NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelap dan ketakutan yang kembali

Baru saja Baskara hendak membuka pintu mobilnya, langit seolah tumpah. Hujan deras mengguyur seketika, diikuti kilatan petir yang menggelegar dahsyat. Duar! Suara guntur itu disusul dengan padamnya seluruh lampu di komplek perumahan tersebut. Suasana menjadi gelap gulita dalam sekejap.

​Di dalam rumah, Lara memekik pelan. Kegelapan total itu seketika memicu memorinya tentang dingin dan gelapnya gudang penyekapan kemarin. Tubuhnya gemetar hebat, dan napasnya mulai tidak beraturan.

​"Kak Lara? Kakak nggak apa-apa?" suara Arsel terdengar panik dari kegelapan, ia berusaha meraba-raba mencari tangan Lara.

​Belum sempat Lara menjawab, pintu depan digedor dengan kuat. "Lara! Arsel! Jangan takut, ini saya!" suara berat Baskara terdengar di balik derasnya hujan.

​Lara dengan kaki lemas berusaha melangkah menuju pintu, sementara Arsel menggunakan fitur senter di ponselnya untuk menerangi jalan. Begitu pintu dibuka, sosok Baskara berdiri di sana dengan baju yang separuh basah kuyup. Ia segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

​Tanpa mempedulikan bajunya yang basah, Baskara langsung menangkap bahu Lara yang gemetar. "Saya di sini. Jangan ingat yang kemarin. Ini cuma mati lampu biasa karena badai," ucapnya dengan nada yang sangat menenangkan, berusaha memutus serangan panik Lara.

​Baskara kemudian merogoh kantong jasnya yang masih kering dan mengeluarkan sebuah lampu darurat kecil yang untungnya selalu ia bawa di mobil. Cahaya kuning hangat mulai menyinari ruangan.

​"Arsel, ambilkan handuk kering di kamar tamu," perintah Baskara tegas namun tenang. Arsel segera berlari menaiki tangga dengan bantuan cahaya ponselnya.

​Kini tinggal Baskara dan Lara di ruang tamu yang temaram. Baskara menuntun Lara untuk duduk di sofa. Ia berlutut di depan Lara, menggenggam kedua tangan gadis itu yang sedingin es.

​"Saya nggak akan pulang sampai lampunya menyala kembali. Kamu aman, Lara. Saya janji," bisik Baskara tepat di depan wajah Lara.

​Lara menatap mata Baskara yang berkilat di balik cahaya temaram. Rasa takutnya perlahan surut, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Di luar, badai masih mengamuk, namun di dalam ruangan itu, Lara merasa seolah-olah dunia baik-baik saja selama ada pria ini di sampingnya.

Arsel muncul dari balik kegelapan tangga dengan membawa dua lembar handuk tebal. Ia segera menyampirkan salah satunya ke bahu Baskara yang basah kuyup karena air hujan.

​"Ini Kak, handuknya. Kak Lara, ini satu lagi buat Kakak, biar nggak kedinginan karena kaget tadi," ucap Arsel sambil memberikan handuk lainnya kepada Lara.

​Baskara menerima handuk itu dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya dengan kasar, namun matanya tetap tidak lepas dari Lara. "Terima kasih, Sel. Sekarang, bantu Kak Lara ke dapur. Nyalakan lilin atau lampu darurat di sana. Saya akan periksa sekring depan sebentar untuk memastikan tidak ada korsleting."

​Lara menarik ujung handuknya, menyelimuti bahunya yang masih sedikit gemetar. "Hati-hati di luar, Kak. Hujannya masih deras banget."

​Baskara hanya mengangguk singkat, memberikan tatapan yang seolah mengatakan 'semua akan baik-baik saja', sebelum ia kembali menerjang rintik hujan di teras depan.

​Di dapur, Arsel dan Lara duduk berhadapan dengan ditemani sebatang lilin yang cahayanya menari-nari di dinding. Suasana yang tadinya mencekam perlahan berubah menjadi hangat.

​"Kak Lara benar-benar trauma ya gara-gara kejadian di kampus kemarin?" tanya Arsel lembut, suaranya nyaris berbisik di antara suara guntur yang masih terdengar bersahut-sahutan.

​Lara mengangguk pelan. "Iya, Sel. Rasanya gelap tadi itu mirip banget sama suasana di gudang. Tapi pas dengar suara Kak Baskara di depan pintu, tiba-tiba aku merasa aman lagi."

​Arsel tersenyum penuh arti. "Abangku itu memang orangnya kaku banget, Kak. Tapi kalau dia sudah peduli sama seseorang, dia bakal jadi orang paling protektif sedunia. Kakak tahu nggak? Sejak dia pulang dari kampus tadi, dia nggak berhenti cek ponsel, nungguin kabar dari Papa Kakak. Dia beneran takut Kakak kenapa-napa lagi."

​Tak lama kemudian, Baskara kembali masuk dengan napas sedikit terengah. "Sekring aman, memang pemadaman dari pusat karena ada pohon tumbang di depan komplek. Sepertinya lampunya tidak akan menyala dalam waktu dekat."

​Baskara melepas jas almamaternya yang lembap, menyisakan kemeja hitam yang tercetak jelas di tubuh tegapnya. Ia duduk di antara mereka berdua, mengambil posisi yang paling dekat dengan pintu, seolah menjadi benteng terakhir yang menjaga rumah itu.

​"Malam ini saya tidur di sofa ruang tamu," putus Baskara tanpa bantahan. "Kalian berdua naiklah ke kamar. Kunci pintunya. Kalau butuh apa-apa, teriak saja."

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!