➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19#Sholat Tahajud
Amarah merupakan satu dari sejuta rasa yang seringkali menguasai hati manusia. Terkadang emosi tersebut mengubah jalur kehidupan hanya karena penetapan dendam tak berkesudahan. Seperti yang terjadi pada Citra. Dimana ia memeluk erat rasa panas membara di dalam jiwa dan raga.
Waktu berlalu begitu cepat meninggalkan sang mentari menjemput peraduan malam. Perpisahan kembali dalam pertemuan tetapi tak mengubah rasa yang membelenggu hati insan yang terluka tenggelam dalam kekecewaan. Seperti ia yang tengah duduk menatap arak awan di atas langit nan mendung.
Pikiran yang berjalan tanpa arah tujuan berteman dengan kegelisahan hati. Sudah hampir satu jam berusaha untuk mengistirahatkan diri tapi entah ada apa dengan dirinya malam ini. Ketenangannya tak lagi seimbang bahkan semakin tak karuan. Detak jantung yang meningkat berpacu dengan waktu yang melambat.
Menghela napas panjang sekali lagi, lalu memejamkan mata berusaha meraih ketenangan yang tersisa. Sekelebat bayangan datang menyapa mengejutkan asa. Wajah manis tanpa senyuman dengan tangan terulur ke arahnya. Tanpa sadar tangannya ikut terangkat berusaha menggapai raga yang tak lagi di sisinya.
"Butterfly," gumamnya membuat tatapan mata seseorang yang baru saja datang ke kamar mengernyit. "Butterfly, genggam tanganku ...,"
Racau Rey dengan begitu jelas menyadarkan Bagas bahwa saudaranya dalam keadaan tidak baik. Tak ingin melihat kegilaan di malam yang kian larut, sontak saja ia menepuk pundak pria yang duduk di depan jendela menikmati sepoi angin malam. Sehingga sang saudara tersentak menjemput kesadaran kembali ke dunia yang nyata.
"Rey, ini sudah jam satu malam lebih. Tidur!" Sang saudara menoleh menatap ke arahnya hingga tatapan mata saling bertaubat mencoba untuk menguatkan.
Helaan napas kembali terdengar dengan pengalihan pandangan menembus kegelapan malam di atas sang cakrawala. "Hatiku tidak tenang, sejak sore kepikiran Asma. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa aku seperti ini dan merasa istriku membutuhkan dukungan untuk tetap bertahan."
Bisa saja mengabaikan rasa di hati tapi setiap kali bayangan wajah sang istri datang. Ia tak sanggup untuk menghiraukan tanpa memikirkan. Seringkali merasa heran dengan perubahan emosinya sendiri. Tiba-tiba saja bisa damai seakan tidak memiliki masalah tapi terkadang mendadak seperti orang kebingungan mencari kepastian.
"Kamu ini, Rey. Daripada melamun, kenapa tidak sholat tahajud saja? Hayuk, ambil air wudhu dan kita sholat berjamaah." Bagas menarik tangan Rey mengajak melaksanakan shalat bersama, membuat saudaranya menurut tanpa harus bersusah payah.
Tak berselang lama. Kedua pria itu sudah siap melaksanakan sholat tahajud bersama-sama dengan Rey sebagai imam dan Bagas menjadi makmum. Suara merdu yang bergema di ruangan memulai sholat sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
"USHALLI SUNNATAT TAHAJJUDI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA." Rey melantunkan niat sholat malam dengan begitu khusyuk memasrahkan diri kehadirat Yang Maha Esa.
Dua rakaat shalat yang dilakukan hingga enam kali menghadirkan ketenangan di hati. Embusan semilir angin menemani menyambut ketetapan Sang Ilahi. Suara salam bersahutan menyudahi shalat berjamaah, tetapi baik Rey maupun Bagas masih enggan berdiri dan justru mengubah posisi duduk menjadi bersila.
"Rey, doa nya sekalian." ujar Bagas tanpa rasa khawatir karena sang saudara memiliki pedoman hidup dengan tiang agama yang kuat bahkan ia saja lebih sering bertanya saat masa sekolah tentang hukum di dalam islam.
Tangan terangkat bersatu menengadah memohon ampunan. Memasrahkan diri dalam keikhlasan dan kesabaran. Tatapan mata sendu terpatri menatap tangan yang kini meminta pertolongan pada Sang Pencipta. Biarlah semua perasaan melebur menjadi satu tanpa harus dipisahkan.
"Allahumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu anta nurus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqa’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan naru haqq. Wan nabiyyuna haqq. Wa Muhammadun shallallahu alaihi wasallama haqq. Was sa‘atu haqq.
"Allahumma laka aslamtu. Wa bika amantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khashamtu. Wa ilaika hakamtu. Fagfirlii ma qaddamtu, wa ma akhkhartu, wa ma asrartu, wa ma a‘lantu, wa ma anta a‘lamu bihi minni. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. La ilaha illa anta. Wa la haula, wa la quwwata illa billah."
Suara merdu nan khusyuk menggetarkan hati yang dilanda kegelisahan. Sadar diri akan rencana Allah SWT yang menjadi garis takdir kehidupan. Do'a yang membuat Rey memejamkan mata mengharapkan belas kasihan dalam kehidupannya yang kini tak tau lagi harus bagaimana.
Suara aamiin mengalihkan perhatian membuat pria itu mengusapkan tangan ke wajah, lalu menggeser posisi duduknya hingga menghadap ke Bagas yang melakukan hal sama. "Nando, apa kamu tau arti dari doa yang baru saja kupanjatkan?"
"Sedikit sih, hehe aku lupa. Bisa gak ulangi secara keseluruhan arti dari doa yang aku aamiin kan." pinta Bagas tanpa malu mengakui ketidaktahuan sebagai seorang umat islam. Baginya lebih baik bertanya dan mendapatkan jawaban sesuai harapan.
Seperti biasa Rey dengan telaten mau menjadi pembimbing bahkan sesekali berganti profesi sebagai guru agama di dalam rumahnya sendiri. Kebiasaan yang terjadi selama bertahun-tahun sejak Bagas masuk ke dalam kehidupannya. Meski harus mengulang apa yang diajarkan, ia merasa lebih baik bisa berguna untuk semua orang disekitarnya.
"Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk didalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar.
"Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah."
Ikhlas merelakan setiap ujian kehidupan karena itu ketetapan Sang Pencipta. Tidak ada hak, kewajiban dan tanggung jawab yang tertukar sebagaimana yang telah digariskan. Sebagai hamba hanya bisa berserah diri setelah melakukan ikhtiar sampai titik darah penghabisan.
Seperti yang tengah dilakukan Rey dan Bagas. Dimana kedua pria itu melanjutkan obrolan mengenai beberapa hal yang masih menyangkut dengan cobaan yang sedang mereka hadapi. Keterbukaan membuat kedua saudara itu belajar lebih dewasa lagi menerima takdir ilahi.
Sementara di sisi lain, ada hati yang mencari kebenaran. Kegelisahannya semakin besar hingga bayangan gelap datang menguasai alam bawah sadar menghadirkan mimpi tanpa arah yang jelas. Keringat dingin membanjiri tubuh sedangkan tangan mengepal menggenggam selimut dengan erat.
Sayup-sayup terdengar racauan yang tidak jelas. Suara itu mengusik fokus dari pria yang duduk di sofa memangku laptop yang menyala. Rasa kantuk yang entah hilang kemana membuat si pria penunggu menyibukkan diri dengan pekerjaan yang terbengkalai. Akan tetapi begitu mendengar suara yang familiar ia bergegas meletakkan si lepi ke atas meja.
Buru-buru ia menekan tombol darurat agar dokter segera datang. Rasa khawatir kian melanda di saat tiba-tiba tubuh Asma kejang tanpa aturan. Keringat dingin yang terus mengalir, wajah pucat pasi dengan mata terpejam. Takut akan terjadi sesuatu, apalagi layar monitor semakin tidak stabil menandakan kondisi pasien dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Langkah kaki berjalan cepat menghampiri brankar tempat pujaan hatinya dirawat. "Shine, kamu kenapa?" tanyanya menggengam tangan Asma yang terasa begitu dingin.