NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PERAWAT YANG TIDAK SABARAN

Suasana di dalam rumah aman itu terasa menyesakkan. Bau besi dari darah yang mulai mengering bercampur dengan aroma kayu tua dan antiseptik yang tajam.

Di luar, hujan mulai turun, membasahi hutan pinus yang mengelilingi persembunyian mereka, namun suara rintiknya tak mampu meredam ketegangan di dalam ruangan.

Matteo terbaring di atas meja kayu panjang yang dialasi seprai putih bersih.

Wajahnya sepucat kertas, namun matanya tetap terbuka, tajam, dan waspada.

Vincenzo berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas, memegang sebuah tas medis militer yang baru saja ia ambil dari gudang penyimpanan.

"Vincenzo, panggil dokter pribadi kita. Sekarang," perintah Alesha, tangannya masih menekan robekan gaun sutranya yang kini telah berubah warna menjadi merah pekat di bahu Matteo.

"Jangan," suara Matteo memotong, rendah dan serak namun penuh otoritas.

"Tidak ada dokter luar. Tidak ada yang boleh tahu koordinat tempat ini. Siapa pun yang menembakku tadi pasti punya mata-mata di setiap sudut Roma."

"Tapi peluru itu masih ada di dalam, Matteo! Kau bisa terkena infeksi atau kehabisan darah!" teriak Alesha, frustrasi oleh keras kepalanya pria itu.

"Kau yang akan melakukannya, Alesha," ucap Matteo sambil menatap langit-langit.

Alesha tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

"Aku? Aku seorang desainer, bukan ahli bedah! Aku biasanya memegang jarum pentul, bukan pisau bedah!"

"Kau punya tangan yang stabil," sahut Matteo, ia menoleh ke arah Alesha, mencoba memberikan keyakinan lewat tatapan matanya yang kelabu.

"Vincenzo akan membantumu. Aku akan memberitahumu apa yang harus dilakukan."

Vincenzo segera menyiapkan peralatan, pinset medis, pisau bedah kecil, botol alkohol kuat, dan kain kasa.

Ia meletakkan semuanya di samping Alesha.

"Ini obat biusnya, Tuan," Vincenzo menyodorkan sebuah jarum suntik berisi cairan penenang.

Matteo menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Simpan itu. Aku harus tetap sadar. Jika ada serangan susulan, aku tidak boleh tertidur."

"Kau gila!" Alesha memukul meja di samping kepala Matteo dengan kepalan tangannya.

"Ini akan sangat menyakitkan! Kau tidak mungkin bisa menahannya tanpa bius!"

"Lakukan saja, Alesha," desis Matteo, rahangnya mengeras.

"Atau kau ingin aku mati kehabisan darah sambil kau terus menceramahiku?"

Alesha menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di tangannya.

Luka itu tampak mengerikan, sebuah lubang kecil yang terus mengeluarkan darah gelap. Ia menyiramkan alkohol ke tangannya sendiri, lalu ke pisau bedah kecil itu.

"Jika kau pingsan, jangan salahkan aku," bisik Alesha.

Ia mulai membersihkan area sekitar luka dengan kapas yang dibasahi alkohol. Saat cairan itu menyentuh luka terbuka, tubuh Matteo tersentak hebat.

Ia mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih, namun tidak ada suara teriakan yang keluar dari mulutnya.

"Pegang tanganku, Matteo," ucap Alesha tiba-tiba.

Ia menyodorkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang pinset.

Matteo tidak ragu. Ia meraih tangan Alesha dan meremasnya dengan kekuatan yang luar biasa.

Genggamannya begitu erat hingga Alesha bisa merasakan tulang-tulang tangannya seolah akan remuk, namun ia tidak menariknya.

Rasa sakit di tangannya adalah pengalih perhatian yang ia butuhkan agar tidak pingsan melihat apa yang akan ia lakukan.

"Sekarang... cari logamnya," instruksi Matteo, suaranya terputus-putus oleh napas yang memburu.

Alesha mulai memasukkan ujung pinset ke dalam luka tersebut. Ia harus bekerja dengan sangat hati-hati agar tidak mengenai saraf utama.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya, menetes hingga ke pipinya yang masih bernoda debu jalanan. Setiap kali pinset itu bergerak, Matteo mencengkeram tangan Alesha lebih kuat lagi.

"Kau pria paling ceroboh yang pernah kutemui!" Alesha memarahi Matteo untuk menutupi rasa takutnya.

"Kenapa kau harus membawaku ke Trastevere? Kenapa kau tidak membiarkan pengawalmu melakukan tugasnya? Kau pikir kau ini superhero yang kebal peluru?!"

Di tengah rasa sakit yang menghujam, Matteo justru menatap wajah Alesha.

Ia melihat bagaimana wanita "Tidak tahu aturan" ini, yang biasanya hanya tahu cara berteriak dan menjahit, kini sedang berjuang menyelamatkan nyawanya dengan tangan yang bersimbah darah.

Ada kekaguman yang tumbuh di matanya, sebuah pengakuan atas keberanian yang melampaui semua ekspektasinya.

"Aku hanya ingin... memberimu malam yang indah," rintih Matteo dengan senyum miris.

"Malam yang indah katamu? Kita hampir mati, mobilmu hancur, dan gaun terbaikku robek jadi perban!" Alesha terus mengomel, matanya fokus pada lubang di bahu Matteo.

"Jika kau mati, aku akan menuntut warisanmu dua kali lipat sebagai biaya ganti rugi mental!"

Klik.

Suara logam beradu dengan pinset terdengar.

"Ketemu," bisik Alesha.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati namun mantap, ia menarik keluar sebuah proyektil timah kecil yang berlumuran darah.

Ia menjatuhkannya ke dalam baki logam dengan bunyi denting yang melegakan.

Matteo seketika melemaskan tubuhnya. Napasnya terdengar berat dan lega.

Genggamannya pada tangan Alesha sedikit melonggar, namun ia tidak melepaskannya.

Alesha segera membersihkan sisa pendarahan dan mulai menjahit luka itu dengan benang medis yang sudah disiapkan Vincenzo.

Gerakannya kini lebih lancar menjahit kulit ternyata tidak jauh berbeda dengan menjahit kain tebal, pikirnya dengan nada sarkastik di dalam hati.

Setelah selesai membalut luka itu dengan perban bersih, Alesha duduk lemas di kursi di samping meja.

Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menatap tangannya sendiri yang masih berlumuran darah Matteo, lalu menatap wajah suaminya.

Matteo masih menatapnya.

Keheningan di antara mereka kini terasa lebih intim daripada ciuman di Trastevere tadi.

Tidak ada suara senjata, tidak ada pengejaran mobil, hanya ada dua orang yang baru saja melewati maut bersama.

Alesha berdiri, mengambil handuk basah, dan mulai menyeka sisa-sisa darah dan keringat di dahi Matteo dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan omelannya tadi.

"Kau benar-benar membuatku takut, Matteo," bisik Alesha, suaranya kini melunak.

Matteo meraih tangan Alesha yang sedang memegang handuk, menariknya pelan agar wajah Alesha berada hanya beberapa inci dari wajahnya.

Ia bisa mencium aroma sisa anggur, keringat, dan keberanian dari wanita itu.

"Kau tidak terlihat takut saat membawa mobil itu melewati trotoar," gumam Matteo.

Ia menatap mata Alesha dengan intensitas yang membuat jantung Alesha kembali berdegup kencang.

"Kau juga tidak terlihat takut saat merobek gaunmu untuk menyelamatkanku."

Matteo membelai pipi Alesha dengan jarinya yang masih gemetar.

"Kau tahu, Alesha... aku telah menghabiskan bertahun-tahun mewaspadai peluru, racun, dan pengkhianatan dari musuh-musuhku."

Matteo mendekatkan bibirnya ke telinga Alesha, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Alesha merinding, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.

"Tapi sekarang aku sadar... kau jauh lebih berbahaya daripada peluru itu. Peluru hanya melukai bahuku, tapi kau... kau mulai menghancurkan dinding yang kubangun selama sepuluh tahun ini."

Alesha terdiam, merasakan napas hangat Matteo di kulitnya. Ia tahu bahwa mulai malam ini, dinamika di antara mereka telah berubah selamanya.

Mereka bukan lagi dua orang asing dalam satu kontrak, mereka adalah sekutu dalam darah, dan musuh dalam perasaan yang mulai tak terkendali.

"Istirahatlah, Matteo," ucap Alesha akhirnya, sambil menyandarkan kepalanya di tepi meja, tepat di samping bahu Matteo yang terluka.

"Karena besok, kita harus mencari tahu siapa yang mencoba membunuh kita. Dan aku tidak akan membiarkan mereka lolos setelah merusak gaunku."

Matteo memejamkan matanya, satu tangannya tetap melingkar di pergelangan tangan Alesha, memastikan bahwa wanita berbahaya itu tetap berada di sisinya saat kegelapan malam mulai menyelimuti rumah aman mereka.

1
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Ani Basiati
lanjut thor 💪💪💪
Yoyoh Rokayah
double up dong thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!