NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Pagi di kampus datang dengan ritmenya yang menjadi ciri khas. Langkah kaki mahasiswa memenuhi koridor, suara obrolan bercampur dengan bunyi pintu kelas yang dibuka dan ditutup silih berganti.

Matahari belum terlalu tinggi, tetapi suasana sudah cukup ramai untuk membuat siapapun yang datang terlambat harus bergegas.

Syahira berjalan sambil memeluk dua buka di dadanya. Langkah tenang, meski pikirannya belum sepenuhnya demikian. Percakapannya dengan Abi semalam masih membekas, seperti nasihat yang perlahan mengendap dan memberi ruang bagi hatinya untuk bernapas lebih lega.

Jangan mengambil keputusan saat dan pikiranmu sedang sedang sama sama gaduh. Kalimat itu terngiang, menenangkan sekaligus mengingatkan. setidaknya pagi ini, ia memutuskan untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.

"Pagi, nona koridor."

Syahira menoleh dan mendapati Kaizan berjalan menyusul di sampingnya. Seperti biasa, jaket hitamnya dikenakan santai, sementara helm tergantung dilengannya. Senyumnya yang khas itu langsung terpasang begitu melihat ekspresi Syahira yang sedikit terkejut

"Kamu ini hobi banget muncul tiba tiba ya," ujar Syahira sambil menggeleng kecil. "Bukan tiba tiba. Ini namanya timing yang bagus," blasa Kaizan bangga. "gimana?, otaknya masih diajak istirahat atau udah diajak lembur lagi?."

Syahira terkekeh. "Masih dalam tahap pemulihan." "Bagus, jangan dipaksa kerja rodi, kasihan jugakan, isi kepala kalau tiap hari di suruh lembur."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor, obrolan ringan seperti itu selalu terasa mudah bersama Kaizan. Tidak pernah ada tuntutan untuk menjawab dengan sempurna atau bersikap dengan cara tertentu. Semuanya mengalir begitu saja.

"Eh ngomong-ngomong yah, gue tadi ketemu Haikal loh di parkiran." Syahira mengangkat alis, "terus?."

"Nggak ada terusnya, cuma mau bilang, saingan Lo ternyata orang sabar juga." Syahira langsung melangkah. "saingan apaan sih?."

Kaizan tertawa pelan melihat ekspresi protesnya "santai, cuma observasi lapangan."

"Observasi apanya haish?."

"Observasi bahwa hidup orang orang disekitar gue ternyata jauh lebih rumit dari pada tugas kuliah."

Syahira memutar matanya, meski senyumnya tak bisa disembunyikan. tepat ketika mereka hendak berbelok ke arah kelas, langkah Kaizan melambat.

Ia menatap lurus ke depan dan Syahira mengikuti arah pandangnya. Dan secara kebetulan Bilal berdiri di ujung koridor tengah berbincang dengan salah satu dosen lain.

Namun entah mengapa saat melihat mereka pandangan Bilal sempat berhenti beberapa detik lebih lama. Kaizan menangkap jeda singkat itu. Rahangnya mengeras hampir tidak kelihatan sama sekali.

Akan tetapi ekspresinya tetap santai ia hanya melirik Syahira sekilas, lalu kembali menatap ke depan. "Nah," gumamnya pelan, cukup untuk dirinya sendiri.

"Hmm bakal seru kayaknya nih."

Bilal menutup map yang sedari tadi berada di tangannya, lali berpamitan singkat pada rekan dosen dihadapkan. Namun sebelum ia benar benar berbalik, pandangannya kembali jatuh pada Syahira yang berdiri tak jauh disana bersama Kaizan.

Ada tawa yang masih tersisa di wajah gadis itu, tawa ringan yang entah mengapa terasa begitu kontras dengan ekspresi serius yang biasa ia tunjukkan di dalam kelas.

Syahira yang menyadari tatapan itu pada akhirnya ia menundukkan pandangannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, meski ia sendiri tak yakin apa penyebabnya. Mungkin karena merasa canggung. Atau mungkin karena ada sesuatu hal yang selalu berubah setiap kali mata mereka bertemu.

"Pak Bilal kelihatannya lagi mode dosen galak atau mode dosen biasa?" bisik Kaizan di sampingnya.

Syahira menahan tawanya. "kamu ini ada ada aja."

"Ini penelitian penting. Demi keselamatan mahasiswa." dan belum sempat Syahira membalas, Bilal sudah berjalan mendekat. Langkahnya tenang dan ekspresinya seperti biasa, tetap terkendali dan juga sulit ditebak.

Dan ia berhenti di depan mereka, menatap Kaizan sekilas sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada Syahira.

"Buku tafsir yang saya minta Minggu lalu sudah selesai dipelajari?" tanyanya formal.

Syahira mengangguk cepat, "sudah, pak. Saya juga sudah menandai beberapa bagian yang ingin saya tanyakan."

"Bagus, nanti setelah kelas, temui saya diruang dosen." Kalimat itu sederhana dan juga wajar bahkan sangat akademis. Namun entah kenapa ada yang aneh Kaizan hanya berdiri dan mengangkat alisnya tipis seolah mencatat suatu hal dalam benaknya.

Dan lagi lagi instingnya bekerja begitu tajam dan peka. "Siap pak." jawabnya Syahira pelan. Bilal mengangguk, lalu menatap Kaizan dan kamu jangan terlalu sering mengganggu mahasiswa lain dikoridor."

Kaizan langsung memasang ekspresi tak bersalah.

"Saya?, ganggu?, saya justru sedang menjalankan misi sosial pak." menjaga kesehatan mental rekam sesama mahasiswa."

Untuk beberapa detik sudut bibir Bilal pun terbit tipis ,meski segera kembali.ke mode datar tanpa ekspresi. "kalau gitu, pastikan misi sosial mu tidak ganggu jadwal kuliah."

"Siap pak laksanakan." Kaizan sambil memberi hormat sedikit bercanda agar suasana tidak terlalu canggung diantara keduanya.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!