Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Sembilan belas
Jangan lupa dukungannya ya
Biar tambah semangat lagi
Like
Komen
Vote
Kasih hadiah kembang atau kopi
Terima kasih
Happy reading
~
~
~
~
Hana raih tangan mungil Aksa, ia cium berkali-kali.
"Sayang mommy, bangun yah. Mommy janji kalau Aksa bangun kita akan menjemput onty Ika. Aksa pasti senang. Ya kan sayang."
"Maafkan mommy ya sayang!" di kecupnya kening Aksa.
Hiks hiks hiks
Hana tersedu-sedu menangis memukul dadanya. Semua terasa menyakitkan.
"huuhuuu...huhuuuu maafkan mommy Aksa. Maafkan mommy. huhuuuuu!"
"Bangun Aksa! mommy mohon!" masih dengan isak tangisnya yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
Ryan yang sengaja berada di luar akhirnya masuk dan memeluk Hana. Matanya juga ikut berkaca-kaca. Di belainya bahu Hana.
"Kamu harus kuat Hana. Demi Aksa!"
.
.
.
Di dalam hotel tempatnya menginap, Rico masih terbayang akan kejadian tadi siang. Ia juga sudah melihat rekaman cctv mall. Tetap tidak banyak membantu.
"Siapa kamu boy? Kenapa suara mu sangat mirip dengan anak dalam mimpi ku?"
Rico duduk dari tempat tidurnya, ia berjalan mengambil jaket, kunci mobil beserta dompetnya.
Ia ingin mencari angin malam untuk menangkan hatinya yang resah sedari tadi. Perasaannya tak enak. Tapi ia tak tau sebabnya.
.
.
.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Kenapa ia tidak bangun-bangun?" tanya Hana penuh dengan kekuatiran.
"Anak anda mengalami koma, bu Hana!" ucap dokter.
jedarr
Bagaikan di sambar petir mendengar penuturan dokter, seketika Hana oleng. Kepalanya berdenyut sakit. Untungnya Ryan siaga menahan tubuhnya agar tetap berdiri.
Ternyata Hana masih belum sepenuhnya memahami karakter Aksa. Aksa meski ia masih kecil tapi mampu memnyimpan perasaannya dengan rapi.
"Mungkin selama ini anak anda sering merasa tertekan. Hingga secara tidak sadar itu menggangu sistem sarafnya. Selain itu, banyak faktor juga yang membuat anak anda dalam keadaan koma." sambung dokter menjelaskan.
Semuanya terasa kosong. Hana sudah tidak menyimak dengan baik lagi segala penjelasan dokter. Ia duduk dan menggengam tangan Aksa. Berulang kali ia mencium tangan Aksa dan mengucapkan maaf.
Setelah menjelaskan secara rinci pada Ryan, dokter meminta ijin keluar. Ia juga berpesan jika ada apa-apa untuk segera menekan tombol darurat.
"Ryan." panggil Hana
"Hmmm!" jawabnya
"Aku harus bagaimana, ?" hiks, air mata yang ia tahan jatuh lagi membasahi pipinya
"Hana!" Ryan memeluk tubuh mungil Hana yang bergetar karena isakan tangisnya.
"Kita akan berjuang, aku akan membantu mu untuk menyembuhkan Aksa. Bagaimana pun caranya."
Hana semakin mengencangkan pelukannya. Ia tak tau seandainya tanpa Ryan disisinya. Hana sangat bersyukur di pertemukan dengan orang sebaik Ryan meski salah satu permintaannya masih belum bisa Hana kabulkan.
"Iya. Maafkan kami berdua yang selalu merepotkan mu." Ditatapnya wajah pria yang sudah tulus menyayangi mereka berdua.
"Aku tulus membantu dan menyayangi kalian." cup. Ryan mencium kening Hana untuk memberikan kekuatan.
Hana masih menatap wajah yang tubuhnya ia peluk "Ry, apakah tawaran mu dulu masih berlaku sekarang?" tanya Hana penuh dengan harap.
Ia tau bukan waktu yang tepat, hanya saja Hana sudah memikirkannya sebelum Aksa mengalami koma. Memberikan keluarga yang utuh untuk Aksa mungkin itu yang di butuhkannya.
Hana yakin, meski Ryan dan Aksa tak ada ikatan darah tapi ikatan batin mereka berdua sangat kuat.
Ryan terperanjat terkejut. Ia terdiam mencerna pembicaraan Hana. "Maksud kamu?" tanyanya untuk meyakinkan apa yang ia dengar tidak salah.
"Ayo kita menikah!" Hana berucap dengan penuh keyakinan.
"Ha-Hana. Apa kau yakin?" tentu jadi pertanyaan bagi Ryan karena sudah beberapa kali di tolak oleh Hana.
"Ya. Aku yakin Ryan. Aku ingin belajar mencintai mu. Aku juga ingin memberikan keluarga utuh untuk Aksa. Meski sedikit, tapi dalam sini," menunjuk hatinya "merasakan getaran setiap kali tatapan lembut mu menatap ku."
"Hana!" hanya itu yang mampu Ryan ucapkan. Bahagia? tentu ia sangat bahagia. Penantiannya selama enam tahun ini akhirnya mendapatkan jawaban yang selalu ia tunggu.
Di kecupnya lagi kening Hana. Lalu ia peluk erat tubuh yang sudah membuatnya jatuh cinta pada saat pertama berjumpa.
"Ayo kita berjuang untuk Aksa dan anak-anak kiya nanti!" tutur Ryan penuh dengan keyakinan.
Hana menggangguk sebagau jawaban. Hatinya menghangat. Kini semangatnya perlahan mulai bangkit. Mereka berdua mencoba mengajak Aksa bicara karena mereka berdua yakin Aksa bisa mendengar apa yang mereka katakan.
.
.
"Hai Rico! Kau kenapa?" tanya temannya yang sama-sama nongkrong di sebuah cafe.
"Muka kamu kusut sekali!" ucapnya lagi.
Rico menghisap dalam rokok yang ia nyalakan tadi lalu di buang asap ke sampingnya.
"Apakah jelas terlihat?" tanya Rico
"Hahahahaa. Orang yang rabun jauh aja ngeliat apa lagi rabun dekat. Lo kayak nggak ada semangat sih. Gimana kalau kita ke club aja?" ajak temannya yang bernama Hendra. Mereka dulu teman satu kampus.
"Lagi malas." Rico diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ndra lo bisa bantu gue nggak?"
"Bantu apa dulu nih?"
Rico mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan rekaman cctv pada Hendra.
"Coba lo liat baik-baik anak kecil yang nabrak gue itu."
"Terus?"
"Apa kamu mengenalnya?" Sungguh pertanyaan yang konyol yang di tanyakan oleh Rico.
"Ric, loe yang benar aja. Mana jelas lah, diakan nunduk gitu." ujar Hendra yang masih memperhatikan video itu. Sekali lagi ia putar "Eh tunggu, tunggu! Kayanya gue kenal sama orang yang gendong tu anak?" ujar Hendra, ia memutar kembali video itu dan ia yakin kenal dengan orang yang menggendong anak kecil itu.
"Iya, gue kenal orang yang gendong anak kecil itu, Ric!" seru Hendra menunjuk sosok pria yang menggendong Aksa.
Rico nampak bersemangat "Siapa Ndra?" tanyanya tak sabaran.
"Dia Ryan Narendra. Salah satu pengusaha muda sukses di sini!" jawab Hendra.
"Loe bisa bantu gue bertemu dengannya?" pintanya dengan penuh harap.
"Wah kalau itu aku nggak yakin sih. Diakan orangnya super sibuk. Bisnisnya di mana-mana."
"Sesukses itu?" tanya Rico
"Iya. Wajahnya juga wara wiri di majalah dan sering juga di undang di televisi sebagai motivator." jelas Hendra tentang Ryan.
"Tapi nanti aku coba yah, siapa tau kenalan aku yang kerja di sana bisa bantu." sambungnya lagi.
"Makasih, ya, Ndra." ucap Rico tulus. Kemudian ia menyesap minumannya lagi.
Semakin malam cafe tempat mereka nongkrong semakin rame saja. Rico dan Hendra juga masih betah ngobrol di cafe itu.
Tepat pukul 2 malam baru Rico dan Hendra pulang. Rico juga berjanji akan berkunjung ke rumah Hendra jika ke Surabaya lagi. Pukul 10 besok Rico harus kembali ke Jakarta.
Bersambung
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....