“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28.Kebenaran yang mencekam.
Suara musik orkestra yang megah dan indah masih terus mengalun, memecah keheningan malam yang mewah. Namun, bagi Luna ria Star born, dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar seketika.
"ITU KAU!..."
Suaranya melengking, keluar dari mulutnya tanpa sadar. Mata birunya membelalak lebar, memancarkan keterkejutan yang luar biasa. Kakinya yang semula mengikuti irama dansa kini terpaku di lantai marmer yang dingin.
Wajahnya yang sengaja dibuat kusam dan menyeramkan itu kini terlihat semakin pucat, bahkan di balik lapisan bedak kelabu yang ia oleskan. Jantungnya berdegup kencang bukan main, berdetak secepat kilat dan begitu keras hingga ia yakin orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya.
Gubrak! Gubrak! Gubrak!
Pikiran Luna ria berputar kacau. Memori-memori yang sempat terkubur karena keterkejutan kini meledak kembali dengan jelas.
Ia ingat sekarang! Sangat jelas!
Malam itu... malam bulan purnama yang terang benderang. Bau darah yang menyengat, pria tinggi besar yang ambruk di depan gerbang villa dengan tubuh penuh luka dan aura mematikan. Ia ingat bagaimana pria itu tiba-tiba bangun dan mencengkeram lehernya dengan kekuatan yang hampir membunuhnya. Ia ingat bagaimana ia memarahi pria itu, menyebutnya gila, dan bahkan... dengan beraninya ia menyuruh Ivy mengusirnya keluar!
Oh, Tuhan... batin Luna ria menjerit ketakutan.
Itu bukan orang sembarangan! Itu bukan pengembara atau prajurit biasa! Itu Ka el drago mir! Putra Mahkota Avalon! Monster yang paling ditakuti di seluruh kerajaan!
Luna ria merasa dunia seakan runtuh menimpanya.
Apa yang sudah ia lakukan? Ia pernah membentak Pangeran Mahkota. Ia pernah menyuruh pelayannya mengusirnya seperti anjing liar. Ia pernah menghinanya! Dan sekarang... pria itu ada di hadapannya, menjadi calon suaminya, dan ternyata dia sudah mengingat semuanya sejak awal!
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Luna ria pelan, kakinya secara refleks mundur selangkah, lalu dua langkah. Ia ingin menjauh. Insting bertahan hidupnya berteriak keras.
Lari, Luna ria! Lari sekarang juga sebelum dia menghukummu!
Tapi kakinya terasa berat seperti terbenam dalam lumpur. Ia terpaku, menatap wajah Ka el yang kini tersenyum lebar. Senyum yang tampan namun sangat menakutkan, senyum seorang predator yang akhirnya berhasil menangkap mangsanya.
"Akhirnya kau mengingatku, Nona Luna ria," ucap Ka el pelan, namun setiap kata terasa seperti palu godam yang menghantam kepala Luna ria. "Aku pikir kau akan butuh waktu lebih lama untuk menyadari siapa pria 'asing' yang pernah kau usir itu."
Suasana di seluruh aula pesta menjadi hening total.
Musik masih terus dimainkan oleh para musisi, namun iramanya terdengar aneh karena pasangan utama di lantai dansa berhenti bergerak. Ribuan pasang mata tertuju pada mereka dengan penuh kebingungan.
"Ada apa itu?"
"Mereka berhenti kenapa?"
"Wajah Nona Luna ria pucat sekali, seolah melihat hantu."
"Pangeran Ka el kenapa tersenyum begitu? Itu senyuman menakutkan."
Bisikan-bisikan mulai terdengar lagi, namun kali ini penuh dengan tanda tanya. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka tidak tahu bahwa di tengah pesta megah ini, sedang terjadi pertemuan kembali antara seorang tiran dan gadis yang pernah berani memperlakukannya seperti sampah.
Di sudut ruangan, Lord Valde mar dan Lady Seraphina semakin panik. Mereka melihat putri mereka mundur dengan wajah ketakutan, sementara Pangeran tampak semakin mengintimidasi.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia mundur? Dia sudah gila ya?!" desis Lady Seraphina gemetar. "Cepat maju! Jangan buat Pangeran marah!"
Namun Luna ria tidak mendengarnya. Otaknya penuh dengan skenario-skenario kematian yang mengerikan.
Apa dia akan memenggal kepalaku di sini?
Atau dia akan menyiksaku perlahan karena pernah menghinanya?
Ya Tuhan, kenapa nasibku seburuk ini?!
Melihat Luna ria yang terus mencoba mundur dan menjaga jarak seolah dia adalah wabah penyakit, senyum di bibir Ka el perlahan menghilang. Tatapan matanya yang merah menyala menjadi lebih tajam, lebih gelap, dan penuh dengan aura kepemilikan yang mendominasi.
Ka el tidak membiarkan gadis itu menjauh.
Dengan gerakan cepat yang sulit dilihat mata telanjang, tangan Ka el yang besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Luna ria yang mencoba mundur.
TRAK!
"AAHH!" Luna ria tersentak kaget.
Sebelum ia sempat bereaksi atau berusaha melepaskan diri, Ka el menarik tangan itu dengan kuat.
BY..UR!
Gaya tarik itu begitu kuat hingga tubuh Luna ria terhuyung maju dan terbentur keras ke dada bidang Ka el. Jarak di antara mereka kini menjadi nol. Sangat dekat. Begitu dekat hingga Luna ria bisa mencium aroma wangi musk bercampur dengan aroma besi dan darah yang khas dari tubuh pria itu.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal. Luna ria bisa merasakan napas hangat Ka el yang menyapu wajahnya.
"Kau mau ke mana, Sayang?" bisik Ka el, suaranya rendah, berat, dan bergetar. Matanya menatap tajam ke dalam mata Luna ria, seolah ingin menelannya bulat-bulat. "Kau pikir setelah kau mengingat segalanya, kau masih bisa lari dariku?"
Luna ria menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Rasa takut yang luar biasa mulai merambat ke seluruh tubuhnya.
"P-Pangeran..." suara Luna ria terdengar bergetar, lemah, sama sekali tidak seperti dirinya yang biasanya galak. "S-Saya... saya tidak tahu itu Anda saat itu. Saya minta maaf! Saya benar-benar tidak tahu!"
Luna ria mulai panik dan berusaha menjelaskan, berharap pria di depannya ini mau mendengar alasan dan tidak langsung membunuhnya.
"Saat itu Anda terluka parah, Pangeran! Saya hanya... saya hanya kaget! Saya tidak bermaksud kasar! Saya bahkan sudah merawat luka Anda dan memberikan tempat istirahat! Saya—"
"Sudah..." potong Ka el pelan namun tegas.
Jari telunjuk Ka el tiba-tiba terangkat dan menempel lembut di bibir Luna ria, menyuruhnya diam.
Wajah Ka el mendekat semakin dekat. Napas mereka kini bercampur menjadi satu.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun..." bisik Ka el, matanya menyala dengan api aneh yang membuat Luna ria tidak mengerti. "Aku justru menyukainya. Untuk pertama kali seorang gadis memperlakukan aku seperti itu,biasa mereka memujiku tapi tidak dengan mu kamu berbeda."
"Tapi Pangeran, saya—"
"SHHH..."
Luna ria masih ingin bicara, masih ingin memohon ampun karena kesalahannya yang fatal itu. Ia takut. Sangat takut. Ia tahu betapa berbahayanya pria ini. Ia tahu reputasi Ka el yang kejam dan sadis.
Namun, Ka el tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dunia seakan berhenti berdetak saat Ka el memiringkan kepalanya sedikit ke samping. Dengan gerakan cepat dan penuh dominasi, ia mendekatkan wajahnya dan...
MUAAACH!
Ka el menciumnya!
Ia mencium bibir Luna ria dengan keras, penuh gairah, dan penuh kepemilikan tepat di hadapan ratusan tamu undangan!
DEG!!!
Waktu seakan berhenti.
Udara di seluruh aula pesta seakan tersedot habis. Keheningan yang mencekam melanda seluruh ruangan.
Musik yang tadinya mengalun indah... CR..EK... Seorang pemain biola bahkan sampai salah senar karena kaget, memecah keheningan namun tidak ada yang peduli.
Semua orang, mulai dari pelayan, bangsawan, penyihir hebat, hingga jenderal perang, semua membuka mulut mereka lebar-lebar. Mata mereka terbelalak tak percaya melihat pemandangan di depan mata mereka.
Pangeran Ka el drago mir... Pangeran yang dingin, yang tidak pernah menyentuh wanita lain selain untuk membunuh... Pangeran yang dikenal membenci sentuhan fisik...
Sedang mencium putri Star born yang wajahnya menyeramkan itu! Dan bukan cuma mencium biasa, tapi dengan begitu bergairah dan intens!
"Ya Ampun...!!"
"Apa yang baru saja terjadi?!"
"Itu... itu ciuman? Pangeran menciumnya?!"
"Di depan umum?! Di depan semua orang?!"
"Gila! Benar-benar gila! Seluruh Avalon akan gempar besok!"
Teriakan-teriakan kaget dan bisikan histeris mulai meledak di seluruh penjuru ruangan. Suasana yang tadinya kaku dan canggung, kini berubah menjadi kekacauan yang luar biasa.
Di sudut ruangan, Lord Valde mar sampai menjatuhkan gelas anggur di tangannya.
PRANG! Gelas itu pecah berkeping-keping, tapi pria itu tidak peduli. Wajahnya pucat pasi, kakinya lemas hingga ia harus bersandar ke dinding.
"Istriku... lihat itu... Pangeran... Pangeran mencium Luna ria..." gumamnya tak percaya.
Lady Seraphina juga menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca entah karena kaget atau syok. "Bagaimana bisa... Luna ria berpenampilan seperti itu... kenapa Pangeran mau menciumnya? Apa mata Pangeran sakit?"
Mata Luna ria terbelalak, dan dari lantai atas pintu kebesaran untuk Raja Alva dan Ratu Delia terbuka untuk bergabung dalam pesta.
Seakan kedatangan mereka tidak disambut karena pemandangan yang ada di tengah lantai dansa menyita perhatian mereka.