Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Ambisi yang Tidak Bisa Dihapus
Layar itu masih menyala.
Kalimat terakhir belum menghilang.
“Sekarang kamu yang menjadi target, Noctis.”
Veyra tidak bergerak selama beberapa detik.
Bukan karena takut—tapi karena ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari ketakutan: kehilangan kendali.
Lalu perlahan… sudut bibirnya terangkat.
“Target?” suaranya rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Kamu pikir aku bisa diposisikan serendah itu?”
Tangannya kembali ke keyboard.
Kali ini bukan cepat—tapi presisi. Setiap ketukan seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Sistemnya sudah ditembus. Itu fakta.
Tapi yang orang itu tidak tahu—
Veyra tidak pernah hanya punya satu lapisan.
Satu per satu layar tambahan menyala.
Jaringan cadangan. Sistem bayangan. Server yang tidak pernah terhubung langsung ke apa pun. Semuanya aktif.
“Kalau kamu masuk…” matanya menajam, “berarti aku juga bisa masuk ke dalam dirimu.”
Ia tidak lagi bertahan.
Ia menyerang balik.
—
Di sisi lain koneksi yang tak terlihat, seseorang berhenti mengetik.
Bukan karena terkejut—melainkan karena sesuatu berubah.
“Dia mulai serius,” gumam suara itu pelan.
Layar di hadapannya dipenuhi kode yang bergerak liar, seperti badai yang tiba-tiba bangkit.
Sistem yang tadi ia kuasai perlahan berubah arah. Jalur yang tadinya terbuka mulai mengunci.
Bahkan beberapa akses… berbalik menyerang.
Namun bukannya panik, orang itu justru tersenyum samar.
“Bagus… akhirnya kamu muncul, Veyra.”
—
Di ruangan gelapnya, Veyra sudah menemukan satu hal penting.
Pola.
Sekecil apa pun, tetap ada.
Dan ia menemukannya.
Sebuah delay sepersekian detik. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa koneksi itu… tidak berasal dari satu titik.
“Jaringan terdistribusi…” gumamnya. “Kamu sembunyi di banyak tempat sekaligus.”
Itu pintar.
Sangat pintar.
Tapi bukan tanpa celah.
Jari Veyra bergerak lebih cepat.
Ia mulai menandai setiap percabangan koneksi, memetakan ulang jalur yang sebelumnya tampak acak. Sedikit demi sedikit, ia menarik benang yang kusut itu.
“Kalau aku tarik satu…” bisiknya.
Satu titik mati.
Layar di sisi lain berkedip.
—
Orang itu mengangkat alis.
“Oh?”
Ia mengetik lagi, mencoba memindahkan jalur.
Tapi—
Satu lagi mati.
Lalu satu lagi.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Dia… memburu balik.”
—
Veyra kini berdiri di ambang kemenangan kecil.
Untuk pertama kalinya sejak serangan itu dimulai, ia melihat arah.
Bukan jelas. Tapi cukup.
Dan itu lebih dari cukup baginya.
“Kamu bukan hantu,” ucapnya pelan. “Kamu nyata… dan aku akan menemukanmu.”
Ia mempercepat ritmenya.
Bukan lagi bertahan.
Bukan lagi menguji.
Ini pemburuan.
—
Tiba-tiba—
Semua koneksi berhenti.
Sunyi.
Layar kembali normal.
Tak ada lagi pergerakan.
Tak ada lagi akses asing.
Seolah semuanya… tidak pernah terjadi.
Veyra membeku.
Ini terlalu mudah.
“Tunjukkan dirimu,” katanya pelan, hampir seperti perintah.
Tak ada jawaban.
Hanya layar kosong.
Lalu—
Satu file muncul lagi.
Tanpa nama.
Tanpa sumber.
Lebih besar dari sebelumnya.
Dan tanpa ragu sedikit pun,
Veyra langsung tahu—
Ini bukan jebakan biasa.
Ini undangan.
Ia menatap file itu lama.
Ambisinya berteriak untuk membukanya.
Naluri lamanya memperingatkan untuk berhenti.
Namun Veyra bukan seseorang yang mundur.
Klik.
—
Kali ini bukan video.
Melainkan… data.
Struktur organisasi.
Nama-nama.
Akun tersembunyi.
Transaksi yang tidak pernah tercatat.
Sebuah jaringan.
Besar.
Sangat besar.
Dan semuanya terhubung pada satu simbol.
Simbol yang membuat darah Veyra seolah berhenti mengalir.
Lingkaran hitam… dengan garis diagonal yang memotongnya.
“...Ini.”
Tangannya perlahan mengepal.
Ia pernah melihatnya.
Dulu.
Di malam itu.
Saat semuanya terbakar.
“Jadi kamu…” suaranya hampir tak terdengar, “bagian dari mereka.”
Namun sebelum ia sempat menyelidiki lebih jauh—
Satu pesan muncul di bawah data itu.
“Kalau kamu ingin tahu kebenaran… berhenti bermain sebagai Zero.”
Mata Veyra menyipit.
“Berhenti?” ia tertawa kecil, dingin. “Kamu pikir aku sejauh ini hanya untuk berhenti?”
Pesan itu berubah.
“Atau teruskan… dan kamu akan menghapus satu-satunya jawaban yang kamu cari.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya…
Veyra ragu.
Bukan pada kemampuannya.
Tapi pada tujuannya.
Selama ini, ia hanya ingin menghancurkan.
Menghapus.
Membalas.
Tapi sekarang…
Ada sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang mungkin menjelaskan semuanya.
Namun juga—
Sesuatu yang bisa menghancurkannya sepenuhnya.
Ia menatap layar itu lama.
Sangat lama.
Lalu perlahan…
Ia tersenyum.
Bukan senyum dingin seperti biasanya.
Tapi sesuatu yang lebih tajam.
Lebih berbahaya.
“Kalau kebenaran itu ada…” katanya pelan, “aku tidak akan mencarinya dengan cara yang kamu inginkan.”
Tangannya kembali bergerak.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak langsung menyerang jaringan itu.
Ia menyimpan data.
Mengunci file.
Menanam sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang tidak terlihat.
“Kalau kamu mengawasi aku…” bisiknya, “berarti aku juga bisa mengawasi kamu.”
Ia menutup semua akses.
Mematikan layar satu per satu.
Ruangan kembali gelap.
Hanya menyisakan satu monitor kecil.
Di sana, simbol lingkaran hitam itu masih terlihat.
Diam.
Mengintai.
Dan Veyra menatapnya tanpa berkedip.
“Permainan ini berubah,” katanya pelan.
“Dan aku… tidak pernah kalah dalam permainan yang aku ubah sendiri.”
—
Di tempat lain.
Seseorang menatap layar yang sama.
Namun dari sisi berbeda.
Ia melihat sesuatu yang baru saja ditanam oleh Veyra.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tersenyum.
“Bagus…”
Ia bersandar perlahan.
“Sekarang kamu benar-benar masuk ke dalamnya.”
Matanya menatap simbol itu.
Dalam.
Seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.
“Selamat datang kembali, Veyra Noctis.”
—
Hujan masih turun di luar.
Tapi kali ini…
Bukan hanya satu dunia yang akan runtuh.
Melainkan banyak.
Dan semuanya…
dimulai dari satu klik yang tidak pernah jadi ditekan.