Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?
Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Ummi baru saja bercerita padaku bahwa tadi siang Anis dan mamanya datang ke rumah untuk mengantarkan surat undangan. Aku tersenyum kikuk ketika ummi menyerahkan benda berbentuk tabung berwarna cokelat keemasan.
Kuucapkan terima kasih pada ummi, lalu membawanya masuk ke dalam kamarku. Aku tahu, mungkin ummi juga bersedih di belakangku, namun aku bersikap seolah pura-pura tidak tahu. Padahal aku sangat tahu, seperti apa rasanya menghadapi takdir yang tidak sesuai dengan harapan kalbu.
Sebelum aku membuka undangan itu, kuputuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Aku takut jika aku membukanya sekarang, bisa-bisa aku tak berselera mandi selama satu minggu.
Ah, dasar aku!
Setelah keluar dari bilik kecil itu, aku masih mengenakan handuk yang hanya memelilit di pinggangku. Tak ingin berlama-lama lagi, kuraih benda berbentuk silinder itu. Kemudian membuka penutupnya dan membisu.
Aku bergeming seakan membatu. Menatap nanar secarik kertas berwarna cokelat susu yang baru saja kutarik paksa dari dalam sepotong bambu. Bambu yang digunakan untuk membungkus undangan pernikahan dari seseorang yang sangat berarti bagiku.
Rasanya begitu perih, ketika membaca deretan huruf yang membentuk nama gadis yang selalu memenuhi isi kepala ini, bersanding apik dengan nama pria lain. Namun, apa yang bisa kuperbuat untuk mengobati luka batin?
Sudahlah!
Semuanya telah tertulis di dalam takdir. Mungkin sekarang akulah yang harus kembali berpikir. Karena memang semua ini bisa terjadi karena kehendak dari Yang Maha Pembuat takdir.
***
Dua hari sebelum pernikahan mereka, Abdi beserta kedua orang tuanya telah tiba di kota ini. Mereka diminta menempati rumah keluarga Anis, tepatnya di kediaman orang tua Dini. Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu dengan gadisku kali ini, karena kemana pun pergerakan Anis, Abdi selalu mengekori.
Di kantor, aku pun sudah tak bisa berkonsentrasi lagi. Didi dan Dini yang mengerti akan hal tersebut, memintaku untuk pulang saja daripada bingung sendiri. Namun, dengan tegas kutolak saran dari mereka, karena itu hanya akan membuatku lebih terpuruk lagi. Menghabiskan waktu di kantor dan bertemu dengan orang-orang yang karakternya cukup menghibur seperti mereka, akan lebih baik ketimbang mengurung diri.
"Kak Heru mau makan siang bareng?" Melly, dengan polesan senyuman penuh di bibirnya mengajakku untuk menghabiskan waktu istirahat bersama.
Aku terdiam sejenak, sembari berpikir agar tidak salah berkata. Karena aku tahu, jika aku menolak, maka Melly pasti akan kecewa. Dengan mengantongi anggukan kepala dari Didi dan Dini, akhirnya aku memutuskan untuk makan siang bersamanya.
Sesampainya di restoran, Melly memanggil salah satu pelayannya dan memesan berbagai macam makanan. Aku memicingkan kedua mataku, keheranan. Apakah Melly sedang kelaparan?
Ah, namun semua itu hanya kuucapkan di dalam hati saja. Tidak mungkin aku tega mengatakannya.
"Kak Heru, aku boleh minta bantu?" tanyanya sambil menunggu pesanan tadi.
Aku membenahi posisi dudukku yang sedari tadi tampak malas sendiri menjadi duduk tegap, siap menimpali. "Mau minta bantu apa, Dek?"
"Suci mau masuk SMP di yayasan, Kak Heru bisa bantu gak untuk pendaftarannya?"
Ia mulai mengungkapkan niat hati. Aku juga sudah mengenal siapa itu Suci. Dia adalah adik bungsu dari Melly. Setahuku, anaknya lebih petakilan lagi dari kakaknya ini.
Namun, mendengar permintaan Melly, aku mengernyit keheranan. Kenapa dia harus meminta bantuanku kalau hanya untuk pendaftaran? Sementara, kakaknya juga merupakan alumni dari yayasan. Tetapi, aku sungguh tak tega untuk menuturkan sebuah penolakan. Lagi pula ia hanya meminta bantuan, bukan mengajakku ke pelaminan.
Eaaak!
***
Sejak momen makan siang itu, Melly lebih sering bersamaku. Walaupun hanya sebatas waktu, namun polahnya selalu berhasil membuatku malu. Malu karena dia suka memperhatikanku.
Apakah ia tahu kalau aku ada sesuatu dengan ia punya sepupu?
Gelagatnya mencerminkan bahwa Melly sedang berusaha untuk menghiburku. Seolah tak ingin kecolongan, aku cepat-cepat menyadarkan kembali ingatanku--yang kedekatan kami berdua hanya sebatas untuk saling membantu. Tidak lebih dari itu.
Tetapi, aku tak tahu bagaimana dengan Melly. Apakah ia melakukan hal tersebut hanya karena ingin menarik simpatik dariku? Atau mungkin ingin menggantikan posisi Anis di dalam hatiku?
Tidak!
Kutegaskan tidak mungkin!
Anis mempunyai tempat khusus di hati ini. Tidak mungkin bisa tergantikan oleh siapa pun, bahkan bidadari. Perasaanku ini bukanlah seperti sabun mandi, yang mana jika habis dipakai terus bisa beli lagi.
Tidak!
Bukan seperti itu konsepnya. Aku bahkan tak bisa mengontrol perasaan yang sudah lama bersemayam di dalam dada. Bahkan di saat aku ingin menyerah pun, rasa itu malah semakin ketat memelukku tanpa takut celaka. Mau bagaimana pun, aku tak akan bisa berpalinng darinya. Dan mungkin untuk selamanya.
💞💞💞
Malam ini adalah malam yang paling menyakitkan bagiku. Karena tanpa sengaja, kedua mata ini menyaksikan dengan jelas adegan ciuman yang sedang dilakonkan oleh Abdi dan gadisku.
Apakah mereka sengaja ingin mempertontonkannya padaku? Di saat aku berusaha kuat menghadapi hari esok, Anis malah menampar telak ulu hatiku hingga membiru. Bekasnya pun bahkan tak mungkin bisa kusapu.
Ah, mungkin aku sudah lupa bahwa mereka berdua adalah sepasang calon raja dan ratu. Wajar saja mereka melakukannya tanpa rasa malu. Lagi pula besok mereka berdua juga akan sah menjadi pasangan halal dengan berlambangkan sebuah buku. Buku nikah yang akan menjadi pembatas antara Anis dan diriku.
Aku bergegas berlari dari sana. Tak sanggup rasanya jika aku harus menyaksikan adegan itu hingga tahap akhirnya. Melly yang melihat aku tiba-tiba membisu, kini pun angkat bicara.
"Kakak kenapa?" Ia memegang sebelah pundakku, seakan ingin mengatakan bahwa ia ada untukku.
"Gak papa," responku singkat, yang sudah jelas bahwa itu hanyalah jawaban dari seorang penipu.
"Kakak gak bisa bohongin aku. Itu muka ditekuk begitu, kenapa?" Ia kembali berusaha untuk membuatku terbuka.
Mungkin karena pikiran yang kalut, sontak kutarik lengan Melly dan membawanya menuju tempat dimana aku melihat adegan romantis pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Melly membekap mulut dengan kedua tangannya, tersipu malu. Agaknya ia sudah menangkap makna dari kebungkamanku.
"Udahlah, Kak. Ikhlasin aja, besok Kak Anis akan sah menjadi istri orang," katanya yang seolah menganggapku sedang mengalami amnesia tingkat dewa.
"Aku tahu," responku singkat lalu melenggang dari sana.
Melly sontak mengekoriku dan mengoceh sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya kami kembali berkumpul dengan teman-teman di bawah naungan.
Sepertinya akan turun hujan, batinku penuh keyakinan.
Ini malam H-1. Semua kerabat berkumpul untuk menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan untuk hari esok, yang mungkin akan membuatku merasa haru biru.
Beginilah adat budaya melayu. Para teman, sahabat, dan kerabat biasanya dengan suka cita menghabiskan malam dengan seru. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk tidak tidur sepanjang waktu.
Wah, sangat sulit bagiku untuk mencuri waktu!
Namun bukan aku namanya, jika menyerah begitu saja dengan keadaaan. Tepat pada pukul 3 dini hari, kuketuk pintu kamar Anis dengan perlahan. Kuekori sekeliling, kalau-kalau ada yang menyaksikan. Setelah dirasa aman, kuputar knop pintunya dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya Anis dengan wajah kantuknya, bangkit dari tidur dan menatapku penuh pertanyaan.
"Ada apa malam-malam begini? Kamu nekat banget, sih?" ucapnya dengan pandangan sayu.
"Aku kangen kamu." Kiraih sebelah tangannya, lalu kupeluk ibu jarinya dengan empat jariku.
Anis ... sangat memahami hal itu. Itu bahasa kode dariku. Dan hanya aku dan ia yang tahu.
"Terlalu berbahaya, Ru." Ia berkata setengah berbisik. Namun aku masih bisa mendengarkannya walaupun di luar terdengar sangat berisik. Hingar-bingar yang tercipta di sini, benar-benar didominasi oleh suara musik.
"Baiklah, semoga kamu selalu bahagia," tuturku setelah mengecup keningnya, lalu keluar dari kamarnya.
Aku tak tahu apa yang sedang Anis rasakan saat ini. Namun, aku berharap rasa yang ada di dalam dirinya juga tidak akan pernah mati, walaupun ia telah menikah nanti.