Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam barbekyu
Tim marksman kembali ke markas dengan pujian. Mereka secara tidak langsung berhasil mengatasi serangan dengan senyap sebelum rombongan presiden datang. Tidak mungkin terceritakan demi ketenangan bersama. Akan tetapi itu tetap keren.
"Mungkin karena kekuatan cinta," kata Edy sambil menyenggol lengan Lilis. Gadis itu diam, walaupun mukanya sudah memerah. Sekarang mau bagaimana menutupi? Herman sendiri justru semi melamarnya di depan teman teman.
Sinta masuk gedung senjata dengan muka ditekuk. Menyenggol lengan Lilis dengan sengaja. Saat gadis itu sibuk mengatur senapannya disimpan kembali.
"Mana Herman!" tanyanya pada Edy, tapi lirikan matanya tertuju pada Lilis dengan sadis.
"Mana aku tahu, apa aku harus tahu tiap jengkal Herman melangkah," jawab Edy sambil cengar cengir.
"Dia tidak akan menikahi sembarang orang. Jadi jangan percaya diri dulu dengan ucapan Herman!" kata Sinta uring uringan kemudian pergi dari gedung itu. Jelas menyindir Lilis di samping Edy.
"Woooow gosip disini ternyata cepat sekali tersebar bestie. Padahal kebanyakan berjenis kelamin laki laki," kata Edy masih sambil cengar cengir. Benar sekali katanya. Baru tadi pagi lamaran tidak resmi Herman terjadi. Sekarang sudah tersebar saja. Bahkan sampai telinga Sinta.
Lilis sok tidak peduli. Menyimpan teropong Herman dengan rapi. Entah kemana pemilik teropong itu tadi. Dia hanya menitipkan perlengkapannya pada Lilis. Bahkan tidak pulang bareng rombongan. Herman seperti lenyap setelah bertugas tadi.
"Lis, udah selesai tugas kan?" tanya Tere. Sepertinya memang sudah menunggunya.
"Sudah Kak, kenapa?" tanya Lilis sambil keluar dari gedung senjata.
"Ikut aku beresin gudang belakang yuk, daripada kena semprot lagi," kata Tere langsung menarik Lilis. Gadis itu pun menurut. Lilis sibuk beres beres gudang belakang sampai malam. Bahkan Lilis masih beberes saat Tere sudah masuk barak wanita.
Malam datang. Kerlip bintang dan indahnya rembulan membuat suasana tenang. Lilis berjalan menuju barak wanitanya. Tiba tiba Herman menghadang jalannya. Dengan beberapa junior lelaki. Mereka membentuk semacam formasi barisan. Sepertinya bentuk hati. Herman berada di tengah mereka. Para junior itu mengacungkan tinggi setangkai bunga mawar merah ke udara. Mirip saat upacara pedang pora, tapi ini bunga. Salah satu diantaranya ada Edy. Suara bariton memerintah barisan. Langsung menarik perhatian seluruh penghuni tempat itu. Termasuk atasan mereka. Akan tetapi beliau diam saja menonton. Sepertinya memang sudah ber izin acara ini.
"Serda Lilis Jubaedah. Untuk membuktikan keseriusanku padamu. Terimalah seluruh bunga dan cincin ini. Jadilah istri yang selalu kucintai," ucap Herman formal. Tere dan Siti jejingkrakan senang di dalam pagar asrama wanita. Mereka mupeng sambil bilang 'so sweet' berkali kali.
Sedang Lilis membeku. Terpaku tidak percaya. Jangan tanya bagaimana mukanya. Bercampur antara haru, malu, dan bahagia. Lilis mendekat. Edy menyingkir memberi jalan Lilis masuk dalam formasi hati mereka. Saat Lilis masuk, Herman berlutut. Pula dengan pasukan pembawa bunga.
"Tolong terima lamaranku. Aku berjanji menjadikanmu satu satunya selamanya," bisik Herman. Pria itu membuka kotak kecil. Ada cincin bermata satu di dalamnya. Kali ini Lilis tidak sanggup menahan air matanya. Baru kali ini dalam hidupnya dia diperlakukan spesial seperti ini. Biasanya hari ulang tahunnya saja tidak ada yang tahu. Apa dia mimpi?? Lilis mencubit tangannya sendiri. Sakit. Ini nyata….
"Aku terima," kata Lilis haru. Herman tersenyum. Meraih tangan kiri Lilis dan memakaikan cincinnya. Tepuk tangan langsung terdengar. Herman berdiri. Pasukan itu juga berdiri dan izin membubarkan diri. Malam itu ditutup dengan pesta barbekyu persembahan Herman. Merayakan lamarannya diterima. Atasan mereka mengucapkan selamat. Sedikit terkejut saat tahu Herman belum memberi tahu orang tuanya bab lamaran ini. Menyarankan Herman untuk segera mengurus pernikahan.
"Sebelumnya kenalkan dulu pada ayahmu. Sungguh aku pikir acara ini sudah diizinkan Jendral Yono," kata atasan mereka. Yang juga merupakan junior ayah Herman.
"Tentu Pak, secepatnya. Mohon acc cuti kami berdua. Agar saya bisa memperkenalkan Lilis pada orang tua," jawab Herman sambil cengar cengir. Senang sekali pria itu, karena lamarannya diterima.
Sedang di pojok asrama ada seorang kowad wanita yang bersedih. Dia berusaha untuk lapang dada, tapi patah hati ternyata tetap sakit. Dia sendirian di antara riuh pesta barbekyu malam itu. Edy mendekat. Membawa dua kaleng minuman soda.
"Menangis terus juga bikin haus," kata Edy sambil menyerahkan satu kaleng soda, yang sudah dirinya buka lebih dahulu. Sinta menerimanya. Minum dalam diam. Edy duduk di sebelahnya. Menyerahkan setangkai bunga yang tadi dirinya bawa.
"Kau tahu, bahuku selalu kokoh untuk kau sandari. Dadaku selalu bidang untuk kau tangisi," kata Edy. Pandangan mereka bertemu. Sinta sedikit heran dengan kata kata Edy.
"Aku mencintaimu Sin. Bahkan saat kau tergila gila dengan Herman," kata Edy tegas. Sinta sampai melongo. Setengah tidak percaya dengan pendengarannya. Edy mengusap sisa air mata Sinta. Merengkuh gadis itu dalam pelukannya yang hangat. Sinta menurut. Kali ini air matanya jatuh untuk pria ini. Kilasan kejadian berputar cepat di benaknya. Edy ini adalah 'asisten' Sinta untuk mendekati Herman. Banyak cara yang dilakukan Sinta untuk mendekati Herman. Dan Edy dengan setia membantu. Siapa sangka pria ini justru yang mencintainya dengan tulus.
Edy membawa Sinta ke area pesta. Ikut bergabung merayakan kebahagiaan Herman dan Lilis. Tertawa bersama teman teman mereka. Edy mengambil gitar dan bernyanyi. Lagu Aku Lekakimu milik Virzha mengalun secara akustik.
Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku, aku lelakimu
Mungkin pelukku tak sehangat senja
Ucapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini s'bagai lelakimu
Akulah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Akulah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti
Lilis memandangi cincin di tangan kirinya..... Indah..... Ini adalah perhiasan emas pertama yang dirinya miliki. Lilis tersenyum sendiri. Lagi lagi meragukan apa ini nyata??? Dilamar oleh perwira seperti Herman. Lilis memandang Herman yang sibuk bergurau di dekat tungku barbekyu. Haaa..... Apa dia benar bisa menjadi ibu persitnya Herman?? Terbayang upacara pedang pora di pelupuk mata Lilis. Entah kenapa bibirnya menyunggingkan senyum.
"Nah, kan, gila dia habis dilamar komandan. Senyam senyom saja," kata Sri sambil duduk di dekat Lilis. Pula dengan Tere.
"Kalau aku jadi dia juga gila kok. Bayangkan mengalahkan Sinta dan dilamar komandan," kata Tere. Mereka tertawa bertiga. Sedang Sinta asyik menikmati alunan lagu Edy. Herman menyaksikan Lilis tertawa dengan teman wanitanya. Pria itu ikut tersenyum. Junior bau kencur yang menawan hatinya dengan cepat. Bukan tipe wanita manja. Bukan pula tipe wanita pesolek. Lilis garang dengan kulit tanpa skin care. Wanitanya itu gagah saat memegang senjata. Dan menggunakannya secara akurat. Ya, Herman rasa Lilis paling cantik saat menyandang senapannya.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh