NovelToon NovelToon
Pendekar Puncak Keabadian

Pendekar Puncak Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:58.7k
Nilai: 5
Nama Author: Laghrima~

Daratan Xuanwu penuh dengan Pendekar hebat sepanjang sejarahnya, seorang pemuda lugu berna Ling Tian berhasil menjadi salah satu deretan Pendekar hebat yang melegenda selama seribu tahun namun tidak terduga Dewa iri kepadanya dan membuatnya jatuh ke dalam jurang keputus asaan selama lima ratus tahun. Dalam keputus asaan itu Ling Tian mendapat sebuah kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalannya, Ling Tian kembali dengan menentang takdirnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laghrima~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyergapan Di Bawah Gunung

BRAKK!!

Gelas berisi arak mahal hancur menjadi beberapa kepingan setelah Bai Chen melemparkannya ke hadapan penjaga kediamannya, nafasnya naik-turun setelah mengetahui jika teh herbanya telah menghilang separuhnya.

"Apa kalian benar tidak melihat siapa pelakunya?!" Bai Chen berteriak marah.

Ke dua penjaga kediaman sekaligus yang menjaga teh herbanya menelan ludah dengan punggung yang mulai di aliri oleh keringat dingin.

Mereka sudah menjaga dengan penuh kewaspadaan tetapi tidak tahu bagaimana teh itu menghilang bahkan tidak melihat siapa yang melakukannya sama sekali, dan sekarang mereka harus menghadapi kemarahan Bai Chen.

"Tuan muda, mungkin anda menggunakan lebih banyak dari takaran biasanya..." penjaga pribadi Bai Chen mencoba menenangkan dengan mengatakan sedikit kemungkinan.

"Kau selalu bersamaku, jelas kau tahu aku tidak minum teh beberapa waktu lalu!" Bai Chen menatap tajam.

Teh herba itu bukan hanya mahal namun jumlahnya terbatas dan hanya di panen saat akhir musim dingin saja itupun tidak banyak, tetapi sekarang teh itu hilang seolah di telan oleh mahluk gentayangan.

"Apa mungkin anak kecil di sisi Bai Duan?" penjaga pribadinya mengelus dagunya.

Bai Duan mengangkat alisnya, "Anak itu seorang pendekar?" tanyanya.

Saat bertemu dengan anak kecil itu beberapa kali Bai Chen tidak merasakan aura seorang pendekar ataupun tenaga dalam darinya sehingga perkataan penjaga pribadinya sulit di benarkan.

Namun, ketika mengingat sikap tidak tahu diri anak itu barulah Bai Chen mulai menaruh curiga jika memang mungkin dialah pelakunya. Tapi cara apa yang digunakan olehnya sampai dua penjaga kediaman saja tidak tahu.

"Bagus sekali Bai Duan... Kau rupanya mulai melupakan status rendahmu!" Bai Chen menggeretakkan giginya.

Berdasarkan sikap Bai Duan yang pengecut, tidak mungkin dia yang menyuruh anak kecil itu mencuri teh herbanya jadi kemungkinan besar anak itu melakukannya atas kehendak sendiri.

Memikirkan semua itu semakin menambah kekesalan Bai Chen, hanya saja dia menyayangkan dua orang itu sudah pergi dan dia lambat menyadari hilangnya teh itu jika tidak saat ini dia sudah akan membongkar seluruh isi kediaman Bai Duan.

"Seret mereka dan pukuli sampai mati! Aku tidak memerlukan penjaga sampah!" suara Bai Chen meninggi.

Dua penjaga lain masuk dan langsung menyeret dua penjaga sebelumnya yang sudah berteriak memohon ampunan pada Bai Chen yang sama sekali tidak peduli lagi.

"Cao..." Bai Chen menyuruh penjaga pribadinya mendekat dengan kode tangan dan membisikinya sesuatu.

"Tuan muda memang cerdas! Cao, akan segera melakukannya." Ucap penjaganya sambil memberikan hormat dengan menyatukan tangannya.

"Keturunan Klan Bai memang sudah seharusnya demikian..." tukas Bai Chen tertawa puas.

Sekantong kulit berisi beberapa keping emas Bai Chen lemparkan ke tangan penjaga pribadinya yang langsung sigap di tangkapnya, setelah itu barulah dia pergi meninggalkan Bai Chen sendiri.

☆☆☆

Sementara itu Bai Duan dan Qin Mu masih terus berlari menggunakan tehnik meringankan tubuh menuju kediaman Pasukan Bulan Terang tidak berniat untuk berhenti, Bai Duan berencana menghemat waktu untuk tiba di sana.

'Anak ini... Kemampuan staminanya sungguh di luar dugaan....'

Itulah yang sedang mengisi pikiran Bai Duan yang di penuhi keterkejutan, sudah hampir lebih dua jam mereka berlari tanpa mengundurkan sedikit 'pun kecepatan namun yang mengejutkan Qin Mu masih bisa mengikutinya dan tanpa terlihat kelelahan.

Bai Duan sebelumnya sudah memeriksa nadi Qin Mu dan menemukan jika murid kecilnya itu belum memiliki satupun lingkaran tenaga dalam dan itu masih wajar untuk anak seusianya.

Namun, yang tidak Bai Duan duga Qin Mu memilki stamina yang luar biasa bahkan tidak wajar untuk anak seusianya, Bai Duan bahkan belum melatihnya dengan keras dan baru mengajarkan cara latihan dasar sebagai pendekar awal.

Bahkan untuk sebutan jenius pada masanya dulu jika di bandingkan dengan Qin Mu sebutan itu hanya omongan belaka, diam-diam Bai Duan merasa bangga karena menemukan jenius dan bertekad akan mengajarkan semua ilmunya kepada Qin Mu.

'Astaga... Wajahku sebentar lagi berlubang karena tatapannya itu....' Qin Mu membatin, memang sejak tadi Bai Duan terus diam-diam menatapnya sambil terus tersenyum tipis.

Sesaat setelah akan memasuki jalan setapak menuju kota kecil dimana kediaman Pasukan Bulan Terang berada, Qin Mu tiba-tiba menghentikan langkahnya yang membuat Bai Duan reflek mengikuti dengan raut wajah yang sedikit terkejut.

"Ada apa? Kau merasa lelah?" Bai Duan menatap Qin Mu dengan sedikit khawatir.

Qin Mu mengerutkan alisnya dan terus mengendus udara, aroma samar yang tidak asing perlahan tercium lebih jelas dari sebelumnya. Bai Duan terlihat bingung melihat tingkah muridnya itu, tetapi setelah melakukan hal yang sama Bai Duan langsung terkejut.

"Guru Bai menciumnya, bukan? Ini aroma bubuk mesiu..." Ucap Qin Mu setelah menyadari keterkejutan Bai Duan.

Aroma itu sangat samar namun Bai Duan yakin penuh jika itu adalah bubuk mesiu, dari aromanya yang tercerai-berai menandakan jika bubuk itu tersebar di sepajang jalan setapak itu.

'Yaah, mau di lihat bagaimanapun ini sudah jelas penyergapan...' Qin Mu tertawa dalam diamnya.

Penyergapan di jalan setapak di depan jelas bukan perbuatan bandit belaka yang datang merampok, hal itu di perkuat saat Qin Mu mulai merasakan kehadiran banyak orang yang setingkat pendekar kelas satu dan beberapa pendekar ahli yang bersembunyi di sekitar menunggu kesempatan menyerang setelah meledakkan bubuk mesiu itu.

Bandit gunung biasa tidak akan melakukan hal itu yang bahkan kelompok kecil itu tidak akan mampu membeli bubuk mesiu yang bukan hanya mahal namun hanya dari kalangan keluarga terkenal yang bisa mengakses pembeliannya.

Qin Mu melirik Bai Duan yang sudah mempersiapkan pedangnya untuk bertarung jika memang harus dilakukan, melihat sikap siaga gurunya itu Qin Mu menyeringai tipis dan mulai mengerti semuanya.

"Bersembunyi di belakangku! Sebentar lagi mungkin akan ada penyergapan." Bai Duan menarik Qin Mu ke belakang tubuhnya dan berjalan mendekat.

Qin Mu berdecak pelan sebelum menarik lengan jubah Bai Duan, "Apa guru yakin bisa menang? Mereka akan meledakkan jalan itu jika kita lebih dekat lagi."

"Lalu... Apa kau punya ide?" tanya Bai Duan mencoba menguji keputusan yang akan diambil muridnya itu.

Qin Mu menyipitkan matanya, "Guru yakin ingin aku yang mengambil tindakan?" tanyanya, yang jelas idenya itu akan di luar tebakan Bai Duan nantinya.

"Tentu saja, anggap saja sebagai latihan ekstrim pertamamu." Ucap Bai Duan dengan senyum penuh makna, dia hampir tidak percaya jika Qin Mu sudah punya rencana sendiri.

Lagipula jika Qin Mu akan di serang nantinya, masih ada Bai Duan yang sigap menolongnya. Meskipun muridnya itu belum berlatih bela diri apapun namun tidak tahu kenapa ada keyakinan penuh yang muncul dalam diri Bai Duan yang mengatakan jika Qin Mu tidak sesederhana yang terlihat oleh matanya.

Kejadian penyergapan bukan lagi hal yang mengejutkan bagi Bai Duan setelah satu desa sebelumnya habis di bantai oleh kelompok asing yang membuktikan jika Bai Chen telah gagal mengamankan wilayahnya.

"Tunggu! Apa yang ingin kau lakukan?!" Bai Duan sigap menangkap pergelangan tangan Qin Mu yang tiba-tiba mengeluarkan alat pematik api.

Qin Mu mengangkat sebelah alisnya, "Membakar bubuk mesiunya." Ucapnya singkat.

"Dasar murid gila!" Tukas Bai Duan dan langsung merebut pematik api itu.

Jantungnya hampir saja melompat keluar saat mendengar ucapan Qin Mu yang berniat melemparkan pematik api ke arah jalan setapak yang penuh bubuk mesiu itu dan meledakkannya.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
agus yulianto
uppp
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow 🌽🔥
Uswatun Hasanah
lanjut lagi
agus yulianto
upp thor 😍😍😍
agus yulianto
mantappppp qin mu akan semakin kuat👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Qin Mu yg kebingungan... 🌽🔥
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ninggalin jejak 🫆🫆
Uswatun Hasanah
lanjut
kas
next
kas
lanjut 💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Uswatun Hasanah
mantap lanjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Sapu bersih 🔥🌽
Eko Terserah
bagus
Uswatun Hasanah
lanjut
Nurbaya 0102
serius tanya, soalnya gk ngikutin update dj ig, ini kak ron bukan?
Uswatun Hasanah
gas ken
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Berburu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!