Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Menemui Seseorang.
"Tunggu sebentar."
Suara pria berbadan besar tinggi menjulang dengan kedua tangan penuh tato menggema, merentangkan satu tangannya saat Lea akan melewati pintu masuk yang dia jaga.
"Kau membutuhkan akses untuk masuk," ujarnya dengan suara berat tanpa rasa hormat.
"Akses?" Lea tak mengerti, mendongakan kepala untuk menatap lawan bicaranya yang jauh lebih tinggi darinya.
"Benar," dia menjawab, ekspresi wajahnya tidak berubah, seolah tak peduli yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang wanita.
"Bisa berupa sejumlah uang untuk masuk, uang taruhan, atau kontak kenalan yang merupakan orang dalam. Tanpa itu, kau tidak bisa masuk."
Lea terdiam. Ia tidak mendesak untuk masuk, tetapi pikirannya bekerja dengan perandaian jika kedua orang tuanya mengarahkan dirinya untuk datang ke tempat 'berbahaya' seperti ini, itu artinya kedua orang tuanya mengenal seseorang yang memiliki kuasa.
"Panggil pemilik tempat ini untuk keluar," ucap Lea tegas.
"Maaf?" pria bertato itu mengerutkan kening, hampir tertawa.
"Sekarang," tekan Lea, dingin dan mengintimidasi.
Pria bertato menatap Lea selama beberapa saat, menelisik penampilan Lea dari atas sampai bawah -celana olahraga dan sepatu olahraga, jaket kebesaran dengan kepala yang tertutup topi dan hodie- namun tetap mengeluarkan alat komunikasi dari saku jaketnya.
"Bos, ada 'orang baru' ingin bertemu," ujarnya.
Lea diam, tidak menyela saat pria besar di depannya sedang berbicara. Kata 'orang baru' yang pria itu ucapkan jelas sebuah kode yang hanya mereka saja yang tahu apa artinya.
"Seorang gadis," ujarnya lagi.
"Baik."
Komunikasi itu singkat, namun mengubah cara pandang pria bertato terhadap Lea, entah apa yang orang di seberang sana.
"Bos akan keluar sebentar lagi," ujarnya dengan suara lebih rendah.
Lea mengangguk singkat, menyandarkan punggungnya pada dinding dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya. Menunggu.
Pintu besi di belakang pria bertato berderit, lalu terbuka diikuti sosok pria berusia 40an dengan topi fedora di kepalanya melangkah keluar.
"Bos." pria bertato menunduk hormat, segera membuka jalan yang membuat tatapan tajamnya langsung bertemu dengan Lea.
"Ada perlu apa bocah sepertimu datang ke tempat seperti ini?" tanyanya serak, namun mengintimidasi. Mata elangnya mengamati penampilan Lea dari atas sampai bawah, merasa familiar.
Lea tidak segera memberikan jawaban. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau ucapkan. Dalam pikirannya, ia hanya mengikuti arahan dari pesan yang kedua orang tuanya tinggalkan tanpa memikirkan apa yang harus ia tanyakan.
Bertanya apakah pria di depannya mengenal kedua orang tuanya terlalu klise bagi Lea.
"Manchineel," ucap Lea tenang.
Pada akhirnya, Lea hanya bisa mengucapkan satu kata itu, namun Lea bisa menangkap manik pria di depannya melebar singkat, kemudian sudut bibirnya terangkat.
"Tak kusangka, kau datang secepat ini," ujarnya seolah sudah mengenal Lea sejak lama. "Ikuti aku." dia berbalik, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk memberi Lea jalan.
Lea mengikuti langkah pria yang tidak ia kenal di belakang, masuk melewati pintu besi yang dijaga ketat.
Aroma bir bercampur asap rokok menyambut indra penciuman begitu Lea berada di dalam, suara sorakan orang-orang menusuk gendang telinganya di tengah pertarungan bebas yang sedang berlangsung, tetapi tidak cukup untuk membuat Lea menghentikan langkah mengikuti pria di depannya.
Kedua kakinya yang terbungkus sepatu menaiki tangga, memberikan akses lebih luas bagi Lea intuk melihat pertarungan bebas dengan lebih jelas. Kedua petarung itu terluka, tetapi tidak memiliki keinginan untuk berhenti. Sebaliknya, sorakan penonton di sekeliling mereka menjadi lebih antusias.
Semua yang Lea lakukan tak lepas dari perhatian pria dewasa yang tengah memimpin jalan. Langkah pria itu terhenti sejenak, netranya mengamati wajah Lea, mencari gurat ketakutan yang tidak ia dapatkan.
"Menarik." ujarnya pelan nyaris tak terdengar. "Di saat gadis seusianya sibuk dengan fashion dan media sosial, dia justru datang ke sarang preman."
"Ingin mencoba?" tawarnya tanpa beban, satu tanganya masuk ke dalam saku celana.
Wajah Lea menoleh cepat, menatap datar wajah pria dewasa di depannya.
"Kurasa tidak," dia terkekeh sendiri, ekspresi dingin di wajahnya memudar.
"Di sana." menunjuk arena. "Adalah tempat bebas hukum. Lemah berarti mati. Kau bebas menggunakan cara apapun untuk mengalahkan lawan selama itu bukan menggunakan belati, pistol dan sejenisnya," jelasnya.
Lea masih diam, namun pandangannya kembali menatap arena.
"Ayo." pria itu membalikan badan, kembali melanjutkan langkah.
Lea masih menatap arena selama beberapa saat, lalu mengikuti langkah pria yang sampai saat ini masih belum ia ketahui siapa, hingga mereka tiba di depan pintu baja fortress yang dilengkapi dengan fitur keamanan yang segera pria itu buka.
Ruangan luas berpencahayaan redup langsung menyambut mereka. Udara dingin di sekitar, serta pintu masuk yang ditutup meredam sepenuhnya suara teriakan orang-orang di arena.
"Duduklah," pria itu menunjuk santai ke arah sofa seharga mobil ratusan juta, melangkah menuju lemari khusus penyimpanan koleksi anggur berusia puluhan tahun yang harganya bisa mencapai miliaran, lalu mengambil salah satu botol dan dua gelas wine.
"Kuharap kau tidak keberatan dengan suhu dingin ruangan ini." ujarnya melangkah mendekat. "Koleksi anggurku membutuhkan suhu rendah untuk mendapatkan kualitas terbaik."
Lea memberikan anggukan singkat nyaris tak terlihat, menyapu ruangan yang sedikit gelap, sebelum kembali mengarahkan pandangan pada pria yang kini duduk di sofa berbeda dengannya.
Pria itu membuka botol anggur yang ia ambil, menuangkan isinya, dan menyodorkan gelas berisi cairan merah gelap pada Lea.
"Minumlah. Aku pastikan minuman ini tidak beracun," ujarnya santai seraya melepaskan topi dari kepalanya, lalu menyesap minuman dari gelasnya sendiri.
Lea masih diam, mengangkat gelas wine di depannya, mendekatkan bibir gelas ke mulut untuk menghirup aromanya, kemudian menyesap pelan isinya.
"Tingkat kewaspadaanmu cukup bagus, tapi terlalu kentara. Jika aku adalah musuh asli, kau sudah dieliminasi." dia berkomentar sembari menggerakkan dua jari di leher. "Over."
Hening... Lea tetap diam dengan wajah datar.
"Pft ..."
Dia tertawa sambil menggelengkan kepala. "Ternyata sikap ayahmu menurun padamu."
"Kamu mengenal orang tuaku?" tanya Lea membuka suara.
"Ibumu, Jovita Simarta ...adalah kakakku, dan ayahmu, Nares Arzanka tentu saja adalah kakak iparku. Kau mengerti apa artinya bukan?" katanya tetap santai.
Dia menyandarkan punggung ke sandaran sofa, tersenyum. Senyum hangat pertama yang pria itu tunjukkan.
"Aku Donantello Ricci, pamanmu," ungkapnya.
. .. .
. . . .
To be continued...