Di tengah kegaduhan mengenai rumor yang beredar bahwa putra tunggal penerus Winner Group berinisial EPW (Edwin Putratama William) ternyata seorang gay menjadi sorotan serta perbincangan hangat di kalangan pebisnis, hal itu tentu saja membuat orang tua nya murka berharap segera menemukan solusi yang tepat untuk memulihkan nama baik keluarga dan perusahaan. bagaimanakah kisah kelanjutan nya, apakah dia benar seorang gay atau sebalik nya ? nantikan kisah nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Pagi ini adalah pagi yang paling melelahkan sepanjang hidup Qiana. Nona muda itu masih tertidur pulas lebih tepatnya dia baru saja tidur karena semalaman bertempur melawan Edwin.
Akibat sifat pantang menyerahnya ia benar-benar kehabisan tenaga meski hanya untuk sekedar bangun, suaranya serak, sekujur tubuhnya dipenuhi stempel resmi tanda kepemilikan Presdir.
Sangking lelahnya Qiana merasa badannya seperti ditimpa beban yang teramat berat. Sementara tersangka utamanya justru segar bugar penuh stamina dan senyum kemenangan.
Edwin terus membelai wajah cantik yang tengah tak berdaya itu dalam pelukannya. Sebenarnya hari ini ia berencana pergi ke kantor, namun setelah kejadian malam tadi lelaki itu mengurungkan niatnya.
Ia tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri dalam keadaan seperti itu, apalagi setelah beberapa saat suhu tubuh Qiana mulai meningkat membuat Edwin menjadi panik.
Lelaki itu mencoba menghubungi Dokter tetapi Qiana bersikeras menolaknya.
Entah bagaimana malunya Nona muda itu jika sampai Dokter memeriksa kondisinya dan melihat ada banyak stempel merah di tubuhnya. Membayangkannya saja ia sudah sangat malu.
Namun keputusan tetap ada di tangan Edwin, akhirnya istri mungil kesayangannya itu tetap dirawat oleh seorang Dokter muda yang sangat tampan. Dokter itu tidak lain adalah Edwin sendiri.
Dokter gadungan itu dengan senang hati memeriksa dan merawat Nona muda yang nampak kelelahan. Ia memijat lembut seluruh tubuh Qiana, sementara Qiana hanya pasrah saja dengan tingkah si gila mesum itu, mau melawan juga tidak ada tenaga.
"Nona...."
"Hmmm....."
"Apa kau sudah merasa lebih baik ?"
"Kenapa memangnya ?"
"Presdir berpesan juka istrinya sudah membaik ia ingin mengajakmu bermain satu babak lagi"
"Cih...dasar mesum"
"Hahaha...maafkan aku sayang, habisnya istriku sangat cantik dan menggemaskan sekali"
"Gara-gara ulah kak Edwin aku jadi tidak kuat berjalan"
"Sekali lagi maafkan aku Qia, maaf telah membuatmu menangis" Edwin memeluk istrinya sembari membelai lembut kepala Qiana.
"Suda kubilang tidak perlu merasa kasihan padaku kak, lagipula ini bukan salah kak Edwin"
"Aku berjanji akan melindungimu dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu Nona kecil"
Sejujurnya lelaki itu sangat tidak tega melihat istrinya menitikkan air mata, tapi di sisi lain ia juga tidak mampu lagi membendung hasratnya secara terus menerus.
Hal seperti ini lambat launnya sudah pasti akan terjadi, hanya menunggu waktu yang tepat saja pikirnya.
Lelaki itu hanya bisa berharap semoga tidak ada penghianatan lagi untuk yang ke dua kalinya seperti kejadian beberapa tahun yang lalu.
Karena sekarang dia benar-benar meyerahkan seluruh hati dan perasaanya untuk Qiana. Hati yang bertahun-tahun ia jaga untuk tidak gampang terbuka pada siapapun serta tidak mudah percaya pada perempuan manapun.
Kini Dokter gadungan itu tidak hanya merawat Qiana, namun juga membantunya membersihkan diri dan menyuapi sarapan untuknya.
Qiana yang melihat perlakuan Edwin begitu tulus terhadapnya memunculkan sebuah tanda tanya baru di benaknya. Sejak kapan pria dingin menyebalkan itu mulai tertarik padanya ?
"Kak....."
"Hmmm.....?"
"Apa kau mencintaiku ?"
"Pertanyaan konyol macam apa itu ?"
"Jawab saja"
"Aku tidak mencintaimu !!"
"Ehhh.....?"
"Tapi aku sangat sangat sangat mencintaimu"
"Cih....sejak kapan ?"
"Menurutmu......? Coba tebak "
"Emmmm sejak di pesawat waktu itu ?"
"Jauh sebelum itu "
"Lalu sejak kapan ?"
"Tebak sampai benar, jika salah kau harus menciumku"
"Cih...., sejak kita menikah ??"
"Cium aku" ucap Edwin menunjuk bibirnya
Akhirnya Nona muda itu menyerah, hari itu Edwin menceritakan semuanya pada Qiana. Awalnya ia terus meremehkan gadis kecil yang di jodohkan dengannya.
Edwin berfikir bahwa dirinya tidak mungkin tertarik dengan seorang Qiana.
Sampai akhirnya ia mencoba menemuinya seorang diri tanpa sepengetahuan Sekretaris Jul dan siapa sangka saat berhadapan dengan Qiana lelaki itu seperti kehilangan rasa percaya dirinya.
Edwin merasa Qiana bukanlah gadis seperti pada umumnya yang akan langsung terpikat dengan tampangnya. Justru sebaliknya Edwin lah yang terpesona dengan paras cantik Qiana.
Karakternya yang berapi-api membuatnya semakin tertarik ingin mengenal sosok mungil yang lebih mirip anak di bawah umur itu. Ya jika orang yang tidak tahu usia Qiana pasti mengira gadis itu masih duduk di bangku sekolah menengah.
Sejak pertemuan malam itu ia tidak bisa berhenti memikirkannya, sehingga menggunakan berbagai macam cara agar dapat bertemu dan melihatnya lagi di keesokan harinya.
Hingga tanpa ia sadari wajahnya mulai sring tersenyum tanpa sebab. Perlahan mimpi buruk yang selalu datang mengganggu tidurnya lenyap begitu saja hingga dirinya tidak pernah lagi mengonsumsi obat sebelum tidur.
Hal itu sedikit berbeda dengan Qiana ayng sejak awal mewanti-wanti dirinya agar tidak menaruh hati pada Edwin. Karena seperti yang pernah Edwin katakan bahwa dia bukanlah tipe Edwin.
Terlebih saat ia bertemu dengan sosok Amara, yang perawakan dan tampilannya sangat jauh berbeda dengannya membuat gadis itu semakin yakin bahwa Edwin tidak mungkin akan jatuh cinta padanya.
"Bagaimana Denganmu ?"
"Bagaimana apanya ?"
"Kau juga menyukaiku kan ?"
"Kalau itu rahasia...."
"Cih...berani sekali merahasiakannya dariku"
"Saat pertama kali bertemu menurutku kak Edwin memang sangat tampan, tapi aku teringat kalau kakak tidak menyukai perempuan jadi kupikir itu sungguh sangat disayangkan"
"Hahaha...."
"Kenapa tiba-tiba tertawa ? Apanya yang lucu ?"
"Inilah salah satu daya tarikmu Qia dan aku sangat menyukainya. Kau dan pikiranmu itu teramat sangat polos"
"Ahhhh kak Edwin jagan mengejekku"
"Jadi sekarang bagaimana ? Apa penilaianmu masih sama seperti yang dulu ?"
"Cih...lihat ini" Qiana menunjukkan nama kontak Edwin di layar ponselnya
"Si Gila ?? Waaahhhh kau keterlaluan sekali Qia, sejak awal kau sangat kejam padaku. Aku bahkan masih ingat saat kau mencekik leherku dengan alat ukur"
"Itu karena kak Edwin sangat menyebalkan dan benar-benar gila, kakak selalu mencari celah untuk bisa memancing kemarahanku cih...."
"Lihatlah...." seolah tak mau kalah Edwin juga menunjukkan nama kontak milik Qiana yang tertulis di layar ponselnya.
"My Little Queen ?? Benarkah ini ?"
"Hmmm....memang kenapa ? Kau pikir aku akan menamaimu anak SD huh ??"
"Hihi terimakasih kak, aku mencintaimu"
"Kalau ingin berterimakasih maka lakukanlah dengan benar !!"
"Pak Dokter, tolong katakan pada Presdir bahwa kondisi istrinya sekarang sudah membaik" Bisik Qiana di telinga Edwin.
Nona kecil itu juga meletakkan telapak tangan Edwin di keningnya, untuk memastikan suhu tubuhnya sudah kembali ke kondisi normal.
Membuat Edwin semakin bersemangat dan semakin betah berdiam diri di dalam kamar seharian.
Qiana yang dulu sangat menghindari kontak fisik dengan lawan jenis kini justru menyerahkan dirinya begitu saja di hadapan Edwin.
Dengan sisa-sisa tenaganya, tubuh mungil yang masih dipenuhi dengan stempel merah itu melanjutkan pertarungannya bersama Edwin. keduanya terus saling mengenal luar dan dalam satu sama lain.
Kali ini suara tangisan itu tak lagi terdengar, yang ada hanya desahan demi desahan yang keluar dari mulut Qiana. Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan tiada tara dalam waktu yang bersamaan.
Gunung Es itu kini hancur sepenuhnya dan berubah menjadi daratan padang rumput nan hijau, dipenuhi berbagai macam jenis bunga dan kupu-kupu.
Sisi lain dari Qiana yang belum sempat di ketahui Edwin kini perlahan mulai terlihat, Nona muda itu ternyata sangat manja dan jauh lebih agresif dari yang ia bayangkan.
Edwin hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan tingkah istrinya.
"kak...."
"Hmmm...."
"Besok sudah waktunya aku kembali ke kota A, karena banyak sekali pekerjaanku yang belum di selesaikan"
"Kau yakin ingin kembali besok ?"
"Hmm...boleh kan ?"
"Tentu saja boleh, tapi ada syaratnya"
"Syaratnya...??"
"Aku akan mengutus lima orang pengawal yang akan ikut bersamamu"
"Lima...?? Satu saja cukup kak, lagipula disana ada Hani yang mendampingiku"
"Baiklah, dan satu lagi"
"Apa lagi kali ini ??"
"Kau tidak boleh bersikap menggemaskan begini di depan orang lain selain aku"
Sebenarnya sangat berat bagi Edwin mengijinkan istinya kembali ke kota A, tapi dia sendiri tahu bahwa Qiana bukanlah perempuan yang rela berdiam diri dirumah.
Ia tidak ingin menjadi penghambat bagi istrinya, jadi alangkah baiknya kalau ia mengesampingkan egonya dan membiarkan rasa rindu menyiksanya.
Ditengah perbincangan Edwin menerima telfon dari seseorang, rupanya itu adalah Sekretaris Jul yang menunggunya di luar apartemen.
Lelaki itu membawakan barang yang dipesan oleh Edwin tempo hari. Edwin juga memerintahkan Sekretaris Jul untuk memilih pengawal yang akan ditugaskan menjaga istrinya di kota A.
"Kenapa tidak laki-laki saja Tuan ? Bukankah lelaki lebih baik ?"
"Kau sudah gila Jul ? Kalau laki-laki lebih baik aku saja yang menjadi pengawalnya !!"
"(sudah kuduga dia akan menjawab seperti itu, si gila ini pasti cemburu), baik tuan nanti akan langsung saya seleksi satu per satu sesuai dengan kriteria yang anda berikan"
"Terimakasih Jul, sekarang kau boleh pulang"
"Tuan biasanya anda menyuruh saya masuk ??"
"Pergi sebelum kupanggilkan satpam !!"
"(Terimakasih Nona Qiana, berkat kehadiran anda saya jadi tidak terjebak dengan psikopat ini)"
Edwin kembali ke kamarnya dan menyerahkan sebuah bingkisan itu untuk Qiana.
"Apa ini...?"
"Bukalah"
"Ponsel baru ??"
"Hmmm...gunakan yang baru"
Rupanya Edwin menyadari ponsel milik istrinya sedikit retak akibat kejadian waktu itu. Ia segera menyuruh Sekretaris Jul membelikan yang baru dengan model dan warna yang sama.
"Terimakasih suamiku"
"Hanya itu saja ???" tanya Edwin tersenyum licik.
qiana ngambek ke edwin sepertinya bawaan orok, hamil yg belum disadari
lanjut kak
sabar ya ivana yg cantik.....sekertaris jul pasti akan ungkapin cintanya
tapi nanti saat acara syukuran kehamilan istri edwin/Frown//Frown/
lanjut kak
sambil membawa paperbag yg ada di depan pintu tuh
lanjut kak