-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 19 - Sesuatu yang Buruk Terjadi
Singkat cerita datanglah Ujian Nasional yang di tunggu-tunggu oleh Gus Faiz dan kawan-kawan. Gus Faiz tidak menemukan kegugupan saat mengerjakan, karena soal-soal yang dikeluarkan dalam ujian masih berdasarkan materi yang telah di pelajarinya selama 3 tahun.
Namun ntah mengapa dia merasa gelisah. Dia tak bisa menjelaskan dari mana perasaan gelisah itu datang, yang jelas wajah Ilham dan Akbar kini membayanginya.
“Ada apa dengan saya?” tanyanya dalam hati.
Pelajaran yang terakhir yang harus di laluinya adalah pelajaran matematika, ilmu pasti, salah satu cabang ilmu yang disukai Gus Faiz.
Meski diliputi rasa gelisah, Gus Faiz terus mengerjakan soalnya, dan dalam waktu 30 menit, dia sudah selesai mengerjakan semua soal ujian. Karena peraturan yang tidak membolehkan siswa yang telah selesai keluar ruangan sebelum waktu habis membuat Gus Faiz tetap berada di dalam ruangan hingga waktu ujian benar-benar habis.
Gus Faiz mengedarkan pandangannya ke Jendela, dan betapa terkejutnya dia melihat ada Ilham di sana. Namun, saat Gus Faiz hendak memastikan lagi ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Dia terus beristighfar dalam hati.
Setelah dibolehkan mengumpulkan mengumpulkan soal ujian, Gus Faiz pun keluar. Di luar dia melihat Akbar sedang bermain basket.
“Akbar..” seru Gus Faiz.
“Is, lo kenapa?” tanya Adam, teman sekamar Gus Faiz.
Gus Faiz menoleh ke arah Adam lalu menoleh lagi pada Akbar yang di matanya sedang bermain basket. Namun, saat Gus Faiz menoleh lapangan terlihat lengang tanpa satupun siswa yang berada di tengah lapangan. Lapangan memang sengaja di kosongkan agar tidak mengganggu jalannya Ujian Nasional.
“Astaghfirullah. Tidak apa-apa.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz mengusap wajahnya gusar.
“Oiya, nanti abis Asar, lo disuruh ngadep ke Abah, Is.” kata Adam.
“Baik, terima kasih.” kata Gus Faiz.
Singkat cerita, seusai salat asar, Gus Faiz pun menghadap Abah. Gus Faiz mulai memikirkan ada apa gerangan Abah ingin menemuinya. Sepertinya tentang beasiswa.
“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” salam Gus Faiz pada Abah.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Abah menjawab salam. “Duduk, Gus.” kata Abah.
“Baik, Abah. Terima kasih.” kata Gus Faiz. Diapun duduk..
“Bagaimana, Gus. Perkembangan proses beasiswamu?” tanya Abah.
“Alhamdulillah lancar, Bah. Tinggal berangkat dua bulan lagi.” kata Gus Faiz.
“Baguslah kalau begitu.” kata Abah.
Tak lama kemudian, Aisha datang mengantarkan minuman. Pipi Aisha merona mengetahui orang yang sedang berbincang dengan ayahnya adalah Gus Faiz. Laki-laki yang diam-diam disukainya.
“Terima kasih.” jawab Gus Faiz.
Aisha hanya mengangguk. Abah memerhatikan tingkah Aisha. Beliau tahu persis apa yang sedang dirasakan putrinya. Beliau bahkan sangat setuju bila Gus Faiz kelak akan menjadi menantunya. Setelah mengantarkan minuman, Aisha langsung berpamitan masuk ke dalam.
Dia tak benar-benar masuk ke dalam. Karena merasa penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Gus Faiz dan Abahnya.
“Putri abah cantik, bukan?” tanya Abah.
Gus Faiz yang bingung harus menjawab apa hanya mengangguk. “Cantik, Abah.” katanya.
“Apakah kamu menyukai putri abah?” tanya Abah.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Semua orang terperanjat.
“Faiz!” teriak Aaron.
“Abah, maafkan saya. Dia menerobos masuk dengan membabi buta.” seru Adam. Teman sekamar Gus Faiz.
Jantung Gus Faiz berdegup dengan kencang. Perasaan tidak enak menyelimutinya. Melihat Aaron yang berani masuk ke rumah Abah membuat Gus Faiz tahu bahwa sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi.
Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ilham.. –batin Gus Faiz.
“Bang Ilham dan Akbar..” Aaron tak bisa melanjutkan kata-katanya, air matanya berlinangan.
Jantung Gus Faiz semakin berdegup dengan kencang. Tanpa menunggu lanjutan cerita dari Aaron, Gus Faiz buru-buru berdiri dan mencium tangan Abah.
“Maafkan Faiz, Abah. Faiz izin pergi.” kata Gus Faiz.
Pikiran Gus Faiz yang hanya tertuju pada kedua sahabatnya itu langsung berlari keluar rumah Abah Kyai tanpa mengucapkan salam karena lupa. Aaron buru-buru mengejar Gus Faiz. Tidak ada waktu lagi.
Aaron melajukan motornya dengan membabi buta, Gus Faiz terus berdoa dalam hati agar tidak terjadi pada Ilham dan Akbar.
“Apa yang terjadi, Ron?” tanya Gus Faiz.
Aaron hanya menggeleng. Dia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Ilham dan Akbar. Lidahnya kelu, hanya air mata yang tumpah begitu saja, yang menjelaskan bagaimana kondisi yang sebenarnya.
Melihat Aaron tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Gus Faiz semakin cemas. Motor Aaronpun kian kencang menembus jalanan.
Dan benar saja yang dipikirkan Gus Faiz. Kini mereka sampai si sebuah rumah sakit. Jantung Gus Faiz berdegup dengan kencang. Merekapun sampai di depan ruangan ICU. Gus Faiz melihat Yeni, Ibu Ilham sedang menangis, dan Adi, Papa Ilham terus mengusap istrinya dengan mata merah menahan tangis.
“Om, tante..” kata Gus Faiz.
“Dia menunggumu, Nak. Masuklah.” kata Adi.
Gus Faizpun masuk ke dalam ruangan ICU. Aaron di belakang Gus Faiz mengekori. Ruangan itu hanya hanya dihuni oleh satu pasien, yaitu Ilham. Karena keluarga Ilham memilih kamar kelas 1 VVIP untuk kesembuhan anaknya.
Setelah masuk, Gus Faiz mendapati tubuh Ilham yang dipenuhi alat rumah sakit. Air mata Gus Faizpun mengalir. Gus Faiz menghampiri Ilham.
“Nindy.. Faiz..”
Lamat-lamat dia bisa mendengar suara Ilham yang terus memanggil nama Nindy dan dirinya. Dari sini, Gus Faiz tahu bahwa Ilham benar-benar menyayangi Nindy.
“Ini saya, Faiz, Ham..” kata Gus Faiz.
Ilham membuka mata. Mendapati Gus Faiz ada di sampingnya, Ilham mencoba membuka selang oksigen dari hidung dan mulutnya. Aaron buru-buru melepaskan, dia sangat tahu bahwa kakaknya ingin sekali mengatakan sesuatu pada Gus Faiz.
“J-ja-ga, Nindy.” kata Ilham.
“Iya. Saya janji, saya akan menjaganya seumur hidup saya.” kata Gus Faiz.
“M-makasih.” kata Ilham.
Ilham memejamkan matanya lega. Lalu membukanya lagi.
Janji itu begitu saja diucapkan Gus Faiz. Meski Gus Faiz tidak pernah bertemu dengan Nindy dan tidak tahu bagaimana perangai seorang Nindy, ntah mengapa hatinya terus mengatakan bahwa dia harus menuruti semua kemauan Ilham.
“Ak-bar?” tanya Ilham.
“Akbar baik-baik saja, Bang.” kata Aaron buru-buru.
Aaron jelas berbohong. Namun, sesuai instrupsi dokter, keluarga tidak boleh memancing rasa sedih pada Ilham. Kondisi Ilham sangatlah tidak memungkinkan untuk diberitahu hal sebenarnya.
Ilham hanya mengedipkankan mata. Keadaan Ilham semakin lemah.
Yeni dan Adipun kini mendekat.
“Maafkan Mama, Nak. Kalau selama ini mama ada salah sama kamu.” kata Yeni, sambil mencium tangan Ilham.
Ilham mengangguk.
“Maafkan, Papa juga, Nak. Maafkan Papa yang suka memarahimu.” kata Adi. Mencium kening Ilham.
Ilham mengangguk lemah.
“Maafin Aaron, Bang Ilham.” kata Aaron. Sambil terisak. Air matanya terus menderas. Walaupun mereka sering bertengkar di rumah namun, Ilham adalah kakak yang baik untuk Aaron.
Ilham mengangguk, semakin lemah.
“Maafkan saya, Ham.” kata Gus Faiz.
Yeni dan Adi kembali memberikan ruang agar Gus Faiz bisa mendekat pada Ilham. Air mata Ilham terus menderas.
Ilham mengangguk lagi.