NovelToon NovelToon
La Hora

La Hora

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:120.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ucu Irna Marhamah

La Hora : Don't Leave Me (2nd version)

~◈Raihan & Shica◈~

***BLURB***

Regar Mahali adalah kapten voli di SMA Hardiswara. Laki-laki tampan yang berasal dari keluarga Mahali itu sangat diidolakan kaum wanita di SMA tersebut. Dia memiliki pesona dan kharisma yang kuat.

Dibalik ketampanannya, dia sangat kejam dan tidak bermoral, dia seorang ketua geng. Namun, sekejam apa pun dirinya, dia sangat menyayangi adiknya. Pria kejam yang bisa berubah 180° menjadi lembut, hanya pada adiknya.

Raihan Alfarizi, dia juga diidolakan oleh para gadis di SMA yang sama. Selain karena dirinya seorang kapten basket, dia juga memiliki wajah tampan dan kulit eksotis seperti ras Timur-Tengah. Dia adalah seorang laki-laki misterius yang tidak bisa ditebak.

Shica Mahali, nama aslinya adalah Rastarani Mahali. Gadis yang merupakan adiknya Regar Mahali ini memiliki sifat yang periang dan jahil jika di rumah. Di sekolah, dia akan berubah menjadi gadis yang pendiam dan memiliki kharisma yang dijunjung tinggi oleh keluarga Mahali.

Apakah yang akan terjadi diantara mereka?


By
Ucu Irna Marhamah
DLM(2ndver)

#DLM #ucu_irna #raihan #shica #regar #givar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LH - 14 - Exposé

 

 

 

 

-◈◈◈-

 

 

 

 

Rama membantu temannya yang terkapar di lapangan. Laki-laki itu mengalami cedera. Rama membopongnya.

 

 

"Aku masih kuat. Kita akan memenangkan pertandingan."

 

 

Rama membantah, "Jangan memaksakan diri. Aku akan menyuruh anggota PMR untuk membantumu."

 

 

Beberapa anggota PMR menghampirinya. Mereka membantu temannya Rama yang cedera.

 

 

Rama memberikan pesan, "Berikan penanganan yang baik, jika kalian tidak bisa menanganinya, hubungi saja Danuarga Hospital."

 

 

Anggota PMR itu menganggukkan kepalanya.

 

 

Rama mengusap kasar wajahnya, "Tidak ada pemain cadangan, aku harus meminta kelas 10 untuk masuk."

 

 

Rama keluar dari lapangan, ketika wasit dan teman-temannya sedang beradu mulut.

 

 

Rama menghampiri bangku atlet kelas 10. Ada Raihan dan Rangga di sana. Mereka mendongkak menatap Rama yang berdiri di depan mereka semua.

 

 

Rama bersuara, "Anggota timku mengalami cedera cukup parah, aku harap ada seseorang dari kalian yang mau bergabung sementara ke timku. Hanya ketika pertandingan ini saja, kalian tidak mau SMA kita kalah dari mereka, kan?"

 

 

Tidak ada yang berani menyahut.

 

 

Rama mendengus kesal, seharusnya dia sudah menduga ini dari awal.

 

 

Dia berbalik dan pergi. Namun, suara seseorang membuat langkahnya terhenti.

 

 

"Aku akan turun," ucap Raihan sambil berdiri dari tempat duduknya.

 

 

Rama berbalik.

 

 

Iris onyx milik Raihan dan hazel gelap milik Rama bertemu. Mereka saling menatap sejenak. Tersirat sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan masing-masing.

 

 

"Kau yakin? Kudengar kau habis kecelakaan," ucap Rama setengah bertanya.

 

 

"Aku hanya jatuh dari motor, ayo kalah mereka," kata Raihan.

 

 

Kedua laki-laki itu turun ke lapangan. Raihan melepaskan ban kapten dari lengannya dan memasukkannya ke dalam saku celana.

 

 

Rama berbicara pada wasit. Dia mengatakan, kalau pemain cadangan sudah ditetapkan olehnya.

 

 

Setelah mendapatkan persetujuan dari wasit, Raihan diperbolehkan masuk.

 

 

"Posisimu menggantikan temanku yang tadi cedera," kata Rama.

 

 

Raihan mengangguk, "Baik, Kapten."

 

 

Mendengar ucapan Raihan, sudut bibir Rama tertarik membuat setengah lengkungan.

 

 

"Kau juga kapten, bodoh!" Gerutu Rama. Raihan tersenyum, "Kakak 'kan lebih tua dariku."

 

 

"Jangan panggil aku kakak, sialan... aku dan kau seumuran!" Gerutu Rama pelan.

 

 

Raihan mendecih, "Aku memanggilmu kakak, karena kau kakaknya Shica."

 

 

Deg

 

 

Perasaan Rama mulai tidak nyaman ketika nama adiknya disebut.

 

 

Mereka masuk ke posisi.

 

 

"Aku pernah bersekolah di SMA Parameswara dan menjadi kapten di sana, jadi... aku tahu kelemahan mereka," kata Raihan.

 

 

"Apa tujuanmu pindah ke SMA ini? Kau ingin melukai Shica?" Tanya Rama yang berdiri membelakangi Raihan.

 

 

Raihan tersenyum, "Kalian pikir, aku baik-baik saja setelah apa yang kalian lakukan waktu itu?"

 

 

Rama mengepalkan tangannya, "Itu kesalahanku dan kak Regar, kau bisa melampiaskannya pada kami, tidak dengan Shica, dia tidak tahu apa-apa."

 

 

"Terserah padaku." Raihan menyeringai ketika Rama menoleh padanya.

 

 

"Hei, Kapten Raihan! Kau pindah haluan, ya? Kenapa memilih pindah sekolah dan menjadi lawan kami?" Tanya pemain dari SMA Parameswara.

 

 

Raihan mendengus, "Bisakah kalian jangan banyak bicara? Setelah aku pindah pun, kalian cerewet sekali!"

 

 

"Kami tidak akan menerima perintah darimu, kau 'kan bukan kapten kami lagi."

 

 

"Jangan harap, kami akan mengalah padamu, Raihan."

 

 

"Hei! Aku tidak pernah menyuruh kalian mengalah pada lawan, bodoh!" Gerutu Raihan.

 

 

"Iya, iya." Mereka menyahut berbarengan.

 

 

Raihan menganggukkan kepalanya malas.

 

 

Rama hanya tersenyum mendengar omong kosong mereka semua. Tampaknya Raihan memang dikenal banyak orang sewaktu di SMA Parameswara.

 

 

Peluit berbunyi pertandingan basket dimulai.

 

 

Shica dan Meishy yang duduk di bangku penonton tampak serius memperhatikan.

 

 

Rama memberikan bola pada Raihan. Meskipun keadaannya kurang bagus, Raihan tetap berusaha memenangkan pertandingan dengan melawan mantan timnya sewaktu dia bersekolah di SMA Parameswara.

 

 

Rama dan Raihan sempat bertubrukan dan jatuh karena melupakan posisi masing-masing.

 

 

Tim Rama menepuk dahi melihat kekonyolan mereka berdua. Shica dan Meishy menutup mulut melihat itu. Rangga langsung berdiri dan tampak mencemaskan kaptennya itu.

 

 

Regar yang juga melihat itu mengusap kasar rambutnya.

 

 

Givar memutar bola matanya, "Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?"

 

 

"Memalukan," gumam Dion.

 

 

"Kenapa juga adikmu memasukkan orang itu ke timnya?" Tanya Farrel setengah menggerutu.

 

 

Regar mendelik kesal pada teman-temannya, "Kenapa kalian memprotesku?!"

 

 

Poin yang didapatkan tim Rama sedikit tertinggal.

 

 

Raihan teringat dengan sesuatu, dia mengatakan strateginya pada Rama dan timnya.

 

 

Setelah mendengar ucapan Raihan, mereka mengangguk mengerti.

 

 

Benar saja, strategi Raihan berjalan mulus. Poin bisa seimbang dan bahkan tim Rama memenangkan pertandingan.

 

 

Semua orang bertepuk tangan.

 

 

Raihan melangkah keluar dari lapangan, namun tubuhnya terhuyung. Jika tidak ada tangan kekar yang merangkul tubuhnya, mungkin dia sudah jatuh tersungkur.

 

 

Raihan mendongkak menatap siapa yang merangkulnya, ternyata Rama. Laki-laki itu menarik Raihan agar melanjutkan langkah mereka.

 

 

"Kenapa tidak bersalaman seperti waktu itu?" Tanya Rama.

 

 

"Tidak perlu, yang peting sudah memenangkan pertandingan." Raihan menyahut.

 

 

"Sebagai formalitas." Rama menarik tangan Raihan dan membuat salaman jantan.

 

 

"Cepat sembuh, ke depannya kau memerlukan banyak tenaga," ucap Rama sambil menepuk lengan Raihan.

 

 

"Aww!" Raihan meringis.

 

 

Rama berlalu dengan ekspresi datar. Raihan menatap punggung laki-laki itu yang kian menjauh.

 

 

Tim voli kembali masuk.

 

 

Lapangan tersebut ada dua dalam satu lokasi. Sebelah kiri lapangan voli, dan yang sebelah kanan adalah lapangan basket.

 

 

Rama meminum air dari botol baru pemberian Shica. Teman-teman Rama melihat Rama dengan ekspresi melongo. Bukan tanpa alasan, warna dan corak dari botol itu terlalu mencolok di tangan Rama.

 

 

"Lihat apa kalian?!" Gerutu Rama.

 

 

Mendapat pertanyaan itu, mereka segera menggeleng.

 

 

Shica bertepuk tangan semangat ketika kakaknya memenangkan pertandingan voli. Hari ini adalah hari yang paling membanggakan, kedua kakaknya menang pertandingan, Raihan juga terlibat di dalamnya.

 

 

Voli kelas 12 dimenangkan oleh SMA Hardiswara, sementara kelas 11 dimenangkan oleh SMA Parameswara.

 

 

Untuk basket, kedua tim dari SMA Hardiswara memenangkan pertandingan.

 

 

Masih banyak lagi pertandingan yang lainnya selain voli dan basket.

 

 

Kapten masing-masing bidang memberikan kata-kata ketika mereka mendapatkan penghargaan.

 

 

Rama melambaikan tangannya, "Aku merasa senang sekali, timku bisa bekerja sama dengan baik dan memenangkan ini, Andre, Rizvan, Aldi, Ega, Fahri, dan Raihan juga."

 

 

Shica tersenyum mendengar pidato sang kakak. Semua gadis-gadis meneriakkan nama Rama

 

 

"Terima kasih juga telah bermain bersama kami, tim basket dari SMA Parameswara. Salam persahabatan, Rama dan tim." Rama mengacungkan dua jari perdamaian.

 

 

Semua orang bertepuk tangan. Shica yang paling antusias.

 

 

Selanjutnya Regar. Dia tidak mengeluarkan suaranya, karena suasananya sangat berisik, terutama teriakan para gadis.

 

 

Laki-laki itu hanya berdiri di depan mic.

 

 

Ketika keadaan semakin sunyi, barulah Regar menyampaikan rasa senangnya, "Terima kasih telah memberikanku waktu untuk berbicara. Aku bangga pada kalian semua yang telah memenangkan pertandingan ini, siapa pun kalian, dari mana pun asal kalian. Kalian telah menjadi pemenang."

 

 

"Wuaaaah! Regaaar!"

 

 

"Regaaar!"

 

 

"Regar Mahali!"

 

 

"Regar!"

 

 

Semua orang meneriakkan nama Regar.

 

 

"Terima kasih, kepada para pendukung yang memberikan semangat pada orang-orang yang kalian percayai untuk bertanding." Sambung Regar.

 

 

Regar menepuk bahu Rama membuat laki-laki itu sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya. Regar menarik adiknya agar sedikit maju. Rama menurut sehingga dirinya dirangkul oleh Regar.

 

 

"Aku juga bangga pada adikku. Bukan hanya Rama, ada seseorang yang juga berarti dalam hidupku, dia selalu memberikanku dukungan. Dia penyemangatku."

 

 

Bella tampak serius mendengarkan. Teman-teman di samping Bella mengguncangkannya.

 

 

Pandangan Regar tertuju pada Shica. Gadis itu tersenyum pada kakaknya. Meishy menoleh pada Shica dengan ekspresi bingung.

 

 

Regar mengulurkan tangannya pada Shica. Gadis itu menunjuk pada dirinya sendiri. Regar mengangguk. Meishy menoleh ke arah Shica dan Regar bergantian dengan ekspresi semakin panik.

 

 

Dengan sedikit ragu, Shica bangkit dari tempat duduknya. Dia maju ke depan dan menerima uluran tangan kakaknya.

 

 

Semua gadis tampak kesal dan berteriak histeris. Bella mendengus kesal.

 

 

"Dia itu pacarnya Regar?"

 

 

"Kenapa harus dia?"

 

 

"Kenapa selalu dia?"

 

 

"Bella, kenapa kau diam saja?"

 

 

"Apa gadis kelas 10 itu begitu berharga dalam hidup Regar?"

 

 

"Dia itu menjijikan dan murahan. Aku pernah melihatnya mencium Regar."

 

 

"Tidak pantas dia bersanding dengan pria Mahali setampa Regar."

 

 

Banyak yang berbisik-bisik.

 

 

Regar merangkul Shica tanpa peduli keringat yang membasahi tubuhnya bisa menempel pada Shica.

 

 

"Dia adalah perempuan kedua yang berarti dalam hidupku setelah mama... Rastarani Mahali, adikku."

 

 

Semua orang terkejut dan membelalak kaget mendengar pengakuan Regar yang mendadak itu.

 

 

Rama tersenyum.

 

 

Meishy membulatkan matanya dengan mulut membentuk huruf O.

 

 

Rangga juga terkejut, ya ampun... waktu itu aku pernah bicara yang bukan-bukan tentang kakaknya! Kenapa dia tidak bilang!

 

 

Raihan tampak biasa-biasa saja. Sebenarnya dia sudah tahu dari dulu.

 

 

Bella berlalu karena kesal.

 

 

-

 

 

Shica sedang mencari Meishy, namun dia tidak kunjung menemukan sahabatnya itu.

 

 

Apa mungkin Meishy marah, karena Shica tidak bilang, kalau dirinya adalah adik dari Rama dan Regar?

 

 

Ketika memasuki kantin, Shica hampir bertubrukan dengan Meishy.

 

 

"Meis?" Panggil Shica.

 

 

Meishy menunduk, "Maaf... aku sempat menjelek-jelekkan kakakmu waktu itu."

 

 

"Meishy." Shica memegang kedua lengan Meishy.

 

 

"Maaf, Shica... aku tidak pantas bergaul denganmu. Aku mendengar mereka yang terus-menerus menjelekkanku." Meishy menunduk dalam.

 

 

"Jangan katakan itu, kumohon jangan merasa seperti itu, aku tidak punya sahabat lagi selain dirimu." Shica tampak sedih.

 

 

Meishy terdiam, "Aku merasa tidak pantas...."

 

 

"Meishy." Shica melenguh.

 

 

Hening.

 

 

Meishy mengangguk pelan.

 

 

Shica tersenyum kemudian memeluk Meishy dengan erat.

 

 

"Jangan menjauh dariku, yaaa... jangan mendengarkan orang lain juga."

 

 

Meishy membalas pelukan Shica lalu mengangguk.

 

 

-

 

 

Regar mendengus kesal ketika Bella marah-marah padanya. Dia hanya menyandarkan punggungnya ke dinding dan melipat kedua tangan di depan dada.

 

 

"Kenapa kau selalu mengutamakan adikmu yang nakal itu? Aku ini pacarmu." Bella menunjuk wajah Regar.

 

 

"Kita akhiri saja," ucap Regar kemudian berlalu.

 

 

Bella terbelalak, dia menarik lengan Regar, "Apa maksud kamu! Aku sudah menghabiskan malam denganmu!"

 

 

"Kau tidak perawan, kau membohongiku, kau wanita bekas orang lain, Bella." Regar menepis tangan Bella darinya.

 

 

Bella menggeleng, "Itu tidak benar!"

 

 

"Kau membasahi spreiku dengan darah yang entah dari mana. Kau pikir, aku bodoh? Bukan sekali atau dua kali aku tidur dengan seorang gadis, jadi aku tahu dan aku bisa membedakan, mana yang masih perawan, dan mana yang sudah bekas orang."

 

 

Setelah mengatakan itu, Regar berlalu meninggalkan Bella yang sedang marah.

 

 

Bella meneteskan darah dari botol kecil yang dibawanya.

 

 

Ketika Regar memasuki kamar, Bella segera bersikap biasa-biasa.

 

 

"Sayang, aku lebih cantik pakai make-up, atau tanpa make-up?" Tanya Bella.

 

 

"Lebih cantik tanpa pakaian."

 

 

Bella tertawa mendengar jawaban Regar kemudian berlalu keluar dari kamar Regar.

 

 

Laki-laki itu menoleh ke tempat tidurnya. Ada noda darah di sprei abu-abu itu.

 

 

Regar menaikkan sebelah alisnya.

 

 

Bella menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal.

 

 

"Awas saja, aku akan membalasmu!"

 

 

Sementara itu, Shica sedang berbincang dengan Rama di tempat parkir. Mereka berdua sedang menunggu Regar.

 

 

"Lihat, Kak Rama, ini rok yang dibelikan oleh Kakak." Shica berputar.

 

 

Rama tertawa, "Kenapa kau harus berputar?"

 

 

"Agar kau bisa melihatnya, ini kelihatan bagus, kan?" Jawab Shica diakhiri dengan pertanyaan.

 

 

"Iya, bagus... pilihanku memang tidak pernah salah."

 

 

Regar memasuki area parkir dengan pakaian yang masih sama, jersey voli miliknya.

 

 

Pandangan Rama dan Shica tertuju pada Regar yang terlihat kurang baik suasana hatinya, terlihat dari ekspresi wajahnya.

 

 

"Aku pergi ke base camp, kalian pulang saja."

 

 

Rama dan Shica saling pandang.

 

 

-

 

 

Di perjalanan,

 

 

Shica melelapkan kepalanya ke punggung Rama, "Base camp itu tempat apa?"

 

 

Rama menjawab, "Tempat anak-anak berkumpul."

 

 

"Di mana?" Tanya Shica lagi.

 

 

"Kamu tidak perlu tahu."

 

 

"Di tempat itu tidak ada perempuan?" Tanya Shica.

 

 

Tidak direspon oleh kakaknya. Shica menepuk punggung Rama dengan agak keras.

 

 

"Aw! Kamu kenapa?!" Rama menggerutu kesal. Shica juga menggerutu, "Berhenti nakal pada perempuan."

 

 

Rama hanya meringis sambil bersungut-sungut.

 

 

"Aku senang melihat kakak bersama Raihan," ucap Shica membayangkan momen ketika di lapangan tadi.

 

 

Rama tidak merespon.

 

 

Shica cemberut, "Kalian cocok jadi teman."

 

 

"Tidak, aku tidak mau." Rama segera menyahut.

 

 

Shica mendengus dan kembali melelapkan kepalanya ke punggung Rama.

 

 

-

 

 

"Raihan adalah murid pindahan dari SMA Parameswara ke SMA Hardiswara beberapa bulan lalu." Dion membaca dari laptopnya.

 

 

Givar mengangguk, "Di SMA Parameswara, dia sudah kelas 11, tapi ketika pindah ke SMA Hardiswara, dia menyembunyikan rapor kelas 11 dan memilih masuk di kelas 10-IPA-B."

 

 

Regar mendengarkan dengan serius.

 

 

"Di SMA Parameswara, Raihan dikenal sebagai kapten basket yang handal." Gilang menambahkan.

 

 

"Dia masuk anggota geng ketika masih SMP, sama sepertiku. Kebetulan dia juga bersekolah di SMP yang sama dengan kita waktu itu, SMP Amaryllis." Farrel ikut nimbrung.

 

 

"Iya, apa sekarang dia masih menjadi seorang anggota geng?" Tanya Regar.

 

 

"Tidak, aku tidak pernah melihatnya berkeliaran dengan geng lamanya," jawab Dion.

 

 

"Apa ketua geng itu masih sama?" Tanya Givar pada Dion.

 

 

"Iya, Januaar masih menjadi ketua geng sialan itu sampai sekarang," jawab Dion sambil melemparkan sebuah foto laki-laki tampan ke meja.

 

 

"Meskipun dia masih kecil, dia itu dikenal kejam dan seenaknya tanpa memperdulikan mana perempuan dan mana laki-laki. Kau ingat padanya, Regar?"

 

 

Regar memperhatikan foto itu dengan seksama.

 

 

Laki-laki itu adalah orang yang menolong Raihan ketika kecelakaan waktu itu. Dia datang bersama teman-temannya.

 

 

-◈◈◈-

 

 

19 April 2016

Ucu Irna Marhamah

1
re
next
Ny'hayalan 🧚‍♀🐰🐰
hahhh hayalanku makin menjadiii😃
Ny'hayalan 🧚‍♀🐰🐰
aku slalu hadir di karya2 mu cuman jarang komen bukan jarang kali ya lebih ke gak pernah🤣🤣🤣
Ucu Irna Marhamah: aku berusaha sesempet mungkin. 😂😆
total 1 replies
Ny'hayalan 🧚‍♀🐰🐰
semangatttt💪💪💪
Ny'hayalan 🧚‍♀🐰🐰
masih untung ada novel gratis.
haahhh aku juga suka bingung sma orang yg suka bilang ceritanya gk menarik,,klo boleh saran nih ya, klo gk suka gk usahh di baca udah tinggalin ajj cari lg yg mnurut kalian menarik..
tohh kalian juga blum tentu bisa bikin karya kaya gini kan✌🙏
Allessha Nayyaka
semangat berkarya trus kak
jgn kasih kendoor yaaak
Allessha Nayyaka
karya kamu tuh bagus nya pake banget loh kak
napa y Kurang likee nya
apa kurang promosinya ya 🙄🙄🙄🌹
theresia trisna
keren teryata mc nya author sendiri 👍👍
Rahil Ramadhani
& sekrang dri keluarga mahali,dri kdluarga make,leon,redit,gavir,sekrang keluarga mahali
Rahil Ramadhani
oke udh hari ke 3 baca karya"mu thor udh 6novel yg udh tak baca tinggal sisanya
Attaslim
jangan macem² deh
Asifa Baubau
sya suka la hora karna raihan tdk mati..
Sabarina Sitepu
aku kaaih tip dikit thor, sekoga tetap semangat utk buat karya yg luar biasa serunya kembali...
Sabarina Sitepu
La horaaaaaaa, sdh cinta mati ama novelnya thor...
Sabarina Sitepu
yg paling kusuka ending raihan secha...
Sabarina Sitepu
pada novel yg ini jauh lebih seru dari novel yg satunya DLM, kabarnya author nulisnya ketika beliau smp. Makanya author gambarin tokoh2nya ketika smp. Mudah2an ini hanya halu mu saja ya thor. Aku ndak bisa bayangin kalo anak smp sdh ngalahin gangster, sex bebas, alkohol, balapan, membunuh dan merencanakan pembunuhan. anak smp sdh segitunya. Kalaulah tadi dimulainya dari sma sampai kuliah nilai novelnya ku kasih 110 thor, kamu hebat thor, salut....
Sabarina Sitepu
apakah sdh ending?
Sabarina Sitepu
yg baik kabarnya cepat mati ya thor....
Sabarina Sitepu
thor, apa punya pengalaman atau memang pernah lihat anak2 smp kelakuannya kayak gini?
Sabarina Sitepu
lanjut thor....untungnya ceritanya mulai seru....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!