Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 — Pantai Seberang
Usia sepuluh tahun.
Dua Tahun setelah Li Yao mencapai ranah Mata Air Kehidupan Puncak. Dua tahun penuh itu ia habiskan untuk mengumpulkan energi, memperkuat fondasi, dan mempersiapkan diri untuk langkah terakhir dalam Alam Roda dan Laut.
Dua tahun itu tidaklah sia-sia. Li Yao berhasil menembus Jembatan Ilahi, dan sekarang ia bersiap. Benar, Pantai Seberang!
Setiap pagi, ia tetap bangun sebelum matahari terbit. Bukan lagi untuk belajar gerakan baru, tapi untuk menyempurnakan yang sudah ia kuasai. Berlari di atas air, melompat di antara tebing, memanjat tanpa menggunakan tangan. Gerakannya menjadi lebih efisien, lebih hemat energi, lebih seperti tarian daripada latihan.
Setiap siang, ia bermeditasi lebih dalam dari sebelumnya. Ia belajar mendengar detak jantungnya sendiri, mengikuti aliran darahnya, merasakan setiap serat otot yang bergerak. Tubuh Kekacauan terus menyerap energi, menimbunnya seperti tupai yang menyimpan kacang untuk musim dingin.
Tahun-tahun sejak di mulai kultivasi nya yang damai, entah mengapa Tetua Han tidak terlihat. Dalam karya aslinya, Tetua Han ingin menjadikan Ye Fan protagonis asli sebagai bahan obat, meleburnya dalam kuali ketika mengetahui tubuh suci istimewa Ye Fan.
"Mungkin karena aku tidak mencolok?" Li Yao berpikir dalam hati. Memang benar bahwa waktu kultivasi nya di Gua Surga Lingxu hanya ada di sekitar kediaman Tetua Wu Qingfeng.
Di Dongtian Lingxu, Li Yao sangat jarang berhubungan dengan murid lain, ia hanya fokus berlatih dan sesekali Tetua Wu Qingfeng menemaninya.
Setiap malam, ia menyalurkan energi itu ke Roda Kehidupannya, memadatkannya, memurnikannya, mempersiapkannya untuk apa yang akan datang.
Wu Qingfeng mengamati dari kejauhan. Tetua tua itu tidak lagi memberikan instruksi. Ia hanya kadang berkata, "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," atau "Istirahatlah kalau perlu."
Li Yao tidak pernah istirahat.
Tapi ia juga tidak pernah memaksakan diri. Tubuhnya tahu batasnya. Dan karena ia mendengarkan tubuhnya, ia tidak pernah cedera, tidak pernah kelelahan berlebihan.
Pada suatu pagi, saat kabut tipis masih menyelimuti puncak gunung dan burung-burung belum mulai berkicau, Li Yao duduk bersila di halaman belakang gubuk mereka.
Wu Qingfeng berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, namun matanya tajam mengamati.
"Hari ini?" tanya tetua Wu Qingfeng.
Li Yao mengangguk tanpa membuka mata. "Hari ini."
Wu Qingfeng tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mundur selangkah, memberi ruang.
Li Yao menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Di dalam tubuhnya, Roda Kehidupan berputar pelan seperti kincir air di sungai tenang. Air kehidupan mengalir deras di meridian yang sudah lama terbuka. Jembatan Ilahi yang ia bangun dalam dua tahun berdiri kokoh, menghubungkan dunia fana dengan sesuatu yang lebih tinggi.
Kini, ia harus menyeberang.
Dalam pikirannya, Li Yao berdiri di tepi pantai.
Lautan pahit terbentang luas di hadapannya — gelap, bergolak, dengan ombak setinggi gunung yang terus-menerus menghantam bibir pantai. Tapi Li Yao tidak takut.
Ia sudah mengeringkan lautan ini setetes demi setetes selama tujuh tahun.
Ia sudah membangun jembatan di atasnya dua tahun lalu.
Kini, ia hanya perlu melangkah.
Li Yao menginjakkan kaki di atas air.
Ombak pertama datang, menerjang tubuh kecilnya. Ia tidak goyah. Ombak kedua lebih tinggi, lebih ganas. Ia tetap tegak. Ombak ketiga, keempat, kelima — semuanya ia lewati dengan langkah tenang, tidak terburu-buru, tidak ragu-ragu.
Karena ia tahu, ombak-ombak ini bukan nyata. Mereka adalah bayangan dari keraguan dan ketakutannya sendiri.
Dan ia sudah tidak ragu lagi.
Langkah ketujuh. Ia hampir terjatuh. Ada suara bisik di telinganya — suara yang mengingatkannya bahwa ia hanyalah anak pungut, anak yang dibuang di salju, anak yang tidak memiliki siapa pun.
Ia mengabaikannya.
Langkah kedelapan. Kaki kirinya terasa berat, seperti diikat batu raksasa. Ia berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan.
Langkah kesembilan. Terakhir!
Ia menginjakkan kaki di daratan.
Di dunia nyata, tubuh kecil Li Yao bergetar hebat.
Wajahnya pucat. Keringat membasahi seluruh jubahnya. Namun sudut bibirnya terangkat sedikit, hampir tidak terlihat.
Wu Qingfeng mendekat dengan hati-hati, meletakkan dua jari di pergelangan tangan Li Yao. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas panjang.
"Pantai Seberang," katanya pelan. "Ranah terakhir dari Alam Roda dan Laut. Selesai."
Li Yao membuka matanya.
Cahaya redup bersinar di kedua pupilnya, lalu menghilang. Matanya menjadi lebih jernih dari sebelumnya, seperti air danau yang tidak pernah tersentuh angin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Wu Qingfeng.
"Ringan," jawab Li Yao. "Seperti melepas beban yang selama ini tidak kusadari aku gendong."
Wu Qingfeng mengangguk. Ia duduk di samping Li Yao, di atas rumput basah embun.
"Lingxu Dongtian terlalu kecil untukmu sekarang," kata tetua tua itu. "Aku sudah memikirkannya sejak lama. Ada tempat yang cocok untukmu — Tanah Suci Yao Guang. Enam Gua Surga di Kerajaan Yan, termasuk Lingxu, semuanya berada di bawah afiliasi mereka. Aku bisa merekomendasikanmu sebagai murid. Dengan bakatmu, mereka pasti akan menerima."
Li Yao diam mendengar.
Tanah suci Yao Guang. Ia tahu tempat itu. Tubuh keduanya — bayi dengan Pupil Ganda dan Tulang Abadi — dipungut oleh Li Daoqing dan dibesarkan di sana. Jika ia pergi ke Yao Guang sebagai Li Yao dari Lingxu Dongtian, cepat atau lambat ia akan bertemu dengan tubuh keduanya.
Itu bukan hal yang buruk. Tapi ia merasa belum waktunya.
"Terima kasih, Tetua, akan saya pikirkan."
Wu Qingfeng mengangguk, tidak mendesak. "Jangan terlalu lama. Kesempatan tidak datang dua kali."
Matahari pagi mulai meninggi. Sinar keemasan menembus kabut, menyinari halaman belakang gubuk kecil mereka.
Li Yao menatap ke arah gerbang Lingxu Dongtian, ke arah dunia luar yang belum pernah ia jelajahi.
Di dalam hatinya, sebuah rencana mulai terbentuk.
Ia tidak akan pergi ke tanah suci Yao Guang. Bukan karena takut, tapi karena ia ingin memulai perjalanannya sendiri, tanpa bayang-bayang tubuh lainnya.
Li Yao juga yakin bahwa semua tubuhnya yang lain juga memikirkan hal yang sama, diberbagai tanah suci tubuh lain tidak kekurangan sumber daya!
Ia akan pergi ke arah yang berbeda, ke tempat di mana ia bisa tumbuh sebagai Li Yao — satu-satunya Li Yao yang orang kenal.
Tapi itu masih rencana.
Untuk saat ini, ia masih butuh waktu. Masih ada yang harus dipersiapkan. Masih ada yang harus dipelajari.
Dan ia tidak ingin Wu Qingfeng tahu.
Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena ia tahu tetua tua itu akan khawatir, akan mencoba menghentikannya, akan merasa gagal karena murid satu-satunya pergi sendirian.
Li Yao menarik napas panjang.
"Besok," pikirnya. "Atau lusa. Aku akan pergi saat dia sedang tidak sadar."
Ia menatap langit di atas Lingxu Dongtian. Burung-burung terbang berputar di kejauhan, bebas, tidak terikat oleh apa pun.
Suatu hari nanti, ia juga akan seperti itu.
Tapi untuk hari ini, ia akan tersenyum di samping gurunya, berpura-pura tidak ada yang berubah, seolah-olah ia masih anak kecil yang butuh perlindungan.
Bukan karena ia ingin berbohong.
Tapi karena ia tahu, semakin cepat ia pergi, semakin sakit hati gurunya nanti.
Jadi untuk saat ini, ia akan tetap diam.