NovelToon NovelToon
The Invincible Hero : Reincarnation

The Invincible Hero : Reincarnation

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Isekai / Barat / Tamat
Popularitas:220.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Arya Atmareja

"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."



Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.

Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19 Misi | Wanita | Penyelamatan

Seiring dengan berjalannya waktu, pikiranku yang terbang bebas, rasa kantuk menyerangku dan menuntunku ke alam mimpi. selamat malam.

***

Pagi hari di kediaman keluarga Ramvoldus. Aku telah bangun pagi sekali dan bersiap untuk melakukan misi dari serikat. Sementara Cordelia dan yang lainnya belum beranjak dari kamar tidur mereka.

"Tuan milo, anda harus sarapan terlebih dahulu. Jika Anda tidak melakukan nya, saya akan mendapatkan kesulitan dari nona besar."

Anna mencegatku di lorong ketika melihatku akan pergi.

Ahh benar-benar merepotkan.

"Baiklah."

Setelah sarapan dan menitipkan pesan pada Anna, aku bergegas melangkah menuju pintu gerbang. Tak lama ku lihat seseorang berlari terengah-engah menuju gerbang. Aku segera menyambutnya.

"Ada apa?"

"Syukur, anda tuan Milo bukan?"

"Begitulah. Ada apa?"

"Aku diminta ketua untuk segera membawa anda ke kantor serikat sekarang juga. Untuk selebihnya ketua sendiri yang akan menjelaskan kepada anda."

"Begitu rupanya, aku memang berniat untuk pergi kesana. Kau istirahatlah disini sebentar. Aku akan pergi terlebih dahulu."

"Baik."

Milo melesat dengan cepat untuk sampai kesana butuh waktu normal sekitar 10 menit berjalan. Dengan kecepatan supernya, dia telah sampai dalam waktu sekejap saja.

***

Ruangan ketua serikat.

"Ini adalah sebuah hal yang sangat penting, sebenarnya misi ini bisa dikategorikan misi level s. Namun saya tidak memiliki petualang dengan level itu untuk saat ini. Dan anda lah petualang yang bisa saya andalkan."

"Aku mengerti. Lalu?"

"Ini adalah misi yang cukup sulit dan rahasia. Misi ini langsung diminta oleh klien. Kerahasiaan dan keberhasilan menjadi tuntutan. Misinya adalah menyelamatkan seorang gadis. Dia di culik malam tadi dari kediamannya."

"Apakah sudah ada titik terang?"

"Ada. Ada petunjuk di kamar gadis tersebut. Mereka menamakan diri mereka dark shadow. Mereka meminta tebusan sebesar 100 juta emas Piru. Itu bukanlah masalahnya. Keluarga sang gadis mampu menyediakan uang tersebut. Tapi harga diri mereka di pertaruhkan."

"Lalu apa tugasku?"

"Tugasmu adalah menangkap para penculik. Dengan kata lain membasmi kelompok penjahat dark shadow. Tentunya setelah sandera dilepaskan. Namun selalu ada skenario terburuk untuk segala hal. Jika mereka tidak melakukannya maka itu akan jadi hal yang sangat buruk."

"Aku mengerti."

"Kau akan bertindak sebagai pengawas kepala keluarga gadis tersebut. Memastikan kita mendapatkan gadis itu kembali. Itu adalah prioritas misi."

"Bagaimana dengan para penjahatnya?"

"Jika keadaan memaksa, kau bisa bertindak sesuai dengan situasi di lapangan. Jika keadaan berpihak pada kita, maka membawa gadis itu adalah tujuan kita. Misi pembasmian akan menjadi permintaan terpisah setelahnya."

"Aku mengerti. Aku akan melakukan sebisaku."

Aku berharap padamu."

***

Di tempat yang telah disepakati. Kami bertemu dengan klien kami. Mereka dari keluarga Lester. Mereka adalah pedagang terkaya di ibu kota. Hugo Lester, ayah dari Felicia Lester yang diculik tampak berwajah murung. Kekhawatiran terlihat sangat jelas di wajahnya.

"Nuala!!! Apakah kau bercanda? Aku meminta petualang terkuat, terhebat yang kau miliki. Dan kau membawakan ku anak ini?"

"Maaf tuan Hugo. Saat ini tidak ada petualang yang lebih kuat darinya di ibu kota."

"Jangan bercanda. Apa kau mau bilang padaku untuk menyerahkan keselamatan anakku pada anak muda ini? Apa kau sudah bosan menjadi ketua serikat?"

Kemarahannya dengan mudah meluap mengingat saat ini ketenangannya pasti hilang mengingat anak gadisnya di tangan penculik.

"Apakah membasmi 100 monster serigala seorang diri cukup untuk membuat anda mengakui kehebatannya?"

Dia sedikit terdiam.

"Apakah kau benar-benar melakukannya anak muda?"

"Demi nama keluargaku, aku bisa memastikan aku memang melakukannya."

"Keluarga Leon. Jika anda masih butuh sedikit dorongan."

Ketua sedikit memberikan tekanan dengan wajah yang tersenyum.

"Keluarga Leon? Jangan bercanda. Keluarga Leon tidak memiliki anak laki-laki di keluarga mereka. Tunggu, jangan-jangan?"

Dia menatap ketua serikat. Sementara ketua serikat membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.

"Dia cocok untuk tugas ini. Tubuhnya yang kecil tidak akan diperhitungkan oleh penjahat-penjahat itu. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."

"Baiklah, aku percaya. Aku serahkan padamu anak muda."

Nada bicaranya mulai mereda.

"Baiklah, waktunya untuk berangkat. Kalian pergilah."

Kami pun menaiki kereta dan berangkat menuju tempat yang telah ditentukan.

Ini adalah misi rahasia, tuan Hugo tidak bisa melibatkan pihak kerajaan, dia tidak bisa mengambil risiko. Sang penculik berjanji akan langsung membunuh outrinya jika kerajaan terlibat.

***

Kami tiba di tempat yang ditentukan, setelah perjalanan hampir setengah hari kami sampai di tepi hutan sebelah selatan wilayah ibu kota.

Kami turun dari kereta yang membawa kami.

"Sepertinya disini."

"Apakah anda yakin tuan?"

Aku lantas mengaktifkan Sena.

"Sepertinya begitu."

Fungsi radar yang kuminta menunjukan beberapa orang bersembunyi di kedalaman hutan. Tak kurang dari lima puluh orang tersebar di beberapa tempat.

Melihat kedatangan kami, mereka mulai bergerak mendekati kami.

"Masuklah ke dalam hutan sendirian dengan barang bawaan mu!

Sebuah suara menggema dari kedalaman hutan.

"Maaf, dia pelayan ku. Aku perlu membawa dia untuk membawakan barang tersebut. Aku mohon."

Pintar sekali, respon cepat seorang pedagang dalam bernegosiasi memang tak bisa dianggap remeh.

"Baiklah kalau begitu."

Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Sementara aku terus melakukan pemindaian mencari tahu letak setiap penjahat. Aku berharap mereka tidak melakukan gerakan, hingga aku bisa dengan mudah menangkap mereka.

"Bersembunyi lah di semak-semak itu. Aku akan bergerak sekarang. Percayalah padaku."

"Tuan Hugo mengangguk dan perlahan menuju semak belukar."

Aku bersiap untuk menyerang. Menurut perhitungan Sena, aku bisa menyerang langsung ke arah sang gadis di tahan kemudian kembali.

Aku mengambil ancang-ancang, menjejakkan kakiku dan berlari menuju goa tempat dia di tahan dengan kecepatan super. Angin berhembus kencang mengikuti jejakku.

Goanya tidak terlalu dalam dan berkat fungsi radar yang kumiliki, aku dengan mudah menemukannya.

Mereka tak punya waktu menahan serangan atau pun mengelak, serangan ku tak bisa diikuti dengan mata. Ini adalah kecepatan super. Dan dengan satu pukulan mereka beterbangan keluar goa.

"Apa itu. Semuanya berkumpul ada penyusup."

Terdengar ada yang memberikan komando dari luar gua. Aku dengan santai mendatangi gadis yang diikat pada sebuah celah batu kemudian melepaskannya.

"Aku Milo, aku di tugaskan ayahmu, tuan hugo untuk menyelamatkan mu. Tenang saja, kau aman sekarang. Berlindunglah di belakangku!"

"Dia mengangguk."

Wajahnya masih tampak ketakutan.

Aku meng aktifkan skill pertahanan, menjaga ada yang menyerang tiba-tiba.

Dengan santai aku menuju luar goa, sementara itu beberapa pria berbadan besar masuk dan langsung menyerang.

"Dia penyusupnya, tangkap orang itu!"

Sambil berlari dan kemudian mengarahkan pedangnya padaku.

Kepp,,,aku menangkap bilah pedang yang mengarah padaku.

"Kau pikir bisa melukaiku dengan pedang jelek seperti ini?"

Aku menariknya kemudian membantingnya ke arah samping. Pria yang memegang oedang ikut terlempar.

"Kurang ajar! Habisi dia!"

Penjahat lainnya menyerang bersamaan.

"Wind blade!"

Aku mengeluarkan salah satu skillku dan orang-orang itu beterbangan keluar goa.

Tangan kiriku menggenggam tangan gadis tersebut yang terasa gemetaran.

"Tidak apa-apa, tenang saja, aku kuat."

Aku mencoba menenangkan nya sambil tersenyum.

Dia hanya mengangguk dengan wajah tertunduk.

Kami sampai di mulut goa, beberapa penjahat yang tadi beterbangan telah bangun kembali. Sementara itu, beberapa penjahat yang tadi tersebar telah berkumpul.

"Oohh,,, rupanya para kecoa sudah berkumpul."

"Kurang ajar!!! Akan ku bunuh kau."

"Ayo kita habisi!"

"Mati kau sana!"

Ujaran kekesalan melimpah ruah.

"Hahaha, apakah kalian, para kecoa tengik sanggup melawanku? Majulah jika kau sudah bosan hidup!"

"Kurang ajar!!"

"Serang!"

Beberapa penjahat serentak menyerangku.

Aku mengarahkan jariku pada mereka dan menjentikkan nya.

Wuzzz wuzz wuzz serangan wind blade dengan bentuk lebih kecil mengarah pada mereka. Aku terus melakukan itu sampai mereka yang menyerangku terkapar dengan kepala mengucurkan darah segar.

"Lihat, aku hanya perlu menjentikkan jari untuk membunuh kalian para kecoa liar."

"Kurang ajar!"

Beberapa penjahat yang tadi tidak bergerak tampak kesal dan bersiap menyerang. Namun seseorang dari mereka menghentikannya.

"Tahan. Dia cukup tangguh, dia adalah lawanku."

Seorang laki-laki dengan perawakan kekar dengan kepala yang di ikat kain melangkah maju.

"Ooohhh,,, pimpinan kecoa. Apakah kau raja kecoa?"

"Aku tidak akan termakan omonganmu dengan mudah seperti mereka."

"Hancurkan dia Gard!"

"Bunuh dia untuk kami!"

"Jangan biarkan dia menghina kita!"

"Hajar saja sampai mati!"

Teriakan teriakan pemberi semangat, layaknya sebuah pertandingan.

Setelah mengatakan itu dia mengambil langkah menyerang.

Gerakannya cukup cepat, namun tentu saja tak secepat gerakanku.

Aku melepaskan genggamanku. Dengan kecepatanku aku berlari ke depan dan mendaratkan sebuah tinjuan di perut.

Bammm!!!

Tubuhnya terlempar ke arah belakang. Terguling guling di tanah kemudian berhenti dan tak bangkit lagi.

Semua terlihat kaget dan terheran-heran, aku yang tiba-tiba muncul dan kemudian tubuh orang itu terbang begitu saja dan tak bisa berdiri kembali.

Melihat orang terkuat mereka andalan mereka jatuh terkapar, mereka diam dalam ketakutan. Saling melirik satu sama lain.

"Kalian! Dasar orang-orang bodoh!"

Tiba-tiba sesosok pemuda dengan perawakan lebih kecil dari Gard namun masih terlihat gagah muncul dari balik pohon.

Dia berjalan dengan menodongkan pisau di leher tuan Hugo. Dengan seringai jahatnya, dia merasa dia telah berada diatas angin.

"Heh."

Aku tersenyum sinis.

"Ayah!"

"Putriku!"

Ayah dan ank saling memanggil.

"Tenang saja, percayalah padaku!"

Aku melihat ke arah Felicia.

"Tapi,,,"

"Tenang saja, semuanya akan segera ku selesaikan."

Aku kembali melihat ke arah orang itu.

"Kalau kau berge…"

Suaranya tidak tuntas.

Milo sudah berada tepat di depannya memegang pergelangan tangannya dengan erat kemudian meremasnya.

"Aaaaaaahhhh!"

Dia menjatuhkan pisau yang dipegang dan terhuyung memegang tangannya.

"Sialan kau!"

Baammm..

Pukulanku mendarat di perutnya. Tubuhnya terbang dan menabrak pohon, dia jatuh terduduk dan kehilangan kesadaran.

Aku melihat kearah para penjahat yang masih tersisa. Sontak mereka berlarian.

"Tak akan ku biarkan!"

Aahh uuuhh uwaahh aaahhh tolong.

Beberapa penjahat terdengar suaranya, bahkan ada yang meminta tolong.

"Fuuhhh,,, selesai juga."

Milo menyeret beberapa penjahat dan mengumpulkannya ke dalam goa. Dia terus melakukan nya sampai semua penjahat masuk ke dalam goa.

"Baiklah. Sihir bumi!"

Milo menyentuh tanah dengan kedua telapak tangannya, kemudian batu-batu berbentuk seperti duri muncul di sekeliling mulut goa, menutupi semua pintu masuk goa hingga tak mungkin bagi manusia untuk bisa melaluinya meninggalkan udara yang tetap bisa keluar masuk agar mereka bisa tetap hidup.

"Baiklah dengan ini selesai. Ayo kita pulang!"

Milo tersenyum pada ayah dan anak tersebut yang dari tadi saling rangkul.

Mereka berdua masih dalam keadaan trauma, tubuh mereka masih gemetar. Meskipun aku berulang kali mengatakan bahwa semua sudah tidak apa-apa.

Kemudian setelah perjalanan singkat menyusuri jalan setapak kami keluar dari hutan.Kami pun menaiki kereta untuk kembali ke kota.

"Kalian, apakah kalian baik-baik saja? Felicia sayang, mereka tidak menyakiti mu kan? Kamu baik-baik saja kan?"

Seorang wanita cantik awal usia empat puluhan menyambut kami, dia tak henti-hentinya memeluk Felicia sambil menangis.

Dia adalah ibunya Felicia, Liana Lester.

"Ibu,,,"

"Syukurlah kau baik-baik saja."

Aku segera permisi meninggalkan mereka, aku harus segera melapor pada serikat.

***

"Aku memang tak salah menilaimu. Terimakasih Milo."

"Sama-sama, tolong urus sisanya!"

"Baiklah, kami akan segera menghubungi pihak tentara kerajaan untuk mengurus para penjahat itu. Kau bebas sekarang."

Aku Pun pergi meninggalkan gedung serikat. Berjalan santai menuju kediaman keluarga Ramvoldus. Sebuah bak mandi sudah menungguku untuk melepas lelah.

***

"Selamat datang kembali tuan Milo."

Kali ini Robert sang kepala pelayan menyambutku yang kebetulan berpapasan.

"Aahh, terimakasih "

Aku tersenyum dan membungkukkan badan.

"Apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk anda Tuan?"

"Ummm,,,"

Aku mengerutkan dahiku.

"Jika nona besar bertanya tentangku, katakan saja aku masih dalam misi dan belum pulang kerumah. Aku ingin istirahat."

"Baik, saya mengerti."

"Terimakasih."

"Sama-sama tuan."

Dengan hati-hati aku menyelinap diantara tiang-tiang dan berlari menuju ke arah kamarku. Perlahan aku membuka pintu dan kemudian masuk kedalam kamar. Aku menutup pintu kemudian menghela nafas.

1
coco
sungguh kau sangat naif sekali Milo, seharusnya kau sudah bisa bersikap dewasa karna kau sudah mengingat masa lalu mu sebelum reinkarnasi,hahahahah saya sungguh kasihan sekali sama si windy dia menjaga cintanya udah sang MC tapi si MC nya labih hahahahha,mau sangat naif milo
coco
kasian sama si windy,dia yg udah nemenin si MC dari kecil dan dia juga yg duluan tunangan sama si MC ,tapi malah dapet bekas,mcnya udah ngga perjaka hahahahah sangat lucu kali,Windy yg cinta pertama nya ngga dapet apa apa hahahahha,kasian sekali kau Windy di tinggal sama tunangannya,tapi tunangannya malah enak enak kan sama kekasih baru nya hahahaaha
Pendekar New
ternyata mc'nya tolol n o'on..maklum d dunia sebelumnya mc'nya cupu...
Ajan
puas
Habib Joseph
Thor please jangan sama aurelia !
Anomyus
[ Balik lagi yuk, baca karya Author !
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]
Raysonic Lans™
selalu
~Fallen•Heart~
terlalu pintar sangat pintar Keren
~Fallen•Heart~
knp Langsung Di skip pagi
~Fallen•Heart~
dah ketebak plotnya pasti Tu cewe jadi istrinya juga
*"_Yinzi06_"*
adeknya mna cok?
Jeffri Hornbill
dah lah malas bacanya poligami Mulu... alasan terpaksalah apalah...
Jeffri Hornbill
ntar.... ini kan dia udah tau kekuatan nya unlimited dan pemikiran nya juga orang dewasa... kenapa masih bego.
Nurul
nyonya apakah anda termasuk shotacon
Nurul
lagi ngambek pasti dia
Nurul
ayahnya Milo terlalu melankolis🤣🤣
Adryan Famz
hahahaha ini yg gua suka kekuatan tanpa batas lanjutkan tor cerita mu membuat darah ku mendidih
Asrianto Anto
kok lama ya upnya, semangat terus thor
Ace: sorri nih mas bro, ane bner2 stuck nih,bdah coba nulis lgi tapi feel nya gk dapet, tapi ini udah mulai kangen lagi nih buat nulis 😊
total 1 replies
Asrianto Anto
lanjut thor
abhank ajha
MC terlalu lemah terhadap perempuan di atur2 trus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!