NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pintu kamar terbanting terbuka. Ki Bagaskara muncul dengan napas menderu, matanya langsung tertuju pada sosok Gandraka yang terkulai lemah di pelukan istrinya.

Bau anyir darah memenuhi ruangan, bercampur dengan sisa-sisa aroma wangi anggrek hitam yang entah bagaimana menyusup melalui celah jendela.

​"Cepat baringkan dia, Nyai!" perintah Bagaskara. Suaranya serak, penuh dengan ketegangan yang tertahan.

​Nyai Lodra membaringkan Gandraka di atas balai-balai bambu dengan sangat hati-hati. Tangan wanita itu gemetar hebat saat melihat darah yang keluar dari telinga anaknya tidak kunjung berhenti. "Bagas, jantungnya... detaknya sangat lemah," isak Nyai Lodra.

​Ki Bagaskara segera duduk bersila di sisi kepala Gandraka. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di pelipis sang anak. Seketika, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa—hawa kematian yang sengaja ditinggalkan oleh ayahnya sebagai "hadiah" perkenalan untuk cucunya.

​"Dia terlalu muda untuk menarik kekuatan Chakra itu, Nyai. Jiwanya hampir terseret keluar mengikuti aliran energinya sendiri," gumam Bagaskara.

​Ia mulai memejamkan mata, merapal mantra pelindung batin untuk menarik kembali kesadaran Gandraka yang tersesat di dimensi antara. Perlahan, dari telapak tangan Bagaskara keluar uap putih tipis yang meresap masuk ke dalam pori-pelipis Gandraka.

​Setetes demi setetes, darah di hidung Gandraka mulai mengental dan berhenti mengalir. Namun, wajah bocah itu masih tampak berkerut kesakitan.

Di dalam tidurnya yang gelap, Gandraka seolah sedang berjalan di tengah hutan kelabang yang luas, mencari jalan pulang sementara tawa parau kakeknya terus menggema di setiap sudut pikiran.

​"Bertahanlah, Nak," bisik Bagaskara dalam hati, keringat dingin mulai membasahi punggungnya sendiri. Ia tahu, malam ini hanyalah permulaan. Sang kakek telah menandai Gandraka, dan tanda itu tertanam jauh lebih dalam daripada sekadar bekas luka di fisik.

​Di luar rumah, suara burung hantu mendadak terhenti. Alam semesta seolah ikut menahan napas, menanti apakah sang pewaris cahaya kebiruan itu akan sanggup membuka matanya kembali atau justru terjebak selamanya dalam pelukan kegelapan Bukit Wengker.

Tiba-tiba, tubuh Gandraka mengejang. Jari-jemari tangannya mencengkeram kain seprai dengan kencang, sementara matanya yang terpejam bergerak-gerak liar di balik kelopaknya.

​"Kakang... dia melawan sesuatu!" bisik Nyai Lodra panik.

​"Bukan melawan, Nyai. Dia sedang ditarik," jawab Bagaskara dengan gigi terkatup. "Ayahku menanamkan 'jangkar' kegelapan saat Gandraka menyentuh energinya tadi. Dia ingin menyeret sukma anak ini ke dalam hutan."

​Bagaskara kemudian mengubah posisi tangannya. Ia menempelkan ibu jarinya tepat di tengah dahi Gandraka, di titik yang sama dengan munculnya lambang chakra tadi. Ia mengalirkan seluruh hawa murni yang ia miliki, mencoba membentengi jiwa Gandraka agar tidak terlepas dari raganya.

​Di saat yang sama, Gandraka merasa dirinya berada di tengah hutan yang sangat asing. Pohon-pohonnya bukan lagi pohon maja, melainkan pilar-pilar tulang yang menjulang tinggi. Di atas tanah, jutaan kelabang merayap membentuk ombak hitam yang berderik.

Di hadapannya, sosok raksasa sang kakek berdiri, menatapnya dengan pandangan yang aneh—campuran antara kasih sayang yang bengkok dan ambisi yang haus darah.

​"Kemarilah, Cah Bagus... lepaskan bebanmu. Di sini kau akan menjadi raja," suara itu bergema di dalam kepala Gandraka.

​Gandraka kecil merasa sangat lelah. Rasa sakit di kepalanya begitu hebat hingga ia hampir menyerah pada tarikan itu. Namun, di tengah kegelapan, ia melihat secercah cahaya biru kecil yang berdenyut searah dengan detak jantung ibunya yang ia rasakan melalui batinnya.

​"Aku... belum mau pergi," gumam Gandraka dalam dunia sukmanya.

​Seketika, cahaya biru itu meledak, menghancurkan bayangan kelabang di sekitarnya.

​Di dunia nyata, Gandraka mendadak tersentak bangkit dan muntah darah hitam yang kental ke lantai. Napasnya tersengal-sengal, matanya terbuka lebar namun tampak kosong untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengenali wajah ayah dan ibunya di bawah temaram lampu minyak.

​"Ayah..." suaranya sangat serak, hampir menyerupai bisikan.

​"Tenanglah, Nak. Ayah di sini," Bagaskara segera mendekap tubuh anaknya yang menggigil. "Kau sudah kembali."

​Gandraka menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat di bahu ayahnya. Matanya menatap ke arah jendela yang tertutup rapat, namun ia bisa merasakan bahwa di luar sana, jauh di dalam hutan, kakeknya sedang tersenyum puas.

Tanda itu sudah tertanam. Sejak malam ini, Gandraka bukan lagi sekadar anak desa biasa; ia adalah mangsa sekaligus putra mahkota dari kegelapan Bukit Wengker.

"Seharusnya kau tidak nekat melakukan itu, Gandraka. Dia sengaja memancingmu untuk mengeluarkan kekuatan itu," ucap Ki Bagaskara, suaranya berat dengan nada penyesalan yang mendalam.

​"Tapi Ayah dalam bahaya. Aku bisa merasakannya dari dalam sini," balas Gandraka lemah sembari menyentuh dadanya. Napasnya masih pendek, dan sisa darah di sudut bibirnya memberikan pemandangan yang memilukan.

​"Tak ada yang bisa kita lakukan lagi, Kakang. Kita memang telah masuk ke dalam perangkapnya," sahut Nyai Lodra sambil terus mengusap punggung Gandraka dengan tangan yang masih gemetar.

​Ki Bagaskara terdiam, duduk termenung di tepi balai-balai. Pikirannya melayang pada ancaman yang kini nyata di depan mata. Ayahnya telah menampakkan diri, sebuah pertanda bahwa empat minggu ke depan akan menjadi hari-hari yang penuh darah dan teror. Gangguan gaib dari Bukit Wengker dipastikan akan semakin brutal dan membabi buta.

​Namun, bukan hanya itu yang membebani benaknya. Ia teringat pada sosok angkuh Jayantaka. Jika terjadi sesuatu yang fatal pada penyidik dari pusat itu, maka pasukan Majapahit tidak akan ragu untuk meratakan Desa Mojorejo dengan tanah.

​"Penyidik itu... dia sekarang dalam bahaya besar," ucap Ki Bagaskara lirih, matanya menatap kosong ke arah kegelapan di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia tahu, sang kakek tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu "wilayah" cucunya, meski itu berarti harus membantai seorang utusan kerajaan.

Untuk sementara dia masih aman, Ayah. Tapi yang pasti, jika dia tidak segera angkat kaki dari sini, sesuatu yang fatal akan menimpanya," ucap Gandraka dengan nada datar yang mengerikan bagi bocah seusianya.

​"Ayah sudah memikirkan hal itu, Anakku," balas Ki Bagaskara singkat, matanya menyipit penuh kecemasan.

​Sementara itu, di sebuah penginapan besar yang berdiri tak jauh dari tapal batas Desa Mojorejo, Jayantaka beserta tiga prajurit pengawalnya sedang mencoba melepas lelah di kamar mereka yang luas. Namun, ketenangan malam itu buyar dalam sekejap.

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Tiba-tiba, permukaan tembok kamar yang terbuat dari kayu dan batu itu mulai berdenyut ganjil. Dari balik serat kayu dan celah dinding, muncul berpuluh-puluh pasang mata manusia yang mendelik lebar dan berkedip serempak.

Tiga prajurit pendamping Jayantaka seketika mematung; wajah mereka pucat pasi, dan salah satu di antaranya langsung jatuh pingsan dengan mata mendelik saking ngerinya.

​Jayantaka sendiri tertegun, tangannya refleks mencengkeram hulu kerisnya. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana puluhan pasang mata itu mulai mengeluarkan air mata darah yang kental, mengalir membasahi dinding hingga bau anyir yang memuakkan memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, sebuah suara parau yang entah dari mana asalnya bergema di setiap sudut kamar, terdengar seperti bisikan ribuan lisan yang menyatu.

​"Jayantaka... lebih baik kau kembali ke Trowulan sekarang juga. Jika tidak, hari-hari yang kau lalui di sini tidak akan pernah tenang. Aku akan menyeret kewarasanmu hingga kau menjadi gila, sampai kau sendiri yang akan mengakhiri hidupmu dengan tanganmu sendiri..."

​"Siapa kau?! Tunjukkan wujudmu, pengecut!" teriak Jayantaka, suaranya menggelegar mencoba memecah keheningan ganjil yang menghimpitnya. Ia menghunus kerisnya, namun di hadapannya, puluhan mata itu justru berkedip lebih cepat seolah-olah sedang menertawakannya dalam diam.

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!