NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung Kedua

Aroma antiseptik yang khas dan suasana tenang di dalam ruang periksa spesialis kandungan itu seolah menambah ketegangan yang merayap di dada Isaac dan Luna. Mereka duduk berdampingan di hadapan dr. Amira, seorang dokter senior yang dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan menyejukkan. Tangan Isaac tidak pernah sekalipun melepaskan genggamannya pada jemari Luna, seolah ingin membagi beban kecemasan yang sedang dirasakan istrinya.

"Jadi, gejalanya sudah dirasakan sejak tiga minggu terakhir, ya?" dr. Amira memulai percakapan sembari meninjau catatan medis awal yang diberikan oleh perawat. Matanya yang hangat menatap Luna dengan penuh perhatian.

"Iya, Dok," jawab Luna dengan suara yang masih agak lemah. "Awalnya hanya pusing ringan, tapi tiga hari terakhir mualnya sangat hebat, terutama di pagi dan malam hari. Saya juga merasa sangat lemas dan sensitif terhadap aroma tertentu."

Isaac segera menambahkan, suaranya terdengar berat dan penuh proteksi. "Dia bahkan tidak bisa menelan makanan padat sejak semalam, Dok. Saya khawatir kondisi fisiknya akan terus menurun jika ini hanya dianggap sebagai gangguan lambung biasa."

dr. Amira tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang menyimpan makna tersirat. "Melihat gejalanya dan riwayat kesehatan Ibu Luna, ada kemungkinan besar ini bukan sekadar masalah lambung. Namun, untuk memastikannya, kita akan melakukan pemeriksaan fisik dan juga USG transvaginal agar hasilnya lebih akurat di usia kehamilan yang mungkin masih sangat muda."

Luna mengangguk pasrah. Ia mengikuti instruksi dokter untuk berbaring di atas ranjang periksa yang dialasi kain putih bersih. Isaac berdiri tepat di samping kepala Luna, membelai rambut istrinya untuk memberikan ketenangan saat alat pemindai itu mulai bekerja. Layar monitor di samping ranjang masih menampilkan visual hitam-putih yang bagi orang awam tampak seperti gumpalan awan yang tidak beraturan.

Suasana ruangan menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara gesekan halus alat medis dan napas Isaac yang tertahan. dr. Amira menggerakkan alat tersebut dengan sangat teliti, matanya fokus menatap layar monitor, mencari sesuatu yang kecil namun sangat berharga di dalam sana.

"Nah, lihat ini," ujar dr. Amira tiba-tiba sembari menunjuk ke arah sebuah titik kecil berbentuk kantung di tengah layar.

Jantung Luna serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap layar itu dengan mata yang berkaca-kaca. Isaac mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit mencoba mencerna apa yang sedang ditunjukkan oleh dokter.

"Ini adalah kantung kehamilan," lanjut dr. Amira dengan nada suara yang lebih ceria. "Dan jika kita perhatikan lebih dekat di bagian dalamnya... itu dia. Ada titik kecil yang baru saja mulai berkembang. Selamat, Pak Isaac, Ibu Luna. Hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa Ibu Luna memang sedang hamil. Usia kandungannya diperkirakan baru memasuki minggu kelima."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Isaac dan Luna. Kalimat itu—kalimat yang telah mereka nantikan selama bertahun-tahun, yang baru saja mereka bicarakan dalam bentuk harapan di tepi pantai dan di dalam mobil—kini menjadi sebuah kenyataan medis yang tidak terbantahkan.

"Hamil?" bisik Luna, air mata kebahagiaan akhirnya luruh membasahi pipinya. "Benarkah, Dok? Saya benar-benar hamil?"

"Sangat benar, Ibu Luna. Kondisinya sejauh ini tampak sangat baik, meskipun Ibu mengalami hyperemesis gravidarum ringan—itulah penyebab mual yang hebat itu. Tubuh Ibu sedang beradaptasi dengan hormon kehamilan yang meningkat pesat," dr. Amira menjelaskan sembari mencetak foto hasil USG tersebut.

Isaac masih terdiam, namun genggamannya pada tangan Luna mengencang. Jika ada yang melihat wajah sang arsitek hebat itu sekarang, mereka akan melihat sisa-sisa ketegasan yang luruh berganti dengan binar haru yang luar biasa. Ia mencium kening Luna berkali-kali, seolah kata "terima kasih" saja tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

"Kau dengar itu, Luna? Ada bayi di sana," suara Isaac bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Impian kita... impian anak-anak panti... semuanya menjadi nyata."

Setelah Luna kembali duduk di kursi periksa, dr. Amira memberikan beberapa penjelasan penting mengenai vitamin, pola makan, dan aktivitas yang harus dikurangi. Namun, sepertinya Isaac-lah yang paling rajin mencatat semua instruksi itu. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya, menuliskan setiap detail tentang makanan apa yang boleh dikonsumsi dan berapa jam Luna harus beristirahat setiap harinya.

"Ingat, Pak Isaac, Ibu Luna sedang dalam masa trimester pertama. Ini adalah masa yang sangat krusial," pesan dr. Amira sembari menyerahkan resep vitamin. "Jangan biarkan Ibu Luna terlalu lelah atau stres. Dan untuk mualnya, saya berikan obat pengurang rasa mual yang aman untuk janin."

"Saya akan memastikan dia tidak melakukan apa pun selain beristirahat, Dok," sahut Isaac dengan nada yang sangat serius, membuat dr. Amira tertawa kecil.

"Jangan terlalu protektif juga, Pak. Ibu Luna masih butuh bergerak sedikit agar aliran darahnya lancar. Yang penting, hindari beban berat dan perjalanan jauh yang terlalu sering."

Setelah keluar dari ruang periksa, mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju apotek untuk menebus obat. Langkah kaki Isaac tampak jauh lebih ringan, sementara Luna terus menatap foto hasil USG di tangannya seolah itu adalah benda paling suci di dunia. Foto kecil hitam-putih itu menampilkan sebuah titik putih yang akan menjadi pewaris nama besar The Dendra Foundation.

"Mas, aku masih merasa seperti bermimpi," ujar Luna saat mereka duduk di ruang tunggu apotek. "Mual yang kurasakan tadi malam... rasa sakitnya seolah hilang seketika digantikan oleh rasa syukur ini."

Isaac merangkul bahu Luna, menariknya agar bersandar di dadanya. "Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah jawaban atas semua kebaikan yang kau berikan pada anak-anak panti selama ini. Tuhan memberikan kita titipan yang indah."

Isaac kemudian mengambil ponselnya, jemarinya ragu sejenak di atas layar. Ia ingin segera memberitahu Ibu Sari, ia ingin memberitahu Rian di asrama kota, dan ia ingin bersorak pada seluruh dunia. Namun, ia menahan diri sejenak. Ia ingin menikmati momen ini berdua saja dengan Luna untuk beberapa menit lagi, sebelum kabar bahagia ini meledakkan kegembiraan di seluruh perbukitan.

"Kita harus menyiapkan kamar bayi, Mas," ujar Luna tiba-tiba dengan mata yang berbinar. "Kita harus memilih warna yang tenang, mungkin hijau pucat atau krem agar cocok untuk laki-laki maupun perempuan."

"Tentu, Luna. Aku akan merancang sendiri kamar bayi paling nyaman di panti nanti," jawab Isaac dengan penuh semangat. "Bahkan aku akan memasang peredam suara terbaik agar dia bisa tidur nyenyak di tengah keriuhan adik-adiknya nanti."

Di tengah kesibukan rumah sakit yang padat, pasangan ini seolah berada di dalam dunia mereka sendiri. Sebuah dunia yang kini dihuni oleh tiga nyawa—Isaac, Luna, dan detak jantung kedua yang baru saja mereka temukan. Perjalanan pulang menuju bukit nanti tidak akan lagi sama. Kali ini, mereka pulang dengan membawa sebuah rahasia besar yang akan mengubah sejarah hidup mereka selamanya.

Isaac menatap wajah istrinya yang kini sudah kembali memiliki rona kehidupan. Ia berjanji dalam hati, bahwa ia akan menjadi pelindung paling tangguh bagi Luna dan janin di rahimnya. Badai di kota, persaingan bisnis, dan segala masalah duniawi kini terasa sangat kecil dibandingkan dengan satu titik putih kecil yang baru saja ia lihat di monitor dokter tadi.

"Terima kasih sudah memberiku hadiah terindah ini, Luna," bisik Isaac tepat sebelum mereka bangkit untuk menuju mobil.

Luna hanya tersenyum manis, mendekap erat foto USG itu di dadanya. Hari ini, di rumah sakit kota ini, sebuah babak baru telah dimulai. Babak yang penuh dengan cinta, harapan, dan tanggung jawab baru yang akan mereka jalani bersama di atas bukit pinus yang asri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!