NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Cahaya pagi masuk melalui celah tirai tanpa permisi.

Pearl sudah terbangun, sudah lama terbangun, mungkin bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Tapi ia tidak bergerak. Ia duduk bersandar pada headboard, menatap jendela dengan pandangan yang tidak benar-benar melihat apa pun di luar sana.

Pintu kamar terbuka pelan.

Lorcan masuk membawa nampan, sendiri, tanpa Vanya, tanpa pelayan lain. Di atasnya ada semangkuk oatmeal hangat, segelas jus, dan obat-obatan yang disusun rapi di sudut nampan. Pearl menatapnya sebentar lalu membuang pandangannya kembali ke jendela.

"Kamu harus makan agar obatnya bisa bekerja," kata Lorcan pelan. Ia meletakkan nampan di meja samping ranjang dengan hati-hati, sangat berbeda dari cara tangannya biasanya meletakkan sesuatu. "Dokter bilang--"

"Taruh saja di sana, Tuan. Aku akan memakannya nanti."

Lorcan berhenti.

Tuan.

Kata itu terasa seperti sesuatu yang dingin diletakkan di atas luka terbuka. Dulu ia yang memaksanya menggunakan sebutan itu, dulu ia yang menetapkan jarak itu, mendefinisikan posisi itu, membangun tembok itu bata per bata. Sekarang tembok yang sama berbalik menghadapinya dan ia tidak punya hak untuk mengeluh.

"Pearl, panggil aku Lorcan. Seperti malam itu di ruang makan--"

"Malam itu sudah mati, Tuan."

Pearl menoleh.

Matanya tidak marah. Tidak takut seperti kemarin. Yang ada di sana jauh lebih sunyi dari itu, kepasrahan yang dingin, seperti seseorang yang sudah kehabisan energi untuk merasa apa pun yang lebih besar dari ini.

"Kamu sudah mendapatkan kebenarannya. Orla sudah ditangkap. Jadi apa lagi yang kamu inginkan dariku?" tanyanya pelan. "Bukankah tugas pengganti ini sudah selesai?"

Lorcan duduk di tepi ranjang.

Ia mencoba meraih tangan Pearl.

Pearl menariknya, pelan, tanpa drama, tanpa kata-kata. Hanya menarik dan meletakkannya di atas selimut di sisi yang lain. Penolakan yang sangat halus dan sangat menyakitkan justru karena kehalusannya.

"Tugasmu belum selesai," kata Lorcan, "karena aku tidak ingin ini berakhir."

Pearl menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah.

"Aku tahu maaf tidak cukup,"lanjutnya. "Aku tahu apa yang aku lakukan tidak bisa dihapus begitu saja. Tapi ibumu sudah ada di sini, kamu bisa menemuinya kapan saja. Aku ingin kamu merasa aman di sini, Pearl."

Senyum tipis di sudut bibir Pearl.

Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Aman," ulangnya, seolah mencicipi kata itu dan menemukan rasanya tidak sesuai. "Bagaimana aku bisa merasa aman di rumah yang punya ruang bawah tanah sedingin itu? Bagaimana aku bisa merasa aman dengan pria yang menganggapku sampah hanya karena nama belakangku?"

Lorcan tidak menjawab.

Karena tidak ada jawaban yang bisa ia berikan. Setiap kata yang Pearl ucapkan adalah kebenaran yang sudah ia ketahui sejak ia duduk di lantai di samping ranjangnya semalam.

**

Siang itu, Lorcan menginstruksikan Vanya untuk membantu Pearl ke kursi roda agar bisa mengunjungi ibunya di kamar sebelah. Ia menunggu di lorong, memberi ruang, tidak masuk, hanya menunggu di luar dengan punggung bersandar ke dinding.

Beberapa menit kemudian, suara Pearl sampai ke telinganya melalui celah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.

"Ibu... maafkan Pearl karena membawa Ibu ke tempat ini. Kalau nanti Pearl pergi lebih dulu, Ibu harus kuat ya..."

Lorcan masuk tanpa mengetuk.

"Apa maksudmu dengan pergi lebih dulu?"

Pearl menoleh. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengucapkan kalimat seperti itu. "Semua orang akan pergi pada akhirnya, Tuan. Kamu sendiri yang pernah bilang kamu bisa menghentikan semua biaya ini kapan pun kamu mau. Aku hanya sedang mempersiapkan diri."

"Berhenti." Suara Lorcan lebih keras dari yang ia rencanakan. "Jangan bicara seperti itu."

"Kamu masih ingin mengontrol kata-kataku juga?" tanya Pearl datar.

Lorcan keluar dari kamar itu.

**

Malam itu, ia tidak tidur.

Ia duduk sendirian di ruang makan, menatap meja yang beberapa hari lalu masih menyimpan aroma sup buatan Pearl. Menatap kursi di seberang tempat ia duduk kursi yang Pearl duduki dengan punggung tegak dan tangan di atas lutut, canggung menyebut namanya untuk pertama kali.

Lorcan.

Cara Pearl mengucapkan namanya malam itu.

Lorcan menutup matanya.

Ia memanggil asistennya.

"Siapkan dokumen perceraian," katanya.

Hening di ujung telepon. "Tuan Lorcan? Apakah Anda yakin--"

"Siapkan. Dan hubungi rumah sakit terbaik, aku ingin ibu Pearl dipindahkan ke sana. Fasilitas terbaik, biaya ditanggung sepenuhnya atas namaku untuk lima tahun ke depan. Pastikan Pearl tahu bahwa tidak ada syarat apa pun yang melekat pada keputusan ini."

"Tuan... kenapa tiba-tiba--"

"Lakukan saja."

Lorcan meletakkan ponselnya di meja.

Ia menatap kursi Pearl yang kosong di seberang.

Aku menghancurkannya karena aku ingin memilikinya sebagai tempat untuk meletakkan dendam, pikirnya. Sekarang, jika aku ingin dia sembuh, aku harus melepaskannya. Aku tidak bisa meminta kepercayaan dari seseorang yang masih melihatku sebagai penjaga penjaranya.

**

Keesokan paginya, Lorcan masuk ke kamar dengan map tipis di tangannya.

Pearl masih di posisi yang sama, duduk bersandar pada headboard, menatap jendela. Ia menoleh saat Lorcan masuk, dan sesuatu di matanya berubah saat melihat map itu.

Lorcan meletakkannya di pangkuan Pearl tanpa kata-kata.

Pearl membukanya.

Halaman pertama. Tanda tangan Lorcan sudah ada di bagian bawah.

PERJANJIAN PERCERAIAN

Pearl menatap kertas itu lama. Jarinya menyentuh tepiannya, sangat pelan, seperti memeriksa apakah benda ini nyata atau tidak.

"Ini jebakan lain?" bisiknya.

"Bukan." Suara Lorcan tidak bergetar, tapi ada sesuatu di baliknya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Ini kebebasanmu. Ibumu akan dipindahkan ke Jerman sore ini. Semua biaya sudah ditanggung, tidak ada syarat, tidak ada kontrak. Kamu bebas pergi, Pearl. Kamu bisa kembali menjadi dirimu sendiri."

Pearl tidak bergerak lama.

Lalu, sangat pelan, setitik air mata jatuh di atas kertas itu. Bukan air mata lega. Bukan air mata bahagia. Sesuatu yang lebih rumit dari itu, sesuatu yang bahkan Pearl sendiri tampaknya tidak sepenuhnya mengerti.

"Kenapa?" tanyanya.

Lorcan duduk di kursi. Untuk pertama kalinya sejak Pearl mengenalnya, pria itu tampak seperti seseorang yang tidak tahu bagaimana caranya duduk di tempat yang tidak memberinya kendali.

"Karena aku mencintaimu."

Kata-kata itu keluar dengan berat, seperti sesuatu yang sudah lama disimpan di tempat yang sempit dan akhirnya harus dikeluarkan meski waktunya tidak tepat. "Dan karena aku mencintaimu, aku tahu bahwa aku adalah hal terburuk yang pernah masuk ke dalam hidupmu. Pergi, Pearl. Temukan hidupmu di tempat yang tidak ada bayanganku di dalamnya."

Pearl menatapnya lama.

"Kamu memberikan kebebasan ini saat aku sudah tidak tahu lagi cara menggunakannya," katanya akhirnya, suaranya sangat pelan. "Kamu sudah mengambil semuanya. Dan sekarang kamu ingin melepaskanku setelah kamu merasa bersalah."

"Aku tidak membuangmu, aku melepaskanmu. Ada bedanya."

"Bagiku itu sama saja." Pearl menutup matanya sebentar. "Tapi terima kasih untuk ibuku."

**

Sore itu, Pearl berjalan keluar dari mansion dengan langkah yang masih tidak sepenuhnya stabil, perawat di sisinya, kursi roda di belakang sebagai cadangan yang tidak ia gunakan karena ia memilih untuk berjalan sendiri meski pelan.

Ia tidak menoleh.

Lorcan berdiri di balkon, menatap dari atas.

Ia melihat Pearl masuk ke dalam mobil. Melihat pintu menutup. Melihat mobil itu melaju perlahan menyusuri jalan keluar mansion, melewati pagar besi hitam yang tinggi, dan menghilang di balik tikungan.

Angin dingin bergerak di sekitarnya.

Lorcan meletakkan tangannya di railing balkon yang sama tempat ia pernah memojokkan Pearl dalam hujan malam itu dan berdiri di sana lama setelah mobil itu tidak lagi terlihat.

Ia sudah mendapatkan semua yang selama ini ia kejar. Orla tertangkap. Kebenaran terungkap. Nama keluarganya bersih.

Tapi di lantai paling bawah mansion ini, ada ruangan yang tidak akan bisa ia masuki lagi tanpa mengingat Pearl meringkuk di pojoknya.

Dan di meja makan yang sekarang sunyi, ada kursi kosong yang aromanya entah sampai kapan akan terus mengingatkannya pada sup yang pernah dimasak seseorang yang tidak ia layak untuk menerimanya.

Penebusan baru saja dimulai.

Dan ia memulainya dengan kehilangan satu-satunya hal yang ternyata tidak bisa ia beli, tidak bisa ia kendalikan, dan tidak bisa ia ancam agar tetap ada.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!