Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.
Pagi datang perlahan di kecamatan Rambutan. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara sinar matahari mulai menyelinap di sela dedaunan, membawa kehangatan yang lembut.
Udara pagi terasa segar, berbeda jauh dari hiruk-pikuk kota besar yang biasa ditempati oleh Daniel.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumah lantai dua minimalis. Daniel turun dari mobilnya, mengenakan kemeja kasual dengan lengan yang di gulung rapi. Ditangannya, sebuah ponsel yang menampilkan pesan terakhir dari Pak Ali.
Tertera alamat yang membawanya sampai di depan rumah itu.
Beberapa detik kemudian, Pak Ali pun muncul dengan membuka pintu gerbang rumah. "Mas Daniel!" suara Pak Ali memecahkan lamunannya.
Pak Ali berjalan mendekat dari arah pintu gerbang. "Wah, Mas ternyata benar-benar datang ya, saya kira tidak jadi datang." ujar Pak Ali, dengan tersenyum.
"Tentu Pak, saya sangat tertarik dengan buah-buahan milik majikan Bapak itu." jawab Daniel.
Pak Ali pun mengajak Daniel masuk kedalam untuk melihat kebun buahnya di halaman belakang rumah.
Sepanjang jalan, Daniel memperhatikan setiap detail pekarangan rumah minimalis dua lantai itu dengan di kelilingi berbagai bunga yang indah dan harum, seakan ikut menyambut kedatangannya.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di belakang rumah. Di hadapan mereka terbentang taman bunga yang indah, dan di sampingnya terdapat kebun buah-buahan.
Walaupun cuman ada beberapa pohon buah saja, yang tidak sampai dua puluh pohon itu. Tapi saat ini buahnya masih sangat lebat seakan belum pernah di panen.
Ada juga buahnya masih kecil, jadi sudah bisa dibayangkan bagaimana banyak buah-buahan itu.
Daniel memperhatikan di hadapannya terbentang pohon-pohon buah yang lebat, daunnya hijau segar, buahnya juga tampak ranum dan sehat.
Daniel sedikit terdiam sejenak, "Ini... lebih dari yang aku bayangkan." batinnya
"Semua ini... benar-benar milik majikan Bapak?" tanya Daniel
"Iya Mas, saya hanya merawat dan menjualnya saja Mas." jawab Pak Ali
"Boleh saya bertemu dengan majikannya Bapak?" tanyanya kemudian.
Pak Ali terlihat ragu sesaat. "Nanti saya coba beritahu beliau dulu ya Mas, kayanya jam segini majikan saya masih tidur Mas."
"Baik Pak, saya tunggu saja," jawab Daniel tenang.
Karena disini ada gazebo kecil juga, Pak Ali pun meminta Daniel untuk sementara duduk disana dulu. Sedangkan Pak Ali masuk ke dalam rumah menanyakan Bu Maya tentang Zee sudah bangun apa belum.
"Bu, apa Neng Zee sudah bangun." tanya Pak Ali
"Astaga Bapak, bikin kaget aja, untuk Ibu tidak ada penyakit jantung." jawab Bu Maya kaget.
"Belum Pak, mungkin sedikit lagi." lanjut Bu Maya
"Oke kalau begitu, Bu tolong buatkan teh sama cemilan ya, ada pembeli buah dari kota, dan nanti kalau Neng Zee sudah bangun tolong beritahu Neng ya, kalau ada orang kota yang datang untuk membeli buah dalam jumlah besar." jelas Pak Ali cepat
"Baik lah Pak, ini teh dan cemilannya." ujar Bu Maya.
"Iya Bu, makasih ya Bu."
"Sama-sama Pak."
Sementara itu...
Di di lantai dua, tepatnya di kamarnya Zee, Dia baru saja membuka matanya dari tidur lelapnya semalam.
Cahaya matahari menembus tirai kamarnya, jatuh lembut di wajahnya. Dia mengerjab pelan, lalu duduk di atas tempat tidur.
Ponselnya bergetar. Satu notifikasi dari AetherShop.
Zee mengambilnya, lalu membaca pesan yang muncul. "Nona, pembeli bibit buah-buahan kemarin meminta suplai buah dalam jumlah besar secara rutin."
Alis Zee sedikit terangkat. "Suplai rutin?" batinnya.
Dia terdiam beberapa detik sambil berpikir. Jika ini berlanjut, maka kebun yang Dia milik saat ini yang cuman beberapa petak itu saja tidak cukup.
Kebunnya harus di perluasan, agar Dia bisa memenuhi permintaan dalam jangka panjang. Dan mungkin dia butuh lokasi yang luas untuk kebun buah-buahannya.
Zee tersentak bangun dari tidurnya, tanpa berpikir panjang, Dia segera beranjak dan melangkah menuju balkon kamarnya.
Begitu pintu balkon dibuka, udara pagi yang segar langsung menyambutnya, membawa harum bunga dari taman dan aroma manis dari kebun buah miliknya.
Angin lembut menyapu wajahnya, membuat pikirannya yang masih setengah sadar perlahan menjadi jernih.
Namun, sebelum Dia sempat beranjak untuk membersihkan diri, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
Tok... tok...
"Neng Zee, sudah bangun kah?" suara Bu Maya terdengar dari luar.
Zee lalu berbalik berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya.
Ceklek...
"Iya Bu, ada apa? Tumben pagi-pagi begini," tanyanya dengan sedikit heran. Karena biasanya, Bu Maya tidak akan mengganggunya sepagi ini kecuali ada hal penting.
Bu Maya tersenyum sopan. "Begini Neng, di belakang rumah, tepatnya di kebun buah, ada tamu dari kota. Beliau datang untuk membeli buah milik Neng."
Zee mengangguk pelan, mulai memahami situasinya. "Oh, begitu, Beliau lagi ditemani Pak Ali kan Bu?"
"Iya Neng, dan sepertinya beliau juga ingin bertemu langsung dengan Neng Zee."
Zee menarik napas singkat, lalu tersenyum kecil. "Oke deh, kalau begitu saya mandi dulu ya Bu."Iya Neng," balas Bu Maya, lalu perlahan undur diri.
Setelah pintu kembali tertutup, Zee menatap sejenak ke arah balkon. Aroma kebun itu masih terasa, seolah memanggilnya untuk segera turun.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Seorang tamu jauh-jauh datang dari kota hanya untuk membeli buahnya dan ingin bertemu langsung dengannya.
Dan entah kenapa, ada perasaan penasaran yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Tanpa menunda lagi, Zee segera mandi dan bersiap. Dia mengambil ponselnya dan segera turun ke lantai bawah.
Namun yang tidak Dia sadari, orang yang sedang menunggunya di kebun, adalah seseorang yang akan mengubah jalannya usaha dan mungkin juga hidupnya.
Kembali ke kebun... Daniel berdiri di bawah pohon mangga, menatap buahnya yang menggantung lebat.
Dia lalu mulai menyentuh salah satu buahnya, dan merasakan tekstur kulitnya.
"Kualitas seperti ini, sangat beda jauh dari buah di luar sana." gumamnya.
terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya, tapi kali ini bukan Pak Ali.
Daniel menoleh, melihat seseorang yang baru saja tiba. Dan di detik itulah untuk sesaat waktu seakan berhenti.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Daniel menoleh perlahan ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita berjalan dari arah jalan setapak.
Penampilannya sederhana, namun rapi. Rambutnya tergerai, tertiup angin pagi yang sejuk. Wajahnya tenang ,cantik, hidung mancung, bibir tipis dan merah alami tanpa pakai lipstik. Tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Daniel seketika terdiam, ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini.
Di sisi lain, Zee juga menghentikan langkahnya sejenak saat melihat sosok pria yang berdiri di bawah pohon mangga itu.
Posturnya Tegal, cara berdirinya menunjukkan kepercayaan diri yang kuat, bukan seperti orang biasa.
"Jadi ini pembelinya..." batin Zee.
Pak Ali yang sejak tadi berada tak jauh dari mereka, segera mendekat dengan wajah yang lega.
"Neng Zee, ini orang yang maksud," ujarnya.
Lalu Dia menoleh ke arah Daniel.
"Mas, ini majikan saya." lanjut Pak Ali
Daniel sedikit terkejut, meskipun Dia berhasil menyembunyikannya dengan cepat. Dia mengira pemilik kebun ini adalah seseorang yang lebih tua. Namun kenyataannya seorang wanita muda.
Dia juga sempat berpikir kalau Zee ini pembeli juga seperti dirinya, atau mungkin anak majikan Pak Ali, ternyata salah.
Daniel segera mengulurkan tangannya dengan sopan. "Perkenalkan, saya Daniel," ujarnya.
Zee menatap tangan itu sejenak, lala membalas jabatannya dengan tenang. "Zee," jawabnya singkat.
Walaupun sentuhan tangan itu singkat, namun cukup untuk meninggalkan kesan.
Beberapa saat kemudian, mereka duduk di gazebo sederhana di tepi kebun dekat rumah sumur tua.
Pak Ali menyuguhkan teh hangat untuk mereka berdua, setelah itu lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kini hanya tinggal Daniel dan Zee. Suasana sempat terasa hening sejenak.
"Saya dengar, Anda ingin membeli buah dalam jumlah besar," ujar Zee dengan membuka percakapan lebih dulu.
Daniel mengangguk, "Benar, Saya mengelola hotel dan juga supermarket keluarga di kota. Jadi, saya membutuhkan suplai buah yang berkualitas yang seperti milik kamu secara rutin." jelas Daniel
"Hmm, boleh kah, panggil saya Daniel saja, agar tidak terlalu kaku." lanjut Daniel
Zee memperhatikan wajah Daniel dengan saksama. Nada bicaranya tenang, namun tegas. Tidak berlebihan, tapi jelas tahu apa yang Dia inginkan.
"Baik, Mas El, berapa banyak yang Mas butuhkan? tanya Zee langsung.
Daniel langsung tersenyum tipis, dan juga sedikit salting karena belum pernah ada yang memanggil Dia dengan nama El. Kebanyakan mereka panggil Dia dengan nama Dani, Niel atau Daniel.
"Semua yang kamu punya."
Zee sedikit mengangkat alisnya. "Semuanya?" tanya Zee memastikan takut Dia salah dengar.
"Ya, dan jika kualitasnya konsisten di pertahankan seperti ini terus, saya tidak keberatan mengambil seluruh hasil panen disini." jelas Daniel mantap tanpa ragu.
Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas mereka. Zee bersandar sedikit, lalu matanya sedikit menyipit tipis seperti sedang menilai.
"Kalau saya bilang... jumlahnya mungkin akan terus bertambah?" ujar Zee.
Daniel tidak langsung menjawab. Sebaliknya, Dia menatap Zee dengan lebih serius.
"Itu justru yang sedang saya cari." jawab Daniel.
Jawaban itu membuat sudut bibir Zee sedikit terangkat, menarik.
"Baik Mas El, saya bisa menyuplai, tapi ada syaratnya. Kata Zee.
Daniel lalu menyandarkan punggungnya, terlihat lebih santai. "Apa syaratnya?"
"Saya tidak ingin harga di tawar, karena kualitas yang anda lihat... itu adalah standar saya." ujar Zee tegas.
Daniel langsung tersenyum kecil. "Saya tidak pernah menawar untuk kualitas yang bagus seperti ini."
Zee mengangguk pelan, "Satu lagi, pengirimannya akan saya atur sendiri." lanjut Zee lagi.
Daniel sedikit penasaran. "Kenapa?, bukannya lebih bagus dari saya yang nanti mengambil pesanannya, agar tidak terlalu merepotkan kamu." ujar Daniel.
Zee hanya menjawab dengan singkat. "Agar Kualitasnya tetap terjaga sampai di tempat tujuan."
Daniel tidak bertanya lebih jauh lagi. Entah kenapa, Dia merasa seakan tidak perlu lagi.
Sedangkan di dalam hati Zee, pikirannya mulai bergerak cepat. "Ini kesempatan besar." batinnya.
Dengan permintaan sebesar ini, AetherShop bisa berkembang jauh lebih cepat. Kebun pun bisa di perluas, produksi bisa ditingkatkan... dan koin yang Dia kumpulkan akan bertambah berkali-kali lipat.
Tapi di sisi lain... Dia juga menyadari satu hal. Pria di depannya ini bukan hanya pembeli bisa.
"Kalau begitu, kapan kita bisa mulai transaksinya?" ujar Daniel sambil berdiri.
Zee pun ikut berdiri, "Besok." jawab Zee singkat
Daniel mengangguk puas. "Baik, saya akan tunggu kiriman pertamanya."
"Kalau begitu, saya izin pamit ya." lanjut Daniel.
"Tunggu sebentar," ujar Zee
Zee kemudian kembali ke dalam rumahnya mengambil beberapa buah yang sudah di panen sebagai oleh-oleh untuk Daniel pulang ke Kota.
"Ini untuk keluargamu, semoga saja mereka suka ya." lanjut Zee
"Wah, makasih banyak loh."
"sama-sama, dan hati-hati di jalan." jawab Zee.
Kemudian Zee pun, mengantar Daniel sampai ke depan pintu gerbang rumahnya.
Saat Daniel berjalan kembali ke mobilnya, Dia sempat menoleh sekali lagi ke arah Zee.
Wanita itu berdiri di sana, di depan pintu gerbangnya, dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak.
Daniel pun, menyipit matanya sedikit, menarik.
Sementara itu, Zee tetap berdiri di tempatnya, matanya mengikuti mobil Daniel yang perlahan menjauh dari rumahnya.
Angin kembali berhembus pelan. Kali ini, seakan membawa sesuatu yang berbeda, yaitu sebuah kerja sama yang besar... dan mungkin, sesuatu yang lebih dari itu.