Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merebut Kembali Kalungnya
Aku ingin memgambil kalungku. Tekad Livia.
Livia melangkah keluar dari mobil hitam mewah yang dikawal oleh dua kendaraan taktis di depan dan belakangnya. Meskipun Morenzo memberinya izin untuk keluar, kebebasan itu terasa berat karena sorot mata para pengawal yang mengawasinya dengan mode kawalan terselubung. Padahal tanpa Livia ketahui, dirinya sudah dikawal secara terselubung jauh sebelum ia menjadi nyonya Morenzo.
Livia memperbaiki letak mantel panjangnya sbelum memasuki butik. Akan tetapi, belum dia masuk, Elena sudah lebih dulu keluar dari sana.
Livia mencegat Elena di pelataran sebuah butik kelas atas, tempat yang dulu sering ia datangi bersama Axel. Elena tampak terkejut, namun dengan cepat ia merubah ekspresinya. Wajahnya yang cantik jelita itu langsung memancarkan keprihatinan yang dibuat-buat, kedua tangannya terangkat ingin memeluk Livia.
"Livia! Oh Tuhan, syukurlah kau baik-baik saja. Axel sangat khawatir padamu. Kamu pergi dari rumah berhari-hari tanpa kabar. Ke mana saja kamu, Livia? Kamu terlihat berbeda."
Livia menatap Elena dengan tatapan datar. Ia membiarkan Elena mendekat. Sebelum tangan wanita itu menyentuh lengannya, Livia mundur satu langkah, menunjukkan sebuah penolakan.
"Simpan aktingmu untuk panggung yang lebih rendah, Elena. Jangan berpura-pura baik lagi di depanku. Itu membuatku muak."
Elena membeku. Pupil matanya melebar sejenak sebelum ia kembali memaksakan senyum tipis. "Livia, kenapa bicaramu begitu? Aku sahabatmu juga. Kalau ada masalah dengan Axel, kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan terbawa emosi seperti ini."
"Aku tidak merasa sahabatan denganmu. Dan aku di sini tidak untuk membicarakan Axel."
Wajah Elena perlahan berubah. Topeng kelembutannya mulai runtuh, digantikan oleh ekspresi yang lebih angkuh dan defensif. Ia melipat tangannya di dada, dagunya terangkat sedikit lebih tinggi.
"Baiklah, jika itu maumu. Jadi, apa sebenarnya yang kamu inginkan hingga repot-repot menemuiku di sini? Bukankah kamu seharusnya sedang bersembunyi di suatu tempat karena malu?"
"Tentu saja mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," jawab Livia singkat.
Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar meremehkan.
"Oh, Livia... kamu masih saja membahas soal ini?" Elena nyerocos tanpa henti, ia berubah menjadi sok menasihati. "Dengar, aku tidak tahu kenapa Axel selalu memberikan perhatian lebih padaku. Padahal aku tidak pernah memaksanya, sungguh. Mungkin baginya, aku adalah rumah tempatnya pulang, tempat di mana dia merasa tenang, bukan tempat penuh tuntutan seperti saat dia bersamamu."
Elena pikir Livia hendak mengambil yang seharusnya jadi miliknya, yaitu Axel. Dia percaya diri untuk memojokkan Livia, dan membuat wanita itu merasa kalah.
Elena melangkah maju, menatap Livia dengan tatapan kasihan. "Livia, daripada kau melabrakku seperti ini dan mempermalukan dirimu sendiri, lebih baik kau hilangkan sifat kekanakanmu itu. Dunia tidak berputar di sekitarmu saja. Axel memilih untuk memberikan perhatiannya padaku karena dia merasa aku lebih pantas mendapatkannya. Belajarlah untuk mengikhlaskan."
Dalam hati, Livia merasa ingin tertawa keras. Cih! Dia pikir aku di sini untuk memperebutkan pria tidak berguna seperti Axel? Ejekan Morenzo di ruang latihan tadi pagi kembali terngiang di kepalanya.
Livia tidak lagi merasa sakit hati. Ia hanya merasa lapar akan keadilan.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Livia datar.
Sebelum Elena sempat menjawab, Livia bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga. hasil dari latihan intensif yang dipaksakan Morenzo. Tanpa peringatan dan tanpa kata-kata sopan, Livia mengulurkan tangannya dan menjambret kalung itu langsung dari leher Elena.
KRAK!
Suara rantai kalung yang putus itu terdengar begitu memuaskan di telinga Livia. Elena memekik kaget, tangannya segera menangkup lehernya yang kini memerah akibat tarikan kasar tersebut. Ia terhuyung mundur, matanya melotot tidak percaya.
"K-kau... kau gila! Apa yang kau lakukan?!" teriak Elena histeris.
Livia menatap kalung di tangannya sejenak, lalu menatap Elena dengan sorot mata yang membuat wanita itu menciut. "Aku mengambil kalungku, bukan Axel. Pria itu? Kau bisa memilikinya, Elena. Sampah memang seharusnya berada di tempat pembuangan."
Livia dengan tenang membuka tas tangannya yang mahal dan memasukkan kalung itu ke dalamnya, mengamankan barang berharga tersebut.
"Livia! Kamu benar-benar tidak punya etika!" Elena berteriak, suaranya menarik perhatian beberapa orang di sekitar butik. "Main ambil saja! Kamu bisa kan memintanya secara baik-baik? Bilang dulu kalau mau mengambilnya, bukan dengan cara kriminal seperti ini!"
Livia tertawa sinis, "Etika? Jangan membuatku tertawa, Elena. Aku tidak perlu bersikap sopan pada pencuri. Kau sudah lupa, ya? Bagaimana tempo hari aku memintamu mengembalikan kalungku dengan baik-baik, dan kau malah melakukan drama menjatuhkan diri agar Axel memarahiku? Kau pikir aku akan jatuh ke lubang yang sama dua kali?"
Livia melangkah mendekat, mengintimidasi Elena hingga wanita itu bersandar pada apa yang berada di belakangnya.
"Kau bisa menipu Axel, kau bisa menipu semua orang dengan wajah polosmu itu, tapi kau tidak akan pernah bisa menipuku lagi. Sekarang, nikmatilah sisa waktumu dengan rumah yang kau banggakan itu."
Tanpa menunggu balasan lagi, Livia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegas. Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan cukup keras. Di dalam mobil, ia melihat jam tangannya. Masih ada waktu sebelum pukul 07.00 malam. Ia harus bisa mengatur waktu agar semua urusan bisa ia sambangi.
Elena berdiri mematung dengan napas tersengal karena marah. Lehernya terasa perih, tapi harga dirinya jauh lebih terluka. Ia melihat mobil Livia melaju pergi dengan kawalan yang tidak main-main.
"Sialan kau, Livia!" umpatnya.
Dengan tangan gemetar, Elena merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Ia segera mencari kontak Axel. Ia tahu Axel sedang gila mencari keberadaan Livia selama beberapa hari terakhir. Axel merasa harga dirinya terluka karena Livia pergi tanpa izin, dan ia ingin menyeret wanita itu kembali untuk memberi pelajaran.
"Halo, Axel?" suara Elena langsung berubah menjadi isakan tangis begitu telepon diangkat.
"Axel... Livia... dia baru saja menemuiku. Dia datang padaku dan menjambret kalung Zamrud miliknya. Dia berubah, Axel. Dia terlihat sangat mengerikan. Aku takut sekali..."
"Livia menemuimu? Di mana dia sekarang?!"
Elena memberikan lokasi tersebut dengan senyum licik di balik tangisnya. Ia berpikir bahwa dengan melaporkan Livia, Axel akan memburu wanita itu dan memberinya hukuman yang setimpal. Ia tidak tahu bahwa Livia yang sekarang bukan lagi domba penurut yang bisa mereka giring sesuka hati.
Livia yang sekarang memiliki serigala di belakang punggungnya.
...🍓🍓🍓...
Sementara itu, di dalam mobil, Livia menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan singkat masuk.
Morenzo: Sudah selesai bermainnya, Nyonya Morenzo? Morenzo rindu. Jangan lupa jam pulangmu. Aku tidak suka menunggu.
Astaga! Baru beberapa jam sudah rindu? Batin Livia.
Livia tidak tahu, kata rindu dari Morenzo merupakan sebuah kode, yang nantinya akan Livia mengerti artinya tanpa perlu dijelaskan.
Bersambung.
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭