Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku setuju," sela Aluna sebelum Sang Kakak menyelesaikan perkataannya.
Dan jawaban Aluna itu membuat Andi dan yang lainnya menatap ke arahnya.
"Dek, umur kamu baru 20 tahun. Masih banyak hal yang bisa kamu raih. Selain itu kamu juga belum mengenal laki-laki bernama Marvin itu dengan baik. Bisa-bisanya kamu langsung merima lamarannya tanpa pertimbangan," protes Andi.
Sebagai kakak pertama dia harus bisa memastikan bahwa adiknya akan hidup bahagia dengan pasangannya setelah menikah nanti.
"Kak, meski aku belum mengenal Marvin lebih dalam, tapi aku percaya dia adalah pemuda yang baik. Semalam dia bilang akan datang untuk melamarku pagi ini dan lihat, dia benar-benar datangkan? Bukankah itu cukup untuk dijadikan bukti kalau dia beneran serius terhadapku?" jawab Aluna.
"Selain itu Marvin adalah pemuda yang diinginkan oleh Chika. Jadi dengan menerima lamarannya, artinya aku berhasil mengalahkan Chika dan membuat dia kesal," lanjut Aluna dari dalam hati.
Ia tersenyum melihat Chika yang terlihat begitu kesal.
Sementara Andi, Armand, dan Aruan juga ikut memperhatikan Chika. Setelah diamati ternyata yang mereka dengar dari suara hati Aluna itu ada benarnya juga. Chika terlihat sangat ingin Aluna menolak lamaran tersebut dan itu bukan karena khawatir. Tapi, lebih terlihat tidak suka.
"Kak Luna, tapi kamu baru bertemu dengan Marvin sekali. Bagaimana kalau ternyata dia jahat? Atau bagaimana kalau ternyata dia laki-laki tukang selingkuh yang memiliki banyak wanita di luaran sana, bukankah hal itu bisa membuat Kak Luna sedih," ucap Chika yang ingin terlihat pedulii.
"Kak, meski kita bukan saudara kandung, tapi, aku tidak ingin melihat Kakak patah hati," lanjut Chika setengah memaksa.
Aluna bersedekap sambil menatap sinis Chika.
"Semakin kamu ingin aku menolak Marvin, justru membuatku semakin ingin menerima lamarannya," batin Aluna lagi.
"Chika, aku senang kamu mengkhawatirkanku. Tapi, keputusanku sudah bulat. Aku akan menerima lamaran dari Marvin," balas Aluna.
"Tapi, Kak, Kak Andi kelihatannya juga keberatan dengan lamaran itu. Apa Kakak akan tetap nekad menerima?"
Kali ini Chika membawa nama Andi untuk bisa mempengaruhi keputusan Aluna.
"Aku tidak peduli misal Kak Andi, Kak Armand, ataupun mama tidak setuju aku menerima lamaran itu. Meski aku tidak mengenal dekat Marvin di kehidupan sebelumnya, tapi, setelah aku mati hanya dia yang menangisi kepergianku. Sementara keluargaku sendiri justru terlihat senang saat aku mati," batin Aluna lagi.
Dia ingat bagaimana Marvin terlihat begitu sedih saat berkunjung ke makamnya. Pemuda itu berada di makamnya hampir seharian.
"Apa maksud ucapan Luna? Kehidupan sebelumnya?"
Andi, Armand, dan Aruan bertanya-tanya dalam hati.
"Kak, apa maksud perkataan Luna ya?" bisik Armand di telinga kakak pertamanya itu.
"Aku juga tidak mengerti," jawab Andi.yang juga bingung dengan maksud perkataan Aluna itu.
"Apa jangan-jangan Luna melihat kita semua bersikap buruk padanya di dalam mimpi?" tanya Armand menduga-duga.
"Hem, bisa jadi. Tapi, jika semua itu hanya mimpi, Luna tidak akan mungkin sesedih ini," jawab Andi.
Kakak pertama Aluna itu melihat kesedihan di mata adik perempuannya saat mengatakan keluarganya tidak peduli.
Andi memegang da-danya sendiri yang tiba-tiba terasa sesak.
"Apa aku sejahat itu?" batinnya.
"Kak?"
Armand menatap Andi.
Andi berjalan mendekati Aluna dan berhenti tepat di sampingnya.
"Apapun yang Luna inginkan, aku pasti akan mendukungnya, termasuk menerima lamaran Marvin," ucap Andi.
"Terima kasih, Kakak karena sudah mau mendukungku."
Aluna memeluk Andi dengan erat.
Meski awalnya Armand bingung dengan sikap.Andi yang tiba-tiba merubah keputusannya, tapi dia ikut bahagia saat melihat Aluna tersenyum.
"Hei, hei, aku juga setuju, Luna. Jadi, kamu juga harus memberiku pelukan," ucap Andi.
Melihat Andi dipeluk oleh adik kesayangan mereka tentu membuatnya iri ingin dipeluk juga.
Aluna melepaskan pelukannya terhadap Andi dan beralih memeluk Armand dan Aruan bergantian.
"Terimakasih, Kak.Andi, Kak Armand. Terima kasih, Ma," ucap Aluna kepada dua kakak laki-lakinya dan juga Sang Ibu.
"Apa pun yang membuatmu bahagia, kami pasti akan mendukungmu," ujar Aruan.
Ibu kandung Aluna itu menepuk-nepuk dengan lembut punggung putrinya itu.
'Ma, Kakak, bagaimana bisa kalian tiba-tiba merubah keputusan?" protes Chika.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Aluna setengah mengejek.
Di kehidupan sebelumnya, Chika selalu mengejeknya karena selalu mendapat dukungan dari semua keluarga. Kini Aluna senang karena memilik kesempatan mengejek balik Chika.
"Kamu!"
Chika menggeram kesal. Anak angkat Keluarga Anggara itu ingin sekali menc*bik-cab*k wajah Aluna. Sayangnya dia tidak mau merusak citra lemah lembut yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.
"Pak Edwin, Anda bilang Tuan Anda–Marvin sedang dalam perjalanan, saya harap dia tidak membuat kami menunggu terlalu lama," ucap Andi sarat akan sorot intimidasi.
Dan sebelum Pak.Edwin menjawab, seseorang sudah.datang menyela.
"Saya sudah tiba Kakak Ipar!"
Semua mata tertuju ke arah sumber suara. Marvin–pemuda dengan setelan jas berwarna navy itu bediri gagah di tengah-tengah pintu tersenyum menatap Aluna.
"Kenapa dia lebih tampan dari sebelumnya? Aku ingat, di kehidupan sebelumnya dia datang dengan penampilan norak dan kaca mata tebal. Katanya penampilan seperti itu adalah penampilan yang aku suka–entah dapat informasi darimana itu," batin Aluna.
Gadis itu menatap Marvin kemidian beralih menatap Chika. Aluna tersenyum melihat Chika kegerahan.
Tanpa diduga, Aluna berjalan mendekati Marvin dan tanpa aba-aba gadis itu langsung memeluk lengannya. Tidak hanya, Chika yang terkejut melihat tingkah Aluna itu, tetapi Andi dan yang lainnya. Termasuk–Marvin.
Pria itu menatap wajah Aluna dan lengan yang dipeluk oleh gadis itu bergantian. Jujur saja Marvin senang, meski dirinya tahu bahwa Aluna melakukannya hanya untuk membuat Chika murka.
"Aku senang kamu menepati janjimu padaku semalam. Kamu benar-benar membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini," ucap Aluna sedikit melebih-lebihkan.
Chika mengepalkan tangan. Marvin adalah pria impiannya. Pria yang sudah ia incar sejak dirinya masih berumur 15 tahun. Terlebih, Chika tahu kalau Marvin adalah satu-satunya pewaris Grup Kaisar.
"Aku sudah berjanji padamu, tentu aku pasti akan menepatinya," balas Marvin.
Aluna tersenyum canggung. Sejujurnya ia merasa tidak enak hati harus memanfaatkan Marvin. Pria itu adalah pria baik, satu-satunya orang yang menangisi dirinya ketika dirinya meninggal. Tapi kini, dirinya malah memanfaatkan pria baik itu.
"Maafkan aku karena aku harus memanfaatkanmu. Kamu pria baik. Sayangnya, aku tidak percaya dengan cinta."
Aluna membatin.
Kehidupan sebelumnya mengajarkan Aluna untuk membentengi hatinya dari segala perasaan itu. Dia tidak mau terluka dan hancur. Misinya saat ini hanya menyelamatkan Keluarga Anggara dari manipulasi Chika setelah itu, ia akan meninggalkan mereka semua dan memulai hidup baru tanpa orang-orang dari kehidupan sebelumnya.
"By, kira-kira kapan kita bisa bertunangan?" tanya Aluna.
"By?"
Marvin menatap Aluna penuh tanya.
"By dari kata Babe yang bisa diartikan sayang. Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan itu," jawab Aluna memberikan penjelasan.
"Aku senang mendengar panggilan spesial itu," balas Marvin.
Aluna tertawa garing. Itu bukan panggilan spesial yang ia siapkan. Ia hanya secara spontan terpikirkan memiliki panggilan tersebut agar membuat Chika semakin kelabakan. Dan benar, lihatlah! Wajah Chika terlihat merah padam menahan amarah.
"Jadi?"
"Kapan pun kamu siap, aku selalu bisa," jawab Marvin.
"Kalau begitu bagaimana kalau minggu depan?"
Aluna memberikan ide.
"TIDAK!!!"
ini si nenek" rada" oleng