Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Tanpa Henti
Arkan memacu mobilnya di kegelapan malam.
Meski hatinya berat, ia tahu ia tidak bisa lagi menghindar dari perjodohan ini.
Arkan sudah membuat Keputusan.
ia akan menghadapi ayahnya dan mengakhiri sandiwara perjodohan dengan clarissa.
Di sepanjang jalan,
ingatan Arkan terus memutar kembali di setiap detik pertemuannya dengan Zevanya di mal.
Wajah wanita itu pucat namun cantik, matanya yang menyiratkan ketakutan sekaligus keteguhan dan aroma tubuh yang sama dengan wanita di hotel itu.
Arkan menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi,
menatap kosong ke arah deretan lampu kota. Ia menghela napas panjang,
mencoba mengusir sesak yang kian menghimpit dadanya.
Sudah berbulan-bulan ia terjebak dalam perang batin dan mencoba melupakan.
Namun, logika Arkan seolah lumpuh. Setiap kali ia memejamkan mata,
memori malam bersama wanita di hotel itu kembali memutar seperti kaset rusak,
suara desahan indah yang memabukkan dan aroma bunga yang lembut,
aroma yang sama persis dengan yang ia hirup dari tubuh Zevanya di mal beberapa bulan lalu.
jemarinya mengetuk kemudi dengan gelisah.
"Aroma itu... bagaimana mungkin ada dua wanita dengan keharuman yang begitu sama? Dia benar-benar memikatku."
Arkan teringat bagaimana ia sudah berulang kali mendatangi Hotel itu,
memeriksa setiap pelayan yang ada di sana hanya untuk mencari pemilik aroma itu.
Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki aroma yang sama dengan pelayan wanita yang tidur bersamanya.
"Hanya Zevanya," bisik Arkan.
"Saat aku berdiri di dekatnya, aku merasa duniaku berhenti sejenak. Aku yakin, dialah wanita malam itu."
Namun, sebuah kenyataan pahit menghantam pikirannya.
Zevanya sedang hamil.
"Aku harus mencari tahu siapa dia sebenarnya. Apa dia sudah memiliki suami atau kekasih? Karena setahuku, syarat menjadi pelayan di hotel itu harus berstatus lajang atau belum menikah," ucap arkan.
Rahangnya mengeras, ia memukul setir mobilnya dengan kencang. Brakk!
"Kalau dia benar-benar punya kekasih, berarti aroma itu memang hanya kebetulan yang konyol. Tapi jika tidak..."
Arkan menggantung kalimatnya. Matanya berkilat penuh harap sekaligus kecemasan.
"Jika benar dia wanita yang pernah menjadi pelayan dan aku menidurinya malam itu, berarti bayi yang dikandungnya... adalah anakku."
Arkan memacu kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Rasa penasarannya kini telah berubah menjadi sebuah obsesi yang tak terbendung.
"Aku tidak peduli di mana pun kamu berada, Zevanya. Aku akan menemukanmu.
Suara desahan malam itu meyakinkanku bahwa aku dan pelayan wanita itu ada di ranjang yang sama.
Dan sekarang, aku hanya menginginkan jawaban dari semua itu."
Arkan tersenyum tipis,
"Tunggu aku, Zevanya. Aku akan bertanya semua hal ini kepadamu Jika semua ini benar aku akan menikahimu."
setelah arkan Sampai Suasana di rumah besar keluarga Mahendra mendadak mencekam.
Arkan melangkah masuk dengan rahang mengeras,
sementara Baskara sudah menunggunya dengan wajah yang memerah menahan amarah.
Pertemuan dengan keluarga Wijaya tadi siang benar-benar meninggalkan tekanan besar bagi Baskara.
"Duduk, Arkan!" perintah Baskara dengan suara rendah yang mengancam.
"Kita harus menetapkan tanggal pernikahanmu dengan Clarissa sekarang juga. Hendra Wijaya sudah tidak mau menunggu lagi."
Arkan tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku pulang bukan untuk membahas itu, Ayah. Aku pulang untuk mengatakan Aku menolak perjodohan ini."
Baskara terbelalak, ia berdiri dan memukul meja di depannya.
"Apa katamu?! Kamu mau mempermalukan Ayah di depan sahabat lama Ayah? Kurang apa Clarissa? Dia cantik, terpandang, dan mencintaimu!"
"Cinta?" Arkan mendengus sinis.
"Dia tidak mencintaiku, Ayah. Dia hanya mencintai nama besar keluarga Mahendra.
Aku tidak bisa menghabiskan sisa hidupku dengan wanita yang sombong, angkuh, dan semena-mena terhadap orang lain."
Arkan teringat bagaimana Clarissa memaki Zevanya di mal waktu itu.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia memperlakukan orang yang dia anggap lebih rendah darinya"
Baskara terduduk lemas di sofa jatinya. Bahunya yang tegap kini tampak merosot.
Ia menatap Arkan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca,
bukan lagi tatapan seorang penguasa bisnis, melainkan seorang ayah yang merasa usianya kian senja.
"Arkan..." suara Baskara melemah, serak karena emosi.
"Ayah ini sudah tua. Ayah sangat ingin menimang cucu, Arkan. Seseorang yang akan berlarian di rumah besar yang sepi ini sebelum Ayah menutup mata selamanya."
Arkan terdiam.
Melihat kerapuhan ayahnya, hatinya sedikit bergetar.
Bayangan Zevanya—wanita dengan aroma bunga yang menenangkan dan suara desahan yang menghantuinya—kembali menguat di benaknya.
"Aku tahu, Ayah. Aku juga ingin memberikan cucu untuk Ayah,"
ucap Arkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.
"Tapi bukan dari Clarissa. Aku tidak ingin anak-anakku lahir dari wanita yang hatinya penuh kesombongan."
Arkan melangkah mendekati ayahnya, menatap mata Baskara dengan penuh keyakinan.
"Beri aku waktu, Ayah. Sedikit waktu lagi. Aku akan mencari wanita yang kusukai, wanita yang cantik dan memiliki aroma jiwa yang membuatku merasa lengkap. Aku akan membawanya ke hadapan Ayah."
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪