15 menit menelepon, Aldo datang menjemput menggunakan sepeda motor. Mila pun terpaksa ikut ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah milik Nek Sulastri, seluruh pandangan tamu yang hadir tertuju kepada Mila. Menghilangkan rasa tegang dan canggung, Mila cuma dapat tersenyum saja.
"Calon, ya, Aldo?" tanya sepupu wanitanya Aldo menggoda.
"Bukan, Kak. Ini tetangga!" jawab Aldo.
"Eh, iya, cuma tetangga Nek Sulastri!" Mila ikut menjelaskan sambil menggaruk tengkuknya.
"Kirain kami calon istrinya Mas Aldo!" sahut sepupunya Aldo yang lain.
"Jangan diajak bicara aja dia, suruh makan!" Nek Sulastri menegur cucunya.
"Ayo sini, Mila. Mari makan dan gabung dengan kami!" panggil ibunya Aldo dengan lembut.
"Iya, Tante!" Mila mendekat dan grogi.
"Anggap saja kami ini saudara kamu!" kata ibunya Aldo.
Mila cuma tersenyum nyengir.
"Tapi, dia cantik juga, kok, Aldo!" celetuk pamannya Aldo melihat Mila yang menurutnya pantas dan cocok dengan keponakannya.
"Jangan terus menerus menggodanya, kapan dia mau mulai makannya!" tegur ayahnya Aldo dengan candaan.
"Duduklah, Mila. Nanti Nenek akan perkenalkan satu persatu saudaranya Aldo!" kata Nek Sulastri yang duduk di ujung meja.
"Waduh, udah kayak lagi ajang perkenalan calon istri aja!" batin Mila.
Sejam berada di rumah Nek Sulastri, ia pun pamit pulang dan diantar Aldo lagi.
Ketika diturunkan di depan pagar, Aldo lantas meminta maaf jika selama di rumah neneknya Mila merasa tak nyaman dan tenang.
"Enggak apa-apa, Mas. Santai aja. Saudara Mas Aldo juga asyik sekali!" puji Mila yang sebenarnya iri dengan kehangatan keluarga besarnya Nek Sulastri.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔