Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sang Nyonya
"Berdiri tegak, Naya. Para wartawan sudah ada di gerbang pemakaman. Jangan biarkan mereka melihat matamu yang sembab."
Sofia merapikan kerudung hitam Naya dengan gerakan kasar. Namun, Naya tidak menghindar. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Sofia berhenti mendadak.
"Jangan khawatir, Ibu Mertua. Aku sudah menyiapkan akting terbaikku. Tidak akan ada yang menyangka bahwa menantu tercinta Pak Baskara ini sedang merencanakan sesuatu yang luar biasa," jawab Naya tenang.
"Apa maksudmu dengan 'luar biasa'?" tanya Sofia curiga.
"Menjadi istri yang sempurna, tentu saja. Bukankah itu yang Tante inginkan selama ini? Ayo, Arkan sudah menunggu di mobil," Naya melangkah lebih dulu, meninggalkan Sofia yang terpaku menatap punggungnya.
Di dalam mobil limusin yang membawa mereka ke pemakaman, Arkan terus menatap Naya. Pria itu tampak gelisah dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi sangat kooperatif.
"Naya, soal ucapanmu di rumah sakit semalam... aku harap itu bukan ancaman," Arkan membuka suara.
"Ancaman? Kenapa kamu merasa terancam, Sayang? Aku hanya sadar bahwa melawanmu itu sia-sia. Ayah sudah tidak ada, hartaku sudah habis, dan aku hanya punya kamu sekarang. Aku hanya mencoba bersikap realistis," Naya menoleh, menatap Arkan dengan mata yang jernih—terlalu jernih hingga terasa palsu.
"Bagus kalau kamu sadar. Setelah pemakaman ini, aku ingin kamu fokus pada acara amal yayasan minggu depan. Kamu akan menjadi wajah utama di sana."
"Tentu. Aku akan memastikan semua orang tahu betapa dermawannya keluarga Arkan dalam menyantuni keluarga korban... maksudku, kolega bisnisnya," sahut Naya dengan nada yang sangat manis.
Arkan menyipitkan mata. "Jangan mencoba bermain kata-kata denganku, Naya."
"Aku tidak bermain, Arkan. Aku hanya sedang belajar menjadi seperti kamu. Bukankah kamu bilang hidup ini tentang bagaimana kita terlihat? Hari ini, kita akan terlihat sebagai pasangan paling berduka di Indonesia."
Prosesi pemakaman Pak Baskara berlangsung megah. Ratusan bunga papan berjajar di sepanjang jalan. Saat peti mati diturunkan, Naya berdiri di depan liang lahat tanpa meneteskan air mata sedikit pun.
"Mbak Naya... saya turut berduka cita sedalam-dalamnya," bisik seorang pria paruh baya yang mendekat. Itu Hendra—bukan Hendra yang di Bogor, melainkan salah satu mantan direktur Ayahnya yang masih setia.
"Terima kasih, Pak. Ayah sudah tenang sekarang. Beliau tidak perlu lagi melihat pengkhianatan di sekelilingnya," jawab Naya cukup keras agar Arkan yang berdiri di sampingnya mendengar.
"Jika ada yang Mbak butuhkan... soal berkas lama yang pernah Pak Baskara titipkan pada saya sebelum beliau sakit..."
"Nanti saja, Pak. Sekarang bukan waktu yang tepat bicara bisnis," potong Arkan dengan cepat, sambil merangkul pundak Naya dengan protektif. "Istri saya sedang sangat terpukul."
Naya melirik Arkan. "Betul, Pak. Suami saya benar. Beliau sangat tahu kapan harus menutup buku lama dan kapan harus membuka yang baru. Mari kita lanjut ke doa penutup."
Sore harinya, kembali di apartemen, suasana terasa sangat berbeda. Naya langsung menuju dapur, memerintah pelayan untuk menyiapkan teh mawar kesukaan Sofia.
"Naya, apa yang kamu lakukan?" tanya Sofia yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Menyiapkan teh untuk Ibu Mertua. Aku dengar Ibu Mertua sulit tidur sejak kejadian di Bogor kemarin. Mungkin teh ini bisa membantu menenangkan saraf Ibu," Naya menyodorkan cangkir porselen itu dengan tangan yang stabil.
Sofia menerima cangkir itu dengan ragu. "Kamu berubah terlalu cepat. Apa yang kamu rencanakan?"
"Rencana? Aku hanya ingin kita damai. Aku ingin belajar bagaimana mengelola rumah ini dengan benar. Oya, aku dengar Arkan punya jadwal pertemuan dengan bankir dari Swiss malam ini di ruang kerjanya?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku melihat catatan di meja kerjanya saat membantunya merapikan jas tadi pagi. Aku pikir, mungkin aku bisa membantu menyajikan kopi agar pertemuan itu lebih privat tanpa pelayan lain," Naya tersenyum manis.
Sofia menyesap tehnya, matanya terus mengawasi Naya. "Arkan tidak suka diganggu saat bicara bisnis."
"Aku bukan gangguan lagi, Tante. Aku adalah bagian dari asetnya, ingat? Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang bocor."
Pukul sembilan malam, Arkan benar-benar sedang berada di ruang kerjanya dengan dua pria asing. Naya mengetuk pintu perlahan, membawa nampan berisi kopi hitam pekat.
"Naya? Aku bilang jangan ada yang masuk," Arkan menegur dengan nada rendah.
"Maaf, Arkan. Aku hanya ingin memastikan tamu-tamumu mendapatkan layanan terbaik. Pelayan sedang sibuk di bawah, jadi aku mengambil inisiatif," Naya meletakkan kopi di depan para tamu dengan gerakan yang anggun.
Salah satu bankir menatap Naya dengan kagum. "Istri Anda sangat mempesona, Mr. Arkan. Dan sangat penuh perhatian."
"Terima kasih, Tuan. Suami saya bekerja terlalu keras, saya hanya tidak ingin dia kelelahan," sahut Naya. Saat ia membungkuk untuk meletakkan gula, matanya dengan cepat menyapu dokumen di atas meja. Project B: Final Likuidasi.
Arkan menyadari tatapan Naya. "Terima kasih, Naya. Kamu bisa keluar sekarang."
"Tentu. Selamat melanjutkan pembicaraan," Naya berbalik, namun sebelum keluar, ia sempat menjatuhkan sebuah pulpen perak tepat di bawah meja. "Oh, maaf."
Ia berlutut untuk mengambil pulpen itu, dan dalam hitungan detik, ia menempelkan sebuah alat perekam kecil berukuran kancing di bagian bawah meja kayu jati tersebut. Alat itu adalah pemberian terakhir dari Janu yang sempat ia sembunyikan di dalam sepatu saat pelarian di Bogor.
"Sudah. Selamat malam," Naya keluar dengan senyum kemenangan yang tersembunyi.
Di dalam kamarnya, Naya memasang earpiece yang terhubung dengan alat perekam tadi. Suara Arkan terdengar sangat jelas di telinganya.
"...Ya, semua aset Baskara sudah bersih. Tidak ada lagi celah hukum. Hendra sudah dibereskan, dan istrinya sekarang di bawah kendali penuh saya. Masalahnya tinggal satu yaitu tanda tangan terakhir untuk pencairan dana di Singapura."
"Apa istri Anda akan bersedia menandatanganinya, Mr. Arkan?" tanya suara bankir itu.
"Dia akan menandatanganinya. Dia sudah menyerah. Ayahnya adalah satu-satunya kekuatannya, dan sekarang pria itu sudah di bawah tanah. Besok, saya akan membawanya ke kantor untuk menyelesaikan ini."
Naya melepas earpiece-nya. Napasnya memburu. "Jadi itu tujuanmu, Arkan. Kamu butuh tanda tanganku untuk mencairkan seluruh harta Ayah ke rekening pribadimu di Swiss."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Arkan masuk dengan wajah yang terlihat lebih santai.
"Kamu melakukan pekerjaan bagus tadi di ruang kerja. Para bankir itu menyukaimu," ucap Arkan sambil melepas dasinya.
"Aku senang bisa membantu, Arkan," Naya berdiri, mendekati Arkan dan membantu membuka kancing kemejanya—sebuah tindakan yang membuat Arkan terkejut sekaligus terpikat.
"Ada apa denganmu, Naya? Kamu tiba-tiba menjadi sangat... penurut."
"Bukankah itu yang kamu inginkan? Seorang istri yang tahu cara melayani suaminya?" Naya menatap mata Arkan dengan lembut, namun di dalam hatinya ia merasa ingin muntah.
Arkan menarik pinggang Naya, mendekatkan wajahnya. "Jika ini adalah permainan, kamu melakukannya dengan sangat baik. Tapi jika ini nyata, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk memberimu sedikit kebebasan."
"Apa kebebasan itu termasuk akses ke akun bank Ayah?" tanya Naya dengan nada bercanda yang sangat hati-hati.
Arkan tertawa. "Jangan terlalu cepat, Sayang. Besok kita ke kantor. Ada beberapa dokumen terakhir yang harus kamu tanda tangani sebagai ahli waris sah. Setelah itu, kita akan pergi berlibur ke Eropa. Hanya kita berdua."
"Eropa terdengar indah. Aku akan menyiapkan semuanya," Naya memeluk Arkan, menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
Di balik punggung Arkan, mata Naya menatap botol kecil yang masih ia simpan di saku jubah tidurnya. Botol yang ia ambil dari rumah sakit. Bukan racun mematikan, melainkan obat penenang dosis tinggi yang jika dicampur dengan alkohol akan membuat seseorang kehilangan kendali atas saraf motoriknya selama beberapa jam.
"Arkan," bisik Naya.
"Ya?"
"Sebelum kita ke kantor besok pagi, bagaimana kalau kita merayakan perdamaian kita malam ini? Aku punya sebotol wine yang dikirim kolega Ayah tempo hari."
Arkan tampak ragu sejenak, namun melihat sorot mata Naya yang tampak pasrah, ia mengangguk. "Baiklah. Satu gelas tidak akan menyakiti siapa pun."
Naya tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia berikan pada Arkan sejak pernikahan mereka. "Tunggu di sini. Aku akan mengambilnya."
Naya berjalan menuju dapur dengan langkah ringan. Di tangannya, botol kecil itu sudah terbuka. Ia tahu, besok pagi bukan dia yang akan menandatangani dokumen itu, melainkan Arkan yang akan menandatangani surat pengakuannya sendiri.
"Malam ini, Arkan... malam ini duniamu akan mulai retak," gumam Naya sambil menuangkan cairan bening itu ke dalam gelas kristal berisi wine merah pekat.