NovelToon NovelToon
Contract With Devil

Contract With Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Cintapertama / Supernatural / Romansa Fantasi-Non-Human / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shinya Flynn

Cedric Heffernan—iblis murni yang menyamar sebagai manusia, terikat kontrak pada Gabriella Paradox—seorang wanita manja yang merupakan cucu dari teman lamanya, Theo. Saat ia mulai menyadari perasaannya pada Gabriella, bahaya mulai mengincar nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella seperti yang ia janjikan pada teman lamanya?

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share cerita ini. Tambahkan ke rak buku agar kalian tidak ketinggalan episode terbaru Contract With Devil.

Kalian juga bisa mendukungku dengan memberikan koin dan poin mereka agar cerita ini bisa terus update.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinya Flynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

10 tahun yang lalu…

Cedric baru saja menerima pesan melalui burung gagak peliharaan Theo, temannya yang sudah lama tidak ia temui, memintanya untuk segera datang menolongnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, namun dari isi pesannya sepertinya sangat mendesak, membuatnya harus membatalkan rencananya untuk pulang ke rumah dan beristirahat setelah menghisap energi manusia yang terakhir, meninggalkan tubuh manusia yang kini tidak sadarkan diri itu di gang belakang gedung pertokoan yang jarang dilalui manusia, bergegas menuju tempat yang dikatakan Theo dalam surat itu. Ia harap, keadaan darurat yang disinggung temannya it sepadan dengan waktu istirahatnya, karena kalau tidak, ia bisa pastikan kalau temannya itu tidak akan selamat. Tidak ingin menghabiskan makanan yang baru saja ia makan tadi, Cedric memilih untuk mengendarai mobil yang ia parkirkan tidak jauh dari tempatnya saat ini. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada isi pesan Theo.

Kalau kamu ingin membalas budi atas pertolonganku waktu itu, sekarang saatnya.

Rumah Sakit XXX

Untung saja rumah sakit yang dimaksud Theo tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk tiba di sana. Cedric menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, mempersiapkan diri masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Ia berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit yang tidak begitu banyak orang karena hari menjelang malam, mencegat salah satu perawat yang baru saja keluar dari salah satu kamar, bertanya pada perawat itu di mana ia bisa menemukan pasien yang bernama Paradox—marga temannya itu. Perawat itu terlihat salah tingkah saat melihatnya, lalu berdehem, dan dengan wajah memerah perawat itu memintanya untuk mengikutinya menuju pusat informasi, menanyakan pertanyaan yang baru ia ajukan tadi pada koleganya.

“Paradox?” Kolega dari perawat itu melihat layar komputernya, sama sekali tidak melihat ke arahnya lalu berseru pelan. “Ada. Baru saja seorang anak perempuan yang keadaannya kritis dibawa ke ruang UGD beberapa saat yang lalu, dan sekarang dipindah ke ruang perawatan untuk anak-anak. Gabriella Paradox, benar?”

Cedric tidak tahu apa nama itu yang ia cari atau tidak karena temannya itu sama sekali tidak menyinggung soal keberadaan anak perempuan, tapi ia mengangguk membenarkan pertanyaan perawat itu, bertaruh pada keberuntungan.

“Di sebelah sana. Silakan lurus, lalu belok kiri. Kamar no 74.”

“Terima kasih.” Cedric segera berlari meninggalkan pusat informasi sebelum perawat yang berdiri di sampingnya tadi sempat menanyakan namanya, nyaris menabrak orang-orang yang berlalu-lalang di koridor, dan tiba di kamar yang dimaksud perawat tadi. Agak ragu, ia mengetuk pintu itu, yang dibuka oleh sosok temannya yang terlihat jauh lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.

“Kupikir bakal lebih lama lagi. Masuklah.”

Cedric tidak menjawab, masuk ke dalam kamar itu, lega karena ia menemukan Theo di sana. Di depannya, ia melihat sosok anak perempuan yang tertidur tenang di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya terpasang banyak alat penopang kehidupan yang membantu anak itu untuk tetap hidup. Dari kondisinya saja, ia langsung tahu kalau anak perempuan itu sebentar lagi akan mati. Theo yang berjalan di belakangnya, menghela napas panjang, berusaha sekuat tenaga agar tetap tenang.

“Dia cucuku. Anakku berniat membunuhnya, jadi terpaksa kubawa ke sini setelah berhasil membuat anakku yang kurang ajar itu babak belur dan setuju dengan syarat yang kuajukan. Bagaimana Cedric, apa kamu bisa melakukan sesuatu terhadap cucuku? Aku kasihan padanya.”

Agak ragu, Cedric mendekati anak perempuan itu, memeriksa denyut nadinya dan aliran energi dalam tubuh anak itu. Dalam tubuh anak itu, energinya sangat tidak stabil. Energi dari manusia dan iblis bercampur dan jelas sekali terlihat kalau energi manusianya itu menolak energi iblis. Ia menggeleng, angkat tangan. “Aku tahu aku berhutang budi padamu Theo, tapi kurasa aku juga tidak bisa membantunya.”

“Apa tidak ada cara lain?”

“Entahlah. Apa yang terjadi dengan anak ini? Energi yang mengalir dalam tubuh cucumu itu sangat tidak stabil.”

“Semua karena ramalan yang kukatakan. Cucuku akan membunuh orangtuanya sendiri. Itu karena aku ingin anakku berhenti melakukan eksperimen yang demi Setan, aku tidak tahu apa yang ingin dilakukan anak kurang ajar itu. Istrinya sendiri saja bahkan dibunuh. Aku hanya sempat menyelamatkan cucuku.” Theo memandang nanar cucunya itu, “lakukan sesuatu, kumohon. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan cucuku.”

“Akan kucoba sebisaku.” Cedric menghela napas, menyerah karena Theo terus mendesaknya.  “Aku tidak bisa berjanji, Theo.” Cedric mengaktifkan mata iblisnya, menggenggam tangan anak itu agar energi iblisnya mengalir ke tubuh anak itu.

Ia menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Yang ia tahu, biasanya cara ini akan berhasil, dengan catatan kalau yang dimaksud bukan anak-anak berdarah campuran manusia-iblis seperti kasusnya ini. Dalam tubuh anak itu terdapat senyawa aneh yang menjalar seperti racun, jumlahnya sedikit, dan mulai menghancurkan satu per satu organ anak ini. Satu-satunya cara yang ia bisa adalah mentransfer aliran energi sihirnya ke anak itu. Tangan anak ini begitu dingin, dan seperti yang ia duga, keputusannya itu malah membuat tubuh anak ini semakin menolak energi iblis tersebut. Ia mendesah, berhenti mentransfer energinya seraya mengamati layar monitor yang ada di samping anak ini.

Nyaris saja ia membunuh anak ini.

“Nggak bisa. Sebentar, akan kupikirkan cara lain. Kita masih memiliki waktu sampai besok malam, Theo. Jangan khawatir. Ngomong-ngomong, perasaanku saja atau kamu bertambah tua?”

Theo mendelik padanya. Kelihatan sekali kalau pria tua itu tidak menyukai pertanyaannya. “Apa ada masalah?”

Cedric mengangkat kedua tangannya, tertawa pelan. “Sabar. Aku hanya penasaran, nggak lebih.”

“Tubuh ini kuambil dari tubuh kontraktor yang mengikat kontrak padaku sebelum masa kontrakku berakhir begitu cucu ini lahir. Biar dia nggak kaget sama wujud asliku. Puas?”

“Oh.” Cedric memegang tabung infus yang tersambung ke anak itu, mengangguk paham. “Ada beberapa ramuan yang bisa kucoba, mungkin bisa membantu mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh cucumu.”

“Lakukan yang kamu bisa. Aku percaya padamu.”

“Baik.” Cedric menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah koper tangan berwarna cokelat tua yang di dalamnya berisi banyak sekali ramuan-ramuan, meletakkan koper itu di atas meja besar yang berada sedikit jauh dari tempat tidur anak itu, mulai sibuk dengan ramuannya. Dari apa yang ia amati tadi, ia menduga kalau racun itu bersifat korosif, seperti karat pada besi yang dipercepat efeknya. Hanya ada sedikit cairan racun di dalamnya, membuatnya sedikit lega karena itu berarti racun itu tidak akan membunuh anak itu dalam sekejap. Agak hati-hati, tangannya yang gemetar karena beban nyawa cucu temannya itu berada di pundaknya sekarang, ia mencampurkan empat botol berisi ramuan racikannya yang ia rasa bisa membantu tubuh anak itu mengeluarkan racun tersebut, mengeluarkan desisan dan aroma harum yang sangat kuat.

“Theo?”

“Ya?” Pria tua itu bergegas menghampirinya.

“Apa nggak sebaiknya kita bawa Gabriella ke rumahmu saja? Terlalu berbahaya jika melakukannya di sini.”

“Aku khawatir kalau ayahnya masih ada di sana, makanya aku di sini. Aku sudah memasang mantra perisai di sekitar kamar ini agar tidak ada manusia yang masuk ke sini.”

“Kalau gitu aku bisa tenang sekarang.” Cedric mengocok dengan perlahan campuran ramuannya itu, lalu memasukkannya ke dalam botol berukuran 5 ml. “Kita coba sekarang.”

Ia menelan ludah. Dalam hati, ia ragu kalau ramuannya akan berhasil. Teorinya memang mengatakan kalau ini pasti berhasil, tapi ia sendiri tidak tahu apa efek sampingnya. Hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah berharap pada takdir agar ramuannya berhasil. Ia mengeluarkan jarum suntik yang ada di dalam kopernya, menyedot ramuan itu, menyuntikkannya ke dalam selang infus anak itu. Keringat dingin menetes membasahinya dahinya, cemas menunggu reaksi dari ramuannya.

“Kita tunggu dalam waktu dua jam. Kalau berhasil, cucumu akan selamat.”

...****************...

Cedric membuka pintu kamar Gabriella, mendapati anak itu tengah menangis kencang. Ia hanya meninggalkan anak itu selama setengah jam—itu pun bukan karena keinginannya, tapi karena ia sempat tersesat setelah berhasil menghindari kerumunan petugas kesehatan di sana yang ingin mendekatinya. Padahal ia sudah menggunakan alasan kalau dia sudah punya anak (menggunakan Gabriella sebagai tamengnya) agar kerumunan itu berhenti mengejarnya. Tapi alasannya itu justru malah membuat orang-orang yang mengejarnya semakin bertambah.

Dasar manusia gila.

Ia merinding mengingat kejadian tadi, berusaha mengenyahkannya dari ingatannya.

“Paman!!” Anak itu menangis kencang begitu menyadari kedatangannya, berlari memeluknya dengan sebelah tangannya yang menarik tabung infusnya.

“Kenapa? Mimpi buruk lagi?” Cedric mengusap puncak kepala Gabriella, menggendong tubuh anak ini yang terasa begitu ringan seperti kapas, membaringkannya kembali ke tempat tidurnya seraya menghapus air mata anak ini. “Maaf, tadi Paman nyasar lagi.”

Gabriella mengernyit mendengar jawabannya. “Lagi? Ini sudah ke berapa kalinya, Paman? Paman ini buta arah, ya?”

Cedric mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menunduk lesu. Untuk yang ini, ia harus akui kelemahannya. Padahal sudah hampir sebulan menemani anak ini di rumah sakit, tapi ia masih saja tersesat. “Yah, begitulah.”

“Payah, dong! Aku aja nggak. Kecil-kecil begini aku hafal semua rute di sini. Hebat, kan?”

Oh, anak ini …

Kalau nggak ingat ini adalah cucu dari teman lamanya, mungkin sudah lama ia membakar hidup-hidup anak ini. Menyebalkan sekali. Ia tersenyum kecut, menahan diri agar tidak memukul Gabriella. “Wah, hebat dong! Kalau gitu Paman pulang aja, ya? Kan Gabbie udah gak perlu Paman lagi?”

“Yah, kok gitu sih Paman! Jangan! Paman ngambek, ya? Ngambek?”

“Siapa yang ngambek?” Cedric menjitak kening anak itu hingga anak itu meringis karenanya. “Enak aja.”

“Tapi Paman tadi—”

“Kamu itu mau ditemenin atau ngeledek Paman terus?” Cedric mendengus kesal, seraya menyelimuti anak itu dan mengecek posisi selang infus yang terpasang di tangan Gabriella, memastikan selang itu tidak bergeser.

“Tuh, kan! Paman ngambek! Ih, udah besar juga.”

“Paman pulang nih sekarang!”

“Jangan!” Gabriella langsung menarik tangan Cedric yang pura-pura berjalan pergi meninggalkan anak ini. “Aku janji, aku bakal jadi anak baik. Kalau nggak—”

“Kalau nggak, kamu mau apa?” Cedric mendekati Gabriella hingga jarak mereka tersisa beberapa sentimeter, membuat anak ini salah tingkah karenanya.

“Aku… aku bakal nangis!”

Pfft!

Alasan konyol apa itu?

Ia tidak kuasa menahan tawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut anak ini. Yang namanya anak-anak itu memang nggak bisa diharapkan. Sambil tertawa, menutup bawah hidungnya, ia menjauhkan wajahnya dari anak itu, duduk di sisi tempat tidur Gabriella. “Ho? Jadi kamu sekarang ngambek?”

“Beda.” Gabriella menggembungkan kedua pipinya, memasang wajah cemberut. “Paman ngambek. Kalau yang ini namanya merengek.”

Jangan bangga gitu dong ngomongnya…

“Iya deh, beda.” Cedric kembali menahan tawa. “Udah, jangan cemberut terus. Nanti Gabbie tambah jelek.”

“Hmph!” Anak itu memalingkan wajahnya ke sisi lain, tidak menghadapnya.

“Gimana kalau Paman buatin pudding cokelat buat kamu kayak kemarin? Kamu suka, kan?”

Gabriella melirik sedikit ke arahnya, sepertinya mulai terpancing dengan tawarannya, tapi anak ini masih belum menyerah. Ia mendekat sedikit, berbisik di telinga anak itu. “Masih gak mau?”

“Strawberry shortcake.” Gabriella menggumam dengan wajahnya yang merona.

“Oke, strawberry shortcake kalau gitu. Sekarang tidur.”

Cedric membenarkan selimut Gabriella yang sempat berantakan. Anak ini akhirnya mau kembali melihatnya, tidak lagi memasang wajah cemberut.

“Paman?”

“Hm?” Cedric menoleh pada anak ini saat ia tengah memikirkan dongeng apa yang harus ia bacakan untuk malam ini.

“Aku bakal mati ya, Paman?”

Mata Cedric membesar, namun ia berusaha untuk tetap tenang. “Siapa yang bilang?”

Ada jeda sesaat sebelum anak itu melanjutkan perkataannya. “Aku tahu kok. Kakek selalu sedih setiap kali ngeliatin aku.”

Peka juga anak ini, gumamnya dalam hati.

“Gabbie pasti sembuh. Paman akan cari cara buat nyembuhin kamu.”

“Tapi Paman bilang sendiri waktu awal kita bertemu kalau Paman itu bukan dokter. Mana mungkin?” Suara anak ini terdengar serak, sebentar lagi akan menangis. “Aku nggak mau ninggalin Kakek sendirian. Nanti siapa yang nemenin Kakek?”

“Iya, Paman tahu.”

Anak ini kembali menangis. “Aku… aku juga nggak mau ninggalin Paman…”

Cedric mengusap tangan Gabriella, berusaha menenangkannya. “Iya, Paman juga tahu.”

“Kalau gitu lakukan aja. Kontrak iblis yang dimaksud Paman waktu aku tidur itu.” Gabriella menghapus air matanya. “Aku sempat denger pembicaraan Paman dengan Kakek waktu itu. Paman bilang nggak ada cara lain, kan?”

Cedric menggeleng cepat. “Kamu masih kecil, Gabbie. Resikonya besar.”

“Lakukan aja. Perlu darah? Atau apa?”

“Nggak sesederhana itu, Gabbie.” Ia mengecup kening Gabriella. “Lebih rumit dari perkiraanmu. Lagian, tahu dari mana kamu soal iblis? Kamu gak takut?”

Gabriella menggeleng pelan. “Nggak. Paman beda. Paman iblis baik.”

“Hee, tahu dari mana kalau Paman iblis baik?”

“Pokoknya Paman iblis baik. Paman bawel banget, sih? Terus Paman, di komik yang pernah kubaca, manusia melakukan kontrak dengan iblis untuk mengabulkan keinginan mereka bukan? Kalau kontrak iblis, berarti Paman iblis. Segampang itu.”

“Memang benar, sih. Baguslah kalau kamu tahu. Paman nggak perlu berpura-pura lagi.” Cedric mendesah pelan. “Besok Paman diskusikan dengan kakekmu. Sekarang tidurlah.”

“Janji?” Gabriella mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji jari kelingking?”

Ia tertawa pelan, mengaitkan jari kelingkingnya pada anak ini. “Iya, Anak *****. Janji jari kelingking.”

Gabriella tersenyum puas mendengar jawabannya, memejamkan kedua matanya begitu ia mulai membacakan dongeng. Anak ini langsung tertidur selang beberapa menit. Cedric memandang sedih, mengamati aliran energi di dalam tubuh anak ini yang semakin melemah. Ia menggigit bibir bawahnya, mengetuk jemarinya yang ramping itu di atas lututnya.

...****************...

1
Shanti
Manis banget sih, mereka berdua 😌
Dewi Fitri
yaaaa aaaaaaaaa
Dewi Fitri
suka ceritanya
Dewi Fitri
seruuuuuu
Dewi Fitri
semangat terus thor ceritanya sukses
Raafi dahlia
suka thor...
shinta: Terima kasih atas dukungannya
total 1 replies
Raafi dahlia
lanjut thor...
Wahyuni Zhafran Haljan
lanjut thorrrr
shinta: Hai, makasih buat dukungannya. Iya, ini masih dalam proses penggarapan cerita, rencananya mau dibuat season 2 untuk cerita ini tahun depan. Masih digarap untuk plot dan alur cerita, jadi tunggu ya!
total 1 replies
shinta
Hai!

Dalam waktu dekat author sedang mempertimbangkan untuk membuat season 2 dari cerita ini. Kalau menurut kalian, siapa karakter dalam cerita ini yang kalian pengen author bahas di season selanjutnya? Kalian bisa balas dengan berkomentar di sini. 😊
Shanti: Tolong bahas Markus Heffernan dong! Penasaran banget sama kakaknya Cedric🤩🤩🤩

Jadi nggak sabar nungguin season duanya!🤩
total 1 replies
Aji Saputra Aji Saputra
Menarik thor ceritanya... Lanjut
shinta: Halo,

Makasih buat dukungannya. Untuk kelanjutan ceritanya masih dalam proses, tunggu ya!
total 1 replies
Dewi Fitri
sweet bingitttttt nih up lg dong thor ceritanya sukses
shinta: Hai!

Makasih ya sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku. Kalau kamu termasuk yang menantikan season 2, kamu bisa langsung balas di kolom komentar 😊
total 1 replies
Wahyuni Zhafran Haljan
visualnya dong thor
Wahyuni Zhafran Haljan
lihat gambarnya dong thor
nananaaa🌞
aku mampir Thor🙂
Ismu Choiriyah
ceritanya bagus
Terimakasih author
lanjut
shinta: Halo,

Terima kasih karena sudah membaca dan untuk dukungannya, ya!
total 1 replies
Dewi Fitri
gitu doang
Dewi Fitri
suka ceritanya sukses trs Thor
Risa Alfina: Haii readers yang baik hati, mampir yukk ke novel aku, judulnya My Twin sista: story of Selly & Merry. ditunggu ya like dan komennya. terima kasih
total 3 replies
sembiring meilala
keren kk

mampir lagi ya ke Reborn little army
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!