Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHORMATAN
Runa menjalankan aktifitas seperti biasa. Pergi bekerja, merevisi skripsi, sesekali berbaur dengan masyarakat sekitar rumahnya. Disamping itu tentu saja juga mengusahakan kemajuan rencananya bersama Rangga.
Tanpa Runa sadari, setelah pertemuan dengan Abhi, pertemanannya dengan pelatih renang itu berjalan baik. Abhi selalu memberi kabar dan menanyakan kabar Runa, berkirim pesan dari pagi hingga pagi kembali.
Jejak-jejak perhatian mulai Abhi tinggalkan, semua terasa begitu natural. Runa adalah pihak yang tidak sadar, bahwa pertemanan antara lelaki dan perempuan tidak ada yang benar-benar tulus, perasaanya pada Rangga membuatnya abai sejauh apa Abhi melancarkan modus.
Ayah dari Razqa menepati janjinya, dia sering menemui anak mereka, belakangan Razqa semakin ceria dan jarang sekali menanyakan hal-hal yang kerap dia tanyakan dulu.
Runa melipat tisu kecil-kecil untuk menyumpal bagian belakang sepatunya, dia akan menghadiri pameran mobil yang namanya hampir sama dengan merk minyak goreng. Sebuah event besar dan menjadi pasar segar untuk mereka para sales girl.
Setelah memakai sepatu yang masih sedikit longgar, Runa memasukkan jaket ke dalam tas. Dia tak ingin ada yang meminjamkan jaket lagi untuknya, cukup Abhi saja yang lumayan merepotkan.
Ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Rangga. Runa tersenyum dan menjawab panggilan itu.
Namun seketika senyuman itu berubah panik karena Rangga mengabarkan bahwa dia sudah dekat dengan kediaman Runa dan akan tiba beberapa menit lagi. Runa tak ingin Rangga melihatnya dengan pakaian yang berlabel merek sebuah rokok apalagi dengan dandanan yang begitu mencolok.
Sudah tak mungkin untuk berganti pakaian, yang sempat dilakukannya hanya mengambil jaket yang tadi dia masukkan ke dalam tas.
Deru mesin mobil berhenti tepat di halaman rumahnya.
"Agak kesini aja, Mas. Disitu sempit nanti susah kalau ada kendaraan lewat."
Runa mengarahkan Rangga untuk parkir lebih ke pinggir.
Wajah Runa semakin masam saat melihat Rangga turun bersama Achy.
"Hay Runa," sapa Achy seolah ingin memamerkan suami yang telah berhasil direbutnya.
"Ayo mas, masuk!"
Rangga terkejut melihat mantan istrinya berbalut busana minim, memakai stocking dengan sepatu hak tinggi, dan ... seolah memakai topeng dengan riasan wajah yang begitu mentutupi sisi lembut dan natural seorang Aruna.
"Kamu mau kemana?"
Rangga memegang bahu Runa, wanita itu hanya menggeleng dan meminta Rangga juga Achy untuk masuk.
"Silakan masuk," ajak Runa.
Suami istri itu sudah duduk di sofa yang kasar peninggalan tuan rumah. Rangga mengamati sekeliling, tiap sisi tak lepas dari pengamatannya. Miris, dia tak suka Runa hidup seperti ini.
Achy justru fokus dengan bingkai besar foto pernikahan yang Runa pajang di dinding. Sedang dia tak punya satupun foto seperti itu, karena Rangga memasang pengumuman dilarang mengambil gambar saat resepsi mereka tempo hari, Rangga juga mengusir fotografer terkenal yang sudah dibayar Achy.
"Aku ambilkan minum sebentar," ucap Runa demi menghindari canggung yang mengukunf ketiganya.
Setelah mengambilkan dua gelas air putih, Runa meletakkannya di atas meja.
"Maaf ya Mba Achy, cuma ada ini. Aku dan Mas Rangga sama-sama gak suka minuman manis, kami hanya minum air putih," ucap Runa.
"Gak masalah, kami gak lama kok."
Entah mengapa mendengar Achy menggunakan kata "kami" sebagai kata ganti untuk mereka berdua, membuat jantung Runa terasa terhimpit. Panas, dia benci melihat semua ini. Ingin rasanya tidak peduli lagi, tapi dia terlanjur menaruh harap pada lelaki ini.
"Sayang, aku kesini sama Achy biar kamu dengar sendiri dari Achy tentang perjanjian kemarin," tutur Rangga, "tapi sebelumnya jawab jujur, kamu mau kemana berdandan seperti ini? Aku gak suka lihat kamu dilihatin orang-orang seperti ini. Kamu kerja apa?" katanya menginterogasi.
"Nanti juga kamu tau, Mas. Sekarang aku pengen denger penjelasan Mba Achy," tukas Runa.
"Iya Runa, aku sama Mas Rangga sudah sepakat, setelah anak kami lahir ...."
Kalimat Achy menggantung karena disergah oleh Rangga.
"Anak mu, Achy! Belum ada yang bisa membuktikan kalau itu anak ku!" tegas Rangga.
Runa mengurut pelipisnya, migrain, vertigo dan segala jenis sakit kepala menyerang tiba-tiba saat mendengar tiap kalimat Achy.
Dilihatnya Rangga begitu risih dan selalu berkata kasar terhadap Achy. Tampak kebencian yang tidak termaafkan dari pancaran mata Rangga saat terpaksa melihat dan berbicara dengan Achy.
"Mas Rangga jangan terlalu membenci Mba Achy, aku takut nanti Mas Rangga malah harus termakan omongan sendiri," tuturnya.
"Sayang, maksud kamu apa?"
"Dua elemen itu sangat mudah terkonversi, benci dan cinta bedanya hanya setipis selaput dara," sindir Runa.
"Aruna!" tukas Rangga merasa malu hati.
"Hanya dengan benci, nyatanya Mas Rangga bisa merobek selaput kehormatan Mba Achy!" geram Runa lagi.
Wajah Achy memerah, entah dia harus marah dengan hinaan Runa atau justru malu dengan dosanya.
"Sejak kapan kamu belajar bicara kotor dan kasar?"
"Sejak kebersihan cinta dan kelembutan sebagai seorang istri dikhianati oleh kalian berdua!"
Semuanya terdiam, membiarkan keadaan membekukan ego masing-masing sehingga tak ada lagi kalimat setelahnya.
Runa tak tau entah dari mana kekuatannya tadi, untuk pertama kalinya dia merasa berucap tidak sopan terhadap Rangga. Mungkin juga karena cemburu dan emosi yang tak bisa dikuasainya saat berhadapan langsung dengan Achy.
"Kita lihat sampai mana Mba Achy bisa memenuhi janjinya untuk pergi dari kehidupan Mas Rangga sejauh-jauhnya. Kalau kalian masih ada keperluan silakan disini saja, saya harus pergi bekerja!"
Runa berdiri sambil meraih kunci motornya di atas meja. Rangga dengan sigap ikut meraih tangan itu.
"Aruna, tunggu! Aku antar kamu ya, biar Achy yang bawa mobilnya. Nanti aku bisa pulang pakai taxi."
"Mas Rangga, aku nungguin kamu menyelesaikan masalah ini. Sampai semuanya selesai dan kamu bisa buktikan kata-kata mu, tolong jaga batasan kita. Bagaimanapun juga, kamu sekarang adalah suami dia, dan aku bukan tukang rebut hak orang lain seperti perempuan ini!" Telunjuk Runa lurus dan tajam tepat di depan mata Achy.
"Selama kita gak sama-sama, aku juga akan instkropeksi dan memperbaiki apa-apa yang jadi kekurangan dalam diri ku, jika sudah waktunya nanti aku ingin semua kembali bermula, bukan menyambung cerita duka."
Rangga dengan berat hati pergi terlebih dahulu meninggalkan kontrakan Runa, Achy hanya terdiam mengikuti langkah suaminya.
Runa menahan seribu sesak di dada, juga menahan air matanya agar tidak menangis. Cinta, benarkah cinta rasanya sesakit ini. Sesatkah cintanya? Buta kah mata hatinya?
Dia harus berhasil menghapus gundah saat itu juga agar tak ada yang bisa mengartikan senyum palsu yang merekah dari bibirnya yang merah.
***