Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Saat itu, pengadilan resmi mengumumkan jadwal sidang banding.
Krisanto menolak hasil putusan sidang pertama dan langsung mengajukan banding. Sesuai prosedur hukum, sidang kedua akan digelar tepat sepuluh hari lagi. Waktu persiapannya sangat sempit, bahkan belum sampai dua minggu.
Nama-nama pengacara dari kedua pihak pun segera tersebar ke publik. Jaksa penuntut sudah siap membawa kembali seluruh dakwaan ke meja hijau. Di pihak keluarga korban, Pak Harun menyewa pengacara terkenal bernama Rasman. Sementara di pihak Krisanto, yang menjadi kuasa hukumnya adalah Arga.
Tak butuh waktu lama, profil Rasman langsung ramai dibahas di media sosial. Dia dikenal sebagai pengacara elit dari Firma Hukum Rasman Nasution, salah satu firma hukum paling besar di negeri ini.
Sedangkan Arga masih berstatus pengacara magang.
Meski begitu, namanya sedang naik daun setelah berhasil membongkar kasus besar sebelumnya. Dalam kasus itu, dia bahkan sukses menyeret terdakwa, pengacara lawan, sampai hakim ketua ke penjara.
Begitu daftar nama itu tersebar, internet langsung heboh.
Pengacara elit melawan pengacara magang.
Arga kembali mengambil kasus berat.
Walaupun statusnya masih magang, banyak orang percaya kemampuan Arga jauh melampaui gelarnya. Belakangan ini dia juga sering siaran langsung, membuat popularitasnya makin tinggi dan penggemarnya semakin banyak.
“Pengacara senior lawan pengacara baru...kira-kira siapa yang bakal menang?”
“Walaupun Mas Arga yang turun tangan, rasanya tetap susah deh. Mana mungkin dia bisa bikin Pak Harun masuk penjara.”
“Iya...kalau dia bisa ubah hukuman mati jadi penjara seumur hidup aja itu udah hebat banget.”
“Masalahnya fakta Krisanto bunuh orang itu nyata. Mau dibela gimana juga susah.”
“Mas Arga jangan ambil kasus ini deh...kasihan keluarga Yunita. Hukum tetap hukum.”
“Sidangnya tinggal sepuluh hari lagi? Cepat banget. Waktunya mepet banget buat nyari bukti.”
“Rasman itu bukan pengacara biasa. Dia terkenal banget di dunia hukum.”
Sementara netizen sibuk berdebat, Arga memanfaatkan setiap detik waktunya untuk mengumpulkan bukti.
Dia membawa beberapa wartawan dan tim media menuju Desa Bukit Indah.
Hari Pertama.
Baru sampai di depan desa, mereka langsung dihadang warga.
“Pergi kalian! Balik sana! Desa kami nggak nerima orang luar!” bentak salah satu warga.
Arga tetap tenang.
“Pak, saya cuma mau tanya. Apa Bapak kenal Krisanto dan Yunita?”
“Kenal. Tapi urusan mereka nggak ada yang baik! Udah pergi sana!”
Hari itu Arga memilih mundur dan tidak memaksa.
Namun diam-diam, sistem miliknya mulai membuka bukti baru.
[Penilaian asli warga desa terhadap Yunita]
[Praktik pinjaman berbunga tinggi di Desa Bukit Indah]
[Ancaman Pak Harun kepada warga agar tidak bersaksi]
Tiga bukti penting berhasil terbuka.
Mata Arga langsung berbinar.
Semakin jelas baginya...semakin dekat dia ke lokasi dan orang-orang terkait, semakin banyak kebenaran yang bisa terbongkar.
Hari Kedua.
Arga kembali lagi bersama lebih banyak wartawan.
Namun kali ini situasinya lebih buruk.
Jalan masuk desa benar-benar ditutup warga. Jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding kemarin, membuat Arga dan rombongannya sama sekali tidak bisa masuk.
Di perjalanan pulang, Arga langsung memberi instruksi pada tim medianya.
“Sebarkan berita. Tulis kalau Desa Bukit Indah menolak penyelidikan dan bersikap sangat agresif. Publik harus tahu ada sesuatu yang disembunyikan.”
Tak lama kemudian, berita itu langsung viral.
[Warga Desa Bukit Indah Blokir Investigasi Media]
[Wartawan Diusir dan Alat Rekam Dirusak Warga]
Opini publik langsung meledak.
“Kalau memang nggak salah, kenapa takut diselidiki?”
“Aku makin curiga sama desa itu.”
“Sidang tinggal beberapa hari lagi, harus diusut tuntas!”
“Warga di sana kayak nutupin rahasia besar.”
Hari Ketiga.
Arga kembali datang.
Kali ini jumlah wartawan yang ikut bahkan lebih banyak dari sebelumnya.
Seperti biasa, warga langsung keluar menghadang.
Namun kali ini, Pak Harun sendiri muncul di depan gerbang desa.
“Kamu pengacara pembela pembunuh itu, kan?” bentaknya penuh emosi. “Aku cuma mau tanya satu hal. Kenapa Krisanto belum dihukum mati? Nyawa dibayar nyawa! Anak saya mati dibunuh!”
Di sampingnya, Rasman melangkah maju sambil menatap Arga tajam.
“Halo, saya Rasman Nasution, pengacara Pak Harun. Semua urusan kita selesaikan saja nanti di ruang sidang.”
Warga desa langsung ikut berteriak.
“NYAWA DIBAYAR NYAWA!”
“UTANG HARUS DIBAYAR!”
“NYAWA DIBAYAR NYAWA!!”
Pak Harun kembali menunjuk Arga dengan marah.
“Kasus ini sudah selesai! Polisi sudah menyelidiki semuanya! Fakta Krisanto membunuh anak saya itu jelas! Mau cari apa lagi kalian di sini? Memangnya kalian punya izin penyelidikan dari pengadilan?”
Tatapannya lalu beralih ke para wartawan.
“Dan kalian juga! Datang waktu keluarga kami masih berduka! Nggak tahu sopan santun apa? Kalau mau liput, tunggu aja waktu Krisanto dihukum mati nanti! Sekarang pergi!”
Arga tetap menjawab dengan tenang.
“Saya tidak datang untuk menyelidiki desa ini. Saya hanya ingin ke rumah klien saya untuk mengambil barang-barang milik Krisanto dan Yunita.”
Namun Pak Harun langsung menghalangi jalan.
“Nggak bisa! Keluarga itu masih punya utang seratus juta sama saya! Rumah itu sudah jadi jaminan utang. Sekarang rumah itu milik saya!”
Dia mendengus dingin.
“Biaya pemakaman anak saya aja belum dibayar. Siapa yang mau tanggung? Jadi jangan harap bisa masuk. Sekarang pergi!”
Pak Harun langsung mengusir mereka secara kasar.
Arga tidak membalas apa pun.
Dia hanya berbalik dan pergi.
Namun di saat yang sama, sistemnya kembali membuka dua bukti penting.
[Pak Harun menculik Dinda dan mengancam nyawanya demi memaksa Yunita tanda tangan]
[Lokasi pasti pisau milik Surya]
Setelah itu, Arga pergi ke kantor Harian Compas.
Namun kantor media tersebut juga menolak wawancara dan menutup pintu rapat-rapat.
Meski begitu, setelah kunjungan itu, satu bukti besar kembali terbuka.
[Pak Harun menyuap Harian Compas untuk menyebarkan berita palsu dan menggiring opini publik]
Bukti yang dikumpulkan Arga kini hampir lengkap.
Dia juga sempat menemui Krisanto di tahanan dan mendengar langsung seluruh kronologi kejadian dari mulutnya sendiri.
Setelah pertemuan itu, sistem akhirnya membuka bukti yang paling penting.
[Rekaman lengkap kejadian pembunuhan dan aksi pembelaan diri] [Bukti kekerasan seksual yang berlangsung bertahun-tahun]
[Bukti penganiayaan, penyiksaan, dan pembunuhan anjing]
Selama beberapa hari terakhir, Arga hampir tidak tidur.
Dia terus bergerak mengumpulkan seluruh bukti yang tersembunyi.
Dan saat semua bukti itu akhirnya lengkap...
Bahkan Arga sendiri sampai merinding melihat kenyataan yang sebenarnya.
Di balik desa yang terlihat tenang itu, ternyata tersembunyi kejahatan yang jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan siapa pun.
Surya memang sudah mati.
Dia tidak mungkin lagi diadili atau dipenjara.
Namun setelah mengetahui seluruh kebenaran itu, Arga mengambil sebuah keputusan besar.
Dia sadar…
Walaupun dirinya adalah pengacara pembela, bukan berarti dia tidak bisa menyerang balik.
Dia tidak akan berhenti hanya dengan membebaskan Krisanto.
Arga bertekad menyeret Pak Harun ke penjara.
Dan bukan cuma itu.
Dia juga akan memastikan seluruh warga Desa Bukit Indah yang ikut terlibat dalam konspirasi, pemerasan, dan penutupan kasus ikut mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum.
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭