Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Tekad di Bawah Bulan
Malam itu, Sekte Langit Biru kembali tenggelam dalam keheningan. Angin gunung bertiup membawa aroma pinus, bercampur dengan sisa-sisa hujan yang masih menempel di dedaunan. Bulan menggantung bulat di langit, sinarnya menimpa halaman sekte yang sudah kosong, hanya menyisakan bayangan pepohonan dan jejak-jejak kaki dari latihan sore tadi.
Lin Feng duduk bersila di kamarnya yang sederhana. Dinding kayu berderit setiap kali angin malam masuk melalui celah-celah kecil. Tubuhnya masih terasa sakit, terutama di bagian dada tempat pukulan Liu Tian mendarat keras tadi. Sesekali ia mengerang pelan, tetapi wajahnya tetap tenang. Tetesan darah yang mengering di sudut bibirnya seolah menjadi pengingat bahwa hari ini ia belum benar-benar jatuh.
Di hadapannya, sebuah lampu minyak berkelap-kelip, cahayanya redup, menari seperti ingin padam. Namun justru dalam cahaya redup itulah Lin Feng merasakan ketenangan. Tangannya gemetar saat ia meletakkan pedang kayu di pangkuannya. Senjata sederhana itu tampak usang, bahkan terdapat retakan di ujungnya akibat benturan dengan Liu Tian. Tetapi bagi Lin Feng, pedang kayu itu adalah simbol tekadnya.
'Aku harus bertahan', pikirnya. ''Jika aku menyerah hanya karena satu kekalahan, maka aku memang tidak pantas berada di sini.'
Ia menarik napas panjang, lalu mulai bermeditasi. Suara napasnya perlahan teratur, meski rasa sakit terus mengganggu. Dalam kesadarannya yang semakin dalam, ia membayangkan bayangan pertempuran tadi. Setiap gerakan Liu Tian, setiap ayunan pedang, ia ulangi di dalam pikirannya. Ia tidak hanya mengingat untuk menakut-nakuti dirinya sendiri, tetapi untuk mempelajari.
‘Gerakan ketiga… terlalu cepat. Aku harus memperhatikan kakinya.’
‘Benturan keempat… hampir membuatku jatuh. Tapi jika aku menggeser tubuhku sedikit, aku bisa menahan lebih baik.’
Begitulah ia terus mengulang-ulang. Seolah setiap luka yang ia derita adalah guru yang berbicara tanpa kata.
***
Di sisi lain sekte, di sebuah paviliun yang lebih besar dan mewah, Liu Tian duduk dengan wajah muram. Lampu minyak di ruangannya jauh lebih terang, menyoroti dinding berlapis kayu cendana dan perabotan mahal yang hanya dimiliki murid pilihan. Tetapi semua kemewahan itu tidak mampu menenangkan gejolak hatinya.
Pedang logam tipis tergeletak di hadapannya, berkilat memantulkan cahaya. Tangannya berulang kali menggenggam gagangnya, lalu meletakkannya kembali dengan kasar.
“Lin Feng…” gumamnya. Nama itu terasa seperti racun di lidahnya. “Seorang pendatang dari desa kecil, berani membuatku terlihat lemah di depan semua orang?”
Ia memejamkan mata, teringat jelas bagaimana sorakan para murid tadi bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk Lin Feng. Sorakan yang seharusnya hanya milik dirinya. Itu bagaikan pisau menusuk harga dirinya.
“Tidak,” bisiknya lirih, penuh tekad. “Aku akan membuatmu menyesal. Aku akan tunjukkan siapa yang pantas berdiri di puncak sekte ini.”
Ia lalu berdiri, membuka jendela kamarnya. Udara malam masuk, membawa dingin yang menusuk tulang. Bulan purnama bersinar terang, menerangi wajahnya yang tegang. Di bawah cahaya bulan itu, kebencian Liu Tian semakin mengakar.
Sementara itu, Yunhai duduk sendiri di ruang meditasi khusus para tetua. Di hadapannya terdapat dupa yang mengepul tipis, menyebarkan aroma herbal yang menenangkan. Wajahnya masih tenang seperti biasanya, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Ia mengingat jelas duel sore tadi. Lin Feng yang dipandang rendah, tetapi tetap bangkit meski tubuhnya sudah hampir tak sanggup. Dan Liu Tian, murid berbakat yang nyaris kehilangan kendali hanya karena rasa iri.
“Lin Feng…” gumamnya pelan. “Api tekadmu sudah menyala, meski tubuhmu masih rapuh. Sedangkan Liu Tian… api kebencianmu bisa membakar dirimu sendiri suatu hari nanti.”
Ia menutup mata sejenak, merasakan arus energi di sekeliling sekte. Ada banyak murid dengan potensi, tetapi jarang ada yang memiliki tekad sekuat Lin Feng. Yunhai tahu, jalan di depan pemuda itu tidak akan mudah. Namun justru karena itu, ia merasa harus memperhatikannya lebih dekat.
***
Malam terus bergulir. Di kamar sederhana itu, Lin Feng membuka matanya setelah lama bermeditasi. Bulan kini sudah tinggi, sinarnya menembus jendela kecil dan jatuh tepat di wajahnya.
Ia perlahan berdiri, meski tubuhnya bergetar karena luka. Ia melangkah ke luar, menuju halaman kecil di samping kamarnya. Di sana, rerumputan basah oleh embun malam, dan udara begitu dingin. Namun justru di tempat itulah ia mengangkat pedang kayu retaknya.
“Sekalipun hanya dengan pedang kayu ini,” ucapnya lirih, “aku akan berlatih sampai tubuhku tidak mampu lagi bergerak.”
Ia lalu mulai mengayunkan pedang. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Meski setiap gerakan membuat dadanya nyeri, ia tidak berhenti. Suara pedang kayu membelah udara malam, berulang-ulang, mengisi keheningan sekte.
Keringat bercampur darah menetes di pelipisnya, tetapi matanya bersinar tegas. Dalam setiap ayunan, ia membayangkan sosok Liu Tian. Dalam setiap hembusan napas, ia bertekad tidak akan jatuh kedua kalinya dengan mudah.
“Jika aku harus menanggung seribu luka,” katanya pada dirinya sendiri, “aku akan tetap bangkit seribu satu kali.”
Di atas sana, bulan seakan menjadi saksi. Sinar lembutnya membungkus tubuh Lin Feng, seolah memberi kekuatan. Tekadnya yang dibentuk dari rasa sakit perlahan menjadi pondasi baru.
Keesokan harinya, saat matahari baru terbit, beberapa murid yang bangun pagi untuk berlatih terkejut melihat Lin Feng masih berada di halaman kecil itu. Tubuhnya basah oleh keringat, napasnya terengah, tetapi pedang kayu di tangannya terus berayun.
“Dia berlatih semalaman?” bisik seorang murid dengan kagum.
Yang lain menambahkan, “Tubuhnya pasti sudah hancur, tapi dia masih berdiri. Gila… tekad apa yang dimilikinya?”
Bisikan-bisikan itu mulai menyebar. Perlahan, nama Lin Feng yang semula dipandang rendah kini berubah menjadi bahan pembicaraan lain. Bukan lagi tentang kelemahannya, tetapi tentang keteguhan yang jarang dimiliki murid manapun.
Namun tidak semua orang senang. Dari kejauhan, Liu Tian melihat pemandangan itu dengan wajah gelap. Setiap kali mendengar murid lain membicarakan Lin Feng, hatinya semakin dipenuhi bara iri.
‘Kau pikir dengan berlatih semalaman kau bisa menyaingiku?’ pikirnya penuh sinis. ‘Aku akan buktikan bahwa kau hanyalah ilusi yang sebentar lagi hancur.’
***
Hari itu, Yunhai kembali mengumpulkan murid di halaman latihan. Seperti biasa, ia berdiri tegak dengan jubah birunya. Tetapi kali ini, matanya sempat berhenti sejenak pada Lin Feng. Ada secercah bangga yang ia sembunyikan dalam tatapannya.
“Mulai hari ini,” ucap Yunhai, “latihan kalian akan lebih berat. Kekuatan tanpa tekad hanyalah kosong, dan tekad tanpa kekuatan hanyalah sia-sia. Maka, kalian akan belajar menyeimbangkan keduanya.”
Murid-murid mengangguk. Beberapa di antaranya melirik Lin Feng, yang meski tubuhnya masih penuh luka, berdiri tegak tanpa goyah.
Latihan pun dimulai. Sorak, benturan, dan hentakan kaki kembali memenuhi udara. Namun di antara semua itu, tekad seorang murid bernama Lin Feng semakin jelas: ia akan menempuh jalan yang tak akan dipadamkan oleh siapa pun.
Malam sebelumnya, di bawah sinar bulan, ia telah membuat sumpah pada dirinya sendiri. Dan sumpah itu kini tertanam kuat, siap membawanya ke jalan panjang penuh rintangan.
Sejak malam itu, hubungan Lin Feng dan Liu Tian tidak pernah sama lagi. Liu Tian melihat Lin Feng sebagai ancaman, sementara Lin Feng melihat Liu Tian sebagai batu ujian yang akan menguatkannya.
Dua jalan berbeda kini sudah terbentang. Satu dipimpin oleh kebencian, satu dipandu oleh tekad. Dan di bawah bulan yang masih menggantung di langit, seolah takdir ikut tersenyum, menanti benturan besar yang suatu saat pasti terjadi.
Karena malam itu, di bawah sinar bulan, tekad seorang pemuda bernama Lin Feng benar-benar lahir.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa