Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 19 : Berpisah Arah
"Slash!!" Suara rambut yang terpotong.
Berkat Son Jian yang menarik pakaian belakang milik sang putri, Lin Si kali ini berhasil selamat. Walaupun seperempat rambut miliknya harus terpotong sangat banyak, tapi setidaknya dia tidak kehilangan nyawanya.
"Hei tuan putri manja. Beruntung kau berhasil ditarik oleh pengawal mu. Jika tidak, mungkin kepalamu sudah terlepas tadi." Zi Li menatap Lin Si yang terjatuh akibat dari tarikan Son Jian dengan ekspresi marah.
Lin Si yang baru saja selamat dari maut tersebut, perlahan lahan mulai merasakan ketakutan yang besar. Dia kali ini melihat kearah Zi Li, seperti sebuah tembok yang sulit untuk dilalui.
Lin Si diketahui sangat berbakat, karena memiliki akar spiritual Unggul yang dapat mampu membuat seseorang menjadi jenius kultivasi. Terbukti dari umurnya yang masih 12 tahun, namun sudah berada di ranah Pembentukan Tubuh tahap awal, satu tingkat dibawah Son Jian yang berada di tahap menengah.
"Putri Lin Si, apa anda baik baik saja?" tanya Son Jian khawatir.
"Ya, aku baik baik saja, hanya rambutku saja yang terpotong," balasnya yang masih merasa ketakutan.
Zhen Wu sedari tadi hanya diam saja melihat Zi Li yang mencoba menebas Lin Si dengan senjata miliknya. Dia tentu saja mendukung apa yang dilakukan oleh Zi Li, karena menurutnya gadis di depannya ini perlu di beri beberapa pelajaran.
"Cukup, mari kita pergi saja. Tak ada gunanya kita berlama lama disini, kota Tenrou masih cukup jauh." Zhen Wu merasa tak ada gunanya mereka tetap menunggu.
"Ya... Benar, untuk apa kita menunggu orang yang tidak tahu diri disini." Zi Li mulai membantu Zhen Wu berjalan.
"Tunggu saudara Wu. Apa anda akan pergi ke kota Tenrou juga?" tanya Son Jian penasaran.
"Lalu, apa urusanmu." Zhen Wu berbalik dan menatap Son Jian yang kali ini ekspresinya tidak sama seperti yang dia tunjukan sebelumnya.
"Aku minta maaf saudara Wu. Jika berkenan aku akan tetap menyerahkan seperempat harta kami." Son Jian tetap memaksa ingin memberikan harta mereka walaupun tak disetujui oleh Lin Si.
Lin Si menatap Son Jian yang masih saja tak senang dengan perkataan pengawalnya itu. Namun kali ini dia hanya bisa pasrah setelah mengetahui keahlian Zi Li yang ternyata berada diatasnya.
Sedari awal Lin Si tidak pernah melihat pertarungan antara Zhen Wu dan Teng Gor. Karena dia mengira itu adalah pengawalnya yang sedang bertarung. Lin Si hanya terus berada di dalam keretanya, tanpa merasa cemas ataupun khawatir dengan keadaan para pengawal.
Begitu dia mengetahui bahwa Zhen Wu dan Zi Li lah yang mengalahkan Teng Gor, dia awalnya merasa senang, sampai ketika Son Jian membahas tentang kesepakatan mereka. Lin Si Pun tentu saja berdebat panjang dengannya. Hingga akhirnya keadaan pun berakhir seperti sekarang.
Zhen Wu kali ini sudah tidak lagi memiliki ketertarikan dengan kesepakatan yang Son Jian tawarkan.
"Ambil saja uang mu itu, gelandangan seperti kami tak pantas menerimanya. Ayo Zi Li, kita pergi." Zhen Wu mulai pergi dan baru beberapa langkah kemudian dia berhenti. "Hei gadis kecil, bersyukurlah karena kau memiliki pengawal seperti Son Jian. Jika tidak, mungkin aku sudah membuat tubuhmu jadi seperti mayat yang ada di sana," ucapnya dengan sorot mata yang tajam sambil menunjuk kearah Teng Gor.
Zi Li pun menambahkan saran pada Lin Si, "Aku ini sebenarnya tidak pernah menasehati orang, namun ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Jika kau terus mempertahankan sifat itu, percayalah kematian akan lebih cepat menghampirimu."
Sekujur tubuh Lin Si merasakan kengerian dari ucapan yang dilontarkan oleh Zhen Wu dan Zi Li. Dia akhirnya sadar bahwa kekuatannya yang mungkin dia miliki sekarang, itu tidak ada apa apanya.
Son Jian yang melihat Zhen Wu pergi, kini tak bisa lagi menghentikannya. Dia sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, terlebih Lin Si telah berkata beberapa hal buruk tentang Zhen Wu saat mereka bertatap muka.
"Ayo tuan putri, kita juga harus melanjutkan perjalanan." Son Jian mulai bangkit dan mencoba mengulurkan tangannya pada Lin Si.
"Sepertinya aku memang sudah keterlaluan ya, Son Jian?" tanya Lin Si yang kini mulai berdiri kembali.
"Itu mungkin saja. Jadikan hal ini sebagai pengalaman untuk anda kedepannya, agar nanti jangan pernah memandang remeh orang lain lagi," jawab Son Jian.
"Hmm! Kau benar, terima kasih karena selalu melindungi ku Son Jian. Maaf karena aku juga membentak mu tadi."
"Tidak apa apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi."
Lin Si dan Son Jian sebenarnya sudah berteman sejak kecil. Umur mereka berbeda empat tahun, sedari awal patriak keluarga Mong menyuruh Son Jian untuk selalu menjaga putrinya, karena melihat kemampuan dari Son Jian yang dirasa sangat berbakat. Hingga akhirnya mereka selalu bersama dan akhirnya menjadi seorang teman.
...***...
Zhen Wu memilih rute yang cukup berbeda. Mereka lebih memilih berbelok sedikit ke arah timur, agar tak bertemu lagi dengan rombongan Lin Si dan yang lainnya.
Sudah dua hari sejak mereka berpisah dengan Son Jian, kondisi Zhen Wu saat ini sudah terlihat cukup membaik, berkat bantuan dari Zi Li yang mengobati luka luarnya dan beberapa pil yang dia ciptakan dari sisa sisa herbal yang mereka punya.
"Tuan, kenapa anda harus menggunakan teknik terlarang itu sebelumnya. Padahal anda sendiri tak pernah mau memakainya saat di alam atas?" tanya Zi Li penasaran.
"Yaa, mumpung lawan yang ku hadapi masih belum terlalu kuat, jadinya aku hanya ingin mencobanya sedikit. Lagipula akan sia sia jika teknik terlarang dari dunia atas tak pernah ku gunakan," jawab Zhen Wu.
"Lantas, apa tuan akan terus menggunakannya."
"Tentu saja tidak, aku lebih suka pertarungan langsung daripada selalu menggunakan teknik pengecut seperti itu. Seperti kataku tadi, teknik ini hanya ingin aku coba saja, apakah memang sekuat itu Ilmu Surga Neraka - Membalik Keputusasaan."
Ilmu Surga Neraka adalah teknik terlarang di alam atas. Kemampuannya dapat membuat serangan yang diterima dapat dipantulkan kembali kepada si penyerang. Ibaratnya seperti kita menyerang diri sendiri.
Sedangkan si pengguna teknik tersebut, hanya akan menerima damage 70 persen dibawah dari si penyerang yang menerima 100 kekuatan miliknya sendiri. Walaupun damage yang diterima si pengguna lebih sedikit dari si penyerang, namun seluruh Qi miliknya akan diserap habis. Dan apabila Qi miliknya tidak lagi mencukupi, maka seluruh darah dan daging miliknya lah yang akan disedot sebagai penggantinya.
Sampai itu Ilmu Surga Neraka - Membalik Keputusasaan disebut sebagai salah satu teknik terlarang, karena dapat membahayakan nyawa penggunanya sendiri.
"Zi Li, berhenti! Sepertinya aku merasakan tanda tanda penerobosan. Lebih baik kita berhenti disini dulu," ucap Zhen Wu yang secepatnya ingin menerobos.
"Baik tuan, lebih baik anda segeralah melalukan penerobosan, biar aku saja yang akan menjaga anda."
Berkat pertarungannya dengan Teng Gor 2 hari lalu, Zhen Wu kini berhasil mencapai batas kekuatannya dan mulai merasakan tanda-tanda penerobosan kultivasi.
Zhen Wu lalu mulai duduk bersila, dan hendak mencoba melakukan penerobosan. Raut wajahnya saat ini nampak tenang, seperti tidak ada kesulitan sama sekali yang dia lalui.
Enam jam kemudian, dia mulai memperlihatkan hasil dari penerobosan kultivasinya. Aura milik Zhen Wu kini mulai berganti dengan ranah pembentukan tubuh tahap awal.
"Penjara jiwa terbukalah! Keluarlah, salah satu dari kalian," perintahnya pada salah satu hantu yang akan keluar.
Retakan dimensi yang sebelumnya serupa dengan Zi Li, kini mulai terlihat di depan mereka. Mereka berdua saat ini memperhatikan sesosok hantu yang keluar dari celah tersebut.
Nampak gadis berambut hitam pendek menampakan sosoknya yang menyeramkan keluar dengan perlahan.
Zhen Wu yang melihat salah satu hantunya yang baru memunculkan diri tersebut, perlahan menampilkan senyum kepuasan.
"Hai tuan!! Zi Rin kembali lagi!!" ucap hantu tersebut bersemangat.
Selanjutnya>>>
*note.....
Maaf jika sebelumnya sempat tidak upload lagi dalam dua bulan ini. Dikarenakan kesibukan saya RL dan juga mempersiapkan alur cerita PDM ini, agar lebih terarah. Serta mencari dan membaca berbagai cerita untuk menambah referensi saya dalam membuat cerita novel.
Dan untuk yang kecewa karena saya gak upload lagi dalam waktu yang cukup lama, saya hanya bisa Meminta Maaf🙏 Dan kedepannya saya akan terus usahakan agar bisa upload terus.
Terima kasih
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.