“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.Pamit Tanpa Kata
Ayza akhirnya terlelap di sisi Kaisyaf. Napasnya tenang. Tangan itu masih berada di dada Kaisyaf.
Namun pria itu… belum tidur. Matanya terbuka. Menatap langit-langit. Napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
Ia perlahan menggeser tangan Ayza. Hati-hati. Agar tidak membangunkannya. Lalu ia bangkit pelan dari ranjang.
Langkahnya tidak sepenuhnya stabil. Matanya sekilas melirik ke arah kursi di samping ranjang, tempat celananya tergeletak.
Ia meraih celana itu. Tangannya menyusup ke dalam saku. Sebuah botol kecil. Dikeluarkan pelan. Dibuka tanpa suara.
Satu butir masuk ke mulutnya. Ia menelannya tanpa air. Matanya sempat terpejam. Seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia keluarkan.
Beberapa detik. Baru kemudian ia meletakkan kembali botol itu ke dalam saku. Dan kembali ke ranjang. Berbaring di sisi yang sama. Menarik selimut.
Dan tanpa sadar, tangannya kembali mencari tangan Ayza. Menggenggamnya. Pelan. Seolah memastikan… bahwa malam ini benar-benar terjadi.
“Setidaknya… untuk malam ini, aku masih bisa menjadi suamimu.”
Dan dalam genggaman itu… ia tahu, esok hari ia harus belajar melepaskan semuanya.
***
Langit belum benar-benar terang saat sebuah mobil berhenti di depan rumah sakit.
Pintu dibuka cepat.
Langkah Kaisyaf sedikit goyah saat turun.
Ridho sudah di sana. Wajahnya tegang.
“Pak—”
“Bantu aku,” potong Kaisyaf pelan. Namun napasnya tidak setenang ucapannya.
Beberapa menit kemudian. Di ruang periksa.
Nara berdiri dengan tangan terlipat. Tatapannya tidak lepas dari Kaisyaf yang berbaring di ranjang pasien.
Alat monitor masih terpasang.
“Tekanan turun lagi. Detak jantung tidak stabil.” Nada suaranya datar. Tapi matanya tajam. “Mau jelasin?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Kaisyaf singkat.
Nara mengangkat satu alis.
“Tidak ada apa-apa?” ulangnya. “Kamu pikir tubuhmu ini mesin yang bisa dipaksa kerja tanpa batas?”
Kaisyaf tidak menjawab.
Nara mendekat. Sedikit menunduk. Memerhatikan lebih dekat. Tatapannya berhenti sepersekian detik. Lalu… berubah. Bukan kaget. Lebih ke… menyadari sesuatu.
Ia mendengus pelan.
“Serius?” gumamnya.
Ridho yang berdiri di samping langsung melirik. “Dok?”
Nara melirik sekilas ke arah leher Kaisyaf. Lalu kembali ke wajahnya. Tatapannya sekarang… setengah jengkel, setengah tidak percaya.
“Kamu ini…” ia menggeleng. “Kalau begini, aku harus marah atau ketawa?”
Ridho mengerutkan kening sedikit. Tatapannya bergantian antara Nara dan Kaisyaf. Jelas… belum menangkap maksudnya.
Kaisyaf mengernyit tipis. “Apa maksudmu?”
Nara berdecak, lalu melirik Ridho yang masih tampak bingung. “Kamu gak tahu?”
“Maaf, Dok…” sahut Ridho. “…maksudnya?” tanyanya hati-hati.
Nara meliriknya sekilas. “Aku lagi ngomongin pasienmu yang nekat itu.”
Ridho masih terlihat bingung. “Maksud Dokter… Pak Kaisyaf?”
“Memang ada pasien lain yang bikin aku hampir ngamuk pagi-pagi begini?” sahut Nara datar.
Ridho terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Oh.”
Nara mendengus. “‘Oh’ doang?”
Ridho menarik napas. Sedikit kikuk. “Saya kira Dokter lagi bercanda.”
“Nggak lucu,” balas Nara cepat. “Dia itu habis ngapain sampai drop lagi? Lari maraton tengah malam?”
Ridho membuka mulut… lalu menutupnya lagi. Jelas tidak tahu harus menjawab apa.
Kaisyaf tetap diam. Wajahnya datar. Namun sorot matanya berubah tipis—ia jelas paham ke mana arah pembicaraan ini.
Nara menghela napas panjang. Ia menunjuk samar ke arah lehernya sendiri.
“Dengan kondisi kayak gini…” suaranya mulai berubah, lebih ringan tapi menyindir, “…kamu masih sempat ‘olahraga malam’?”
Ridho tersedak kecil. Langsung berdehem, menoleh ke samping seolah tidak mendengar apa-apa.
Kaisyaf terdiam. Untuk pertama kalinya… tidak langsung membalas.
Nara mendecak.
“Hebat,” gumam Nara. “Di kondisi begini… masih sempat mikirin yang begitu.”
Ia berbalik, mengambil catatan.
“Pasien lain biasanya berjuang buat hidup lebih lama.” Ia melirik lagi. “Kamu malah… hampir mempercepat jadwal.”
Kaisyaf menghela napas pelan. “Itu tidak ada hubungannya.”
“Oh, ada,” potong Nara cepat. “Sangat ada.”
Ia mendekat lagi. Suaranya merendah.
“Tubuhmu sudah tidak sekuat itu, Kaisyaf. Aktivitas seperti itu, meski pelan, tetap menguras energi.” Tatapannya menusuk. “Dan kamu tahu itu.”
Beberapa detik tak ada yang bicara.
Lalu—
“Sekali,” jawab Kaisyaf akhirnya. Singkat.
Nara memejamkan mata sebentar. Seolah menahan komentar yang lebih panjang.
“Ya, tentu saja sekali,” gumamnya. “Aku juga tidak yakin kamu punya energi untuk dua kali.”
Ridho refleks menunduk. Menahan senyum.
Nara menghela napas panjang. Kali ini lebih serius.
“Dengarkan aku.” Tatapannya kembali tajam. “Kalau kamu terus memaksakan diri seperti ini… yang kamu cari bukan waktu tambahan.”
Ia berhenti sejenak.
“...tapi percepatan.”
Kalimat itu jatuh lebih berat.
Kaisyaf tidak menjawab. Tatapannya justru turun. Sesaat. Namun cukup untuk menunjukkan satu hal, bahwa ia tahu. Dan tetap memilih melakukannya.
Kaisyaf memilih sesuatu yang dia tahu bisa melemahkannya, hanya untuk memastikan… seseorang tetap merasa dicintai.
Nara memerhatikannya lama. Lalu menggeleng pelan.
“Kalau ini caramu pamit…” gumamnya lirih, “…kamu benar-benar keras kepala.”
***
Sementara di tempat lain yang Kaisyaf tinggalkan.
Ayza terbangun perlahan. Wanita yang biasanya sudah bangun sebelum azan subuh itu… kali ini terlambat.
Entah karena kehangatan yang akhirnya kembali ia rasakan setelah sekian lama… atau karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang panjang, ia bisa tidur tanpa gelisah.
Tangannya refleks meraba sisi ranjang.
Kosong.
Matanya langsung terbuka sepenuhnya. Terlalu cepat… untuk terasa biasa
“Abi…?”
Tidak ada jawaban. Ia bangkit. Menoleh ke kamar mandi.
Sepi.
Langkahnya turun dari ranjang. Sedikit terburu. Seolah ada sesuatu yang… terlambat ia sadari.
“Abi?”
Tetap tidak ada.
Tatapannya jatuh di atas meja. Di selembar kertas. Ayza mengambilnya. Tulisan tangan yang ia kenal.
Maaf. Aku harus ke luar kota. Ada urusan mendadak. Aku berangkat pagi-pagi.
Singkat. Terlalu singkat.
Ayza menatap kertas itu lama. Dadanya… terasa aneh. Bukan hanya karena Kaisyaf pergi. Tapi karena, semalam.
Ia menunduk sedikit.
Masih bisa ia rasakan. Kehangatan itu. Kedekatan itu. Cara pria itu menyentuhnya… lebih pelan. Lebih hati-hati. Seolah… takut melukainya.
Bukan seperti biasanya. Bukan seperti dulu. Tapi justru karena itu, terasa lebih dalam. Lebih… bermakna.
Ayza memejamkan mata sejenak..Harusnya ia merasa tenang. Harusnya ia bahagia.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama… mereka kembali seperti dulu.
Utuh. Dekat. Tanpa jarak. Namun yang muncul justru sebaliknya.
Gelisah.
Pelan. Tapi terus menguat.
Ia membuka mata. Tatapannya kosong ke depan.
“Kenapa…?” bisiknya pelan.
Kenapa semalam… tiba-tiba seperti itu?
Kenapa setelah menjauh sejauh itu… Kaisyaf justru kembali mendekat?
Dan satu hal lagi, yang tidak bisa ia abaikan.
Wajah itu. Lebih tirus. Lebih pucat. Dan tubuh yang semalam terasa… berbeda.
Lebih ringan. Lebih rapuh… meski tetap berusaha kuat.
Jemarinya mengencang di atas kertas itu.
“Abi…” suaranya nyaris tak terdengar. “Sebenernya kamu…”
Kalimat itu terhenti. Namun pikirannya melanjutkan. Ini bukan hanya tentang jarak. Bukan hanya tentang perubahan sikap.
Ini tentang sesuatu yang… sedang disembunyikan.
Ayza mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah. Tidak lagi hanya bingung. Tapi… yakin.
“Kalau kamu pikir aku akan diam…” gumamnya pelan, “…kamu salah.”
Namun bahkan setelah itu, dadanya tetap terasa sesak. Karena di balik semua kecurigaan itu… masih ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.
Ucapan Kaisyaf.
Tentang cerai. Tentang wanita lain.
Dan semalam, pria itu justru memeluknya seperti… tidak ingin melepaskannya.
Ayza menatap kertas di tangannya sekali lagi.
“Abi…"
Ia bergumam pelan. Hampir tak terdengar—
“kamu lagi… pergi… atau sebenarnya… sudah pamit?”
Dan entah kenapa… Ayza merasa, jawaban dari pertanyaan itu bukan sesuatu yang siap ia dengar.
...🔸🔸🔸...
..."Ada cinta yang tidak menyelamatkan, justru perlahan menghabiskan."...
..."Ia tahu itu akan menyakitinya, tapi tetap melakukannya, demi memastikan orang lain tidak merasa kehilangan."...
..."Tidak semua kehangatan adalah awal....
...Beberapa… justru penutup."...
..."Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan,...
...tapi disayangi sepenuhnya… tepat sebelum ditinggalkan."...
..."Ia memilih terluka lebih dulu,...
...agar orang yang ia cintai tidak merasakan jatuh yang sama."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺