Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Semua ia tulis. Rapi. Detail. Awalnya terasa aneh, seperti sedang “mengumpulkan bukti” terhadap kehidupan anaknya sendiri. Tapi semakin ia melakukannya, semakin ia sadar… ini bukan tentang menyerang siapa pun. Ini tentang melindungi.
Namun, di balik semua itu, Sekar tetap manusia. Malam hari adalah waktu paling jujur. Saat semua kesibukan berhenti, saat tidak ada lagi yang bisa mengalihkan pikirannya, rasa itu datang kembali.
Takut. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap catatan-catatan yang sudah ia kumpulkan. “Kalau aku salah…?” bisiknya pelan.
Tangannya meremas kertas itu. “Kalau orang-orang lihat aku sebagai ibu yang egois… yang ‘merebut’ anak dari ayahnya…”
Bayangan itu menghantuinya. Ia membayangkan Sea suatu hari menatapnya dengan kecewa. Menganggapnya sebagai penyebab semua perpecahan. Sekar menutup matanya kuat-kuat. Dadanya kembali terasa berat, bukan karena Aji kali ini, tapi karena ketakutan akan kehilangan tempat di hati anaknya sendiri.
“Aku nggak mau dia benci aku…” suaranya hampir tidak terdengar.
Sunyi menyelimuti kamar itu. Lalu perlahan, Sekar membuka matanya lagi. Ia menatap catatan itu sekali lagi. Menatap nama “Sea” yang tertulis di sana.
Dan di detik itu… sesuatu di dalam dirinya kembali menguat. “Ini bukan tentang aku…” gumamnya pelan. Tangannya yang tadi gemetar mulai tenang. “Ini tentang dia.”
Napasnya perlahan teratur. “Kalau aku diam… dia yang akan terus ada di situ.”
Sekar menelan ludah. “Kalau aku bergerak… mungkin aku akan disalahkan.”
Jeda. “Tapi kalau aku tidak bergerak…” Air matanya jatuh lagi. “…aku akan kehilangan dia.”
Kali ini, Sekar tidak menghapus air matanya. Ia membiarkannya jatuh, tapi tidak membiarkan dirinya runtuh. Ia meraih kembali ponselnya. Membuka catatan. Menambahkan satu baris lagi. Bukan tentang bukti. Tapi tentang keputusan. Dan malam itu Sekar tidak lagi hanya bertahan. Ia memilih untuk melindungi meski harus menghadapi dunia.
***
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sekar tidak sedang berlari. Semua berkas sudah ia serahkan. Semua bukti sudah ia kumpulkan. Semua yang bisa ia lakukan… sudah ia lakukan. Kini, tidak ada lagi yang bisa dipaksakan. Tidak ada lagi yang bisa dikejar dengan tergesa.
Ia hanya bisa menunggu.Dan justru di situlah ujian berikutnya dimulai.
Pagi itu, Sekar duduk di ruang kerjanya, ruangan yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan akan ia miliki. Meja kayu sederhana, rak buku yang mulai penuh dengan naskah dan cetakan novelnya, serta secangkir kopi yang sudah dingin karena terlalu lama ia biarkan.
Laptopnya terbuka, halaman kosong menunggu untuk diisi.
Novel ketiga. Tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya… selalu kembali ke satu tempat. Sea. Sudah hampir tiga bulan. Tiga bulan tanpa melihat wajahnya. Tanpa mendengar suaranya. Tanpa tahu bagaimana anak itu sekarang, apakah ia baik-baik saja, apakah ia masih ingat… atau justru semakin jauh.
Sekar menutup laptopnya perlahan. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini ia tidak menangis. Ia hanya menatap kosong ke depan, menahan rindu yang semakin hari semakin berat.
“Aku harus sabar…” gumamnya pelan. Tapi sabar ternyata tidak selalu berarti tenang. Kadang… sabar itu berarti bertahan dalam rasa yang tidak pernah reda. Di sisi lain kehidupannya, sesuatu justru bergerak sangat cepat.
Buku pertamanya meledak. Cetakan demi cetakan habis di pasaran. Namanya meski masih tersembunyi di balik nama pena mulai diperhitungkan. Bahkan kabar bahwa novelnya sedang dipinang untuk diangkat ke layar lebar membuat banyak orang di sekitarnya tidak berhenti membicarakannya.
Novel keduanya pun menyusul, disambut dengan antusias yang sama. Dan kini… ia berdiri di titik yang dulu terasa mustahil. Stabil. Mandiri. Bahkan… lebih dari cukup. Tabungannya bertambah. Penghasilannya jelas. Masa depannya untuk pertama kalinya terlihat memiliki arah yang pasti.
Sekar berdiri di balkon rumahnya sore itu, memandangi langit yang mulai berubah warna. Angin pelan menyentuh wajahnya. Ia mengingat dirinya yang dulu, yang keluar dari rumah tanpa kepastian, tanpa pegangan, tanpa tahu harus ke mana.
Dan kini… Ia sudah sampai sejauh ini. Beberapa hari kemudian, Sekar duduk bersama agen properti. Di hadapannya terbentang gambar rumah yang sedang dalam proses ia beli. Lebih besar. Lebih luas. Lebih terang. Rumah itu tidak hanya indah, tapi juga terasa hidup.
“Ini ruang yang cocok untuk kamar anak,” ujar agen itu sambil menunjuk salah satu bagian denah.
Sekar terdiam. Tangannya tanpa sadar menyentuh bagian itu. Kamar anak. Bayangan itu langsung muncul di kepalanya Sea berlari di lorong, tertawa, menaruh tasnya sembarangan, memanggilnya dari dalam kamar. Dada Sekar menghangat… sekaligus nyeri.
“Bagus ya, Bu?” tanya agen itu lagi.
Sekar mengangguk pelan. “Iya…”
Suaranya lembut, tapi ada makna yang jauh lebih dalam dari sekadar memilih rumah. Ini bukan soal besar atau kecil. Bukan soal mewah atau sederhana. Ini tentang… persiapan. Tentang keyakinan bahwa suatu hari nanti, Sea akan pulang.
Malam itu, Sekar kembali duduk di ruang kerjanya. Laptopnya kembali terbuka. Kali ini, ia tidak menutupnya.
Ia mulai mengetik. Kata demi kata mengalir, lebih tenang dari sebelumnya. Tidak lagi penuh luka seperti dulu, tapi juga belum sepenuhnya sembuh.
Ia menulis tentang penantian. Tentang harapan yang tidak terlihat tapi tetap dijaga. Tentang seorang ibu yang tidak berhenti percaya… meski dunia belum berpihak padanya. Di sela-sela itu, ia berhenti sejenak. Menatap kosong ke layar. Lalu berbisik pelan, “Aku siap…”
Bukan dengan suara keras. Bukan dengan keyakinan yang sempurna. Tapi cukup kuat untuk bertahan. “Aku siap menunggu…”
Jeda. “…dan aku juga siap… kalau waktunya tiba.”
Sekar kembali mengetik. Di dalam dirinya, tidak lagi hanya ada rasa kehilangan. Kini ada sesuatu yang tumbuh perlahan, keyakinan. Bahwa semua yang ia siapkan hari ini…akan membawanya kembali pada satu hal yang paling ia perjuangkan. Sea.
***
Malam itu terasa tenang. Udara dingin pelan menyentuh kulit, membawa aroma tanah yang masih sedikit basah setelah hujan sore tadi. Sekar duduk di teras bersama ibunya, dua cangkir teh hangat di atas meja kecil di antara mereka. Tidak ada percakapan berat di awal—hanya keheningan yang nyaman, sesuatu yang dulu jarang Sekar rasakan.
Ibunya menatapnya sesekali, dengan tatapan yang berbeda dari dulu. Bukan lagi penuh kekhawatiran seperti saat Sekar pertama kali pulang dalam keadaan hancur, tapi lebih… bangga. “Kamu sudah jauh berubah,” ucap ibunya pelan.
Sekar tersenyum tipis. “Berubah atau dipaksa berubah, Bu?”
Ibunya ikut tersenyum kecil. “Yang penting… kamu tidak berhenti.”
Sekar menunduk sedikit, menghangatkan tangannya di sekitar cangkir. Ia tidak menyangkal itu. Semua yang ia capai sekarang, buku, pekerjaan, rencana rumah, semuanya lahir dari keterpaksaan yang akhirnya ia pelajari menjadi kekuatan.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗